After #8


Last chapter! Setelah itu epilog, lalu selesai! Sedikit meleset dari perkiraan karena di awal aku menjanjikan maksimal 5 chapter. Tapi bisa apa sih penulis yang lemah ini kalau ide-ide mengalir teruuus dan nggak bisa berhenti? Hihihi! :D Selamat geregetan dengan chapter yang satu ini, readers! Feel free to drop your comments ;)

beach-boy-couple-girl-Favim.com-726848 (1)

Musim hujan. Bali, 2013.

“Aigoo! Menerbangkan layang-layang ternyata melelahkan sekali!” Arlene mendengus sambil merebahkan punggungnya di atas pasir pantai yang putih bersih.

Sudah satu setengah jam ia dan Kevin berada di private beach yang indah ini, tapi bukannya bermain air atau berjemur, mereka sibuk menyelesaikan ‘misi’ menerbangkan layang-layang yang sudah ditulisi “pesan cinta” untuk satu sama lain. Kevin yang lahir dan besar di Amerika tidak terlalu familiar dengan layang-layang, sementara Arlene sejak kecil kerjanya hanya menonton Han Gi-Jun bermain, sama sekali tidak pernah mencoba sendiri menerbangkannya. Akhirnya, mereka harus mencoba berkali-kali sebelum benda itu benar-benar bisa terbang.

“Tapi menyenangkan sekali,” sahut Kevin sembari mendongak menatap layang-layang mereka yang masih mengudara, ditahan oleh senar tebal yang dipegangnya dengan tangan kanan. “Kita seharusnya mencoba menerbangkan yang lebih besar lagi, seperti yang di sana itu, lihat…” Ia menunjuk sebuah layang-layang berbentuk burung besar warna-warni yang diterbangkan seseorang dari kejauhan.

“Mungkin ‘misi’ kita baru akan selesai besok pagi kalau kau ngotot ingin menerbangkan yang sebesar itu.” Arlene  tertawa kecil.

“Aku tidak keberatan, asal kau juga tetap bersamaku sampai besok pagi,” ujar Kevin seraya melepaskan senyumnya yang luar biasa. Membuat hati Arlene yang malang melonjak dari rongganya.

Ingat kamera-kamera itu, ingat, ingat… tahan dirimu, Arlene ah, ini semua hanya adegan… Arlene berulang-ulang kali mengingatkan dirinya sendiri, menjaga agar harapannya tidak melambung terlalu tinggi menyusul layang-layang mereka yang masih mengudara.

“Kalau begitu, kita harus mencobanya kapan-kapan.” Sebuah suara yang mirip suara Arlene menjawab dengan nada riang.

“Mencoba apa?” Kevin kembali menoleh dan menatapnya.

“Mencoba menerbangkan layang-layang yang lebih besar. Aku akan membawa banyak bekal supaya kita tidak kehausan dan kelaparan, siapa tahu kau butuh waktu lebih dari semalam untuk menerbangkannya,” sahut Arlene sambil tertawa, berakting tertawa lebih tepatnya.

Kevin tampaknya sudah akan membuka mulut untuk menjawab ketika tiba-tiba salah satu kru berteriak “Selesai!”, menandakan syuting untuk adegan itu sudah selesai dan para kru serta cameraman akan beristirahat.

“Kalian boleh istirahat dulu, tapi tolong kembali kemari sekitar pukul 5. Kami akan mengambil satu gambar lagi dengan latar belakang laut dan matahari terbenam, setelah itu kita pulang,” ujar salah satu kru pada Kevin yang langsung mengerling gulungan senar yang masih dipegangnya.

“Layang-layangnya?” tanyanya.

“Diturunkan saja tidak apa-apa,” sahut kru tadi. “Sudah cukup jelas, bukan? Tenda untukmu ada di sebelah sana, dan tenda Arlene ssi di tengah. Aku akan ada di tenda paling ujung kalau kalian membutuhkan sesuatu.”

“Terima kasih, Hyong,” sahut Kevin sebelum menoleh kembali pada gadis cantik di sampingnya. “Apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanyanya.

“Bermain air?” Arlene balas bertanya sambil tersenyum lebar.

“Memangnya kau bisa berenang?”

“Tidak.”

“Di sini ombaknya besar sekali, Arlene ah…”

“Apa gunanya ada Kevin Oppa yang berbadan besar dan bisa berenang kalau aku masih harus takut terseret ombak?”

“Okay,” sahut Kevin akhirnya. Sambil melepaskan sebuah tawa kecil, ia otomatis meraih tangan kanan Arlene dan menariknya berdiri. “Siap?”

“Siap!” Arlene mengangguk penuh semangat dan mempererat genggamannya pada tangan Kevin, sebelum mulai melangkahkan kaki, masuk ke dalam gulungan ombak yang hangat.

“Kevin ah!”

Kevin Lee mendongak dari layar iPad-nya ketika Park Young-Jae menepuk punggungnya pelan. “Ya, Hyong?”

“Kau sudah membaca Mission Card itu?” tanya Young-Jae sembari mendudukkan diri di sofa panjang di sebelah Kevin. Sementara yang diajak bicara hanya mengangguk cepat sebelum kembali menekuni game yang sedang dimainkannya.

“Sudah,” jawab Kevin.

Melihat reaksi yang begitu datar, Park Young-Jae kontan mengerutkan keningnya. “Aku akan membantumu bicara pada mereka kalau memang kau tidak mau melakukannya.”

“Tidak apa-apa, Hyong,” sahut Kevin dengan nada yang lebih ringan, selagi kedua matanya sama sekali tak lepas dari layar iPad.

“Kau yakin? Kau benar-benar mau melakukannya?”

“Bukankah setiap ‘misi’ memang dibuat untuk dipenuhi?”

“Tapi kau tidak harus…”

“Tidak apa-apa. Hyong tidak perlu khawatir,” potong Kevin cepat.

“Apa kau tidak memikirkan perasaan Arlene?” tanya Park Young Jae lagi, masih keheranan setengah mati pada laki-laki yang lebih muda itu. “Dia tidak tahu kalau ini hanya ‘misi’, dia akan mengira kau benar-benar…”

Kali ini, Kevin Lee benar-benar meninggalkan gamenya untuk mendongak dan menatap sang manajer di kedua mata. “Soal itu sama sekali bukan urusan Hyong,” tukasnya pelan seraya mengembangkan senyum yang sama sekali tak bisa diartikan.  “Biar aku mengurusnya.”

“Dingin?” Kevin menepuk pundak Arlene yang tertutup sweater merah muda berbahan rajut, sebelum mendudukkan dirinya persis di sebelah gadis itu.

Keduanya sedang mengambil gambar untuk adegan terakhir di Bali, yang mengharuskan mereka duduk berdekatan, mengobrol, dan melakukan hal-hal romantis lainnya di tepi pantai saat matahari terbenam.

“Sedikit,” sahut Arlene sambil memeluk lututnya sendiri erat-erat, berusaha tak terpengaruh meski seluruh syarafnya mendadak tegang ketika Kevin merapatkan tubuh padanya.

“Minumlah, mereka bilang teh dengan jahe bisa membantu menghangatkan badan.” Kevin mengulurkan cangkir putih yang didapatkanya dari salah satu kru, yang langsung diterima Arlene sambil mengembangkan senyum.

“Terima kasih, Oppa,” jawabnya.

“Katakan padaku kalau kau masih merasa dingin,” ujar Kevin lagi seraya menatap Arlene lekat-lekat dengan kedua mata cokelatnya yang indah.

Sementara Arlene membalas tatapan itu dan tertawa kecil. “Kenapa? Kau akan membuatkan api unggun untukku?” tanyanya.

“Tidak.” Kevin menggeleng cepat. “Tapi aku bisa melakukan ini,” lanjutnya seraya melingkarkan tangan ke sekeliling bahu Arlene dan menarik tubuh gadis itu mendekat.

Arlene yang tak siap dengan gerakan tiba-tiba itu langsung membeku seperti patung es. Terlalu tegang sampai tidak sempat memperhatikan bahwa seluruh kamera sudah semakin mendekat, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan sama sekali tak ingin ketinggalan momen.

“Masih kedinginan?” tanya Kevin sambil tersenyum kecil, masih menatap kedua mata Arlene seolah ingin menghipnotis gadis di sampingnya itu.

“Tidak.” Arlene berusaha membalas dengan senyum senatural mungkin meski ujung-ujung jarinya justru terasa semakin dingin karena tegang.

“Seandainya saja kau menjawab ‘iya’…” Kevin Lee sengaja menggantung kalimatnya di ujung lidah.

“Apa?” Arlene menjaga ekspresinya agar tetap netral, sementara hatinya sudah meronta-ronta tak sabar. Permainan apa lagi yang sedang dilakukan Kevin Lee? Adegan apa yang sedang ia rencanakan?

“Seandainya aku menjawab ‘iya’, kau akan benar-benar membuatkan api unggun?” tanya Arlene lagi sembari melepaskan tawanya yang kaku.

“Tidak.” Kevin lagi-lagi menggeleng.

Selama beberapa detik ia hanya duduk diam dan memandangi Arlene yang juga mematung dalam pelukannya. Tapi tiba-tiba saja wajahnya mulai mendekat, semakin mendekat, hingga Arlene hanya bisa melihat kedua mata cokelatnya.

“Kevin ssi!” Arlene mengerjap, tubuhnya otomatis mengejang dan mundur menjauh ketika sadar apa yang sedang dilakukan Kevin Lee. “Apa yang…”

Namun sisa kalimat gadis itu akhirnya ditenggelamkan sebuah kecupan pelan di bibirnya, dan diikuti dengan satu ciuman lagi yang lebih panjang. Tak hanya membekukan kemampuan bicara Arlene, tapi juga seluruh tubuh dan sistem syaraf di otaknya.

“Sudah cukup hangat?” tanya Kevin lembut setelah rangkaian ciuman itu selesai.

Sementara Arlene hanya mampu mengerjap-kerjapkan matanya seperti orang bodoh. Orang bodoh yang bingung, yang hatinya sudah terbang hingga ke langit ke tujuh, namun otaknya justru berteriak keras memaki laki-laki di sampingnya.

Ketika akhirnya Arlene gagal memberikan reaksi selama lima detik, Kevin pun meraih tangan kanan gadis itu dan melepaskan sebuah senyum yang luar biasa memabukkan.

“Ayo kita kembali ke villa,” ujarnya sebelum menarik tubuh Arlene agar bangkit berdiri. “Aku tidak ingin kau sakit karena kedinginan. Ayo!”

“Yoboseyo, Noona ya! Akhirnya kau meneleponku! Sudah kembali ke Seoul?” Han Gi-Jun nyaris berteriak dari seberang telepon karena terlalu bersemangat.

Namun sayangnya semangat itu tidak bisa menular, karena suara Gi-Jun yang penuh keceriaan sama sekali tidak berhasil membenahi suasana hati Arlene. Ia justru terisak semakin keras ketika mendengar suara laki-laki yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.

“Noona? Yoboseyo?”

“Gi-Jun ah…”

“Noona? Apa yang terjadi?” Han Gi-Jun terdengar semakin bingung. “Kenapa menangis begitu?” tanyanya.

Sementara Arlene lagi-lagi kehilangan kata-katanya. Tangisannya makin menjadi-jadi, namun gadis itu berusaha menahannya, menutup mulutnya sendiri dengan punggung tangan agar suaranya tidak semakin keras.

“Yah! Noona! Jangan membuatku takut!” seru Gi-Jun ketika Arlene sama sekali tidak menjawabnya.  “Katakan, apa yang terjadi…”

Setelah setengah mati berusaha mengendalikan diri, Arlene akhirnya berhasil menemukan suaranya sendiri dan bergumam pelan, “Dia menciumku, Gi-Jun ah. Apa yang harus kulakukan?”

 

Ilustrasi dalam chapter ini dipinjam dari favim.comGracias!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s