After… [CHAPTER 4]


kibecy

Musim dingin. Seoul, 2013.

“Hari ini dia memelukku, lagi.” Arlene mengucapkan kalimatnya sambil mendengus. Seolah pelukan yang dibicarakannya itu adalah hal paling menyebalkan di dunia.

“Oh, ya?” Han Gi-Jun mendongak dari minuman yang sedang dibuatnya.

“Setelah kami turun dari panggung Special Stage yang membuatku nyaris gila itu,” sahut Arlene.

“Dia memeluk Noona setelah turun dari panggung, seperti adegan-adegan dalam drama itu?” Gi-Jun menatap gadis di hadapannya sambil tersenyum menggoda. Namun Arlene justru tampak semakin muram.

“Persis.” Arlene kembali mendengus seraya mengangkat gelasnya. “Karena semua ini memang hanya drama baginya, bukan?”

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Kevin Lee mengerutkan keningnya sembari menoleh dan membalas tatapan Arlene dengan mata cokelatnya yang mempesona.

Keduanya sedang berada di belakang panggung, menunggu giliran tampil di segmen ‘Special Stage’ MBC Music Show. Arlene sudah mengenakan kostum panggungnya, kemeja berlengan panjang dari katun tipis berwarna putih. Bagian bawah kemejanya diikat simpul, sengaja menampakkan sedikit otot perutnya yang seksi. Dipadukan dengan celana kulit ketat berwarna hitam, dan boot lembut yang nyaman untuk menari. Rambut panjangnya dibuat mengikal dan diikat di puncak kepala. Sedangkan Kevin tampil serba hitam dengan biker jacket –yang harus dilepasnya di tengah-tengah performance, kaus hitam tanpa lengan sebagai dalaman, celana kulit, dan sepatu boot hitam. Rambut cokelat laki-laki itu ditata natural dan dibiarkan jatuh menutup dahinya.

“Kenapa kau tenang sekali?” tanya Arlene dengan kedua alis terangkat.

“Memangnya aku harus bagaimana?” Kevin balas bertanya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bagaimana kalau ada gerakan yang salah? Bagaimana kalau aku jatuh seperti kemarin? Bagaimana kalau…”

“Kau tidak percaya padaku?”

Arlene menggeleng frustasi. “Bukan begitu, Kevin ssi… tapi…”

“Aku akan sangat berhati-hati,” potong Kevin cepat. Tiba-tiba saja Kevin Lee menjulurkan tangan kanannya dan menepuk puncak kepala Arlene lembut,  membuat gadis itu semakin panik.

Yang barusan itu hanya akting, bukan? Hanya adegan? Tapi kenapa ia melakukannya saat tidak ada kamera? Atau… para cameraman diam-diam bersembunyi di suatu tempat? Arlene bertanya pada dirinya sendiri seperti orang gila.

“Kau tidak akan jatuh lagi, percayalah padaku,” ujar Kevin lagi. Nada bicaranya sangat tenang, seolah ingin meyakinkan pacar pura-puranya itu bahwa segalanya akan berjalan lancar.

Arlene hendak membuka mulutnya untuk menjawab kata-kata Kevin, ketika tiba-tiba stage manager MBC Music Show meminta keduanya bersiap di posisi masing-masing. Arlene harus duduk di undakan teratas panggung untuk menyanyi lebih dulu, sedangkan Kevin berdiri di sayap kiri panggung. Akhirnya gadis itu hanya bisa mengepalkan tangan dan menggumamkan “Fighting!”, sementara Kevin membalasnya sambil menepuk bahu Arlene dan melepaskan senyuman yang luar biasa manis.

Selanjutnya, ketika musik mulai menghentak, Arlene sama sekali lupa pada seluruh kekhawatirannya. Ia menarik nafas panjang, memasang senyum terbaiknya dan mulai bernyanyi. Bagian demi bagian berjalan lancar sesuai koreografi yang ia pelajari, Kevin Lee pun melakukan bagiannya dengan sangat baik. Seperti yang dijanjikannya, laki-laki itu benar-benar berhati-hati. Ia memperhitungkan segalanya dengan sangat cermat. Matanya tak lepas satu detik pun dari gerakan tubuh Arlene, hingga tiba saatnya gadis itu harus melakukan salto dan melompat, Kevin berhasil menangkap tubuh mungil Arlene tanpa kesulitan.

Keduanya berhasil menyelesaikan penampilan itu dengan sempurna, hingga gerakan terakhir. Hingga akhirnya musik berhenti dan mereka menghilang di balik tirai putih tebal, tiba-tiba saja Kevin Lee menarik tubuh Arlene dalam pelukan erat. Sama sekali tidak memedulikan Arlene yang langsung membeku karena gerakan yang tiba-tiba itu, Kevin justru melepaskan tawanya keras-keras.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Arlene kaku, masih belum berhasil melepaskan diri dari shock ganda: karena penampilan Special Stage mereka akhirnya selesai, dan karena pelukan tanpa peringatan itu.

“Kita melakukannya dengan baik!” sahut Kevin di sela tawanya. Wajahnya yang menyerupai pahatan sempurna menampakkan kelegaan luar biasa. “Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membiarkan kau jatuh lagi, bukan?”

“Aku harus berterima kasih padamu untuk itu?” Arlene mendongak dengan alis bertaut.

“Tentu saja!” sahut Kevin, sementara kedua lengannya masih melingkar di sekeliling bahu Arlene.

“Terima kasih kalau begitu, Kevin ssi.”

“Oppa.”

“Apa?”

“Kau sudah berjanji memanggilku ‘Oppa’, Arlene ah,” ujar Kevin seraya menatap wajah Arlene yang panik dan tertawa. Ia bahkan sudah berani bicara dalam bahasa banmal pada gadis itu sekarang.

Ada apa dengan laki-laki itu sebenarnya? Bahkan belum ada satu kamera pun yang menghampiri ke belakang panggung, tapi kenapa ia sudah mulai berakting? Lagi-lagi Arlene bicara pada dirinya sendiri.

“Hey, jangan stres begitu! Semuanya sudah selesai. Relax, relax…” kata Kevin lagi, ketika Arlene tidak bereaksi pada kata-katanya.

“Aku tidak stres,” jawab Arlene cepat sambil bergerak canggung, masih terperangkap dalam pelukan Kevin yang hangat.`Laki-laki itu sama sekali tidak berniat melepaskannya atau apa? “Aku tidak stres, hanya saja…”

Sisa kalimat Arlene menggantung di udara ketika tiba-tiba rombongan kru dan cameraman datang menyerbu ke belakang panggung. Syuting kembali dimulai. Awalnya ia mengira bahwa Kevin akan kembali mempererat pelukannya, sengaja menunjukkan kemesraan di depan kamera demi kepentingan rating, seperti biasa. Namun rupanya laki-laki itu justru mengendurkan lengannya, dan perlahan melepaskan tubuh Arlene yang mungil.

Detik berikutnya, seolah tidak terjadi apa-apa, Kevin Lee menatap gadis dihadapannya dengan senyum tersungging. Kemudian menggenggam tangannya dan menuntunnya meninggalkan backstage menuju ruang ganti artis.

“Sebaiknya kita cepat ganti pakaian, lalu pergi makan. Aku lapar sekali. Kau suka Seolleongtang,  bukan? Aku sedang ingin makan Seolleongtang dan…”

Arlene sama sekali tidak mendengarkan sisa kalimat laki-laki itu. Pikirannya dan hatinya sedang sangat sibuk mencerna yang baru saja terjadi. “Kenapa?” Arlene ingin sekali bertanya padanya. Bukankah adegan seperti tadi memang untuk dipertontonkan? Tapi kenapa ia justru melepaskan pelukan saat kamera datang? Kenapa…

“Gi-Jun ah, beri aku satu gelas lagi!” Arlene berseru keras sembari mengetuk-ketukkan gelasnya di atas meja bar. Wajahnya sudah memerah, matanya yang dikuasai alkohol pun sudah tidak bisa fokus.

“Tidak, Noona.” Han Gi-Jun menggeleng cepat. “Sudah mabuk begitu, masih saja…”

“Gi-Jun aaaaaah…”

“Noona yaaaaa…”

“Yah!” Arlene nyaris berteriak karena tak sabar.

“Noona ini sebenarnya kenapa? Mabuk-mabukan seperti ini?” protes Gi-Jun keras seraya memelototi gadis yang lebih tua itu.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Arlene cepat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal oleh ibunya.

“Noona, jangan begitu…” Suara Gi-Jun melembut. “Hanya karena laki-laki itu…”

“Kenapa dia harus tersenyum padaku, setiap hari, dengan cara seperti itu, Gi-Jun ah?” tanya Arlene tiba-tiba.

“Dengan cara seperti apa?”

“Kenapa dia terus-terusan menggenggam tanganku, merangkul pundakku, tertawa padaku, setiap hari, dengan cara seperti itu?”

Gi-Jun mendesah pelan, tak tahu harus menjawab apa. “Yah, Noona…”

“Kenapa dia harus memelukku dengan cara seperti itu, Gi-Jun ah?” Arlene terus, terus, terus saja bertanya dengan keras kepala.

“Aku tidak….” Gi-Jun gagal menyelesaikan kalimatnya ketika gadis yang sudah sangat mabuk itu meraih kerah kemejanya dan mengguncang-guncang tubuh Gi-Jun seperti mainan rusak.

“Kenapa?” tanya Arlene lagi. “Katakan padaku! Kenapa….”

Tiba-tiba saja, gadis itu seolah tenggelam dalam pertanyaannya sendiri. Suara dan tenaganya menghilang, matanya perlahan-lahan menutup dan tubuhnya ambruk di atas meja bar.

“Noona? Yah! Noona, bangun! Yah….”

Seolleongtang (설렁탕) : a milky beef bone soup that’s made by boiling down beef leg bones for several hours until the broth becomes rich and creamy white. (via Korean Bapsang)

– partikel -ah/-ya : partikel tambahan untuk memanggil seseorang (dalam percakapan infomal), -ya untuk nama orang yang berakhiran huruf vokal, -ah untuk nama yang berakhiran konsonan. Pengucapan nama Arlene dalam cerita ini adalah “Arlin”, sehingga partikel tambahan dibelakang namanya adalah -ah. Temukan istilah-istilah Bahasa Korea lainnya dalam mini dictionary.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Kibecy’s blog and edited by me. Gracias!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s