Lovestruck #5


waffle

Reisa

“Aku nggak ngerti, apa lagi sih yang mau diomongin?” Aku mendengus kesal, satu detik setelah membukakan pintu apartemenku untuk Arya yang ngotot banget ingin ketemu sejak dua minggu yang lalu.

“Banyak, Reisa.” Arya menatap mataku lurus-lurus, sementara tangan kanannya meraih tanganku seperti yang sering ia lakukan saat kami masih pacaran dulu. “Banyak hal yang mau aku omongin sama kamu, soal kita, soal…”

“Nggak ada lagi ‘soal kita’ yang perlu diomongin, Ya.” Aku menepis tangan Arya.

“Ada,” ujar Arya bersikeras.

“Apa, kalau gitu?” tanyaku, sebal setengah mati.

“Aku…” Arya mengambil jeda di tengah kalimatnya untuk mengambil kotak beludru mungil dari saku celananya, yang berisi cincin emas putih bertatahkan berlian yang luar biasa cantik. “Jadi istri aku ya, Reisa?”

“Arya, kamu ini apa-apaan sih?” Aku membelalakkan mata. “Kita udah lama banget putus, dan kamu bahkan nggak pake nanya dulu aku masih cinta sama kamu atau nggak, tiba-tiba main lamar aja… emangnya kamu pikir…”

“Aku tau kok kamu masih cinta sama aku,” jawab Arya penuh percaya diri.

“Siapa bilang?”

“Reisa, aku…”

“Denger ya, Ya, aku sama sekali udah nggak ada pikiran buat balikan, apalagi nikah sama kamu,” tukasku tajam. “Jangan kamu pikir aku masih single sampai sekarang karena masih ngarepin kamu ya!”

“Terus siapa lagi yang kamu tunggu? Reza?” Nada bicara Arya mulai meninggi, jelas-jelas emosinya sudah mulai naik.

“Ya, memang Reza,” jawabku cepat.

“Reza itu udah punya istri, Reisa. Kamu nggak mungkin…”

“Nggak mungkin? Itu kan menurut kamu,” potongku. “Kenyataannya Reza Adinata lebih milih di sini, sama aku, dibanding pulang ke rumah dan ketemu istrinya yang pathetic itu.”

“Kamu bilang Nadine pathetic?” Arya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Oh iya, aku lupa kalau kamu kenal juga sama Nadine…” Aku melemparkan senyum sinis. “Gimana? Kamu mau bilang ke dia kalau suaminya selingkuh sama aku? Silakan! Aku sama sekali nggak peduli. Justru semakin cepet dia tahu semakin baik, biar mereka semakin cepet cerai, semakin…”

“Reisa!” Arya sudah nyaris berteriak untuk menghentikan ocehanku yang semakin sinis. “Kenapa sih harus ganggu rumah tangga orang? Kasian Nadine, dia…”

“Kasian Nadine?” Aku membalas dengan nada tinggi. “Kalau kamu memang kasian sama Nadine, kenapa nggak kamu pacarin aja sekalian? You’ll get the wife, and I’ll take the husband. Fair, isn’t it?”

Selama lebih dari lima detik Arya membeku di tempatnya, seolah sedang berusaha mencerna kata-kataku. Hingga akhirnya aku bisa melihat ia mengeraskan rahang sebelum menjawab.

“I will.”

Dan kemudian ia berbalik, keluar dari apartemenku dan membanting pintu di belakang punggungnya.

Reza

“Jadi gitu kelakuannya seorang istri?” Aku menggumam kesal pada diriku sendiri ketika Nadine menghilang di balik pintu kamar mandi, sama sekali nggak peduli dan nggak berniat membantu mencari kertas berisi hasil presentasiku yang hilang.

Sejak aku pulang dari perjalanan kerja ke Singapore dua minggu lalu, sikap Nadine entah kenapa jadi semakin dingin. Seringkali ia mengacuhkanku, bersikap seolah aku ini hiasan dinding atau pajangan meja. Kami hanya mengobrol seperlunya, saat salah satu dari kami benar-benar ada perlu. Selebihnya? Aku sibuk, Nadine sibuk. Kami bahkan jarang sekali berada di ruangan yang sama lebih dari satu jam.

Tapi siapa sih yang betah? Aku lebih baik camping di kantor atau menginap di apartemen Reisa daripada harus menghadapi istriku sendiri.

“Aku berangkat!” teriakku pada Nadine –atau lebih tepatnya, pada pintu kamar mandi tempat Nadine ada di dalamnya, sebelum benar-benar keluar dari apartemen yang sudah terasa seperti neraka itu.

Reza

“Lho? Reza?”

“Pagi, Din.” Aku menyapa Nadine sekenanya sambil menegakkan punggung yang pegal karena semalaman tidur begitu saja di sofa ruang TV.

“Kok di sini?” tanya Nadine lagi sambil memandangku dengan tatapan aneh.

“Emangnya kenapa kalau aku di sini?” Aku balas bertanya.  “Harusnya aku ada dimana?”

“Kantor? Singapore? Atau di salah satu meeting dadakanmu itu,” jawab Nadine ketus. “Terserah deh kamu dimana, tapi yang pasti nggak di sini.”

“Ini kan apartemen kita, ya aku seharusnya pulang ke sini dong.” Aku memberikan jawaban yang ‘aman’ sebelum menyesap kopi panas dari cangkir putih bergambar The Harbour Bridge, oleh-oleh Reisa dari perjalanan dinasnya ke Sydney.

“Pulang apaan, aku nggak pernah ketemu kamu,” protes Nadine. “Aku nggak pernah tau kapan kamu…”

“Aku pulang waktu kamu udah berangkat ke kantor, jelas aja kita nggak ketemu,” potongku cepat, masih berusaha mengontrol emosiku sendiri.

“Tapi…”

“Udah ya, Din, aku males ribut pagi-pagi.”

“Siapa sih yang ngajak ribut? Aku kan…”

“Mau kopi?” Aku terpaksa memotong kalimat Nadine lagi dan mengalihkan perhatiannya, sebelum omelannya semakin menjadi-jadi.

“Sejak kapan kamu minum kopi?” keningnya berkerut melihatku.

Ternyata Nadine tetap saja menemukan bahan untuk diributkan. Akhirnya aku memilih diam dan pura-pura nggak dengar, daripada pagiku yang tenang semakin rusak.

“Terserah kamu deh…” ujar Nadine sembari membalikkan badan, masuk ke kamar dan membanting pintu di belakangnya.

Reza

Tirai warna cream tebal di kamar Reisa menjadi hal pertama yang kulihat setelah membuka mata. Entah sudah berapa lama aku ketiduran, karena Reisa yang siang tadi juga berbaring di sebelahku, sekarang sudah asyik mengetik di Macbook-nya.

Ini hari Sabtu yang sangat langka, karena aku akhirnya bisa benar-benar mendapat hari off dan bisa bermalas-malasan seharian. Tapi sudah jelas aku lebih memilih berada di apartemen Reisa ketimbang di apartemenku sendiri bersama…

“Hai, Sayang, udah bangun kamu?” Reisa mendongak dari laptopnya dan tersenyum padaku. “Makan dulu yuk, aku buatin kopi sama waffle tuh…” ujarnya sembari menunjuk secangkir kopi panas dan tiga potong waffle yang ia letakkan di meja nakas persis di sebelah tempat tidur.

Perkara cemilan sore yang sederhana, tapi mampu membuatku tertegun selama tiga puluh detik. Kenapa harus Reisa? Nadine, yang katanya istriku itu apa pernah…

“Makasih ya, Rei…” sahutku sambil membalas senyumnya. Sementara Reisa beringsut mendekatiku, menyandarkan kepalanya di bahuku selagi aku menggigit waffle buatannya yang masih hangat.

“Kamu pengen makan malem apa, Sayang?” tanyanya. “Aku masakin aja atau mau makan di luar?”

“Makan di luar aja deh,” jawabku. “Sekalian kamu temenin aku ke SOGO ya, aku perlu beli kemeja baru.”

“Ya udah, tapi akunya mandi dulu ya…” Reisa tersenyum luar biasa cantik sebelum mencium keningku dan beranjak ke kamar mandi.

Read full chapter on Ayu Karwinandhi’s blog.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari salah seorang fotografer berbakat di Flickr. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s