Lovestruck #4


Hoaaa! Baru inget, ternyata masih ada project yang satu ini! Lovestruck adalah proyek kolaborasiku dengan @AyuKarwinandhi yang sudah dimulai sejak awal tahun. Setelah terhenti selama beberapa bulan, akhirnya kami berhasil menerbitkan chapter terbaru Lovestruck! Di chapter ini, aku masih bergerak dan berbicara sebagai the husband: Reza Adinata, laki-laki (jelas!), 30 tahun, yang bekerja sebagai interior designer. Plus sebagai Reisa Adriana, Reza‘s ex-girlfriend yang maha sempurna. Enjoy! :) 

balloon

Reza

“Aku nggak turun ya, Rei,” ujarku segera setelah mobil yang kukendarai tiba di pelataran parkir apartemen Reisa. Siang ini aku memang sengaja kabur dari kantor dengan alasan sakit demi menjemput Reisa yang baru pulang dari perjalanan kerja ke Sydney. “Kamu nggak pa-pa kan naik sendiri?”

“Yah, kenapa… Aku kan udah janji mau bikinin kamu kopi pake coffee machine baru aku…” Reisa merajuk. Wajahnya yang cantik ditekuk sedikit. “Lagian kamu nggak harus balik ke kantor, kan?” tanyanya.

“Nggak sih. Tapi badan aku agak nggak enak nih, pengen tidur.” Kali ini nggak sepenuhnya bohong, karena kepalaku memang sudah sakit sejak tadi pagi, hidung juga agak mampet, dan…

“Ah, Reza…” Reisa merajuk lagi. “Cuma tidur aja sih bisa di apartemen aku, kenapa mesti pulang segala. Istri kamu belum pulang ini kan…”

“Rei, kamu udah janji nggak bakal ngomongin soal Nadine kalau kita lagi berdua,”  tukasku tajam.

“Iya, iya, sorry, Sayang…” sahut Reisa sambil mengelus pipiku lembut, sebelum akhirnya mematikan mesin mobilku dengan paksa dan menyeretku keluar. “Ya udah yuk turun! Nanti aku buatin kamu makan siang, plus kopi paling enak seeeedunia biar badan kamu enakan! Kamu mau dimasakin apa?”

“Nggak usah, Rei. Aku udah makan di kantor sebelum jemput kamu tadi,” jawabku tepat ketika lift mulai naik, membawa kami ke apartemen Reisa di lantai 18.

“Yah, udah makan ya? Atau aku buatin cream soup aja, mau? Atau kamu mau cemilan aja? French toast? Kan enak tuh sambil minum kopi… atau…”

Reisa Adriana terus mengoceh tentang makanan, sementara aku sudah berhenti mendengarkannya ketika tiba-tiba ingatan samar tentang kejadian di Singapura melintas di kepala. Bibir mungil Reisa yang beraroma alkohol, pelukannya yang semakin erat, rambut panjangnya yang menjuntai berantakan, dahinya yang dipenuhi butir-butir keringat, tubuhnya yang hangat… lalu sewaktu Reisa keluar dari kamar mandi, cuma mengenakan kemeja Calvin Klein-ku yang kebesaran… damn! Kenapa jadi keinget semua sih?

“Reza? Kamu itu lagi ngelamunin apa sih?” tanya Reisa dengan kening berkerut.

“Eh… nggak lagi ngelamunin apa-apa, Rei…”

“Bohong banget! Kenapa diem aja gitu? Kopinya nggak enak ya?”

“Enak kok, enak…” jawabku cepat. “Cuma kepala aku aja yang agak pusing.”

“Kenapa sih kok tiba-tiba sakit gitu kamunya, Sayang?” tanya Reisa lagi. Ia meletakkan cangkir kopinya di meja makan dan menatapku khawatir.“Gara-gara yang kamu bilang kehujanan kemarin itu?”

“Mungkin.” jawabku.

“Ya udah, sini kamu tidur!”

“Aku pulang aja ya, Rei…”

“Nggak, pokoknya kamu harus istirahat di sini. Kalau udah enakan baru boleh pulang,” tukas Reisa sambil menarik tanganku masuk ke kamarnya. Ia memaksaku masuk ke balik selimut, kemudian menyusup di sebelahku.

“Tidur ya, Sayang.” Reisa mencium pipiku sekilas sebelum memposisikan kepalanya di bahu kananku, dengan bibirnya yang lembut menempel rapat di leherku dan mengalirkan sengatan listrik aneh ke sekujur tubuhku.

Ini kenapa jadi gini sih…

“Din… eh, Rei…”

Anjir! Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati ketika sadar nama siapa yang nyaris saja keluar dari mulutku. Untungnya Reisa sedang terlalu sibuk menciumi leherku, jadi sepertinya dia nggak sempat dengar apapun. Kalau denger, bisa panjang urusannya…
Tapi lebih panjang lagi urusan dengan Nadine kalau istriku itu sampai tahu kelakuanku dan Reisa di belakangnya.

Hhh, Nadine.

Reza

“Duit memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh duit. Kalau nggak punya duit mana bisa lo bayar service sama beli bensin buat Lexus lo itu!”

Aku menggerung kesal ketika kalimat yang diucapkan Ryan beberapa hari yang lalu itu jadi hal pertama yang terngiang di telingaku pagi ini. Punggungku nyaris remuk karena semalaman cuma kebagian tidur di sofa ruang rekreasi kantor selama 3 jam, itupun masih harus berbagi tempat sama si kutu kupret Ryan.

Padahal ini tanggal merah. Padahal harusnya aku bisa tidur nyenyak di kasur empukku di apartemen, bangun siang, malas-malasan, makan nasi goreng andalan Nadine sambil nonton maraton Fast and Furious di HBO atau makan cream soup ala hotel bintang 5 buatan Reisa sambil nonton DVD di apartemennya?Makan apapun dimana pun bolehlah, yang penting nggak di kantor bareng Ryan, Dani, Leo, dan tim lembur lainnya yang sayang sekali semuanya laki-laki.

Tapi kalau nggak lembur begini nggak bakal bisa beli bensin, apalagi bayar biaya service si Lexus yang selangit, seperti kata Ryan. Belum lagi bayar tagihan kartu kredit, deposito, asuransi…

“Earth to Reza Adinata, earth to Reza Adinata,” seru Ryan sambil berlagak memegang walkie talkie dengan tangan kanannya. “Ngelamun aje lo! Mikir apa sih? Kangen bini?” tanyanya.

“Kagak.” Aku menggeleng seraya cepat-cepat menepis bayangan angka-angka tagihan, deposito, asuransi, dan kawan-kawannya dari kepalaku.

“Reisa?”  tanya Ryan lagi sambil tersenyum usil.

“Sableng lu ya, mulut sembarangan aja,” jawabku sebal.

“Makanya buruan selesaiin itu presentasi yang diminta Pak Arman,” sahut Ryan, masih dengan senyuman usil di bibirnya yang minta ditimpuk. “Abis itu lo samperin deh Reisa biar nggak kangen-kangen mulu kaya ABG kasmaran…”

Aku menggerung sebal dan menutup mulut Ryan yang asal dengan bantal, sebelum akhirnya beranjak mengerjakan presentasi yang memang diminta oleh si bos, agar bisa cepat meninggalkan kantor dan cepat pulang ke… ke mana saja, yang penting pulang.

Reisa

Aku mengerutkan kening sebelum akhirnya menyentuh ikon ‘answer’ di layar iPhone 5-ku dan menyapa si penelepon. “Halo?”

“Kenapa halo-nya ketus banget sih, Reisa?” tanya Arya Dwiananto, laki-laki yang pernah jadi pacarku tepat sebelum Reza, menyahut dari seberang dalam suaranya yang sebenarnya menyenangkan. Kalau saja aku nggak terlanjur sebal duluan.

“Kamu ada perlu apa lagi? Aku lagi sibuk nih,” jawabku cepat.

“Sibuk apa sih, ini kan udah lewat jam pulang kantor,” protes Arya. “Aku cuma pengen ngobrol.”

“Ngobrol apa lagi sih?” Aku mengerutkan kening lebih lagi. “Arya, seriusan, aku lagi ada acara di rumah keluarga Reza, jadi…”

“Reza? Kamu masih berhubungan sama dia?” Arya terdengar kaget, sekaligus penasaran.“Bukannya dia udah married…”

“Bukan urusan kamu. Udah ya, aku lagi sibuk.”

“Reisa? Hey, tunggu dulu, aku…”

“Bye, Arya!” ujarku cepat sebelum akhirnya benar-benar memutus sambungan telepon, kemudian mematikan mesin mobil, memasang senyum terbaik, dan bergegas turun untuk menemui Sharena Adinata yang sudah menungguku di depan pintu rumah Mas Reno.

“Sharena!” seruku ceria sambil memeluk adik semata wayang Reza yang umurnya empat tahun lebih muda dariku itu. Kami memang akrab sejak jaman aku dan Reza masih pacaran. Dia bahkan jadi yang paling patah hati waktu akhirnya tahu kami terpaksa putus karena Reza akan menikahi perempuan pilihan ibunya.

“Kak Rei… apa kabar?” Sharena tak kalah ceria, dia memelukku erat-erat dan mengecup kedua pipiku. “Lama banget nggak ketemu deh, belagu ih sibuk terus…”

“Ya abis gimana dong, namanya juga baru pindah kerja, Shar,” jawabku. “Hampir tiap hari lembur, mau ambil off juga susahnya setengah mati…”

“Tapi hari ini nggak ada lembur lagi kan, Kak?” tanya Sharena.

“Nggak dong, pokoknya hari ini spesial buat Kania,” jawabku. “Eh, mana nih yang ulang tahun?”

“Di dalem tuh anaknya. Yuk masuk, Kak!” Sharena menggandeng tanganku. “Budhe Tatik sama Mbak Susan udah ribut aja nanyain Kak Rei dari tadi.”

Aku pun mengikuti Sharena memasuki ruang tamu besar dipenuhi balon dan dekorasi ala princess. Anak-anak usia taman kanak-kanak yang lucu asyik berlarian ke sana kemari, sementara para orang tua sibuk bergosip di salah satu sudut.

“Kania! Sini, Sayang… Ada Tante Reisa nih…” seru Sharena pada seorang gadis kecil yang mengenakan gaun pink cerah dengan mahkota mungil di kepalanya. Melihatku yang membawa kotak kado ekstra besar, Kania langsung tersenyum lebar dan berlari memelukku.

“Tante Eiiii!”

“Halo, Sayang… selamat ulang tahun ya!” ujarku sembari mengecup pipinya yang gemuk, menyerahkan kado, kemudian menggendong keponakan Reza itu seperti yang dulu –dulu sekali– biasa kulakukan. “Aduh, Kania udah gede banget sih, Tante Ei mau pingsan ini gendongnya…”

Sementara Kania tertawa-tawa dalam gendonganku, Dion, kakak Kania yang juga akrab denganku saat aku dan Reza masih pacaran dulu,tiba-tiba berhambur dan memelukku erat-erat. Disusul dengan Mbak Sarah dan Mas Reno dengan sapaan ‘Apa kabar’ dan ‘Lama nggak ketemu’, lalu Budhe Tatik yang heboh meributkan bahwa katanya aku kelihatan tambah cantik, hingga akhirnya tiba giliran aku menyapa Ibu Reza yang responnya sangat berbeda dengan keluarga yang lain. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kaku ketika aku mencium tangan dan kedua pipinya, kemudian menjauh dari kerumunan keluarga, menuju ke salah satu sudut untuk bicara dengan seorang perempuan muda yang baru pertama kali kulihat.

Ia mengenakan dress sifon merah muda tanpa lengan yang jatuh di atas lutut, dan kakinya dilengkapi wedges cokelat yang cantik. Rambut panjangnya yang agak mengikal dibiarkan tergerai. Wajahnya tampak bosan, meski kedua tangannya sibuk menata balon warna-warni.

Jadi, itu dia Nadine Adinata. Perempuan yang seharusnya nama belakangnya jadi milikku.

Reisa

“Kak Rei,udah kenal belum sama Mbak Nadine?”

Aku bisa melihat perempuan itu mendongak kaget dari Blackberry-nya ketika mendengar pertanyaan Sharena yang tiba-tiba. Sementara aku sendiri susah payah menciptakan senyum yang tampak tulus.

“Mbak Nadine ini istrinya Mas Reza, Kak,” ujar Sharena lagi, sementara aku dan Nadine Adinata berjabat tangan. “Kak Reisa ini man… eh… temennya Mas Reza, udah kenal lama banget ya Kak, sebelum Mbak Nadine sama Mas Reza nikah…”

“Iya, aku sama Reza udah temenan sejak jaman dia masih kuliah S2,” sahutku cepat, sebelum akhirnya melemparkan senyum palsuku pada Nadine. “Nice to meet you, Nadine.Akhirnya kita ketemu juga… Reza udah sering cerita tentang kamu,” lanjutku.

“Oh, ya?” tanya Nadine kaku sambil tersenyum tanggung. Dia pasti sudah mendengar tentang ‘sejarah’ antara aku dan Reza. Aku nggak mau membayangkan sekecut apa wajahnya nanti ketika tahu yang terjadi di antara aku dan suaminya sekarang.

“Iya,” jawabku, masih dengan senyum palsu bertahan di bibir. “Bulan lalu kan kita nggak sengaja ketemu di Singapore, waktu itu Reza ada meeting sama klien ya kalau nggak salah… Terus dia cerita-cerita tentang kamu.”

Bohong besar. Yang ada, Reza justru melarang nama istrinya disebut-sebut waktu kami sedang berdua. Atau mungkin waktu itu dia sendiri juga sudah nggak ingat kalau masih punya istri.

“Reza cerita tentang apa aja?” tanya Nadine lagi. Gaya bicaranya kalem khas perempuan Jawa, namun sorot matanya meneriakkan banyak pertanyaan.

“Macem-macem. Katanya kamu kerja di agency iklan terbesar di Jakarta, terus…” Aku menggantung kalimatku di ujung lidah karena mendadak iPhone-ku berdering, dengan nama Reza Adinata terpampang di layarnya. Senyum palsuku segera berubah jadi senyum penuh kemenangan ketika aku kembali mendongak dan menatap Nadine, tak sabar melihat reaksinya ketika aku menyelesaikan kalimatku yang berikutnya.

“Eh, ini Rezanya nelpon… ada apa ya?” Aku berlagak bodoh, meski senyumku membocorkan segalanya. “Aku angkat dulu ya, Din. Nanti aku bilangin ke Reza kalau kita akhirnya udah ketemuan…” lanjutku sebelum benar-benar berbalik dan meninggalkan Nadine yang tampak shock.

Read full chapter on Ayu Karwinandhi’s blog.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Business Opportunities. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s