After… [CHAPTER 2]


danceforreal-tumblr-edit

Musim dingin. Seoul, 2012.

 “Special Stage?” Kening Han Gi-Jun berkerut sementara kedua tangannya sibuk mengeringkan gelas-gelas wine dengan kain putih bersih.

“Ya, Special Stage,” sahut Arlene. “Kami harus menampilkan kolaborasi selama 3 menit di panggung MBC Music Show edisi spesial akhir tahun. Aku akan menyanyi sedikit, kemudian kami berdua akan menari, dan akan ada gerakan akrobatik. Kau tahu akrobat…”

“Aku tidak pernah tahu Noona bisa menari, apalagi akrobat,” potong Gi-Jun, keheranan.

“Aku memang tidak pernah bisa.” Arlene mengambil jeda untuk menyesap minumannya. “Kevin ssi dan beberapa koreografer yang mengajariku.”

“Woa!”

“Apa artinya ‘woa’ itu?”

“Tidak ada artinya.” Gi-Jun menyeringai lebar. “Hanya… kalian punya waktu berapa lama, hingga hari-H Music Show itu?”

“Dua setengah minggu,” sahut Arlene putus asa.

“Woa!” Gi-Jun berseru lagi.

Sementara Arlene memelototinya dengan sebal. “Woa apa…”

“Bekerja keraslah, Noona! Akrobat itu mudah sekali!”

“Memangnya kau bisa?”

“Tentu saja tidak,” jawab Gi-Jun seraya tersenyum lebar. Ia cepat-cepat melanjutkan sebelum Arlene sempat membuka mulut untuk memprotes. “Tapi aku yakin Noona pasti bisa. Ada Kevin ssi, si main dancer dalam grup yang siap membantu, bukan?”

“Kau benar sekali. Kevin Lee memang sangat membantu,” jawab Arlene cepat. Sebuah senyum pahit lepas dari bibirnya, sementara ingatannya terbang kembali ke sebuah studio tari di Gangnam-gu.

Arlene mendudukkan dirinya di bangku terdekat, segera setelah koreografer mereka menutup latihan hari itu. Seluruh tubuhnya sudah mati rasa karena kelelahan. Ia yang biasanya hanya melakukan tarian sederhana saat menyanyi, mendadak harus belajar hip hop dance yang rumit dan melelahkan, ditambah beberapa gerakan akrobatik yang nyaris membuat tulang-tulangnya patah.

Rasanya ia ingin sekali menyerah. Menemui Produser Kim dan mengatakan sejujurnya bahwa ia tidak sanggup memenuhi proyek Special Stage ini. Namun melihat semangat Kevin Lee yang sangat tinggi, Arlene sama sekali tidak tega merusaknya. Selama latihan, laki-laki itu banyak tersenyum, banyak tertawa, tampak sangat gembira bisa melakukan hobinya: menari, dan bukan sekedar berakting pacaran dengan gadis membosankan yang diam-diam jatuh cinta sungguhan padanya.

Kevin pun banyak sekali membantu Arlene, mengajarinya langkah demi langkah dengan sabar, dan hanya tersenyum lebar saat Arlene membuat kesalahan atau tak sengaja menginjak kakinya. Ia bahkan melakukannya beberapa kali saat seluruh cameraman sedang beristirahat, membuat Arlene agak kesusahan membedakan antara realita dan kehidupan di bawah sorot kamera.

 “Lelah?”

Arlene mendadak dikejutkan dengan suara hangat seorang laki-laki dan tepukan lembut di pundaknya. Kevin Lee –dengan wajah tampan luar biasa dan rambut yang sedikit basah kerena keringat– sedang menatap Arlene sambil melepaskan senyuman yang memabukkan dari bibirnya.

Orang lain mungkin akan mengira laki-laki itu benar-benar sedang memperhatikan Arlene dan bukannya berakting, namun gadis itu sama sekali tidak bisa ditipu. Matanya yang jeli langsung menangkap microphone mungil itu, masih terkait di leher kaus yang dikenakan Kevin, pertanda utama kalau syuting masih berlangsung.

“Kau pasti lelah sekali,” ujar Kevin lagi, sementara kamera mulai mendekat, berusaha menangkap momen lebih jelas. “Apa latihannya terlalu berat untukmu?”

“Tidak… aku hanya…” Arlene benar-benar kehilangan sisa kalimatnya ketika Kevin mengulurkan tangan untuk menyentuh puncak kepala gadis itu dan mengelusnya lembut.

“Minumlah dulu,” ucapnya seraya mengulurkan botol minum dengan tangannya yang bebas.

Gerakan tubuh dan cara bicaranya sangat tenang. Berbanding terbalik dengan Arlene yang harus mati-matian mengerahkan tenaganya, hanya untuk meloloskan sebuah senyuman di bibirnya yang kaku.

“Katakan padaku kalau latihannya terlalu berat untukmu. Penampilan ini memang sangat penting untuk kita, tapi kesehatanmu akan selalu menjadi perhatian utamaku, mengerti?” kata Kevin lagi. Kedua mata cokelatnya menatap mata hitam Arlene lurus-lurus, seolah ingin menunjukkan ketulusan dalam kata-katanya.

Tiga detik berlalu, hingga Arlene akhirnya berhasil mengumpulkan nyali untuk membalas tatapan Kevin Lee dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Kevin ssi.”

“Kau tahu, Gi-Jun ah, terkadang ia tampak benar-benar tulus,” ujar Arlene sebelum menegak habis isi gelasnya. Gelas ketiganya.

Sementara Han Gi-Jun hanya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu bergumam pelan, “Noona…”

“Aktor yang sangat hebat, laki-laki itu…” Arlene mulai bicara lagi. “Apa menurutmu aku perlu memberinya standing applause?”

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Dance For Real. Merci!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s