Mendengarkanmu


Sejak kecil, aku sudah terbiasa menjadi pendengar yang baik. Apa kata ayah, apa kata ibu, apa kata nenek, kata kakak, kata ibu guru, kata semua orang selalu kudengarkan. Walaupun tidak selalu kuturuti, tapi tatap kudengarkan, dengan kedua telingaku, dengan segenap konsentrasiku. Tapi seiring bertambahnya umurku, aku berubah jadi pendengar yang buruk. Bukan karena aku bermasalah dengan telingaku atau apa. Memang aku merasa, belakangan ini pikiranku tidak pernah bisa bertahan lebih dari lima detik di dalam rongga kepalaku, termasuk seseorang mengajakku bicara. Pikiranku selalu terbang kemana-mana, mencari dunia yang membuatku nyaman, dan akhirnya mengabaikan serentetan kata yang keluar dari mulut lawan bicaraku. Akibatnya? Aku tidak pernah tau harus menanggapi apa saat si lawan berhenti bicara. Paling-paling aku cuma bisa melontarkan kalimat standar seperti “Oh, gitu ya” atau “Dodol banget sih” sambil tertawa hambar kalau kira-kira ceritanya lucu. Tidak jarang juga aku benar-benar blank, kehilangan seluruh isi otakku, dan akhienya tidak bisa menanggapi apa-apa, sampai muncul label telmi, lola alias loading lama, dingin, cuek, dll dll yang ditempelkan dijidatku oleh orang-orang yang merasa gondok karena omongannya tidak kutanggapi.

Tapi, aku tidak pernah begitu saat berhadapan denganmu. Aku selalu berusaha menjadi pendengar terbaik untuk semua ceritamu. Aku berusaha. Kukumpulkan segenap konsentrasiku, kujaga seluruh serpihan pikiran-pikiranku agar tidak terbang kemana-mana, demi mendengarkanmu bicara. Aku berusaha tertawa sekeras dan seceria mungkin setelah ceritamu selesai. Aku selalu berusaha mencondongkan tubuh ke arahmu, mencari dan menatap matamu demi membangun panggung penghargaan untukmu. Bahkan tak jarang aku berubah peran mjd pembicara. Padahal seluruh dunia tahu kalau aku benci disuruh berbicara. Atau lebih tepatnya, aku tidak percaya diri dengan kemampuan berbicaraku. Aku ini pembicara yang payah yang selalu berusaha mengeluarkan energi terbaiknya, mengumpulkan cerita-ceritanya terbaiknya, untuk diceritakan padamu, agar pertemuan kita yang hanya dua kali seminggu tidak sepi. Untukmu, aku, pembicara dan pendengar yang payah ini, akan berusaha menjadi pembicara dan pendengar yang terbaik didunia.

-Flo Coffee & Chocolate Bar, 2 Mei 2009.

Cuma tulisan kilat yang diketik di handphone selama sekitar 10 menit ditengah kafe yang ramai dan penuh asap rokok, antara fiksi dan realita.

Advertisements

One thought on “Mendengarkanmu

  1. nabilll says:

    km mau ktemu aku aja,udah jadi panggung terbaik buat aku nyurahin smua yg ada di kepalaku…
    makasi buat smuanya..
    you’re the best..
    love u ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s