After #7


Bungee Jumping

Musim hujan. Bali, 2013.

Arlene bisa merasakan Kevin Lee mempererat genggaman tangannya ketika keduanya berdiri di ujung papan bungee jumping. Hari kedua di Bali dan mereka sudah harus menghadapi ‘misi’ yang kedua: saling meneriakkan  ‘I love you’ saat terjun dari ketinggian 40 meter.

“Tidak bisakah mereka memberi misi yang lain saja?” desis Arlene yang langsung berubah pucat ketika menerima Mission Card kedua pagi ini.

“Kenapa?” Kevin menoleh untuk menemukan mata gelap Arlene.

Belakangan ini ia sering sekali menatap Arlene dengan cara seperti itu, bahkan ketika tidak ada kamera sekalipun. Membuat hati gadis itu makin kalang kabut.

“Kau takut ketinggian?” tanya Kevin lagi, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Arlene.

“Produser Kim… bisakah kami melakukan hal lain saja…” Arlene merengek pelan pada sang produser yang jelas tak mungkin bisa mendengar mereka dari kantornya di Seoul.

“Bagaimana, Hyong?” Kevin bertanya pada kru yang berdiri di sekeliling mereka. “Bisakah kami tidak melakukan misi yang ini? Bisakah Hyong mengganti dengan misi yang lain?”

“Kalau kalian tidak bisa menjalankannya, maka misi ini akan dianggap gagal,” sahut salah satu kru. “Kalian benar-benar tidak mau melakukannya?”

“Bukannya tidak mau, Hyong. Hanya saja Arlene takut ketinggian dan…”

Arlene berhenti mendengarkan sisa kalimat laki-laki di sampingnya itu ketika tiba-tiba ia merasakan tenggorokannya tercekat. Perpaduan antara rasa takut membayangkan harus terjun dari papan bungee jumping, dan perasaan lain yang mendadak merebak masuk ke dalam hatinya saat mendengar Kevin Lee sampai meminta kru mengganti misi, untuk Arlene. Hanya karena gadis itu takut ketinggian.

“Bagaimana? Kita pass saja?” Kevin kembali bicara pada Arlene.  Ia tampak agak khawatir melihat gadis itu membeku seperti es. “Satu misi dianggap gagal tidak akan berarti apa-apa, kita bukannya sedang bermain game…”

“Oppa, kau ingin melakukannya?” Tiba-tiba Arlene mendengar dirinya sendiri bertanya.

“Aku?” Kevin mengerutkan keningnya. “Aku punya masalah dengan ketinggian, dan… bungee jumping sebenarnya cukup menarik. Tapi…”

“Kalau begitu kita lakukan saja.” Kali ini Arlene mendengar suara yang mirip suaranya sendiri menjawab. Apa dia sudah mulai gila? Gila karena cinta?

“Kau yakin?”

“Kita akan melakukannya bersama, bukan?”

“Tentu saja.”

“Oke.”

Jadi, di sini lah mereka berada sekarang, dengan tali pengaman terikat di tubuh masing-masing, menunggu aba-aba dari sang instruktur untuk melompat.

“Kau benar-benar ingin melakukannya?” tanya Kevin untuk yang keseratus kalinya. Sama sekali tidak yakin dengan keputusan Arlene tentang misi bungee jumping ini. Bagaimana kalau gadis itu pingsan saat mereka melakukan lompatan?

“Of course,” sahut Arlene, masih sempat tertawa dan menirukan gaya bicara Kevin meski bibirnya sudah pucat pasi.

“Jangan lihat ke bawah supaya kau tidak semakin takut,” ujar Kevin seraya menyentuh pipi gadis di sampingnya dengan tangannya yang bebas.

“Lalu aku harus melihat ke mana?”

“Tatap mataku.”

“Apa?”

“Kubilang tatap mataku. Jangan lihat ke bawah,” ulang Kevin dengan suara yang lebih keras agar Arlene bisa mendengarnya dengan jelas, atau agar kata-katanya bia tertangkap microphone dengan jelas? Ia sedang berakting, bukan?

“Berjanjilah kau tidak akan melepaskan ini,” ujar Arlene seraya mengangkat tangannya yang masih berada dalam genggaman Kevin.

“Tidak akan. Tidak akan pernah,” jawab Kevin pelan. Kedua mata cokelatnya masih menatap Arlene lekat-lekat seolah berusaha menenangkan.

Gadis itu akhirnya merespon dengan sebuah senyuman yang berhasil lepas dari bibir pucatnya, sementara hatinya kembali mengeluh pada pendengar setia yang berjarak ribuan mil darinya saat ini.

Kau dengar itu, Gi-Jun ah? Tidak akan pernah, katanya? Tidak akan pernah selama ada kamera, begitu maksudnya?  Kenapa dia terus menerus melakukan ini padaku, Gi-Jun ah?

“Di sini kau rupanya.” Arlene tersenyum lebar ketika akhirnya menemukan Kevin Lee sedang duduk di salah satu sofa besar yang terletak di sudut cabana. Malam ini ia mengenakan T-shirt putih bergambar bendera Inggris dan celana panjang warna khaki, rambut cokelatnya dibiarkan jatuh menutupi dahi. Santai namun tetap sempurna.

“Hai,” sahut Kevin. Senyumnya yang luar biasa mengembang ketika menemukan mata Arlene.

Sama sekali tidak salah kalau laki-laki itu jadi member yang paling populer dalam grupnya dan punya puluhan -kalau tidak ratusan ribu fans di seluruh dunia. Sama sekali tidak salah, Arlene menggumam dalam hati. Tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak jatuh cinta lebih lagi pada laki-laki itu.

“Semua orang mencarimu. Young-Jae Oppa dan para kru yang lain,” ujar Arlene.

“Ada apa?” Kevin mengangkat alis.

“Sudah lewat waktunya makan malam dan kau belum muncul juga,” sahut Arlene seraya mengulurkan piring yang sengaja dibawanya untuk Kevin. “Ini, makanlah…”

“Ini apa?”

“Apa tadi namanya…” Arlene berusaha mengingat-ingat nama makanan khas Bali dalam piring itu. “Betutu? Pokoknya semacam ayam yang dimasak dengan bumbu rempah…”

“Kenapa kau bawa kemari?” tanya Kevin lagi.

“Ini makan malammu,” sahut Arlene. “Sudah hampir pukul 9 dan kau belum makan malam juga.”

Kevin masih menatap Arlene dengan alis tebalnya yang terangkat. “Kau datang sendiri?”

“Tentu saja. Memangnya ada siapa lagi?”

“Young-Jae Hyong yang menyuruhmu kemari?”

“Tidak.” Arlene menggeleng cepat. “Aku… aku hanya ingin membawakan makan malam untukmu.”

Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya sendiri, Arlene mendadak salah tingkah. Baru sadar bahwa ia sudah memberikan perhatian berlebihan pada Kevin Lee, lebih dari sebatas perhatian terhadap rekan kerja seperti yang seharusnya.

“Makanlah,” ujar Arlene sembari bergerak gelisah di tempatnya berdiri. “Aku akan kembali ke dalam, kalau begitu.”

Gadis itu sudah membalikkan badan ketika tiba-tiba Kevin meraih pergelangan tangannya, setengah memaksa Arlene agar duduk di sampingnya.

“Duduklah.” Ia menggumam pelan sembari melepaskan senyum tipisnya yang luar biasa, membuat Arlene semakin salah tingkah.

“Tapi…”

“Temani aku makan malam,” ujar Kevin lagi sebelum menusuk potongan ayam dengan garpunya dan mulai makan dengan lahap.

Sementara Arlene hanya duduk diam seperti patung di sampingnya, hingga laki-laki itu membuka percakapan tentang misi bungee jumping yang berhasil mereka lewati siang tadi. Obrolan semakin mengalir ketika keduanya mulai menebak-nebak isi Mission Card berikutnya yang akan diberikan besok pagi.

Ternyata dibalik sikapnya yang seringkali berubah dingin, Kevin punya kemampuan untuk mencairkan suasana dengan sangat baik. Perlahan, gadis di sampingnya mulai bisa ikut tertawa dan menimpali lebih banyak lagi. Mereka benar-benar membicarakan banyak hal, seolah tidak ada lagi hari esok.

“Ah, aku lupa membawakan dessert untukmu,” ujar Arlene ketika akhirnya Kevin meletakkan garpunya di piring yang sudah kosong. “Padahal mereka punya puding karamel yang enak sekali.”

“Tidak apa-apa, aku sudah cukup kenyang.” Kevin tersenyum tipis seraya bangkit berdiri, menuju salah satu lemari kayu di sudut cabana yang ternyata berisi kulkas mini. “Kau mau bir dingin?” tanyanya.

“Baru beberapa hari dan kau sudah punya kulkas pribadi di sini?” Arlene balas bertanya sambil tersenyum menggoda. “Apa kau juga punya Ice Americano?”

“Maaf Arlene ssi, kami hanya punya bir dingin, soda, dan air mineral. Anda mau air mineral saja?” Kevin menjawab dengan gaya pelayan restoran yang sopan, meski bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

“Soju juga tidak ada? Payah sekali!” Arlene masih bercanda, sementara Kevin tertawa sambil akhirnya mengambil dua kaleng bir dari dalam kulkas untuk Arlene dan untuknya sendiri.

“Kau tidak lelah?” tanya Arlene ketika akhirnya Kevin kembali merebahkan tubuhnya di samping gadis itu.

“Sedikit,” sahut Kevin pelan. “Tapi aku sama sekali tidak berniat mengeluh. Kalau tidak bergabung dalam program ini, sekarang aku mungkin sedang latihan koreografi bersama yang lain sampai pukul 3 pagi.”

“Sampai pukul 3 pagi? Setiap hari?”

“Hampir setiap hari.”

“Wow,” gumam Arlene. “Aku tidak tahu ternyata menjadi member Idol Group benar-benar melelahkan.”

“Hm-mm.” Kevin mengangguk sembari menyesap minumannya. “Itu sebabnya aku butuh dipijat sesekali.”

“Apa?”

“Kau tahu, aku tidur nyenyak sekali setelah kau memijat pundakku waktu itu.”
Kevin Lee mengucapkan kalimatnya dengan nada sangat santai, bahkan sambil tersenyum kecil, tapi Arlene langsung dibuat panik.

“Kapan? Kapan aku… ah, waktu itu.”

Gadis itu akhirnya bisa merasakan wajahnya berubah merah ketika kejadian dua minggu yang lalu kembali melintas di kepalanya. Hari itu Kevin terpaksa beristirahat di apartemen perusahaannya karena demam tinggi, dan Arlene diberi misi oleh Produser Kim untuk merawat “pacar” yang sakit. Akhirnya gadis itu berbelanja bahan-bahan untuk membuat samgyetang kemudian menuju apartemen perusahaan Kevin, diikuti seluruh kru dan kamera. Ia benar-benar mengusahakan segala yang ia tahu tentang cara merawat orang sakit. Bukan hanya memasak dan membantu minum obat, tetapi juga mengganti gel pack dingin untuk mengompres dahi Kevin setiap satu jam sekali dan memijat bahu laki-laki itu sampai benar-benar tertidur.

“Cepat.” Kevin tersenyum menggoda seraya memberi isyarat agar Arlene segera mulai memijat bahunya. Gadis itu otomatis memandang berkeliling, matanya mencari-cari…

“Tapi kita tidak sedang syuting,” tukasnya setengah memprotes. Namun Kevin justru tersenyum semakin lebar.

“Memangnya kenapa? Justru lebih baik jika tidak ada kamera,” sahutnya sambil membalikkan punggungnya, isyarat yang semakin kentara agar Arlene segera mulai memijatnya.

Akhirnya, tanpa berpikir lagi, gadis itu menggerakkan tangan mungilnya di sepanjang garis bahu Kevin, naik hingga ke tengkuknya. Selama beberapa saat, cabana itu hanya dipenuhi suara nafas Kevin yang penuh kelegaan ketika gadis itu perlahan-lahan mengendurkan otot-ototnya yang kaku. Sementara Arlena tak tahu harus tersenyum atau menangis karena sikap Kevin Lee yang semakin membingungkan.

Apa yang sebenarnya dia inginkan, Gi-Jun ah? Lagi-lagi Arlene mengeluh pada Han Gi-Jun yang berada nun jauh di sana.

Belum sampai sepuluh menit berlalu, tiba-tiba saja Kevin Lee memutar tubuhnya menghadap Arlene, menatap mata gelap gadis itu lekat-lekat dan bergumam pelan. “Kau membuatku mengantuk.”

“Masuk ke villa dan tidurlah, kalau begitu,” sahut Arlene cepat sambil mengerjap, mulai salah tingkah lagi ketika wajah laki-laki itu semakin mendekat.

Namun Kevin justru meresponnya dengan tawa kecil yang renyah. Selanjutnya, tanpa ijin, sama sekali tanpa ijin, laki-laki itu mengulurkan kedua tangan untuk menarik pinggang Arlene mendekat, kemudian merebahkan kepalanya di paha gadis itu.

Reaksi Arlene sudah bisa ditebak. Ia langsung mematung di tempat duduknya, selagi hatinya panik setengah mati. “Kevin ssi…”

“Kau sudah berjanji berkali-kali akan memanggilku ‘Oppa’, Arlene ah,” sahut Kevin dengan suara malas.

Ketika Arlene gagal merespon setelah lima belas detik berlalu, ia pun mendongak, menatap gadis itu dan melepaskan senyumnya yang paling memabukkan. “Biarkan begini sebentar. Aku ngantuk sekali,” ujarnya, sebelum kembali merebahkan kepala dan memejamkan mata.

Yah, Gi-Jun an, jawab aku. Apa yang harus kulakukan?

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari mouthshut.com. Thanks! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s