Lovestruck #2


It’s Reza Adinata‘s time! Enjoy! ;)

dinner

Reza

“Gila, Yan, pegel banget nih leher gue!” Aku berseru keras pada Ryan yang sedang memelototi komputernya di meja seberang.

“Emangnya gue enggak? Gila ya nih project! Duitnya gede banget sih, tapi kerjaannya juga bakal gila-gilaan. Kayaknya setengah tahun ke depan kita harus hidup di kantor deh!” Sahabatku itu menggerutu pada layar monitornya selama tiga puluh detik setelahnya, hingga akhirnya menyerah. Mematikan komputer dan mulai memberesi barang-barangnya.

“Udah lah kita pulang aja sekarang, man. Mumpung masih ada kesempatan pulang ke rumah, sebelum besok mulai harus camping di kantor,” tukas Ryan.

“Lo duluan aja deh,” sahutku, mendadak malas dengan ide ‘pulang ke rumah’ yang dibicarakan Ryan.

“Masih ngerjain apa lagi sih lo? Besok aja lah, yang penting kan rancangan yang diminta Pak Arman buat besok pagi udah beres,” ujar Ryan. “Kagak kangen apa sama bini? Hari Minggu bukannya asoy di rumah berdua Nadine malah lembur sama gue.”

Nah, itu dia persoalannya. Nadine. Nadine yang masih marah dan pasti masih punya sejuta pertanyaan lainnya lagi tentang Reisa, tentang…

“Nape lo diem aje?” Tiba-tiba pertanyaan Ryan membuyarkan pikiranku.

“Kagak, gue cuma lagi males aja cepet-cepet pulang,” sahutku cepat.

“Wah, lagi berantem nih hawa-hawanya,” tebak Ryan sambil cengar-cengir menggoda. “Jangan keseringan berantem napa? Punya bini cakep gitu…”

“Bukan persoalan bini gue cakep apa nggak, Yan. Cuma kadang nggak tahan aja gue.”

“Nggak tahan buat nggak mikir mesum tiap kali liat dia? Mesum sama bini sendiri nggak pa-pa kali, kan tinggal….”

“Sialan lo!” Aku memelototi Ryan yang langsung terbahak. “Maksudnya, gue nggak tahan kalo dia mulai nanya-nanya soal… ah, udahlah nggak penting. Yuk, cari makan aja. Laper gue.”

“Cari makan di mana lo? Pulang kali, man… kasian Nadine,” sahut Ryan sembari menyandangkan postman bag hitamnya di sebelah bahu.

Sementara aku menggeleng malas sambil menyambar iPhone yang kuletakkan di meja dan bangkit berdiri. “Gue mau ke mall seberang aja lah, makan di Fish & Co. Mau ikut nggak lo?”

Ryan si kutu kupret ternyata sudah punya janji makan malam dengan Sandra, tunangan yang akan segera dinikahinya awal tahun depan. Jadi terpaksa aku menyeberang sendirian ke Pacific Place, naik ke Fish & Co di Lantai 4, memesan Fish and Chips favoritku dan…

“Aduh!”

Tiba-tiba terdengar seorang wanita berseru keras ketika aku tak sengaja menubruk punggungnya yang mungil.

“Eh! Sorry, sorry! Nggak sengaja, ma…” Kalimat permintaan maafku berhenti di tengah-tengah saat akhirnya mengenali wajah wanita di hadapanku itu. “Reisa?”

“Reza?” Wanita itu membelalakkan matanya selama beberapa detik, sebelum akhirnya melingkarkan tangan ke sekeliling leherku, memeluk dan mengecup kedua pipiku.

Persis seperti dulu, seperti saat sebelum kami putus, sebelum aku dipaksa menikah dengan Nadine. Oh, crap. I miss her a lot.

“Ya ampun, Reza! Astaga, nggak nyangka ketemu kamu di sini…” ujar Reisa sembari mengembangkan senyumnya yang luar biasa manis.

“Aku yang nggak nyangka ketemu kamu di sini, Rei. Kirain kamu masih di Aussie.” Aku membalas senyumnya, sementara kedua mataku sama sekali nggak bisa lepas dari wajah Reisa.

 Matanya, hidungnya, bibirnya, kulitnya, lekukan pinggulnya, kaki jenjangnya. Sialan, kenapa dia makin cantik?

“Aku memang baru balik sekitar sebulan, Rez. Nggak tahan tinggal jauh-jauh sama sambel lalap, akhirnya minta pindah ke Jakarta lagi,” sahut Reisa. “Kamu apa kabar, Rez?”

“Baik, Rei,” jawabku.

“Lagi sibuk banget ya di kantor? Muka kamu sampe kusut gitu.” Reisa mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipiku sekilas. “Eh, masih di MetaMorph kan, Rez?”

“Masih.” Aku mengangguk cepat, berusaha menyembunyikan sikap salah tingkahku yang memalukan. “Rei, gimana kalau kita duduk? Kayaknya kita ngehalangin jalan deh…”

“Iya, ya? Ya udah yuk duduk! Di mana?” Reisa mengembangkan tawanya yang renyah. Membuatnya semakin tampak…

 Glowing. Yeah, she’s definitely glowing.

“Terserah kamu,” jawabku.

“Di pojok sana aja yuk, tempat favorit kita dulu.”

“Boleh.”

Read full chapter on Ayu Karwinandhi’s blog.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Open Table. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s