For The Very Last Time


#nowplaying : Against All Odds – Westlife feat. Mariah Carey

For The Very Last Time berangkat dari kerangka fiksi berjudul sama, yang sudah dimulai sejak tahun 2009 tapi berhenti begitu saja. Kali ini FTVLT kembali dalam format oneshot atau cerita pendek, bercerita tentang Lee Hyun-Ji, salah satu personil sekaligus leader New High (baca juga: There’s Something Between Us), dan teman masa kecilnya, Park Eun-Mi. Enjoy reading!

Aku dan Park Eun-Mi tinggal bertetangga sejak kecil. Keluargaku pindah ke kompleks tempat Eun-Mi tinggal tepat saat aku merayakan ulang tahun ketujuh. Sebagai anak satu-satunya, aku dibebaskan memilih kamar, dan aku yang saat itu punya khayalan untuk bisa terbang seperti Superman, langsung memilih kamar di lantai dua, dengan jendela besar yang menghadap ke sepetak taman ukuran tiga kali tiga yang memisahkan rumahku dengan rumah sebelah, rumah keluarga Eun-Mi.

Di tengah taman mungil itu berdiri sebuah pohon Walnut Cina setinggi delapan meter, dengan dahan-dahan besar yang menghubungkan jendela kamarku dengan jendela kamar Eun-Mi yang letaknya sama-sama di lantai dua. Kebetulan yang aneh, seolah seluruh kisah ini memang sudah digariskan sejak awal mula.

“Jadi, kita berteman?” tanyaku pada suatu hari di musim semi, lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

Malam itu aku diminta Ibuku mengantar pie apel sebagai tanda perkenalan untuk tetangga sebelah. Tapi, bukannya menggunakan jalan yang ‘normal’ yaitu pintu depan, aku memilih untuk memanjat pohon Walnut yang dahannya menjulur setengah meter dari jendela kamarku, sampai ke depan jendela seberang, mengetuk-ngetuknya dengan tidak tahu malu. Hingga seorang gadis kecil berkulit pucat muncul di balik tirai pink dengan wajah kebingungan.

Aku menyambutnya dengan senyum lebar dan uluran tangan, memperkenalkan diri, menyerahkan bungkusan titipan Ibuku, lalu nyelonong masuk ke dalam kamar yang didominasi perabotan berwarna pink muda.

Park Eun-Mi awalnya menatapku seperti hantu, memperlakukan pie apel dari Ibuku seperti apel beracun dalam buku cerita Snow White, namun lama-kelamaan sikapnya mulai mencair dan mau mengobrol denganku.

“Tentu saja kita berteman,” sahut Eun-Mi. “Kecuali kau lebih senang kita musuhan?”

“Tidak,” jawabku cepat. “Aku tidak senang punya musuh di hari pertamaku sekolah.” Aku melanjutkan sambil tertawa sementara Eun-Mi tersenyum, manis sekali.

Obrolan ringan khas anak kelas 2 SD malam itu menjadi batu pertama bagi persahabatan kami, menjadi awal dari sebuah cerita yang panjang ini.

Tahun-tahun pertama persahabatanku dengan Eun-Mi dipenuhi dengan canda tawa yang jumlahnya nyaris berimbang dengan tangisan sedih gadis itu. Aku selalu berhasil membuatnya tertawa paling keras, tapi aku juga yang selalu membuatnya menangis paling keras. Seperti siang itu di musim dingin, ketika kami duduk di kelas 5 SD. Aku berjalan pulang di tengah hujan salju lebat, dengan langkah cepat penuh kemarahan. Ngambek karena Eun-Mi harus ikut kelas tambahan, padahal ia sudah janji akan pergi makan siang bersamaku.

“Yah! Lee Hyun-Ji!” panggil Eun-Mi, diiringi suara derap kakinya di atas salju yang tebal. “Tunggu sebentar!”

“Hyun-Ji ya!” Ia mengulang, sembari menarik lengan bajuku yang berhasil diraihnya. “Dengarkan aku dulu… aku benar-benar tidak tahu kalau ada kelas tambahan hari ini, aku…”

Aku tetap memilih untuk diam dan mengabaikan Eun-Mi, namun gadis itu terus mengejar dan berusaha mengajakku bicara.

“Maafkan aku,” ujar Eun-Mi sungguh-sungguh. “Hyun-Ji ya… ayo kita makan siang sekarang, aku akan mentraktirmu jjajangmyeon…”

“Tidak, aku tidak mau makan.”

“Kenapa tidak mau? Ayo kita makan, kau pasti lapar karena menungguku… Maafkan aku, ayo kita…”

“Aku sudah tidak ingin makan, kau dengar?” Nada bicaraku mulai meninggi, namun Eun-Mi belum tampak akan menyerah.

“Hyun-Ji ya… Maafkan aku…”

“Jangan cerewet dan jangan memaksaku lagi! Aku tidak mau makan denganmu!” Aku membentak Eun-Mi dengan segenap kemarahan yang menguasaiku seperti iblis jahat, membuat gadis itu terlonjak dan membeku.

Air mata mulai mengalir perlahan dari kedua matanya yang sedang menatap punggungku. Saat itu aku bahkan tidak berhenti, bahkan mulai berlari meninggalkan Eun-Mi. Aku terlalu egois untuk berpikir bahwa Eun-Mi bukannya mengingkari janji, bahwa ia benar-benar tidak tahu gurunya akan memberi kelas tambahan sepulang sekolah, bahwa Eun-Mi juga pasti sama laparnya denganku, dan bahwa aku sebenarnya hanya menunggu 45 menit. Sungguh tak pantas aku membentak-bentak sahabat yang selama ini begitu baik padaku, hanya karena ia membuatku menunggu selama 45 menit untuk hal yang tidak ia sengaja.

Tapi Lee Hyun-Ji yang berumur 11 tahun saat itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku berlari terus, membiarkan Eun-Mi menangis sendirian di tengah hujan salju. Sampai akhirnya aku jatuh terjerembab, lima puluh meter dari pintu rumah, karena terpeleset tumpukan salju yang licin. Sakitnya luar biasa ketika darah segar mulai mengalir dari dagu dan lututku yang sobek. Tapi sebelum aku bergerak, tiba-tiba tangan kecil Eun-Mi meraihku. Air matanya masih menggenang, luka di hatinya karena kata-kata kasar yang kuucapkan jelas belum sembuh. Tapi dengan tulus gadis itu membantuku duduk dan mengeluarkan sapu tangan pink bergambar Hello Kitty, membasahi dengan air dari botol minumnya, lalu mulai menyeka darah di daguku. Awalnya aku -yang dikuasai gengsi dan rasa marah menepis, menepis tangan Eun-Mi dengan satu gerakan kasar. Tapi gadis itu tidak menyerah, ia kembali menyeka darah di daguku, kemudian membersihkan sapu tangannya dengan air lalu menyeka darah yang mengalir dari daguku.

“Maafkan aku, Hyun-Ji ya…” ucapnya pelan, tanpa berani menatap mataku. Air matanya kembali mengalir. “Maafkan aku…”

Kalau aku boleh kembali ke hari itu, aku pasti sudah memeluk Eun-Mi erat-erat dan mengucapkan terima kasih padanya. Lalu kami akan berjalan pulang bersama, dan setelah aku membersihkan luka-lukaku kami akan memesan jjajangmyeon dan makan siang berdua sambil tertawa-tawa. Sayangnya, hati Lee Hyun-Ji yang berumur 11 tahun itu tak terketuk sedikitpun. Aku malah mendorong Eun-Mi menjauh sambil melempar tatapan marah, lalu berlari meninggalkan Park Eun-Mi menangis sendirian di tengah hujan salju yang semakin lebat.

Jika kebanyakan orang menjadi semakin dewasa dan meninggalkan sifat kekanak-kanakannya seiring bertambahnya usia, namun sifat itu justru semakin bertumbuh di dalam diriku. Seperti parasit yang kusadari betul keberadaannya: salah, tapi tidak bisa kulawan. Atau tidak mau? Entahlah. Yang jelas, semakin kami tumbuh dewasa, aku semakin sering menyakiti perasaan Park Eun-Mi dengan sifat dan kata-kataku.

Pernah suatu hari aku membuatnya menangis tujuh hari tujuh malam, sampai tidak mau makan dan akhirnya jatuh sakit. Saat itu kami duduk di tahun ketiga junior high school, saat film X-Men baru saja dirilis. Aku sudah berjanji pada Eun-Mi akan menonton bersamanya akhir minggu itu, namun mendadak teman-teman masa kecilku dari Seoul datang berlibur ke Suwon. Ketika itu aku langsung pergi begitu saja bersama teman-temanku, berpikir bahwa nonton dengan Eun-Mi bisa dilakukan besok atau lusa. Eun-Mi kan tidak akan pergi kemana-mana, filmnya juga masih ada di bioskop. Sedangkan teman-temanku hanya akan tinggal di Suwon selama dua hari. Jadi, jelas teman-teman yang menjadi prioritas.

Saat itu aku sama sekali tidak berpikir bahwa mengingkari janji yang sudah dibuat berhari-hari sebelumnya, apalagi tanpa konfirmasi pembatalan pada orang yang dijanjikan, sungguh bukan hal yang terpuji. Aku tidak berpikir bahwa Eun-Mi akan sakit hati. Jadi ketika gadis itu mengomeliku tentang “tidak tepat janji”, aku justru marah besar padanya. Aku membentak-bentak Eun-Mi seperti orang kesetanan, mengatakan berbagai hal menyakitkan, termasuk tentang “membutuhkan waktu untuk menjauh” dari Eun-Mi. Benar-benar tidak masuk akal jika diingat-ingat sekarang. Aku bahkan menyuruhnya untuk tidak menggangguku, apalagi menelepon, saat aku sedang bersama teman-temanku.

Lee Hyun-Ji yang berumur 15 tahun itu jelas hanya memikirkan dirinya sendiri. Betapa aku ingin dimaklumi, dimengerti, dan tidak dimarahi meskipun aku sudah berbuat salah dengan mengingkari janjiku. Pokoknya hanya aku yang boleh marah, hanya aku yang paling benar, tanpa sedikitpun memikirkan hati Park Eun-Mi saat itu.

Saat itu Eun-Mi menangis keras, air matanya tumpah seperti hujan, namun ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Kemudian aku yang tengah kesal meninggalkannya di tepi jalan di depan sekolah, dan sama sekali tidak muncul lagi di hadapan gadis itu sampai tiga hari setelahnya, ketika Eun-Mi nekat memanjat pohon Walnut di tengah malam demi mengetuk jendela kamarku dan minta maaf –meskipun pertengkaran kami sama sekali bukan salahnya. Namun aku justru membanting jendela keras-keras di depan wajah Eun-Mi, hingga gadis itu menangis keras sambil berpegangan erat-erat di dahan pohon, memohon-mohon agar aku memaafkannya, agar aku tidak marah lagi padanya, meski, demi Tuhan, ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.

Sungguh, aku sama sekali tidak bangga dengan sikapku. Jika saat ini aku masih bisa mengatakannya pada Park Eun-Mi, aku akan mengeluarkan seluruh persediaan kata maafku atas setiap tetes air mata dan setiap sakit hati yang harus ia rasakan, hanya karena sifatku yang egois dan keras kepala.

Ketika menginjak tahun kedua di senior high school, aku menyatakan cintaku pada Park Eun-Mi. Gadis yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil itu awalnya terperanjat, tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku. Namun akhirnya ia setuju untuk berkencan denganku, ia setuju bahwa ia juga mencintaiku. Semudah itu. Tetapi menjadi mudah pula bagiku meremehkan hubungan ini dan meminta putus dengannya setiap kali kami bertengkar.

Dua tahun kami berkencan, tak terhitung lagi berapa kali aku memutuskan hubungan dengannya. Setiap kali dikuasai kemarahan, apapun penyebabnya, selalu saja aku berniat putus dengannya. Eun-Mi sampai harus menangis, terkadang memohon supaya aku tidak meninggalkannya seolah ia tahu betul bahwa akal sehatku sedang tidak bekerja, dan aku akan sangat menyesal jika kami benar-benar putus pada akhirnya.

Ya, memang kami belum pernah putus. Semua berkat kegigihan Eun-Mi yang selalu berusaha mempertahankan hubungan kami sekuat tenaga setiap kali aku dikuasai kemarahan, tentu saja. Tapi sama sekali tak terbayangkan olehku betapa sakit hatinya. Betapa ia pasti merasa sangat tak berharga bagiku, betapa ia pasti merasa sangat tidak dicintai, betapa harga dirinya sudah terinjak-injak dan mati dibawah kakiku.

How can you just walk away from me, when all I can do is watch you leave, ‘cause we’ve shared the laughter and the pain, and even shared the tears. You’re the only one who really knew me at all 

Aku pernah bertanya padanya, satu kali, satu minggu sebelum aku pergi ke Seoul dan bergabung dalam training di Fantasy Entertainment.

“Kenapa kau mau jadi pacarku?”

Eun-Mi menjawab sambil tersenyum luar biasa manis. “Karena aku mencintaimu.”

“Kenapa kau mencintaiku?” tanyaku lagi.

“Karena kau membuatku banyak tertawa'” sahut Eun-Mi.

“Apa?” Aku terbelalak. “Mungkin maksudmu, aku membuatmu banyak menangis?”

“Kau sudah mendengarku, Lee Hyun-Ji. Kau membuatku banyak tertawa,” tukas Eun-Mi. “Ya, memang kau banyak membuatku menangis juga, banyak sekali.. Tapi aku harus mengakui bahwa kau adalah sumber kebahagiaanku yang utama,” tambahnya seraya melingkarkan kedua tangan disekeliling bahuku dan memelukku erat-erat.

Kata-kata Eun-Mi hari itu membuatku berpikir selama beberapa hari. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi sumber kebahagiaan nomor satu, sekaligus sebagai sumber kesedihan nomor satu? Setelah bertahun-tahun berlalu, barulah aku belajar bahwa memang seperti itulah cinta bekerja. Kadang membuatmu bahagia sampai lupa diri, terkadang membuatmu jatuh terpuruk sampai di dasar bumi. Dan jika aku sungguh-sungguh mencintai Eun-Mi saat itu, seharusnya aku berusaha lebih keras untuk tidak membuatnya mengecap sisi pahit dan rasa dalam hubungan kami.

Tetapi semua yang kukatakan barusan hanya teori yang bisa kupikirkan saat ini, setelah semuanya terlambat. Lee Hyun-Ji yang saat itu berusia 22 tahun –merasa di puncak dunia karena baru saja debut menjadi salah satu personil New High, salah satu idol group Fantasy Entertainment yang langsung meraih reputasi luar biasa bahkan sebulan setelah naik panggung untuk pertama kalinya, tentu saja semakin egois dan bersikap mau menang sendiri pada kekasihnya yang sudah begitu setia.

Pernah suatu hari, Eun-Mi tiba-tiba muncul di depan studio Fantasy Entertainment di pusat kota Seoul, setelah menempuh lebih dari satu jam perjalanan dari Suwon, hanya karena AKU sudah tiga hari tak mau mengangkat teleponnya. Tentu saja, kami bertengkar dan aku marah padanya seperti biasa, membentak-bentak lalu menutup telepon dan tak mau bicara lagi dengan Eun-Mi meski gadis itu mencoba menelepon ratusan kali.

Di hari yang lain, ketika kami kembali bertengkar, aku bahkan sempat memutuskan hubungan secara sepihak lalu membanting ponselku hingga mati. Tak sampai dua hari kemudian, Park Eun-Mi kembali muncul di depan apartemen tempatku tinggal bersama personil New High, untuk memohon-mohon padaku agar aku tidak meninggalkannya. Padahal pertengkaran kami sebelumnya sama sekali bukan salah Eun-Mi, demi Tuhan.

Saat itu aku marah karena Eun-Mi menjawab teleponku tidak dengan nada ceria seperti biasa, itupun karena ia sedang merasa tak enak badan, bukannya karena tak menghargai AKU yang sudah berusaha menelepon di tengah jadwal yang padat. Tapi aku, tentu saja berprasangka buruk padanya, kemudian berubah jadi monster dan kembali membentak-bentak Eun-Mi sampai ia menangis dan akhirnya nekat berangkat ke Seoul untuk meminta maaf padaku.

Jika waktu benar-benar bisa diulang kembali, aku akan menyembah di ujung kakinya, meminta maaf atas seluruh air mata, waktu dan tenaga yang ia habiskan untuk memohon padaku agar tidak meninggalkannya. Akulah yang akan memohon agar ia tidak meninggalkanku, agar ia terus berada disampingku, melengkapi tawa dan tangisku.

Di hari penutup dari segala cerita itu, aku sedang marah besar pada Eun-Mi. Dan seperti biasa, aku menolak mengangkat teleponnya dan sempat meminta putus saat terakhir kali bicara padanya. Kali itu kami bertengkar hanya karena Eun-Mi kesal aku tak bisa pulang ke Suwon saat hari ulang tahunnya. Eun-Mi mengomel sedikit di telepon, namun aku menjawabnya dengan kemarahan yang lebih besar, bahkan mengatainya cerewet ketika aku seharusnya meminta maaf karena mengecewakannya.

Eun-Mi sudah menelepon dua puluh lima kali sejak sambungan terakhir kuakhiri dengan semena-mena. Hingga keesokan paginya aku bangun tidur dan menemukan dua pesan di ponselku. Satu dari Eun-Mi, dan satu lagi dari ibuku.

Dalam pesannya yang cukup panjang, Eun-Mi berkata :

Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa pulang dan merayakan ulang tahunku di Suwon, sungguh tidak apa-apa. Aku tidak akan mengomel lagi, tidak akan cerewet lagi. Kumohon maafkan aku. Jangan marah lagi padaku. Aku mencintaimu, Lee Hyun-Ji.

Pesan yang kedua berkebalikan dengan pesan Eun-Mi, Ibuku hanya berkata :

Telepon Omma ketika kau bangun.

Aku ingat betul angin dingin yang tiba-tiba merayapi seluruh tubuhku sesaat setelah membaca pesan itu. Aku cepat-cepat menelepon Ibuku, dan kabar itupun datang. Menghantam seperti gelombang yang kuat, melemahkan seluruh tulang, otot dan syaraf tubuhku. Aku tak lagi kuat berdiri, tak lagi bisa berpikir setelah ibuku menyampaikan kenyataan yang bahkan sampai saat ini belum bisa kuterima.

“Hyun-Ji ya…”

“Ada apa, Omma?” tanyaku cepat sesaat setelah Ibu mengangkat telepon.

“Kau masih di apartemen?” Ibuku balas bertanya.

“Masih, aku baru saja bangun,” sahutku. “Ada apa, Omma? Kenapa Omma memintaku menelepon?”

“Hyun-Ji ya…” Ibuku kembali mengambil jeda diantara kalimatnya yang terdengar ganjil. “Semalam Eun-Mi mengalami kecelakaan.”

“Eun-Mi?” Aku mengulang, takut salah dengar.

“Terakhir kali ia pamit pada Ayahnya akan pergi ke stasiun, membeli tiket kereta untuk mengunjungimu di Seoul besok pagi,” ujar Ibu perlahan, seolah dengan begitu ia bisa membuat semuanya terdengar lebih baik di telingaku. “Ketika hingga larut malam ia tidak pulang, Ayahnya mulai khawatir. Ponselnya tidak bisa dihubungi, jadi Park Yong-So ssi pergi menyusul Eun-Mi ke stasiun. Tapi…”

“Omma? Tapi apa?” Aku nyaris kehilangan kesabaran ketika tangis Ibuku pecah. Ia tersedu-sedu diujung telepon hingga rasanya sulit untuk mendengar apa yang selanjutnya ia ucapkan. “Eun-Mi tergeletak di tengah jalan, tak jauh dari taman tempat kalian biasa bermain waktu kecil. Kau ingat kan, Hyun-Ji ya? Taman di dekat sekolah dasar yang…”

“Yang ada ayunan kecil dan jungkat-jungkit ditengah-tengahnya? Aku ingat, Omma,” sahutku, tenggorokanku tercekat. Ini pasti kabar buruk. Pasti.

Tentu saja aku tak pernah melupakan taman itu. Aku dan Eun-Mi sering sekali bermain disana sejak kecil, hingga terakhir kali aku pulang ke Suwon, saat atunan-ayunan itu sudah kekecilan untuk kami berdua. Taman itu juga tempatku menyatakan cinta pada Eun-Mi lima tahun yang lalu, aku tidak mungkin lupa.

“Tubuh Eun-Mi tergeletak tak jauh dari situ, di tengah jalan, bersimbah darah… ya Tuhan… Hyun-Ji ya…”

Setelah itu Ibuku tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia kembali menangis tersedu-sedu, bersamaku yang ikut menangis di seberang telepon. Meski otakku belum tahu apa yang terjadi selanjutnya pada gadis kesayanganku itu, namun sepertinya hatiku sudah memahami arti dibalik tangis Ibuku.

Park Eun-Mi meninggal dunia satu hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke 22. Gadis itu menjadi korban tabrak lari yang tak pernah terungkap. Eun-Mi ditemukan di tengah jalan, tak jauh dari taman seperti yang diceritakan Ibuku, dengan darah mengalir dari sisi kanan kepalanya. Saat ditemukan Ayahnya, kondisinya sudah sangat kritis karena kehilangan banyak darah. Eun-Mi pergi, bahkan sebelum sampai di rumah sakit.

Aku tak ingin membayangkan seperti apa kondisinya ketika ia ditemukan, tetapi saat aku pulang ke Suwon keesokan harinya, gadis itu seolah sedang tersenyum di balik kaca yang menghiasi tempat tidur terakhirnya. Wajahnya yang cantik tampak tenang, nyaris membuatku tak percaya bahwa tubuh pucat itu sudah tak bisa lagi bangun dan memelukku erat-erat seperti yang senang sekali dilakukannya.

Dari Ayahnya, aku diberi tahu bahwa Eun-Mi ditemukan dengan ponsel yang masih menyala dalam genggamannya, dan nomor terakhir yang sedang dihubunginya adalah nomorku. Ayah Eun-Mi sempat mengira anak gadisnya sedang bicara padaku sesaat sebelum kecelakaan, ia bahkan mencoba menyapaku di ujung telepon, hanya untuk bicara ke kotak perekam suara.

Park Eun-Mi berusaha menghubungiku hingga akhir. Ia selalu berusaha mempertahankan cintanya, selalu berusaha melakukan segala cara agar aku memaafkannya, selalu, hingga saat-saat terakhir dalam hidupnya.

Mungkin tidak ada kata yang bisa mewakili perasaanku saat itu. Tak akan terbayangkan oleh siapapun penyesalan yang bercokol di dadaku, hingga hari ini, tepat peringatan 8 tahun kepergian Eun-Mi. Jutaan kali aku membayangkan apa yang akan kulakukan jika waktu bisa diputar kembali. Aku tidak akan pernah sekalipun membuatnya menangis. Aku tidak akan pernah sekalipun membentaknya, tidak akan membanting jendela, pintu atau apapun di depan wajahnya, tidak akan pernah mengabaikan teleponnya, tidak akan mengecewakannya, tidak akan memarahinys. Aku akan melimpahkan kasih sayang yang setara, bahkan mungkin lebih dari yang pernah ia berikan padaku. Aku akan menjadi sahabat yang baik, aku akan menjadi pacar yang baik, aku akan terus membuatnya tertawa, aku akan mempertahankannya setengah mati, aku akan melakukan segalanya, dan aku juga akan mengatakan bahwa aku…

“Eun-Mi sangat mencintaimu, Hyun-Ji ya… Kisah kalian harus berakhir seperti ini, tentu saja, sayang sekali… Namun baginya, hanya kau, hingga hembusan nafas terakhirnya,” ujar Park Yong-So, Ayah Eun-Mi, saat kami berjalan kembali ke mobil dari pemakaman.

“Ya, Abonim,” sahutku pelan, sembari berusaha keras agar suaraku tidak bergetar. “Aku juga sangat, sangat mencintainya.”

“Terima kasih, Hyun-Ji ya, Nak…” Park Yong-So menepuk-nepuk bahuku, sementara mata tuanya mulai tampak berkaca-kaca.

“Aku yang seharusnya berterima kasih pada Abonim, telah memiliki putri yang sungguh luar biasa.” Tenggorokanku tercekat, namun aku bertekad menyelesaikan kalimatku. Kali ini harus terucapkan, tak akan ada lagi penyesalan di akhir. “Eun-Mi telah menunjukkan caranya mencintai, caranya mempertahankan, memperjuangkan orang yang dicintai. Eun-Mi mengajariku banyak hal, membuatku melihat banyak hal, membuatku merasakan banyak hal.”

“Hyun-Ji ya…” Park Yong-So mengusap air matanya, bersamaan dengan kata-kata terakhir yang keluar dari bibirku.

“Bagiku, hanya akan ada Eun-Mi, Abonim. Untuk setiap hembusan nafasku. Sampai akhir.”

I wish I could just make you turn around,  turn around and see me cry. There’s so much I need to say to you,  so many reasons why. You’re the only one who really knew me at all 

 So take a look at me now,  ‘cause there’s just an empty space, and there’s nothing left here to remind me,  just the memory of your face. Take a good look at me now…

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Green Lifestyle Magazine. Thank you :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s