After… [CHAPTER 3]


Listening to : 2PM – Suddenly (문득)

Why won’t my heart listen to me?
내 가슴은 왜 내 말을 듣지 않아

soju(httpphilly-dot-thedrinknation-dot-com)

Musim dingin. Seoul, 2012.

“Daaaan… tiba-tiba saja pagi ini dia memintaku memanggilnya ‘Oppa’!” seru Arlene sembari meletakkan gelasnya asal-asalan di atas meja bar. Sementara Han Gi-Jun menatapnya dengan mata melebar.

“Di depan kamera?” tanyanya.

“Yah, Gi-Jun ah, kenapa masih bertanya lagi? Tentu saja di depan kamera, memangnya kau pikir…”

“Kupikir sudah ada kemajuan, kalian…”

“Ada!” Arlene tiba-tiba berseru keras. Terlalu keras. Rupanya kadar alkohol yang mengalir dalam darahnya sudah membuatnya kesulitan mengendalikan diri.

“Apa?” Gi-Jun mencondongkan tubuhnya.

“Kemajuan!” jawab Arlene.

“Aku tahu. Maksudku, kemajuan apa?” tanya Gi-Jun, mulai tak sabar pada gadis mabuk itu.

“Dia tersenyum padaku beberapa kali, dan membantuku berdiri, dan menemaniku latihan, dan…”

“Di depan kamera?”

“Tidak.” Arlene menggeleng. “Saat itu para kru sedang beristirahat dan…”

“Ini baru kabar baik, Noona!” potong Gi-Jun penuh semangat. Ia kembali mencondongkan tubuh untuk mendengar kelanjutan kisah Arlene dan pacar pura-puranya itu.

“Kevin ssi…” Arlene melirik laki-laki yang sedang berbaring di lantai studio, tepat di sebelah kirinya.

Wajah Kevin Lee tampak sangat kelelahan, ia hanya merespon panggilan Arlene dengan gumam pelan, “Hmm?”

“Aku sebenarnya belum terlalu yakin dengan gerakan yang satu itu…”

Arlene mengangkat tangannya, berusaha memperagakan salah satu gerakan akrobatik dalam rangkaian koreografi Special Stage mereka, yang mengharuskan Kevin mengangkat tubuh gadis itu ke bahu kirinya dengan sebelah tangan. Gerakan akrobatik sederhana, tapi cukup membuat Arlene –yang tidak punya latar belakang dance, apalagi akrobat– panik setengah mati. Satu hari sebelum hari-H dan ia masih belum juga merasa yakin, meski sudah latihan ratusan kali.

“Begitu?” Kevin mengangkat alisnya. Kedua matanya cokelatnya menatap Arlene lekat-lekat, membuat kepanikan gadis itu bercampur aduk dengan degup jantung yang semakin liar.

“Maukah kau mengulangi latihannya sekali lagi? Aku bersumpah ini untuk yang terakhir kali untuk hari ini…” ujar Arlene, setengah memohon.

Tapi laki-laki di sampingnya itu sama sekali tidak menjawab. Dua detik, tiga detik, Kevin hanya memandangi Arlene dengan tatapan aneh, kemudian mengerling ke arah kru dan para cameraman yang tengah beristirahat.

Selama beberapa detik Arlene mengira laki-laki itu akan menolak dan mengabaikannya, seperti biasa, mengingat tidak ada kamera yang sedang merekam aktivitas mereka. Namun tiba-tiba saja Kevin mendudukkan tubuhnya dan mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Of course,” sahutnya dalam Bahasa Inggris yang beraksen sempurna. “Ayo kita ulang sekali lagi!”

Lima menit kemudian, keduanya sudah larut dalam musik. Arlene menyanyikan satu bait single terbarunya yang sudah di-remix dan bertransformasi total dalam nafas hip hop yang menghentak, kemudian Kevin menampilkan solo dance selama dua puluh detik, diikuti kembali oleh Arlene yang melebur dalam gerakan dance seragam. Gerakan demi gerakan keduanya mengalir tanpa cela, hingga pada bagian yang melibatkan salto, sedikit loncatan, dan…

BRUK!

Arlene sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, gerakan mana yang salah. Tiba-tiba saja ia sudah jatuh di lantai kayu studio tari, dengan bahu kanan menghantam lantai terlebih dulu. Sakitnya bukan main.

“Arlene ssi? Kau baik-baik saja?”

“Yah! Apa yang terjadi?”

“Aigoo, Arlene ah!”

Banyak suara memenuhi telinga Arlene secara bersamaan, namun hanya satu tangan yang mengusap bahu gadis itu dengan lembut seolah ingin menyembuhkan luka memarnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kevin Lee sembari membantu Arlene duduk tegak. “Maaf, seharusnya aku menangkapmu satu detik lebih cepat.”

“Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa,” sahut Arlene pelan, masih berusaha melepaskan diri dari shock dan rasa sakit di bahunya. “Kita ulangi sekali lagi, ya?”

“Kau yakin?” Kevin menatap kedua mata gadis di hadapannya. Nada bicaranya sangat lembut, mirip dengan caranya bicara ketika kamera-kamera masih menyala.

“Of course,” sahut Arlene, menirukan kata-kata Kevin sebelumnya sambil tersenyum kecil.

Tanpa disangka, sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk senyum tipis yang tampak sangat tulus. Ia bahkan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Arlene berdiri.

“Aku akan lebih berhati-hati kali ini,” ujar Kevin.

“Terima kasih, Kevin ssi,” sahut Arlene sembari memposisikan diri di titik blocking sesuai koreografi yang sudah dipelajarinya. Gadis itu sudah bersiap memulai latihan lagi ketika tiba-tiba Kevin Lee menoleh ke arahnya, masih dengan senyum ajaib yang tersungging.

“Ngomong-ngomong, kau sudah berjanji memanggilku ‘Oppa’,” ujarnya.

“Ah, ya. Kau benar.” Arlene mengangguk dan tertawa pada laki-laki yang berusia tiga bulan lebih tua darinya itu. “Terima kasih, Oppa. Tolong lebih berhati-hati kali ini, aku bergantung padamu.”

“Ini baru kabar baik, Noona!” seru Han Gi-Jun bersemangat.Artinya kalian…”

“Tapi…” Giliran Arlene yang memotong kata-kata laki-laki yang lebih muda itu. Mata gelapnya yang cantik –yang mulai tak fokus karena pengaruh alkohol– tiba-tiba berubah muram ketika ia melanjutkan ceritanya.

“Tapi, sikapnya kembali sedingin es setelah latihan selesai. Pergi begitu saja tanpa… seolah-olah… ah, sudahlah. Beri aku soju lagi, Gi-Jun ah!”

Foto dalam chapter ini dipinjam dari Philly The Drink Nation. Thanks a bunch!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s