After #1


Akhirnya, akhirnya, akhirnya bumi dan langit kembali mengalirkan inspirasi pada otakku yang membeku selama 4 bulan! :D Tulisan ini tadinya direncanakan sebagai oneshot alias cerita pendek. Tapi tentu saja gagal dan akhirnya berkembang jadi two, three, four, five… semoga aja nggak lebih dari 5 chapter pendek ya, semoga. Plotnya ditulis di suatu hari yang panas, sambil guling-gulingan di tempat tidur karena hari itu aku harus bedrest demi menyembuhkan asma yang kambuh. Inspirasinya? Our favourite K-Pop variety show ever: We Got Married! Enjoy reading and feel free to drop your comment!

Holding hands

Musim dingin. Seoul, 2012.

Arlene memandangi layar ponselnya dengan kedua alis bertaut. Lima belas detik. Tiga puluh detik. Satu menit… benda itu sama sekali tak bergeming. Tidak ada tanda SMS masuk, tidak ada pesan KakaoTalk, tidak ada pesan Line, apalagi telepon.

“Yah, Noona! Siapa yang sedang Noona tunggu?”

Arlene dikejutkan suara seseorang dari balik punggungnya. Ternyata Han Gi-Jun –laki-laki muda yang bekerja di bar langganannya, yang juga pernah menjadi tetangga sebelah apartemennya saat masih tinggal di Busan dulu–  sedang memandangi gadis itu dengan tatapan menyelidik.

“Aku tidak menunggu siapa-siapa, Gi-Jun ah.” Arlene menggeleng, namun matanya lagi-lagi melirik ke arah ponsel mungil yang malang, seolah benda itu sudah melakukan kesalahan besar karena tidak mendapat satu pun pesan sejak tadi.

“Tidak menunggu siapa-siapa bagaimana? Sudah hampir setengah jam Noona hanya duduk diam sambil memandangi ponsel,” sahut Han Gi-Jun masih sambil menatap gadis yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri itu. “Omonim belum menelepon?”

“Ah, bukan…” Arlene menggeleng.

“Bukan Omonim? Noona tidak sedang menunggu telepon dari Omonim?” tanyanya lagi, mulai penasaran. “Lalu, siapa?”

“Bukan siapa-siapa,” jawab Arlene cepat.

“Aku tidak percaya.”

“Sudah kukatakan, bukan siapa-siapa. Aku tidak sedang menunggu telepon dari si….” Arlene belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Layarnya menampakkan sebuah nama dalam huruf hangul.  Nama yang sejak tadi ditunggunya hingga nyaris gila.

“Yoboseyo?”

Arlene bertemu laki-laki itu di musim dingin dua tahun yang lalu, saat pertama kali ia debut sebagai penyanyi solo di panggung MBC Music Show. Hari itu keduanya tak sengaja berpapasan di lorong, saling membungkuk dan bertukar senyum sopan, lalu kembali ke ruang ganti masing-masing. Tidak ada percakapan, tidak ada kisah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan, setelah berbulan-bulan tampil di acara musik yang sama, duduk berdekatan di variety show yang sama, Arlene sama sekali belum pernah bicara pada laki-laki itu selain “Annyeonghaseyo” yang diucapkan dalam tiga detik.

Hingga akhirnya tiga bulan yang lalu, Arlene diundang ke kantor MBC untuk bertemu dengan Produser Kim, salah satu produser senior yang namanya melambung sejak merilis variety show yang memaksa dua orang selebriti menjadi pasangan di depan kamera. Mereka harus berpura-pura melakukan pendekatan, termasuk kencan romantis dan hal-hal lainnya, hingga rating memuncak, kemudian penonton bosan, dan akhirnya para pasangan ‘tua’ akan digantikan oleh pasangan-pasangan baru yang lebih segar.

Kelanjutannya mudah ditebak, Arlene pun dipertemukan dengan laki-laki yang akan ‘dijodohkan’ dengannya. Member dari salah satu Idol Group paling terkenal di Korea Selatan bernama…

“Yoboseyo, Kevin ssi?” sapa Arlene, berusaha sekuat tenaga menenangkan jantungnya sendiri yang mendadak berdentum-dentum.

“Maaf, aku terpaksa menghubungimu selarut ini,” ujar laki-laki di ujung telepon.

“Tidak apa-apa,” sahut Arlene cepat.

“Aku hanya ingin memberi tahu kalau Young-Jae Hyong yang akan mengurus semuanya besok, jadi kau hanya perlu datang saja ke Jamsil lalu mencari Young-Jae Hyong di pintu masuk. Para kru juga sudah diberi tahu.”

“Lalu?”

“Tidak ada lalu, hanya itu saja.”

“Jadi, aku tidak perlu meneleponmu saat tiba di Jamsil?”

“Aku mungkin akan sangat sibuk, jadi… sebaiknya kau menghubungi Young-Jae Hyong saja,” jawab Kevin. Suaranya yang berat terdengar sangat dingin, sama sekali tak ada bedanya dengan cuaca di luar yang bersuhu -5 derajat.

Sementara Arlene menghela nafas pelan sebelum melanjutkan, seolah ingin menguatkan dirinya sendiri. “Tapi kurasa Produser Kim ingin kita bertemu dulu sebelum konser dimulai, penonton mungkin akan senang melihat kita…”

“Mungkin.”

“Mungkin apa?”

“Mungkin Young-Jae Hyong bisa mengatur waktu untuk adegan yang itu, akan kubicarakan dengannya besok pagi,” jawab Kevin, masih dalam nada sedingin es.

“Adegan?” tanya Arlene. Kedua alisnya bertaut. “Adegan apa… oh, baiklah. Beri tahu aku kalau kau punya waktu untuk adegan itu.”

“Oke.” Kevin hanya memberikan jawaban singkat.

“Oke?” Arlene mulai tak sabar. Ia sudah membuka mulut untuk mulai mengomel ketika tiba-tiba terdengar nada putus-putus dari seberang telepon. “Eh? Yoboseyo? Kevin ssi? Yah! Laki-laki itu benar-benar…”

Adegan? Arlene menggelengkan kepalanya ketika potongan-potongan percakapannya dengan Kevin Lee semalam kembali melintas. Bagaimana bisa laki-laki itu, setelah enam bulan berlalu, masih juga menganggap segalanya hanya akting? Adegan?

Di depan kamera, Kevin Lee bersikap sangat manis. Saat ia menyuapkan cheese cake pada Arlene di tengah kencan romantis, saat ia menyelipkan rambut Arlene yang berantakan ke balik telinga, saat ia menatap mata Arlene dan menggenggam tangan gadis itu, saat ia memeluk Arlene di puncak Namsan Tower… semua penonton pasti dibuat jatuh cinta, tentunya diiringi dengan teriakan “Aaaaa!” keras karena iri setengah mati. Sementara Arlene juga selalu berteriak “Aaaaa!” keras-keras dalam hatinya ketika kamera dan lampu akhirnya dimatikan, karena saat itulah sikap Kevin seketika berubah 360 derajat.

Wajahnya Korea-Amerikanya tetap luar biasa tampan dengan mata bulat, alis tebal, bibir tipis, dan hidung sempurna. Namun garis rahangnya mengeras, kedua mata hangatnya berubah serius, dan senyumnya sama sekali memudar. Setelah kamera dimatikan, tidak ada lagi kalimat-kalimat hangat, apalagi tatapan lembut untuk Arlene. Ia hanya akan mengucapkan “Terima kasih”, diikuti dengan “Kau sudah bekerja dengan baik” atau kadang-kadang hanya sekedar “Good job”, kemudian membungkuk sopan pada seluruh kru, lalu berbalik kembali ke van-nya dan menghilang.

Arlene sebenarnya tidak perlu merasa frustasi dengan sikap Kevin Lee yang dingin itu, seandainya saja ia bisa menganggap segalanya yang terjadi hanya adegan. Semata-mata kepentingan rating dan honor, tanpa ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Seandainya saja Arlene bisa…

“Annyeonghaseyo!”

Arlene bangun dari lamunannya dan menemukan Park Young-Jae, manajer grup tempat Kevin bernaung, berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Gadis itu cepat-cepat membungkuk sopan sembari tersenyum luar biasa lebar ketika sadar kamera-kamera sudah menyala. Syuting dimulai.

“Oh, annyeonghaseyo, Young-Jae Oppa!” Arlene balas menyapa dengan suara riang.

“Kau sudah menunggu lama?“ tanya Park Young-Jae.

“Belum, aku baru saja sampai,” jawab Arlene seraya mengikuti langkah Young-Jae menuju pintu masuk artis yang berada di sisi belakang gedung.

“Ayo masuk, Kevin sudah menunggu di dalam,” ujar Young-Jae. Sementara kedua alis Arlene bertaut tanpa sempat dicegahnya.

“Ah, Kevin ssi sedang tidak sibuk?”

“Tentu saja tidak, dia sudah menunggumu sejak tadi.”

“Ah, begitu.” Arlene mengangguk dan tersenyum lebar, meski dalam hatinya mengutuk keras. Bahkan manajernya pun ikut melakukan adegan?

“Itu dia! Kevin ah!” Park Young-Jae berhenti di depan pintu menuju ruang tunggu dengan sofa-sofa besar yang empuk, kemudian melambai pada salah satu laki-laki yang sedang duduk di sana.

Kevin Lee sudah mengenakan kostum panggungnya –jaket kulit hitam dengan kemeja biru tua sebagai dalaman serta celana jeans warna gelap dan sepatu boot ala rocker yang juga berwarna hitam. Tampak sangat tampan dengan rambut cokelatnya yang ditata sedemikian rupa agar jatuh menutupi dahi.  Melihat Arlene dan kamera-kamera yang mengikuti di belakangnya, laki-laki itu sontak berdiri dan mempertontonkan senyum yang luar biasa, sungguh luar biasa manis.

“Ah! Arlene ssi, annyeonghaseyo…” ujar Kevin seraya mendekati Arlene, menempelkan pipinya sekilas ke pipi gadis itu, kemudian tersenyum semakin lebar.

“Annyeonghaseyo!” Arlene membalas senyum itu sambil berusaha keras memegangi hatinya yang nyaris patah menjadi dua bagian, karena satu sisi sungguh bahagia bisa berada sangat dekat dengan Kevin Lee, sementara sisi lainnya tahu betul bahwa ini semua akan segera berakhir saat kamera dimatikan.

Menit-menit berikutnya, seperti biasa, Arlene menjalani adegan demi adegan dengan kemampuan terbaiknya. Bertanya dan bicara ini itu layaknya pacar yang perhatian, memberi dukungan dan doa agar konser Kevin dan grupnya berjalan lancar, kemudian kembali menempelkan pipi, mengucapkan selamat tinggal dan “Fighting!” dengan kedua tangan mengepal penuh semangat, lalu menyalakan lightstick dan menuju area penonton untuk bergabung dengan ribuan gadis lainnya.

Saat ini, Arlene pun sama dengan mereka semua. Karena setelah seluruh kamera pergi, ia hanya fans yang cintanya bertepuk sebelah tangan.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Tumblr. Thanks! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s