Hello (여보세요)


hello

Ini mungkin cerita terpendek yang berhasil aku tulis sejak lima atau enam tahun terakhir. Sekaligus tercepat, karena cuma makan waktu 2 hari sampai bener-bener selesai. Inspirasinya bisa diintip di akhir postingan ini ya. Enjoy reading, people! :)

Listening to: Nu’est – Hello (여보세요)

What are you doing over there right now?
지금 너 거기서 뭐하니
I’m staring at you blankly from far away right now
지금 널 멀리서 멍하니
Can’t you feel me?
바라보는 내가 느껴지지 않니

Choi Jin-Hee tersenyum kecil ketika mendengarkan suara tawa 13 laki-laki dari earphone yang terpasang di telinga kanannya, sementara kedua matanya sama sekali tak lepas dari layar MacBook Pro yang terbuka di atas meja kerjanya. Terima kasih pada koneksi internet yang kecepatannya nyaris melebihi kecepatan cahaya, jadi saat ini Jin-Hee dapat melihat wajah yang familiar itu dan mendengar suaranya dengan sangat jelas, meski mereka berada ribuan mil jauhnya.

Selama setengah menit berikutnya ia menonton siaran livestreaming itu dengan penuh perhatian, sama sekali tidak mau kehilangan satu detik pun ketika tiba gilirannya berbicara nanti. Jin-Hee tak melewatkan apapun, hingga akhirnya DJ Boom –yang memandu siaran viewable radio yang sedang ditontonnya– mengatakan bahwa mereka sudah memasuki segmen kedua Jagiya Corner. Kali ini main vocalist Knigt yang bernama Lee Hyun-Jun, salah satu di antara ketiga belas laki-laki yang tampak di layar laptop Jin-Hee, yang akan menjadi ‘korban’ berikutnya.

“Kau sudah siap, Hyun-Jun ssi?”

Jin-Hee bisa merasakan hatinya gemetaran ketika mendengar jawaban atas pertanyaan DJ Boom itu. Bukan karena jawabannya, tapi karena siapa yang menjawabnya.

“Bolehkah aku bilang ‘belum’?” Laki-laki itu balas bertanya dalam suaranya yang menyenangkan dan sangat familiar di telinga Jin-Hee.

“Tidak boleh! Kau harus siap!” sahut DJ Boom, diikuti suara tawa kesebelas member Knight lainnya. “Nah, Hyun-Jun ssi, situasinya kali ini adalah pacarmu ingin putus karena kau terlalu sibuk bekerja. Tapi, tentu saja, kau harus mati-matian mempertahankan hubungan kalian, mengerti?”

“Woaaa, situasi yang sulit!” sambar Park Chan-Sung, rapper Knight yang dikenal sangat dekat dengan Hyun-Jun.

“Jangan sampai kalah, Hyong,” celetuk Lee Jong-Min sembari melepaskan tawa dan menepuk pundak laki-laki yang lebih tua.

“Hyun-Jun ah, fighting!” Para member yang lain ikut memberi semangat.

“Ya, benar, laki-laki tidak boleh kalah!” DJ Boom kembali mengambil alih. “Sudah siap, Hyun-Jun ssi?”

“Siap,” sahut Hyun-Jun seraya merapatkan headphone yang dipakainya ke telinga agar bisa mendengar lebih jelas, dan DJ Boom pun mulai menghitung.

“Tiga, dua…”

“Ah, tunggu dulu, Hyong!” potong Hyun-Jun cepat. “Siapa nama penelpon kali ini? Bagaimana aku harus memanggilnya?” tanyanya, terdengar sedikit panik. Sementara DJ Boom dan member lainnya terbahak.

“Dia akan berakting menjadi pacarmu, tentu saja kau harus memanggilnya ‘Jagiya’,” sahut penyiar itu. “Lagipula segmen ini bukankah memang disebut Jagiya Corner untuk alasan itu?”

“Ah, benar.” Hyun-Jun mengangguk-angguk seperti anak kecil yang sedang dinasehati sang Ibu sambil tersenyum lebar.

“Tapi, sebagai informasi, penelepon kita kali ini datang dari jauh, New York City…” ujar DJ Boom.

Terdengar koor seruan “Woaaa…” dari dua belas member Knight, sebelum DJ Boom melanjutkan kembali, “Dan namanya adalah Choi Jin-Hee ssi.”

Kali ini, Jin-Hee bisa melihat emosi lain muncul di wajah Lee Hyun-Jun di layar laptopnya. Senyumnya serta merta menghilang. Wajahnya yang semula tampak agak panik dan nervous karena harus berakting dalam segmen Jagiya Corner ini, mendadak berubah seperti orang yang sedang shock karena baru saja mendengar berita buruk.

“Siapa?” tanya Hyun-Jun. Bahkan nada bicaranya pun menegang.

“Choi Jin-Hee ssi,” ulang DJ Boom santai, sama sekali tak menyadari perubahan ekspresi di wajah laki-laki yang lebih muda. “Kalau kau kesulitan, cukup memanggilnya ‘Jagiya’ saja, yang penting jangan sampai kalah! Oke, Hyun-Jun ssi? Kita mulai… tiga, dua, satu… action!”

Choi Jin-Hee mempererat genggaman pada ponselnya yang yang menempel rapat di telinga kiri dan mengambil satu nafas panjang, sebelum mengucapkan sapaan pertamanya.

 “Yoboseyo, Oppa?”

“Yoboseyo, Oppa?”

“Yoboseyo… Jagiya?” Hyun-Jun memaksa dirinya bicara mematuhi skenario. Suaranya pasti terdengar sangat kikuk, sampai-sampai Park Chan-Sung dan beberapa member lainnya tak bisa menahan tawa.

“Oppa,” ujar gadis di seberang telepon. “Aku ingin kita putus.”

Choi Jin-Hee memulai dengan nada yang sangat tajam, seolah ia sedang bicara sungguh-sungguh. Membuat DJ Boom dan seluruh member Knight kembali menggemakan koor “Waaaah…” yang kompak sambil tertawa-tawa geli.

“Putus?” Hyun-Jun berusaha mengimbangi dengan akting terbaiknya. “Kenapa tiba-tiba…”

“Oppa terlalu sibuk, aku tidak tahan lagi,” potong Jin-Hee. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang kesal sungguhan.

“Yah…” desis Hyun-Jun. “Terlalu sibuk apanya…”

“Kapan terakhir Oppa mengajakku keluar, bermain, jalan-jalan, makan bersama?” Jin-Hee mulai menyerang. “Setiap hari Oppa disibukkan bermacam-macam schedule, kita…”

“Tapi bukankah aku harus bekerja supaya bisa mengajakmu keluar, bermain, jalan-jalan, dan makan bersama?” balas Hyun-Jun.

“Tapi seharusnya Oppa meluangkan waktu lebih banyak untukku!”

Mendengar kata-kata gadis bersuara jernih itu dari seberang telepon, Hyun-Jun mendesah dalam hati. Kenapa tiba-tiba hatinya terasa seperti dicubit?

“Aku…” Ia tergagap pelan, sebelum akhirnya Choi Jin-Hee menyambar lagi.

“Aku tidak perlu diajak jalan-jalan atau makan di tempat yang mahal, hanya minum kopi kalengan sambil duduk-duduk di Cheonggyecheon saja sudah cukup. Tapi Oppa selalu…”

“Aku tahu, tapi aku tetap harus bekerja.” Kali ini giliran Hyun-Jun yang memotong kalimat gadis itu. Nadanya yang sedingin es mengundang gumaman “Ooooh…” dan tawa geli dari para member.

“Kalau begitu kita putus saja,” tukas Jin-Hee dalam suara yang sama dinginnya. Kembali diikuti gumaman dari DJ Boom dan kesebelas member Knight, seperti supporter pertandingan badminton yang sedang heboh memberi semangat pada masing-masing pemain.

Namun Lee Hyun-Jun justru terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak bisa mencegah hatinya sendiri untuk tidak merasakan sakit, yang sama sekali tidak relevan dengan situasi ini. Ini semua hanya game, bukan? Mereka sedang berada di segmen Jagiya Corner dan bukannya bertengkar sungguhan, kan?

Melihat yang menjadi pusat perhatian malah membeku selama hampir lima detik, para member pun mulai berbisik-bisik memberi semangat padanya. Hyun-Jun tidak boleh kalah. Kalau ia menyerah dan membiarkan gadis itu ‘putus’ dengannya, maka ia akan kalah dalam game ini. Lagipula, hatinya juga sama sekali tak ingin membiarkan gadis itu…

“Jagiya, jangan begitu,” ucap Hyun-Jun akhirnya.

“Tapi aku tidak tahan lagi,” sahut Jin-Hee dari ujung telepon. Suaranya tak terdengar gentar sedikit pun, mantap dan penuh persiapan.

“Aku berjanji akan lebih sering meluangkan waktu untukmu, oke?” Hyun-Jun mulai membujuk. “Aku akan menemuimu di sela-sela schedule, di saat ada waktu senggang, saat break latihan. Aku akan…”

“Kenapa baru sekarang Oppa berjanji padaku?” tuntut Jin-Hee. Aktingnya luar biasa, terdengar sangat natural seperti pacar sungguhan yang sedang marah-marah. “Setelah Oppa sibuk sendiri selama berbulan-bulan dan sama sekali tidak punya waktu untukku, memangnya Oppa pikir aku akan memaafkan begitu saja?”

“Maafkan aku. Aku berjanji akan lebih…” Tiba-tiba Lee Hyun-Jun kembali kehilangan kata-katanya. Seolah ada beban berat yang menindih dadanya, laki-laki muda itu menghela nafas panjang, menghembuskannya pelan-pelan, sebelum akhirnya kembali angkat bicara.

“Kau tahu, aku sangat sibuk karena persiapan debut, kemudian kami harus menjalani latihan yang berat selama masa awal debut, promosi album, dan sebagainya.. Kau bisa mengerti, bukan, Jin-Hee ya?” Suaranya kini terdengar seperti orang memohon. Dan alih-alih menggunakan ‘Jagiya’, Hyun-Jun memanggil nama Jin-Hee dengan sangat alami. Seolah…

“Aku bisa mengerti Oppa punya pekerjaan. Menjadi member Idol Group terkenal sama sekali tidak mudah, aku mengerti,” sahut gadis di seberang telepon. “Tapi, aku benar-benar…”

“Maafkan aku. Aku berjanji akan benar-benar meluangkan waktu untukmu mulai hari ini.”

“Tidak, Oppa. Aku tidak mau, aku ingin kita…”

“Aku benar-benar berjanji kali ini.” Hyun-Jun semakin bersikeras.

Sementara Jin-Hee juga sama sekali tak mau kalah. “Tapi…”

“Kau mencintaiku bukan, Jin-Hee ya?” tanya Lee Hyun-Jun tiba-tiba. Membuat seluruh studio kembali dipenuhi tawa dan gumaman menggoda oleh DJ Boom dan para member yang geli setengah mati.

“Eh…” Kali ini Lee Jin-Hee terdengar sedikit terbata. Benteng pertahanannya seolah nyaris runtuh ketika akhirnya ia menggumamkan jawaban, “Ya.”

“Aku juga mencintaimu, Jin-Hee ya,” ujar Hyun-Jun mantap. “Kalau begitu, jangan pernah bicara soal putus lagi, oke?”

“Tapi, Oppa berjanji akan meluangkan waktu lebih banyak untukku?” tanya Jin-Hee untuk yang terakhir kali.

“Tentu saja, aku berjanji,” sahut Hyun-Jun, yang kemudian diikuti helaan nafas gadis di ujung telepon, sebelum akhirnya ia memberikan jawaban final.

“Baiklah.”

Detik berikutnya, studio SBS Radio kembali dipenuhi koor “Aaaah!” yang penuh semangat disusul tepuk tangan dan suara DJ Boom yang langsung mengambil alih.

“Aaaah… selamat, Hyun-Jun ssi! Kau menang, akhirnya pacarmu yang keras kepala menyerah juga!” ujarnya sambil tertawa. “Sekarang mari kita sapa penelepon kita ini… Annyeonghaseyo, Jin-Hee ssi!”

“Annyeonghaseyo…” jawab Jin-Hee dengan suaranya jernihnya yang sudah kembali netral, tanpa diliputi emosi seperti sebelumnya.

“Terima kasih sudah berpartisipasi dalam Jagiya Corner bersama Knight malam ini, tim SBS Radio akan mengirimkan hadiah untukmu nanti, satu buah CD Knight bertanda tangan yang akan langsung dikirim ke New York!” seru DJ Boom penuh semangat. “Sekarang coba ceritakan, bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Senang sekali,” sahut Jin-Hee sembari tertawa kecil. “Bermain game seperti ini ternyata seru juga.”

“Memang seru sekali,” tukas DJ Boom lagi, sebelum beralih memandang Lee Hyun-Jun. “Tapi kenapa Hyun-Jun ssi masih pucat begitu? Jin-Hee ssi, kau sedang menonton kami bukan? Kau lihat wajah pucat Hyun-Jun ssi?”

“Ya, aku melihatnya.” Jin-Hee kembali mengumandangkan tawanya, memberikan pengantar yang sangat halus pada pertanyaan yang akan membawa gadis itu ke tujuan yang berikutnya. “DJ Boom?”

“Ya?”

“Boleh aku menyapa Lee Hyun-Jun ssi secara personal?”

“Tentu, tentu boleh. Silakan!” Jawaban DJ Boom itu langsung diikuti sapaan Jin-Hee. Ia sama sekali tak menyia-nyiakan satu detik pun.

“Annyeonghaseyo, Hyun-Jun Oppa. Lama tidak bertemu,” ujar gadis itu tenang.

Seluruh studio seolah bisa melihat gadis itu tersenyum dari ruang kerjanya di New York, namun Lee Hyun-Jun justru berubah kembali menjadi patung es. Sangat kontras dengan reaksi DJ Boom dan para member Knight yang langsung ribut meneriakkan pertanyaan yang sama.

“Kalian berdua sudah saling kenal?”

“Ya.” Jin-Hee tersenyum tipis ketika akhirnya mendengar jawaban Lee Hyun-Jun, meski suara laki-laki itu terdengar seperti orang yang baru sadar dari shock berat. “Kami sudah saling kenal.”

“Benarkah?” DJ Boom tampak terkejut sekaligus antusias. “Bagaimana…”

“Jin-Hee ssi dan aku berteman sejak masih tinggal di Bucheon, lama sebelum aku menjadi trainee di Fantasy Entertainment dan akhirnya debut bersama Knight,” sahut Hyun-Jun lagi.

Dari layar laptopnya, Jin-Hee bisa melihat laki-laki itu tersenyum kaku sembari bertukar pandang dengan Lee Jong-Min, satu-satunya member Knight yang mengerti rangkaian kisah lama yang rumit di antara ia dan Hyun-Jun.

“Ah, begitu? Menyenangkan sekali Jagiya Corner kali ini menjadi ajang reuni dua sahabat lama!” seru DJ Boom penuh semangat. “Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?” Kali ini ia bertanya pada Jin-Hee.

“Dua, atau tiga tahun?” Gadis itu menghitung dalam kepalanya. “Sejak Hyun-Jun Oppa pindah ke Seoul, kemudian aku melanjutkan sekolah dan bekerja di New York, kami kehilangan kontak.”

“Ah, beruntung sekali kau menelepon malam ini, Jin-Hee ssi!” ujar DJ Boom lagi.

“Benar.” Jin-Hee menjawab sambil tersenyum, sementara matanya sama sekali tak lepas dari layar laptop, terus memandangi wajah laki-laki yang sangat dirindukannya. “Menyenangkan sekali bisa mengobrol dengan Hyun-Jun Oppa lagi.”

“Good!” DJ Boom terus mengoceh penuh semangat tanpa sedikit pun memperhatikan ekspresi Hyun-Jun. “Teruslah berteman kalian berdua! Jangan lupa mampir ke SBS Radio saat pulang ke Korea, Jin-Hee ssi!”

“Tentu saja, DJ Boom,” jawab Jin-Hee.

“Baik, sekali lagi terima kasih sudah menelepon!” DJ Boom kemudian mengalihkan pandangannya untuk bicara pada Hyun-Jun. “Sebelum kita mengakhiri sambungan telepon, apa ada yang ingin kau sampaikan pada Jin-Hee ssi?”

“Jaga kesehatanmu, Jin-Hee ya.” Hyun-Jun menggumam pelan.

“Oppa juga,” sahut Jin-Hee sembari mengangguk tanpa sadar, seolah lawan bicaranya bisa melihatnya dari seberang telepon.

“Itu saja?” tanya DJ Boom ketika tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Hyun-Jun lagi. “Sudah selesai?”

“Oppa…” Jin-Hee menyambar kesempatan untuk bicara.

Lee Hyun-Jun menegakkan kepalanya dan bergumam, “Hmm?”

“Oppa sudah berjanji akan meluangkan waktu untukku, bukan?”

“Ya. Aku akan menghubungimu nanti, Jin-Hee ya.”

“Oke,” sahut Jin-Hee dengan suara riang sebelum akhirnya benar-benar mengakhiri sambungan telepon itu. “Sampai jumpa, Oppa!”

Hyun-Jun menjawabnya dengan senyum terbaiknya sambil melambai pada kamera, tahu betul Jin-Hee sedang memandanginya dari layar laptopnya. Laki-laki itu kemudian mengangguk dan bergumam, “Sampai jumpa, Jin-Hee ya!”

“Sampai jumpa? Tidak bisakah kita bertemu sekarang saja? Sekarang juga? Aku sangat merindukanmu.”

Jin-Hee tersenyum pada dirinya sendiri ketika mendengar suara kecil dalam kepalanya bicara, mengatakan kalimat-kalimat sarat kejujuran yang tak mungkin terucapkan oleh bibirnya.

Sudah berapa lama ia menunggu untuk bisa bicara lagi dengan Lee Hyun-Jun? Dua tahun? Tiga tahun? Tahukah laki-laki itu bahwa Jin-Hee terus mengingatnya, merindukannya, setiap detik?

“Bisakah kau merasakannya, Oppa?”

“Maafkan aku, Jin-Hee ya. Karena tidak pernah berusaha menghubungimu, karena tidak pernah meluangkan waktuku untukmu, karena tidak pernah mencari, menanyakan kabarmu, membiarkan hubungan kita menghilang begitu saja seperti asap yang terbawa angin. Tapi bersumpahlah padaku, kau tidak akan pernah bicara soal putus lagi. Sampai kapanpun. Kau dengar itu? Bersumpahlah padaku, Jin-Hee ya.”

“Hyong, kau baik-baik saja?” Lee Jong-Min menggumam sangat pelan di telinga Hyun-Jun, agar member yang lain tidak bisa mendengar pertanyaannya.

“Aku baik-baik saja, Jong-Min ah.” Lee Hyun-Jun mengangguk.

“Telepon dia, Hyong,” ujar Jong-Min lagi tanpa menggerakkan bibirnya. “Jangan biarkan Jin-Hee Noona…”

“Hmm. Aku tahu,” potong Hyun-Jun dengan satu anggukan cepat. Sebuah senyum penuh kelegaan akhirnya terbit di bibirnya yang tipis. “Aku tidak akan pernah membiarkannya menunggu lagi.”

– Yoboseyo (여보세요): hello; halo – khusus digunakan untuk percakapan telepon

– Jagiya Corner (자기야 나야) adalah salah satu segmen dalam program Boom’s Young Street di SBS Power FM yang disiarkan tanggal 31 Mei 2013 dengan bintang tamu … (isilah titik-titik dengan jawaban yang benar atau boleh ngintip di sini) :D

– Lee Jong-Min adalah salah satu tokoh di Confession, my upcoming novel, yang direncanakan terbit sekitar bulan Agustus tahun ini. Simak teaser-nya di sini.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Orange, dan lyrics Nu’est – Hello dikutip dari Asian Pop LyricsThanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s