Nyanyian Mimpi Kedai Kolondjono-ku


Tulisan ini dibuat untuk inimimpiku.com, salah satu proyek movement untuk berbagi mimpi, inspirasi, dan motivasi yang dicetuskan oleh Swaragama FM. Check the original post here.

rev 1

Sejak kecil aku selalu senang mampir ke resto, bistro, kafe dan semacamnya yang berkonsep unik. Unik dalam kamusku berarti memiliki desain interior yang homy, hangat, dan membuatku betah berlama-lama di sana, untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, atau nongkrong, atau sekedar duduk dan membaca buku. Bapak, yang dulunya kuliah di bidang perhotelan jurusan Food & Beverages, pernah punya satu resto steak sekitar tahun 2003-an. Sayangnya waktu itu aku terlalu kecil, belum punya dasar apapun untuk menyumbangkan ideku tentang strategi marketing dan promosinya. Akhirnya, resto yang dikelola dengan strategi marketing yang ‘kuno’  itu pun sulit berkembang, dan tutup begitu saja. Furnitur sebagian dikirim ke hotel keluarga dengan harapan siapa tau bisa dipakai, dan sebagian lagi dibawa pulang untuk sekedar menuh-menuhin rumah yang sudah sempit.

Sampai bertahun-tahun kemudian, Bapak seolah nggak mau lagi melanjutkan mimpinya. Sampai akhirnya, anaknya yang ambil banyak kuliah tentang brand dan advertising ini mulai berani menyampaikan mimpinya sendiri: membuka kafe atau resto dengan konsep yang kurancang sendiri. Untuk mewujudkan impian itu, aku menghabiskan bertahun-tahun untuk membuktikan diri, menggali kemampuan dan kepercayaan dari orang tuaku bahwa anak perempuannya yang satu ini nggak cuma bisa ‘ngomong doang’ tanpa hasil.

Tiba pada suatu hari, sekitar sebulan sebelum wisudaku tahun lalu, tercetus ucapan Ibu, “Kita coba rintis kedai makan organik yuk!” yang kemudian membuka jalan untukku. Ibu, yang memang bekerja di bidang kesehatan dan penyembuhan holistik, sudah lama menjalani pola makan sehat dan food combining, sehingga kami pun seringkali terbawa. Mulai dari mengurangi makan mie instan, makan buah sebelum makan nasi, mengganti ayam potong dengan ayam kampung sesekali, mengkonsumsi sayur-sayuran organik, dan meniadakan sama sekali MSG, pemanis dan pewarna buatan dalam makanan sehari-hari. Akhirnya, ide itulah yang kami wujudkan dalam kedai makan yang kami beri nama Kedai Organik Kolondjono.

Nama ‘Kolondjono’ diambil dari nama jenis rumput yang biasa untuk pakan ternak. Kata Bapak, rumput ini bisa mudah tumbuh meski sering-sering dipangkas untuk pakan ternak. Kata Ibu, ternak yang makan rumput Kolondjono bisa memberi banyak manfaat untuk umat manusia, jadi begitulah kami: bercita-cita memberi manfaat dan menularkan kebiasaan makan sehat kepada teman-teman terdekat, dan (semoga) masyarakat luas.

Aku sudah sangat bersyukur dan puas dengan Kedai Organik Kolondjono yang dibuka hanya tiap Selasa, di teras rumah, dengan tamu-tamu yang harus reservasi sebelumnya. Tamu kami terus bertambah, mulai dari yang teman-teman sampai tamu-tamu yang mengenal kami dari social media. Aku juga punya ruang gerak yang leluasa untuk mempraktekkan strategi promosi dan manajemen brand yang kupelajari di bangku kuliah. Tapi, mimpi untuk membangun dan mengelola resto-ku sendiri tetap tak pernah hilang. Satu demi satu kukumpulkan gambar-gambar resto dan kafe impianku dari internet, beberapa sengaja kucetak dan kupajang di dinding kamar, sebagai pengingat akan cita-citaku itu.

Akhirnya, sekitar tiga bulan yang lalu, aku memberanikan diri mengajukan ‘proposal’ pada Bapak dan Ibu. Lengkap dengan latar belakang, target market, rencana konsep, strategi promosi, sampai perkiraan desain interior dan rancangan bangunan sederhana yang kubuat dengan kemampuan Photoshop (Photoshop! Mana ada orang bikin rancangan bangunan pakai Photoshop?) yang pas-pasan. Entah karena proposalku yang memang meyakinkan, atau melihat perkembangan Kedai Organik Kolondjono yang mulai berkembang, yang jelas Tuhan akhirnya menjawab doaku. Mimpiku perlahan-lahan terwujud. Diawali seremoni peletakan batu pertama yang sederhana, kedai-ku dibangun di lahan seluas 5 x 5 meter di halaman depan rumah, dengan bangunan mungil berbentuk seperempat lingkaran. Aku sengaja mengusulkan bata merah expose untuk dinding luar dan sebagian dinding dalamnya, untuk mewujudkan kedai impianku yang berkonsep homy dan hangat. Seluruh furniturnya kami desain dan pilih sendiri, dan nantinya aku berencana memberikan seluruh sentuhanku pada tatanan interior dan dekorasi, berharap setiap tamu kami bisa merasakan kecintaan yang sama pada kedai mungil kami, sama seperti kecintaanku, kecintaan kami, saat berusaha mewujudkannya.

Saat ini, Kedai Organik Kolondjono masih dalam tahap pembangunan. Menunggu kanopi pesanan kami jadi, memasang kaca, instalasi lampu, finishing interior, dan banyak lagi pekerjaan bangunan yang nggak kumengerti. Masih panjang perjalanan, masih akan ada banyak rintangan, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk nggak mengeluh dan terus bergerak maju. Ini mimpiku, dan aku akan terus berusaha untuk mewujudkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s