Ketika Pengendara Sepeda Kehilangan Haknya


Matahari tepat di atas kepala waktu kami meluncur keluar kantor lewat gang-gang kecil, menuju ke salah satu resto mie ayam di Jalan Gejayan. Sampai di pertigaan kecil yang ramai, mobil kami jalan pelan-pelan persis di belakang adik kecil berseragam SD yang naik sepeda. Posisi si adik mau nyebrang jalan, sendirian, bersaing sama mobil dan motor-motor serampangan, belum lagi mobil box, truk sampah dan kendaraan besar lainnya. Jalanan udah agak sepi ketika adik itu mulai nyebrang pelan-pelan, tapi tiba-tiba aja ada ibu-ibu bermotor nyelonong nggak mau kalah dari arah berlawanan. Si ibu durjana itu bukannya ngerasa salah atau gimana –karena posisinya memang salah- malah melototin dan marahin si adik, sampai adiknya nangis sepanjang jalan pulang.

Kelanjutannya ketebak banget, semobil langsung teriak “Wooo…” keras-keras, mengutuki ibu-ibu yang nggak punya hati itu. Kebayang nggak sih adik kecil pulang sekolah panas-panas naik sepeda, mungkin aja di sekolah habis selesai ujian dan nilainya jelek, udah sangat hati-hati mau nyebrang jalan, lalu tiba-tiba ada orang nggak dikenal semena-mena aja nyelonong dan pakai marahin pula. Sebut aja aku terlalu mendramatisir, terlalu melebih-lebihkan, tapi menurut pendapat pribadiku, sikap ibu itu sudah kelewatan. Apa susahnya sih ngalah sedikit? Tahan dulu gasnya lima detik, biar adiknya lewat dulu dengan selamat? How could you be so heartless, Bu? Sigh.

Kejadian siang ini bikin aku jadi ingat, salah satu temen pernah bilang bahwa pengendara sepeda dan pejalan kaki di Indonesia ini seolah sudah nggak punya hak. “Dari SD kita selalu diajarin nyebrang jalan di zebra cross atau jembatan penyeberangan. Tapi apa pernah ditambahkan dan diajari, ‘Bagi kalian yang besok gede naik motor atau mobil juga harus toleransi ya sama pejalan kaki dan pengendara sepeda, karena mereka juga punya hak yang sama sebagai pengguna jalan’? Nggak pernah, kan?”

Dan secara pribadi, aku seratus persen setuju dengan pendapat itu. Para pejalan kaki dan pengendara sepeda punya hak yang sama sebagai pengguna jalan, tapi hak mereka seringkali dirampas seenaknya oleh pengguna kendaraan bermotor, diperlakukan seperti pihak nggak penting yang seolah-olah sudah sewajarnya dikalahkan. Kejadian si ibu dan adik kecil berseragam SD tadi cuma satu contoh di antara seribu. Yang lain mungkin sudah melibatkan darah dan hilangnya nyawa, hanya karena masyarakat nggak mau belajar beretika di jalan raya dan menolak untuk saling menghargai sesama pengguna jalan.

Sedih sekali. Mau begini sampai kapan, wahai Negeriku?

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Children’s Med Dallas. Thank you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s