Lovestruck [TEASER 1]


Setelah sekian lama berhenti nulis, mengabaikan Lee Jong-In dan Amanda Jones  dengan alasan segudang, akhirnya datang sebuah SMS dari salah satu temen kuliah dulu, @AyuKarwinandhi (go follow her!) untuk kolaborasi nulis sebuah cerita. Cerita cinta. Dalam bahasa Indonesia. Setting di Jakarta yang mana tokoh-tokohnya bakal banyak ber-gue-lo dan dialognya harus menyesuaikan gaya bicara anak muda di kota metropolitan. Setelah mm… 5 atau 6 tahun aku berhenti nulis segala sesuatu yang setting-nya di Indonesia, memulai cerita ini jelas butuh effort lebih.

Apalagi,  dalam project ini aku kebagian mengembangkan karakter si tokoh cowok, Reza Adinata. 30 tahun, interior designer, married. Effortnya jadi ganda, karena aku jelas belum pernah tau rasanya menikah, gimana caranya aku berperan sebagai suami? Aku juga kan nggak pernah jadi laki-laki, dan nggak tau gimana sih sebenernya pola pikir makhluk-makhluk Mars itu. Akhirnya dua jam sebelum mulai nulis aku habiskan dengan buka-buka lagi novel ber-setting Indonesia (yang juga udah tinggal sedikit banget di rak buku-ku), lalu tulis hapus tulis hapus berkali-kali, sampai akhirnya nemu feel yang pas. Ternyata jadi laki-laki yang sudah menikah nggak susah susah amat! Haha.

Ini dia sneak peek Chapter 1 part-nya Reza, hasilku bertapa 1 hari 1 malam di Kawah Chandradimuka. Enjoy! Ditunggu kritik dan sarannya ya! :)

holding-hands-kissthegroomcom

Reza

Memangnya masih belum cukup seharian aku diceramahi dan disindir Ibu habis-habisan soal “belum punya momongan”? Ditambah lagi Bapak, Budhe Tatik, Pakdhe Toni, bahkan Reno dan Sarah pun ikut-ikutan ngasih tips memalukan supaya “cepat dapat momongan”, seolah-olah aku ini pengantin baru yang nggak tahu apa-apa.

Dan sampai rumah, giliran Nadine yang ngoceh tanpa jeda. Ribut menanyakan hal-hal yang seharusnya nggak perlu dia tahu, hanya gara-gara dia nggak sengaja mendengar hal-hal yang seharusnya nggak perlu dia dengar.

“Hhhh…” Aku bergulung di sofa ruang TV sambil menarik selimut tinggi-tinggi hingga ke dagu.

Gara-gara perjanjian sialan yang diusulkan Nadine –bahwa kami dilarang tidur di luar rumah kalau nggak ada situasi darurat, atau memang berencana nginap di luar berdua- aku jadi terpaksa memilih tidur di sofa yang ukurannya cuma menampung tiga per empat tubuhku, bukannya kabur ke apartemen Ryan, sahabatku yang tinggal di tower sebelah, atau kabur ke kantor sekalian dan numpang tidur di sofa-bed yang ada di ruang rekreasi karyawan.

Bukannya aku benci pada istriku sendiri atau kepingin cerai, pisah ranjang dan semacamnya. Tapi aku benar-benar nggak tahu harus jawab apa kalau dia mulai tanya-tanya lagi soal Reisa, soal omongan Ibu, soal pernikahan kami. Karena pilihannya untuk Nadine cuma dua: tahu yang sebenarnya lalu sakit hati sampai sisa pernikahan kami, atau nggak perlu tahu sama sekali dan biarkan aku yang pelan-pelan belajar menerima dan mencintai dia seutuhnya sebagai istri.

Dan kalau aku boleh memilihkan nasib untuk Nadine, aku akan berusaha supaya dia nggak perlu tahu sama sekali selagi aku belajar sekuat tenaga untuk benar-benar bisa mencintai dia.

Rasanya aku baru tidur lima menit ketika denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen mengusik telingaku. Nadine Haryaatmadja, perempuan yang resmi jadi istriku sejak enam bulan yang lalu itu sudah tampak sangat cantik –sepagi ini? Pelanggaran besar, mengingat aku masih awut-awutan dan berwajah bantal- dalam balutan tank top hijau muda dan celana pendek berbahan kaus.

“Pagi, Sayang…”

Ia menoleh dari cangkir tehnya dan menatapku sekilas, sebelum akhinya menunduk lagi. Sama sekali nggak berminat menjawabku.

Aku menghela nafas pelan sebelum berusaha lagi. “Kamu masih marah?”

“Aku nggak marah,” jawab Nadine, sedikit ketus. “Aku cuma perlu kamu jawab pertanyaan aku.”

“Pertanyaan yang mana sih, Din, aku baru juga bangun kok kamu udah…”

“Yang semalem.”

“Tentang apa sih…”

“Kamu nggak usah pura-pura lupa deh, Rez.” Nadine menoleh dan memelototiku. “Aku jelas-jelas semalem tanya, siapa Reisa itu? Kenapa kamu bilang kamu HARUS nikahin aku?”

“Kamu tuh salah denger, Sayang,” jawabku cepat.

“Apanya sih yang salah denger? Jelas-jelas semalem Ibu nyebut-nyebut tentang Reisa, terus kamu juga…”

“Nadine,” selaku. Selama satu detik aku berpikir untuk bohong. Melarikan diri dari topik, ngeles, atau apapun sebutannya. Tapi rasanya percuma. Istriku yang keras kepala itu pasti akan terus tanya, tanya, dan tanya sampai dapat jawabannya. “Oke, gini, denger ya. Aku cuma punya waktu sepuluh menit untuk ngejelasin ini sama kamu, aku harus siap-siap ke kantor, jam sembilan ada…”

“Ke kantor?” Nadine makin cemberut. “Ini kan hari Minggu, Rez! Jangan bilang kamu harus lembur lagi…”

“Aku memang harus lembur lagi, Nadine. Kamu kan tau, aku ditunjuk jadi project leader untuk The James Singapore, dan hari ini representatif mereka dari Chicago dateng dan…”

“Oke, terserah. Aku nggak mau tau sama urusan kerjaan kamu yang nggak ada abisnya itu.” Giliran Nadine yang menyela kalimatku. “Aku cuma butuh kamu jawab aku sekarang, Reza. Siapa itu Reisa?”

“Reisa itu mantan pacarku.” Akhirnya aku terpaksa menjawab. Sementara kening istriku itu makin berkerut-kerut.

“Terus? Ayo lanjutin!” tuntutnya.

Aku mendesah lagi sebelum menjawab, “Nggak ada lanjutannya, Din. Aku…”

“Nggak ada lanjutannya gimana? Terus soal kata kamu, kamu harus nikahin aku itu apa?”

“Itu aku cuma salah ngomong aja.”

“Tadi aku yang salah denger, sekarang kamu yang salah ngomong?” Nadine berdecak. Ia jelas sudah marah besar. “Kenapa kamu nggak jujur aja sih, Rez, sama aku?”

“Aku harus jujur apa, Din?” tanyaku dalam aksi pura-pura bodoh yang terlalu kentara.

“Jujur, apa bener kamu terpaksa nikahin aku? Apa bener Ibu yang maksa kamu nikahin aku, waktu kamu masih pacaran sama Reisa Reisa itu?”

Oke, dia sebut semua poinnya dengan tepat. Aku sama sekali nggak bisa memutuskan harus jawab apa.

“Reza, jangan diem aja!” Suara Nadine sedikit bergetar, bahkan sudah ada tanda-tanda air mata di sudut matanya yang cantik. “Jujur sama aku, apa bener kamu…”

“Iya,” jawabku. Akhirnya.

“Apa?”

“Bener.”

“Apanya yang bener?”

“Semuanya.”

PRANG!

Gelas porselen biru kesayangan Nadine, yang dibelinya waktu kami bulan madu ke Paris, jatuh dan pecah berantakan. Air teh yang belum sempat dihabiskannya tumpah. Tapi dia sama sekali nggak peduli. Nadine justru berbalik, membiarkan telapak kakinya menginjak pecahan-pecahan gelas sampai meninggalkan noda darah di lantai, lari ke kamar dan membanting pintu di belakangnya.

“Nadine!”

Oke, mungkin seharusnya aku memilih untuk bohong, melarikan diri dari topik, ngeles, atau apapun selain bicara jujur pada istriku yang sekarang pasti sudah membanjiri semua bantal dengan air matanya.

Read full chapter on Ayu Karwinandhi’s blog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s