The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2


“A teenage girl risks everything when she falls in love with a vampire.”

Aku masih ingat betul ketika Twilight diputar di bioskop Jogja tahun 2008. Di hari kedelapan setelah penayangan perdana, Bapak, Ibu, dan Mas Sandi ramai-ramai nemenin aku nonton di Studio 21 di salah satu mall di Jogja, demi menghibur hatiku yang luka. Aku, yang waktu itu baru banget putus dari si pacar setelah mm, dua (atau tiga?) tahun pacaran, rasanya seperti tersayat-sayat sembilu nonton adegan demi adegan, betapa manisnya Edward Cullen, betapa romantisnya kisah cinta Bella-Edward, betapa akhirnya malam itu aku tidur ditemani Carter Burwell’s Bella’s Lullaby, betapa akhirnya aku terobsesi menemukan my own personal brand of heroin, betapa, betapa, betapa…

Dan betapa cepatnya bumi ini berputar, tiba-tiba kita sudah sampai di seri terakhir The Twilight Saga. Setelah nyaris dua minggu menunggu gelombang antrian di Studio 21 mereda, akhirnya aku dapat juga kesempatan untuk nonton Breaking Dawn Part 2 sore ini. Keputusan nonton pun diambil sangat spontan, tiket dibeli lima menit sebelum film dimulai, dengan masih pakai seragam kantor, sendirian pula. Meski sepanjang film aku menggigil kedinginan akibat lupa bawa jaket dan lupa ngajak yang bisa dipeluk (ups!), tapi aku sama sekali nggak menyesal. Karena, seperti yang kuharapkan, sebagai film pamungkas dari seri yang sebegitu fenomenal, Breaking Dawn Part 2 ini luar biasa memuaskan. Bahkan lebih memuaskan dibanding film terakhir Harry Potter yang kupuja-puja itu. Adegan demi adegan, terutama Bella-Edward romantic moments, digambarkan dengan sangat indah. Walaupun mungkin banyak juga yang merasa film ini jelek dan banyak kurang di sana sini, tapi namanya juga film adaptasi. Biar gimana, film yang hanya kita tonton dalam hitungan jam nggak akan pernah cukup untuk menerjemahkan isi dari beratus-ratus lembar buku.

Jadi, ya, sebagai seorang Twi-hard: aku puas banget. Satu-satunya yang bikin aku nggak puas adalah karena terpaksa nahan nangis -tangis terharu waktu lihat adegan Bella ‘membuka’ perisainya dan ngasih lihat memori flashbacknya ke Edward, dan kemudian lagu A Thousand Years Part 2 berkumandang- HANYA KARENA lupa bawa tisu dan takut ingusan. Ha ha ha. Mungkin besok aku harus nonton lagi sambil bawa tisu banyak-banyak! :D

Bonus, Christina Perri feat. Steve Kazee – A Thousand Years Part 2! What a beautiful song! Semuanya siap-siap tisu!

 

The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I’d found a home for my heart…
… beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow

One step closer…

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this

One step closer…

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more

One step closer…

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari CNN. Thank you!
Lyrics credit: lyricsfreak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s