After… [CHAPTER 5]


travel(msn(co(nz

Musim semi. Seoul, 2013.

“Bali?”

Arlene dan Kevin berseru nyaris bersamaan, tiga detik setelah membuka amplop putih yang disodorkan Park Young-Jae. Sementara semua kamera mengarah ke wajah keduanya, tak mau ketinggalan merekam tiap reaksi yang muncul.

“Hyong, ini bukan lelucon, kan?” tanya Kevin sembari melambaikan dua lembar tiket pesawat ke Pulau Bali, Indonesia, satu untuknya dan satu untuk Arlene.

“Tentu saja bukan,” sahut sang manajer. “Itu hadiah dari MBC untuk kalian berdua.”

“Hadiah untuk apa?” Arlene sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Ini… anggap saja… mm, hadiah karena Special Stage kalian bulan lalu berjalan lancar?” Park Young-Jae tersenyum lebar. “Bagaimana? Kalian akan berangkat, bukan?”

“Tentu saja,” sahut Kevin. Suaranya terdengar antusias, namun wajahnya menampakkan ekspresi seperti sedang bertanya, “Memang kami punya pilihan lain?”

Sementara Arlene hanya menatap lembaran di tangannya dengan bingung. Tentu saja ia senang sekali. Ia sangat menyukai pantai, dan Bali adalah salah satu pulau yang paling ingin dikunjunginya. Tapi, pergi bersama Kevin berarti ia harus siap dengan segala bentuk sakit hati. Karena hatinya yang malang sangat mengharapkan ada perasaan yang nyata, sementara Kevin Lee jelas masih tetap menganggap ini semua sebagai pekerjaan. Akting dan adegan, demi rating dan honor.

Tapi, tentu saja mereka tidak punya pilihan. Yang bisa dilakukan Arlene saat ini hanyalah berharap dan memohon pada hatinya agar menguatkan diri hingga mereka pulang dari Bali. Hatinya yang sudah patah menjadi tiga bagian itu tidak boleh semakin hancur lagi.

Musim semi. Incheon, 2013.

“Yoboseyo, Noona? Noona ini ada di mana? Sudah lebih dari satu bulan, kenapa tidak pernah memberi kabar padaku?”

Arlene tersenyum lebar ketika mendengar suara rengekan Han Gi-Jun, tepat ketika ia menempelkan ponselnya ke telinga.

“Yah, Gi-Jun ah! Memangnya kenapa aku harus memberi kabar padamu?” jawabnya.

“Tentu saja harus!” sahut Gi-Jun cepat. “Noona harus memberi kabar padaku, harus memberi tahu apa yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan Noona menangis sendirian kalau Kevin Lee itu membuat Noona jengkel lagi atau…”

“Menangis sendirian apa?” Arlene melepaskan tawanya. “Aku tidak pernah menangis…”

“Oh, coba dengar! Tidak pernah menangis apanya…”

“Yah, Gi-Jun ah, kau ini benar-benar menelepon di saat yang tidak tepat.”

“Kenapa? Noona sedang sibuk?” tanya Gi-Jun, penasaran.

“Sebenarnya, aku baru saja akan naik ke pesawat,” jawab Arlene. “Kami akan berangkat ke Bali untuk merekam beberapa adegan. Kau tahu Bali?”

“Bali? Indonesia? Dengan Kevin ssi? Woa!” Han Gi-Jun berteriak keras.

“Tenang saja, aku pasti membawakan oleh-oleh untukmu,” sahut Arlene, masih dengan senyum menggantung di bibirnya.

“Baiklah, Noona. Hati-hati di perjalanan. Jangan lupa memberi kabar padaku kalau laki-laki itu membuat ulah lagi, oke?” ujar Gi-Jun penuh semangat. “Sampai jumpa!”

“Sampai jumpa, Gi-Jun ah,” sahut Arlene sebelum memutus sambungan, mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas tangannya.

“Siapa itu?”

Arlene terlonjak ketika tiba-tiba saja Kevin Lee sudah berdiri di sebelahnya, sedang menatapnya dengan wajah penasaran. Laki-laki itu tidak mungkin mendengar Gi-Jun menyebut namanya di seberang telepon, kan? Tidak mungkin, tentu saja tidak mungkin. Gadis itu menenangkan dirinya sendiri yang mulai panik.

“Teman. Dulu kami tinggal bertetangga saat masih di Busan. Dia sudah kuanggap seperti adik dan…” Arlene menghentikan dirinya sendiri ketika sadar ia sedang memberi penjelasan yang tidak perlu pada Kevin.

“Oh, begitu.” Laki-laki di sampingnya mengangguk cepat, kemudian mendorong tubuh Arlene pelan, memberi isyarat agar gadis itu berjalan mendahuluinya naik ke pesawat.

Setelah keduanya duduk di kursi masing-masing dengan seat belt terpasang, Kevin menarik salah satu majalah dari kantung kursi dan mulai membalik-balik halamannya tanpa minat. Sementara Arlene duduk tegak di kursinya, tidak tahu harus bicara apa. Padahal seluruh kamera masih menyala, mengelilingi mereka seperti tentara mengepung musuh. Mereka tidak boleh tampak kaku dan tidak mesra di hadapan kamera, bukan?

“Kevin ssi… eh, Oppa…” Arlene membuka suara, berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung. “Berapa lama kita akan sampai di Bali?” tanyanya.

“Sekitar 8 jam,” sahut Kevin seraya mendongak dari majalahnya dan menatap mata gelap Arlene. “Kenapa? Kau mengantuk? Ingin tidur?”

“Eh… tidak, belum.” Arlene menggeleng panik. “Aku hanya…”

“Kalau kau belum ingin tidur, kemarilah, pinjamkan bahumu. Aku sangat mengantuk,” potong Kevin cepat seraya menarik tubuh Arlene mendekat, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, bahkan sebelum ia sempat menjawab sepatahkatapun.

Situasi selanjutnya menjadi semakin canggung. Tubuh Arlene mendadak kaku seperti patung. Ia sama sekali tidak bisa mengubah ekspresi wajahnya, yang kini tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu. Selama beberapa saat, gadis itu hanya duduk diam sambil memperhatikan salah seorang cameraman yang mengambil gambar mereka dari jarak sangat dekat, kemudian beralih ke wajah Kevin yang pura-pura tidur. Beruntung, adegan itu hanya berlangsung sekitar dua menit karena tak lama kemudian terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera take off, sehingga seluruh kru dan cameraman harus kembali duduk di tempat masing-masing.

Tadinya Arlene mengira Kevin akan langsung menjauh darinya segera setelah kamera pergi. Namun ternyata laki-laki itu tetap bertahan di posisi yang sama, dengan kepala menyandar di bahu kanan Arlene. Ia bahkan menarik lengan gadis itu dan memeluknya seperti bantal.

“Kau benar-benar ingin tidur?” tanya Arlene, bingung dengan sikap Kevin.

“Tentu saja. Aku ngantuk sekali,” sahut Kevin.

“Dengan posisi seperti ini?” Arlene mengangkat alisnya.

“Kau keberatan?” tanya Kevin seraya menegakkan kepalanya.

Arlene mendesah dalam hati. Pertanyaan sulit. Ia menimbang-nimbang jawabannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Tidak. Tidurlah, Oppa.”

Mendengar itu, Kevin tersenyum tipis dan kembali menyandarkan kepalanya, kemudian memejamkan mata. Meninggalkan Arlene sendirian, sibuk menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba menjadi liar.

Kenapa dia melakukan ini padaku, Gi-Jun ah?

Foto dalam chapter ini dipinjam dari Travel Bite. Thanks!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s