Lovestruck #3


Here we go again… Reza‘s part masih di Chapter 2. Enjoy, readers! :)

baby walking

Reza

“Jadi, kamu bener-bener udah nyaris camping di kantor ya?”Reisa menyeruput ocha panas dari gelasnya, lalu kembali menatapku. Kami berdua sedang makan malam di Sushi Tei, pertemuan kedua kami. Bukan, bukan permintaanku. Reisa yang ngotot minta ditemani makan sushi di resto favoritnya ini.

“Nostalgia, Rez. Inget-inget jaman dulu, sambil ngobrol-ngobrol aja. Aku kangen.” Begitu katanya di telepon siang tadi. Membuatku nggak bisa menolak lagi dan terpaksa menerima ajakannya. Meski sebenarnya aku juga nggak terlalu yakin, apa aku benar-benar terpaksa?

“Berangkat pagi-pagi pulang tengah malem gitu setiap hari, emangnya nggak capekya, Rez?” tanya Reisa lagi. Kedua mata bulatnya yang jernih menatapku lurus-lurus.

“Ya capek sih, Rei. Tapi gimana, aku kan tetep harus pulang…” jawabku sambil mengangkat bahu.

“Takut istri kamu marah ya kalau sering-sering nginep di kantor?”

Shoot. Reisa menembak ke arah yang salah. Mood-ku langsung drop teringat hubunganku dan Nadine yang masih dalam fase perang dingin selama dua minggu terakhir.

“Nggak juga sih,” sahutku enggan. “Cuma…”

“Ngomong-ngomong soal istri kamu, kapan dong aku dikenalin?” potong Reisa tiba-tiba. Tembakan kedua yang membuatku melongo selama beberapa detik.

“Kamu mau kenalan sama Nadine?” tanyaku, bingung.

“Iya dong, biar dia aware aja.” Reisa tersenyum manis sambil menyentuh tangan kananku di atas meja.

“Aware gimana maksud kamu?”

“Aware kalau ada aku dong, Reza.”

“Maksudnya apa, Rei?”

“Dia berhak tau kan, kalau ada perempuan lain yang masih cinta sama suaminya?”

Tembakan ketiga. Aku benar-benar sudah lumpuh sekarang. Apa maunya Reisa ini sebenernya?

“Reisa, kamu itu ngomong apa.” Aku menarik tanganku dari genggaman perempuan cantik yang duduk di hadapanku itu sambil menatapnya dengan wajah tegang.

“Aku serius, Rez,” jawab Reisa lembut. Ia kembali menarik tanganku.“Kali ini aku nggak akan berhenti, aku nggak akan nyerah.”

“Rei…”

BRUK!

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba sosok kecil jatuh persis di samping meja tempat kami duduk. Ternyata anak laki-laki kecil, aku nggak bisa memperkirakan umurnya, tapi jelas masih sangat kecil. Memakai T-shirt abu-abu muda, celana putih dan sepatu mungilnya yang menggemaskan, sekarang sedang menangis keras-keras. Mungkin kaget atau kesakitan karena jatuh.

“Aduh, Sayang… Namanya siapa? ” Reisa bangkit dari tempat duduknya lalu berjongkok di depan si kecil. Kedua tangannya otomatis terulur.“Sini sama Tante, jangan nangis lagi ya”

“Oalah, Dika, jatuh ya, Nak? Gendong Mama  yuk, gendong Mama…” Tak lama kemudian ibu si kecil datang dan langsung menggendong putranya yang masih menangis, lalu tersenyum pada Reisa. “Makasih ya,” ujarnya.

“Sama-sama.” sahut Reisa. Senyum cantiknya mengembang. “Oh, namanya Dika ya? Umurnya berapa?”

“Satu tahun. Baru belajar jalan,” jawab Ibu Dika.

“Aduh, pinternya…” Reisa tersenyum lagi sambil memainkan tangan mungil Dika. “Dika pinter, besok hati-hati ya, Sayang…”

“Iya, Tante… Ayo Nak, kasih salam dulu sama Tante cantik.” Dika kemudian menyentuhkan tangan Reisa ke pipinya, lalu si Ibu mengangguk pada Reisa. “Mari…”

Reisa menjawab dengan anggukan sopan lalu melambai dan tersenyum pada Dika dalam gendongan ibunya, sebelum akhirnya kembali duduk.

“Rez, inget nggak, dulu kita pernah pengen ngasih nama anak kita Reiza, gabungan dari nama kamu dan nama aku. Terus kamu bilang, nama belakangnya Adrinata, dari Adriana dan Adinata,” ujarnya sambil menatap mataku.

“Kalau dipikir-pikir sekarang norak juga ya, Rei.” Aku tertawa kecil. Namun kedua mata jernih Reisa justru tampak serius. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat denganku dan bicara lagi.

“Norak ya?” tanyanya. “Tapi Rez, kalau waktu itu kita nikah, kalau kamu nggak nurutin kemauan Ibu kamu buat nikahin perempuan itu, mungkin sekarang Reiza udah lahir… atau mungkin udah belajar jalan. Reiza. Anak kita, Rez.”

Double shoot. Aku yang sudah lumpuh jadi semakin nggak berdaya.

Tapi sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjawab kata-kata Reisa, mendadak ponselku bergetar dari dalam saku kemejaku. Layarnya menampakkan nama dan nomor ponsel Ibu.

“Halo, Bu?” sapaku.

“Reza, jadi makan malem sama Ibu, kan? Ini lho istrimu malah udah sampai duluan, kamu di mana?” Ibu bertanya dari ujung telepon.

“Maaf, Bu…” Aku menghela nafas pelan. “Kayaknya aku nggak bisa ikut makan malem sama Ibu. Aku… ini aku masih ada meeting sama klien. Besok Ibu aku jemput, kita makan siang ya? Malem ini Ibu sama Nadine berdua nggak apa-apa, kan?”

“Walah, kamu itu kok meeting terus tho?” protes Ibu. “Yo wis lah, Ibu berdua Nadine aja.”

“Maaf ya, Bu,” ujarku sebelum menutup telepon dan kembali memandang Reisa yang sedang balas menatapku sambil tersenyum tipis.

“Klien?” tanyanya.

“Rei, jangan mulai,” desahku.

“Mulai apa sih, Rez? Justru aku seneng kalau kamu udah mulai bandel begitu.”

“Bukan bandel, aku cuma…”

“Cuma lebih milih makan malem bareng aku daripada bareng Ibu dan istri kamu? That’s my man,” kata Reisa seraya menepuk punggung tanganku dan tersenyum semakin lebar.

“Ya udah, kita jadi makan atau atau nggak nih?”

“Jadi dong, asal kamu nggak pake manyun gitu ya, gantengnya luntur, tau!”

Aku akhirnya hanya menjawab kata-kata Reisa dengan senyuman lebar, sebelum mulai menyantap California Roll-ku. Berusaha melupakan sepenuhnya urusan Nadine, Ibu, dan pernikahanku yang mulai abu-abu.

 

Read Nadine’s part on Ayu Karwinandhi’s blog.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari WebMD. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s