[EPILOG] After


Piggy Back

Musim semi. Seoul, 2013.

“Daaaaaaan… keesokan paginya dia muncul begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa dan akhirnya mengatakan kalauuuuuuu… ciuman semalam itu bagian dari ‘misi’!” Arlene berseru keras-keras, nyaris berteriak, seraya membanting gelasnya di atas meja bar.

Sementara Han Gi-Jun, si pendengar setia, langsung mengerutkan kening. “Hanya ‘misi’?”

“Bahkan dengan santainya dia menunjukkan padaku Mission Card sialan itu, yang isinya tantangan untuk menciumku saat matahari terbenam!” tukas Arlene sambil menunjuk-nunjuk ke udara, seolah Mission Card yang dimaksudnya benar-benar ada di sana.

“Jadi, hanya karena ‘misi’ dari tim produksi variety show itu, lalu dia benar-benar melakukannya?” Gi-Jun masih tampak tak percaya. “Dia mencium Noona di sini?” tanyanya lagi sembari meletakkan ujung telunjuk di bibirnya sendiri.

“Brengsek, laki-laki itu…” Arlene mengambil jeda di antara kalimatnya untuk menegak habis sisa soju dalam gelasnya, kemudian mengisinya kembali  hingga penuh –untuk yang keenam kali malam ini– sambil terus bicara. “Sialan. Benar-benar sialan. Kupikir dia benar-benar sudah…”

“Tapi, Noona, mungkin saja dia…” Han Gi-Jun yang masih berusaha mencari sisi positif dari kejadian di Bali itu tentu saja dibantah Arlene mentah-mentah.

“Kau tahu, Gi-Jun ah, beberapa malam kami mengobrol di cabana… hanya berdua, tidak ada kamera… dia memperlakukanku dengan baik., tampak benar-benar tulus,” ujar gadis itu sembari menekan-nekan telunjuknya ke permukaan meja bar dengan penuh emosi.

“Makanya kubilang, Noona, mungkin saja Kevin ssi memang…”

“Kupikir…” Lagi-lagi Arlene memotong kalimat Gi-Jun. Namun kali ini suaranya mulai terdengar serak. Mata gelapnya sudah tidak fokus karena pengaruh alkohol, wajahnya sangat kusut, make up-nya luntur, rambutnya dibiarkan tergerai berantakan, membuatnya tampak seperti orang yang baru saja patah hati. Atau memang Arlene sedang patah hati.

“Kupikir dia… aku benar-benar menyangka dia…”

Giliran Han Gi-Jun yang menyela kata-kata gadis di hadapannya, tak tahan dengan sikapnya yang begitu menyedihkan. “Yah, Noona! Jangan begitu… Dengar aku, Kevin ssi itu mungkin saja benar-benar…”

“Benar-benar brengsek!” sambar Arlene dengan suara kelewat keras. Gadis itu kemudian bangkit dari kursinya, mengabaikan gelas dan menegak soju langsung dari botolnya. Ia berjalan mondar-mandir di depan meja bar dengan terhuyung-huyung, sambil terus memaki Kevin Lee keras-keras.

“Kau tahu, Gi-Jun ah, laki-laki brengsek seperti dia itu sebaiknya pergi saja dari dunia ini… hush! Hush! Pergi!” ujar Arlene seraya mengayun-ayunkan botol soju dengan asal, membuat isinya tumpah membasahi bagian depan bajunya. Tapi akal sehat gadis itu sudah dikuasai alkohol dan emosi, membuatnya sama sekali tak peduli.

“Aku senang sekali program variety show menyebalkan yang punya jutaan Mission Card sialan itu akan segera berakhir minggu depan, jadi aku tidak perlu melihatnya lagi! Sebaiknya si brengsek itu jatuh ke laut saja supaya dimakan ikan hiu!” teriak Arlene lagi, kali ini sambil berputar-putar di tempatnya berdiri.

Seperti yang sudah diduga, gadis mabuk itu gagal menjaga keseimbangannya sendiri. Tubuhnya limbung ke kiri, nyaris saja jatuh dan menabrak kursi kalau tidak ada yang cukup cepat menangkap tubuhnya.

“Hey! Hati-hati…”

Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Arlene dikejutkan oleh suara familiar yang menyapa telinganya, tepat ketika ia merasakan sebuah lengan besar menahan punggungnya, menjaganya agar tidak jatuh.

“Kevin ssi!” Gadis itu berseru keras ketika akhirnya menoleh dan menemukan laki-laki yang sejak tadi dimakinya tanpa ampun. Syaraf-syarafnya otomatis menegang. “Apa yang sedang kau…”

“Kau sudah berjanji memanggilku ‘Oppa’, Arlene ah,” tukas Kevin dengan nada tenang, sementara seulas senyum terbit di bibirnya yang sempurna.

Melihat reaksi laki-laki itu, Arlene mengerutkan kening kemudian menoleh ke kanan dan kiri berulang kali, menjulurkan lehernya, mencari-cari. “Di mana mereka? Kenapa mereka bersembunyi?” tanyanya.

“Siapa?”

“Kamera… para kru…”

“Tidak ada siapapun di sini, apalagi kru dan kamera,” sahut Kevin, masih dalam nada bicara yang sama. Tenang namun terdengar sedikit geli.

“Kalau begitu, sedang apa kau di sini?” tuntut Arlene. Keningnya berkerut semakin dalam. Matanya yang sudah tidak fokus berusaha menantang mata cokelat Kevin.

“Aku datang untuk mengantarmu pulang.” Senyuman di bibir Kevin semakin melebar bersamaan dengan jawabannya yang mengalir. Ia kemudian meletakkan selembar uang di atas meja bar, mengambil tas tangan Arlene dari kursi, dan menarik tubuh gadis itu. “Ayo!”

“Tapi… Kevin ssi…”

“Kau sudah berjanji.”

“Oppa… ya. Maksudku Oppa. Aku sudah berjanji memanggilmu Oppa.” Arlene bergumam seperti orang bodoh. “Aku… tapi aku…”

“Sssshhh…” Kevin menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu, tak sabar dengan sifat keras kepalanya yang tetap tidak hilang meski sedang mabuk berat. “Jangan bicara lagi, ayo jalan! Aku akan mengantarmu pulang,” ujarnya.

Awalnya ia masih berusaha menarik tangan Arlene dengan lembut. Namun ketika gadis itu tetap tidak mau bergerak juga, Kevin Lee akhirnya mengangkat tubuh mungil Arlene ke atas punggungnya dalam satu gerakan cepat.

“Kau tidak bisa ke mana-mana sekarang. Ayo kita pulang!” ujar Kevin sambil tersenyum tipis. Ia kemudian mengangguk sopan pada Han Gi-Jun dan paman pemilik bar, Son Dong-So, sebelum akhirnya benar-benar membawa Arlene –yang masih mengoceh tak jelas– keluar dari bar.

“Jadi itu laki-laki yang selalu dibicarakan Arlene?” tanya Son Dong-So setelah keduanya menghilang di balik tikungan.

“Benar, Ajossi. Itu tadi yang bernama Kevin Lee.” Han Gi-Jun mengangguk kaku, ekspresinya seperti baru saja melihat hantu. “Kenapa dia tiba-tiba muncul di sini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap baik pada Arlene Noona? Apa kita perlu mengikutinya? Jangan-jangan…”

“Kurasa tidak perlu,” sahut Son Dong-So ringan sambil kembali sibuk dengan lembar pembukuannya. “Laki-laki itu sudah sering datang kemari.”

“Apa? Ajossi sudah sering melihatnya di sini?” Gi-Jun semakin terbelalak.

“Mereka selalu datang nyaris bersamaan,” sahut Dong-So. “Kurasa laki-laki itu memang sengaja datang untuk mengawasi Arlene.”

“Benarkah?”

“Kau ingat saat Arlene mabuk berat setelah pertunjukan Special Stage yang disebut-sebutnya itu?”

“Akhir tahun lalu?”

“Ya.” Dong-So mengangguk mantap sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku ingat betul, waktu itu ia juga datang kemari, duduk di pojok sana dan hanya memesan kopi. Saat kau mengantar Arlene pulang, Kevin Lee itu juga ikut pulang.”

Mendengar rangkaian informasi dari laki-laki yang lebih tua itu, Han Gi-Jun membelalakkan matanya semakin lebar. Sementara otaknya pelan-pelan sudah mulai membentuk sebuah pemahaman.

“Jadi…” Gi-Jun bergumam tak jelas.

“Jadi…” Son Dong-So terkekeh pelan. “Kurasa… semuanya bukan hanya terjadi di depan kamera seperti yang selalu dipikirkan Arlene.”

The end. Thank you my beloved (silent) readers! Hope you guys enjoy this fic as much as I do! *kisses*

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Tumblr. Thanks!

One thought on “[EPILOG] After

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s