After… [CHAPTER 6]


alilahotels()com

Musim hujan. Bali, 2013.

“Ini… Mission Card?” Arlene mendongak dari kertas yang dipegangnya dan menatap Lee Min-Sun, manajernya.

Kertas berwarna kuning gading itu sudah tergeletak di atas tempat tidur Arlene yang berukuran king size, bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di kamar tempatnya menginap selama berada di Bali. Di dalamnya tertulis lima kalimat singkat, instruksi untuk ‘misi’ pertama Arlene: belajar membuat dessert khas Bali bersama koki hotel.

Selama 8 bulan bergabung dalam show ini, Arlene memang sudah belasan kali mendapat Mission Card dengan bermacam misi yang sederhana seperti memilihkan kado ulang tahun untuk Sarah, adik bungsu Kevin yang tinggal di Los Angeles, hingga misi yang paling tidak masuk akal sekalipun: melakukan lemparan pembuka untuk pertandingan baseball yang disaksikan 20.000 orang –sementara Arlene sama sekali tidak tahu caranya melempar!– dan proyek Special Stage yang menguras tenaga akhir tahun lalu.

“Apa katanya?” tanya Lee Min-Sun sambil mengerling kertas Mission Card, sementara gadis itu mengangkat bahu dan mendengus pelan sebelum menjawab.

“Hanya membuat dessert khas Bali. Aku yakin tidak akan sulit… tapi kenapa harus sekarang, Onni? Aku bahkan belum sempat mandi…”

Lee Min-Sun sudah membuka mulutnya untuk menjawab protes Arlene ketika tiba-tiba terdengar suara gerutuan yang lebih keras dari balik pintu kamar mereka. Rupanya di ruang tengah villa, Kevin Lee juga sedang memandang manajernya dengan tatapan tak percaya.

“Memangnya tidak bisa besok saja, Hyong?” Kevin mengerutkan keningnya. Tangan kanannya memegang kertas kuning gading seperti milik Arlene. “Punggungku sudah hampir patah setelah berjam-jam duduk di pesawat. Memangnya aku tidak boleh tidur dulu dan…”

“Yah, Kevin ah… kau datang kemari memang untuk bekerja, bukan? Sebentar saja, setelah itu kau boleh tidur,” ujar Park Young-Jae, berusaha memperbaiki mood Kevin dengan suaranya yang tenang.

“Aku tahu, Hyong. Tapi bukankah tidak manusiawi kalau seperti ini? Aku bahkan belum sampai ke kamar, dan tiba-tiba sudah ada Mission Card lagi.” Kevin melanjutkan protesnya. Laki-laki itu sebenarnya jarang sekali kesal, apalagi marah. Tapi ketika suasana hatinya sudah sangat terganggu seperti saat ini, bisa-bisa seluruh jadwal pekerjaan jadi kacau balau.

Sementara itu, Arlene yang mendengar ribut-ribut seru, sama sekali tak tahan untuk tidak melongokkan kepala keluar pintu kamarnya. Tepat saat Kevin Lee mengalihkan pandangan dari Park Young-Jae dan menemukan mata gadis itu.

“Kau juga?” tanya Kevin ketika menangkap Mission Card yang masih dipegang Arlene. Suaranya tetap terdengar galak, namun ekspresinya melembut.

Sadar bahwa dirinya yang sedang diajak bicara, Arlene langsung mengangguk. “Mereka menyuruhku belajar membuat dessert khas Bali bersama koki hotel,” jawabnya.

“Mereka menyuruhku memasak makan malam,” ujar Kevin sembari melambaikan Mission Card yang membuatnya sebal itu. “Harus makanan tradisional khas Bali.”

“Untuk siapa?” Arlene mengerjapkan mata.

“Untukmu, tentu saja,” jawab Kevin. “Memangnya kau tidak mau makan spaghetti saja? Mudah dan cepat. Atau makanan lain yang lebih praktis….”

Selama satu setengah menit berikutnya, Arlene hanya berdiri diam di depan pintu kamarnya dengan bingung sambil mendengarkan Kevin terus melanjutkan protesnya. Hingga akhirnya Park Young-Jae tak tahan dan menyuruh keduanya mandi dan berganti pakaian, sebelum memenuhi misi masak-memasak itu.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah sibuk di dapur hotel. Masing-masing dibantu dua orang koki yang fasih berbahas Inggis. Arlene sibuk membuat Jaja Batun Bedil untuk dessert, dan Kevin bertugas menyiapkan Sate Lilit Ikan untuk hidangan main course. Tak ketinggalan seluruh kamera yang mengelilingi mereka, berebut menangkap momen dan ekspresi keduanya yang –dipaksakan– penuh keceriaan.

Arlene baru saja selesai menyiramkan saus gula merah pada dessert-nya ketika tiba-tiba salah satu kru memberinya isyarat agar segera meninggalkan dapur dan menuju lokasi syuting adegan makan malam di pinggir pantai. Mereka sudah menyiapkan sebuah meja persegi berlapis taplak sutra putih, yang di atasnya sudah tertata dua set alat makan perak, bahkan mereka sudah menyediakan sebotol champagne dalam ember es. Dilengkapi lilin-lilin mungil, setting makan malam romantis ini benar-benar sempurna untuk membuat para penonton di rumah iri setengah mati.

Kevin yang mengenakan kemeja kotak-kotak abu-abu merah berlengan pendek, tersenyum luar biasa manis pada Arlene sebelum menarik kursi untuknya, berakting ala gentleman. Keduanya berbasa-basi selama lima menit sebelum mulai mencicipi Sate Lilit Ikan buatan Kevin, sementara seluruh kamera mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Kevin tersenyum dan tertawa ketika Arlene menyuapkan makanan untuknya, dan Arlene pun memberikan reaksi yang sama ketika Kevin membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya. Keduanya berakting senatural mungkin, mengobrol sambil mencicipi dessert buatan Arlene dan bersulang dengan dua gelas champagne. Seluruhnya demi adegan yang sempurna dan rating yang tinggi, tentu saja.

Hingga akhirnya para kru dan cameraman meninggalkan mereka untuk istirahat makan malam, Kevin tiba-tiba mengangkat gelasnya dan bangkit berdiri. Arlene yang awalnya mengira laki-laki itu akan kembali ke villa, dibuat terkejut setengah mati ketika Kevin Lee justru mengulurkan tangan padanya.

“Ayo, kudengar mereka punya cabana yang sangat bagus di dekat kolam renang,” ujarnya sambil tersenyum tipis pada Arlene yang masih terbelalak.

“Kau mau pergi ke sana?” Gadis itu bertanya.

“Tentu saja.” Kevin mengangguk. “Memangnya kau tidak bosan duduk-duduk saja di sini?”

Selama dua detik Arlene hanya duduk diam menatap laki-laki di hadapannya. Setengah terpesona pada senyum Kevin yang luar biasa, setengah lagi masih kebingungan pada sikapnya.

“Tapi…”

“Aku perlu minta ijin pada manajermu?”

“Tidak, tidak…”

“Ya sudah.” Kevin mengembangkan senyumnya lagi seraya mengulurkan tangannya yang bebas. “Kemarikan gelasmu, biar kubawakan.”

Lagi-lagi Arlene menghabiskan dua detik untuk mencerna yang sedang terjadi. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba menjadi sangat baik? Ia bertanya dalam hati sembari memandang berkeliling sekali lagi, memastikan seluruh kamera benar-benar sudah pergi. Seluruh microphone juga sudah dilepas.

Jadi, dia bukan sedang berakting? Tapi kenapa tiba-tiba…

“Kalau begitu, biar aku yang membawa botol champagne-nya.” Arlene akhirnya mendengar suara yang mirip dirinya sendiri menyahut dengan nada ceria.

Kevin Lee pun tersenyum sekali lagi, dengan dua gelas di tangan kiri dan tangan kanan terulur pada gadis di hadapannya. “Ayo jalan!”

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari website resmi Alila Hotels and Resorts. Thanks! :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s