Road to #GramediaWritingProject


Perjalananku menuju kompetisi menulis Gramedia Writing Project ini berawal dari kebosanan di siang bolong saat jam istirahat yang kemudian membawa aku bertualang di timeline Twitter. Aku nggak sengaja nemu tweet seseorang (entah siapa, lupa, maafkan) dengan attachment syarat dan ketentuan kompetisi ini. Sebenernya aku juga nggak terlalu ingat kapan persisnya, tapi yang jelas waktu itu aku baru aja menyelesaikan Hello, cerita pendek pertama yang berhasil kutulis setelah bertahun-tahun keasyikan nulis cerita-cerita panjang alias novel. Aku pikir ini kesempatanku, coba dulu, kalah menang urusan belakangan. Toh aku berkali-kali berkecimpung dalam kompetisi juga cuma modal nekat, dan walaupun nggak menang, ada banyak banget pengalaman berharga yang bisa kubawa pulang.

Akhirnya setelah edit-edit sedikit dan berbekal bacaan bismillah, Hello pun aku kirim via email ke alamat yang tertera di pengumuman. Karena waktu itu penutupan lombanya masih lama banget dan seleksi tahap 2 masih September juga, aku pun menipiskan harapan dan akhirnya lupa sama sekali tentang lomba itu.

Sampai Selasa lalu, tepat 12 hari setelah ulang tahunku, aku nggak sengaja jalan-jalan di timeline Facebook dan menemukan pengumuman 20 semifinalis yang bisa lanjut ke seleksi tahap 2 Gramedia Writing Project. Berbekal bismillah lagi, plus hati yang seluas samudera –siapa tau belum rejeki, aku baca satu per satu nama yang lolos dan….

Gramedia Writing Project

Itu dia. Namaku ada di nomor 2 kategori Metropop. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Satu pintu lagi terbuka untukku. Jakarta go go ssing~ Aku mengoceh di Twitter hari itu. Tinggal merencanakan keberangkatan, cepet-cepet bikin form cuti, dan mempersiapkan… eh, tapi mempersiapkan apa? Tim Gramedia Writing Project bahkan nggak ngasih rundown atau daftar barang apapun yang harus dibawa dalam email pemberitahuannya. Terus aku harus bawa apa? Laptop, iPad, atau cukup notes dan pulpen? Baju apa yang harus dibawa? Kasual, smart casual, atau formal? Dress, kaus, kemeja, rok, atau jeans aja cukup? Baju olahraga, mungkin? Atau high heels dengan tinggi hak tertentu?

Itu baru daftar pertanyaan soal apa yang harus dibawa lho ya. Belum soal persiapannya. Apa? Aku harus apa? Perlu baca novel yang bener-bener bagus atau harus latihan menulis? Harus latihan nulis cerita baru atau bisa nerusin cerita yang sedang berjalan? Harus belajar mengembangkan ide atau memoles gaya bahasa?

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba aku disadarkan kalau ini bukan beauty pageant, yang semuanya harus serba sempurna luar dalam, yang kemenangan dan kelancaran aktivitasmu selama karantina ditentukan oleh persiapan. Seberapa bagus persiapanmu bergaya di depan kamera atau berjalan di atas catwalk, seberapa jauh persiapan public speaking-mu, seberapa jauh kamu mempersiapkan diri dengan bermacam jenis pengetahuan – politik, sosial, budaya, pariwisata, dan tetek bengek lainnya yang kalaupun kamu tau semua itu tetap aja nggak bisa membantu membangun negara yang lebih baik, seberapa bagus persiapanmu menari di Malam Bakat, atau lebih parah lagi, sejauh mana persiapanmu belajar senyum, belajar melambai, belajar memalsukan kata, gesture dan bahkan tatapan mata.

Tapi ini kompetisi menulis. Kamu nggak akan bisa (dan nggak perlu) mempersiapkan apapun, apalagi hanya dalam waktu satu minggu. Karena kemampuan menulis seseorang sudah terbangun bahkan sejak dia bisa menuliskan paragraf pertamanya. Karakter dan gaya tulisannya berkembang seiring bertambahnya umur, imajinasi seorang penulis juga merupakan hasil bentukan pengalaman bertahun-tahun, dengan berbasis pada apa yang dilihat dan apa yang dibaca sepanjang hidupnya. Nggak ada yang instan dan nggak ada yang bisa dipalsukan di dunia tulis menulis. Kalau memang bagus dan sesuai standar kualitas, mereka akan suka dan kamu akan menang. Dan kalau tulisanmu jelek, sekeras apapun kamu berusaha memalsukan, ya mereka nggak akan suka dan kamu nggak akan menang. Sesederhana itu.

Ini ajang dimana kamu harus 100% jadi diri sendiri, tanpa memalsukan apapun, aku meyakinkan diriku sendiri. Karena tulisan yang terindah munculnya selalu dari hati yang tulus dan mood yang bagus. Ya, kan? ;)

Advertisements

8 thoughts on “Road to #GramediaWritingProject

      • Lidya Renny says:

        Iya, Semi finalis yang Kategori Remaja. Aku dari Jogja. Wah aku browsing tentang kamu hebat banget deh. Beberapa tulisanmu di blog juga udah aku baca. Bagusss… aku suka tulisanmu. Sukses yaa… sampai ketemu ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s