Lovestruck #6


Akhirnya! Setelah sekian lama terbengkalai karena kesibukan, kemalasan, dan gangguan dari ide-ide cerita lainnya, akhirnya akhirnya akhirnya… chapter ini selesai juga! Selamat membaca ;)

Night Lights Urban Bokeh

Reza

“Rei, kamu yakin mau makan di sini?” Aku mengerutkan kening setelah kami tiba di warung kupat tahu langganan Reisa yang bahkan nggak layak disebut sebagai ‘warung’. Hanya ada gerobak, dengan tenda yang sudah berlubang di sana-sini, menaungi kursi-kursi plastik kotor yang ditata seadanya.

“Yakin lah!”  sahut Reisa ceria. “Ini tuh warung kupat tahu paling enak se-Jakarta tau, Rez…” Ia menambahkan sebelum sibuk memesan 2 porsi kupat tahu lengkap, segelas es teh untuknya, dan es jeruk untukku.

Reisa makan dengan lahap segera setelah makanan kami datang, sementara aku hanya mengaduk-aduk piring tanpa minat.

“Kenapa nggak makan, Sayang? Kamu bukannya suka kupat tahu?” tanya Reisa.

“Suka sih, tapi aku biasanya nggak makan di sini, Rei,” sahutku.

“Kenapa sih? Kamu jijik sama tempatnya ya?” Reisa memelankan suaranya agar si abang penjual tidak bisa mendengarnya.

“Bukan sama tempatnya sih,” jawabku. “Makan di pinggir jalan gini sebenernya nggak masalah, Rei, asal kita yakin sumber air untuk cuci piring dan gelasnya bener-bener bersih. Tapi ini? Coba kamu liat tuh…” Aku mengerling ember hitam tempat si penjual mencuci piring kotor sambil bergidik, tapi Reisa malah tertawa.

“Kamu ini terlalu banyak mikir deh, Sayang…” Ia mengalungkan sebelah lengannya ke leherku, lalu bergelayut manja. “Makanan kaki lima gini mana ada yang bener-bener bersih? Tapi rasanya enak-enak aja kan? Lagian kita nggak mungkin sakit gara-gara makan ginian doang…”

“Ya tapi…”

“Udah ah Sayang, makan aja kamunya, nggak usah kebanyakan protes. Apa mau aku suapin?”

Aku belum sempat menjawab kata-kata Reisa ketika mataku menangkap sosok wanita muda yang baru turun dari Honda City hitam di seberang jalan. Rambutnya yang panjang dan ikal diikat di puncak kepala terlihat sangat familiar. Aku bahkan hafal caranya menenteng tas hingga gaya jalannya. Dan ketika wanita itu akhirnya melihatku, melihat tangan Reisa yang masih melingkar di leherku, aku tau ini akan jadi hari yang panjang.

“Mas Reza?”

Sharena

“Halo, Shar?”

Aku langsung memberengut ketika kakak kesayanganku itu mengangkat telepon di seberang sana. Tandukku keluar, taringku memanjang, siap menyerang.

“Mas, lo pasti udah tau gue mau ngomong apa, kan?” tanyaku galak.

“Iya, Shar.” Suara Mas Reza terdengar berat. “Itu tadi…”

“Itu tadi apa, Mas?” sambarku. “Lo pacaran… lo selingkuh sama Kak Rei, Mas?”

“Selingkuh apa sih, Shar…” protes Mas Reza, meski suaranya tetap terdengar seperti orang yang sudah kalah sebelum melawan.

“Tapi beneran selingkuh kan, Mas? Laki-laki yang udah beristri peluk-pelukan sama perempuan lain di depan umum kaya gitu, apa coba namanya kalau bukan selingkuh?”

“Tapi gue…”

“Tapi gue apa? Hmm? ”

“Tapi gue sama Reisa…”

“Nah, nggak bisa jawab kan? Kenapa? Selingkuh kan?” Aku mengangkat alis, mulai kesal. “Gila ya lo mas, kok tega sih nyelingkuhin Mbak Nadine? Nikah belom ada setahun lho, kok tega-teganya… Apa sih yang lo pikirin, Mas?”

“Lo tau gue masih cinta sama Reisa kan, Shar?” Mas Reza balas bertanya. Nadanya mulai meninggi.

“Kalau gitu kenapa lo setuju-setuju aja waktu Ibu ngejodohin lo sama Mbak Nadine? Kenapa lo setuju nikahin dia?” serangku lagi. “Coba pikir deh Mas, kalau Ibu sama Bapak sampe tau, gimana? Kebayang nggak, mereka pasti…”

“Marah besar. Iya, gue tau,” sahut Mas Reza. Suaranya kembali datar ketika ia melanjutkan kalimatnya. “Ibu mungkin nggak nganggep gue anaknya lagi.”

“Nah, itu ngerti!” tukasku. “Terus kenapa…”

“Gue capek, Shar,” ujar Mas Reza. “Gue capek selalu jadi anak baik di depan Ibu. Gue juga pengen kayak lo dan Mas Reno, bisa nentuin langkah hidup lo sendiri tanpa campur tangan Bapak dan Ibu.”

Aku menahan jawaban yang nyaris meluncur dari ujung lidah. Membiarkan Mas Reza melanjutkan kata-katanya.

“Gue capek selalu diurusin sama Ibu, dipaksa ngikutin maunya Ibu. Dipaksa kuliah di jurusan arsitek di saat gue pengen ambil management. Dipaksa S2 di saat ada tawaran kerja di Singapore, dan dipaksa nikahin Nadine di saat gue masih sayang banget sama Reisa.” Suara Mas Reza terdengar semakin berat. Kekecewaan yang lama terpendam seolah-olah terurai satu per satu.

“Tapi lo nggak boleh begini, Mas. Sesayang-sayangnya gue sama lo, sesayang-sayangnya gue sama Kak Reisa, tapi situasi kaya gini sama sekali nggak adil buat Mbak Nadine. Dia nggak tahu apa-apa dan cuma korban dari sikap dominating Ibu dan ketidaktegasan lo,” ujarku. “Kalau emang lo capek diatur sama Ibu seharusnya lo bilang sama Ibu, Mas, bukannya kaya gini caranya.”

“Iya, Sharena. Gue tau. Tapi gimana caranya gue bisa tegas sama Ibu kalau gue baru ngebantah satu kalimat aja Ibu ngancemnya nggak mau makan lah, pergi dari rumah lah, apa lah… gimana sih, Shar…”

“Mas, gue ngerti, ngerti banget. Tapi lo nggak bisa lari dari kenyataan dengan cara kaya gini. Biar gimana juga lo itu udah nikahin anak orang, dan pernikahan sama sekali bukan buat mainan kan, Mas?”

“Iya,” jawab Mas Reza cepat.

“Kalau emang lo udah nggak bisa lagi sama Mbak Nadine dan beneran cinta mati sama Kak Reisa, mending pisah baik-baik aja sekalian,” ujarku. “Karena kalau kaya gini terus, yang ada lo malah nyakitin dua-duanya. Belum lagi kalau Ibu sama Bapak tau, orang tuanya Mbak Nadine tau juga, apa nggak kacau semua jadinya?”

“Tapi lo nggak ada niatan ngelapor ke Ibu, kan?” tanya Mas Reza, terdengar agak was-was.

“Emang lo pikir gue tega ngelihat lo sama Kak Rei digamparin abis-abisan sama Ibu? Lo pikir gue tega ngelihat Ibu kena serangan jantung karena anak kesayangannya selingkuh sama perempuan yang dia benci setengah mati? Nggak lah, Mas!”

“Tapi lo harus janji sama gue, nggak bakal ada lain kali.” Aku melanjutkan. “Lo mesti tegas, Mas. Pilih salah satu, selesaiin baik-baik sama yang lainnya. Oke?”

“Iya,” sahut Mas Reza akhirnya. Dari suaranya, aku tahu aku sudah bisa kembali percaya pada kakak kesayanganku itu. “Thanks ya, Shar.”

Reza

Din, kamu dimana?  Aku mengetik pada layar iPhone 5-ku.

Masih di jalan mau pulang. Kenapa?  balas Nadine dua menit kemudian.

Nggak pa-pa. Makan malem di luar yuk?

Tumben. Mau makan dimana?

Union? Mau?

Union yang di PS?

Iya…

Emang kita mau ngerayain apa?

Nggak ngerayain apa-apa. Makan aja, minum dikit.

Minum dikit? Kamu kenapa sih, Rez?

Aku kenapa apa sih? Ngajak istri sendiri makan malem masa nggak boleh?

Jam berapa?

Jam setengah 7-an lah kita berangkat ya, takut macet.

Oke. Paling setengah jam lagi nyampe rumah.

Iya, Sayang. See you soon.

See you…

Tadinya, aku berniat langsung mandi dan bersiap-siap makan malam bersama istri yang sudah sekian lama kuabaikan itu. Namun belum sempat aku menyambar handuk, ponselku kembali bergetar. Kali ini sebuah panggilan masuk. Dari Reisa.

“Halo, Rei?” sapaku.

“Sayang, kamu dimana?” tanya Reisa dengan suaranya yang manja.

“Di apartemen,” jawabku. “Ada apa, Rei?”

“Kamu bisa nganterin aku ke dokter nggak?”

“Kamu kenapa?”

“Nggak tahu ini, tiba-tiba perut aku sakit abis kamu pulang tadi, terus muntah-muntah. Ini udah lima kali…”

“Aduh, Rei, itu pasti karena kupat tahu tadi siang deh,” keluhku. “Kamu sih bandel, aku kan udah bilang jangan makan makanan pinggir jalan…”

“Iya kayaknya,” jawab Reisa lemah. “Anterin aku ke dokter ya, Sayang? Akunya lemes banget deh ini, nggak bisa kemasukan makanan sama sekali…”

“Ya udah. Aku jemput kamu sekarang ya.”

“Iya, cepetan ya. Bye, Sayang!”

Segera setelah Reisa menutup telepon, aku bergegas mengganti celana pendekku dengan jeans dan menukar kaus belel dengan Polo Shirt merah tua, lalu meraih dompet dan kunci mobil. Aku sudah setengah jalan ke pintu keluar ketika tiba-tiba teringat pada janji makan malamku dengan Nadine yang seharusnya berakhir manis, tapi sayang sekali terpaksa dibatalkan.

Din, sorry banget, aku kembali mengetik pada layar iPhone-ku. Aku mendadak dipanggil Pak Arman, ada meeting mendadak. Makan malemnya kita reschedule lagi nanti ya. Sorry.

Reza

“Aku nggak turun ya, Rei,” ujarku setelah menginjak pedal rem di parkiran gedung apartemen Reisa yang langsung disambut ekspresi kecewa di wajahnya yang cantik.

“Yah, kenapa?” tanyanya. “Kamu nggak mau nemenin aku dulu?”

“Bukannya gitu, tapi ini udah malem,” jawabku.

“Emang kenapa? Biasanya malem-malem juga kamu tetep turun, nemenin aku, nungguin aku tidur dulu baru pulang,” tukas Reisa sambil mulai cemberut.

“Iya, tapi…”

“Istri kamu juga udah nggak peduli kan kamu pulang atau nggak? Paling dia juga lagi asyik sama Arya…”

“Reisa,” potongku dengan nada memperingatkan. Aku tidak pernah suka nama istriku dibawa-bawa dalam percakapan kami, karena mengingat Nadine saat bersama Reisa hanya menghasilkan rasa bersalah.

“Makanya, kamu turun dulu dong, temenin aku…” Reisa terus merajuk sampai aku akhirnya menyerah.

“Iya, iya, oke. Tapi sebentar aja ya,” ujarku sembari turun dari mobil.

“Sebentar juga nggak pa-pa…” sahut Reisa senang. Ia mengulurkan tangannya untuk merangkul lenganku dan tersenyum cantik. “Yang penting kamu temenin aku dulu. Temenin aku bobo…”

Aku baru saja akan menjawab kalimat Reisa ketika tiba-tiba sudut mataku menangkap sosok wanita paruh baya yang berdiri dalam jarak empat meter, yang juga sedang membeku menatapku.

“Reza?” Wanita itu menyapaku dengan nadanya yang paling tajam. Sementara wajahnya tampak luar biasa shock.

Lututku seketika lemas.

“Ibu?”

Reza

Jangan tanya seburuk apa hariku ini.

Setelah siang tadi nggak sengaja bertemu Sharena saat menemani Reisa makan kupat tahu dan berusaha setengah mati membuatnya berjanji untuk nggak lapor ke Ibu, malamnya justru Ibu sendiri –yang baru pulang dari apartemen salah satu teman dekatnya yang sakit– yang menangkap basah saat aku mengantar Reisa pulang ke apartemennya dan, sialnya, sempat mendengar kalimat Reisa tentang “temenin aku bobo”. Meski tidak sampai memecatku sebagai anak seperti prediksiku sebelumnya, tapi Ibu benar-benar meledak. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca tapi tidak bisa menangis saking marahnya.

“Kamu itu udah punya istri, Reza! Sadar nggak? Inget nggak kamu? Kenapa masih gila-gilaan sama perempuan lain? Sama Reisa, lagi!” bentak Ibu. “Kenapa sih kamu sama sekali nggak bisa lepas dari perempuan nggak beres itu? Ibu udah nikahin kamu sama Nadine, perempuan baik-baik, dari keluarga baik-baik, yang juga cinta setengah mati sama kamu, sama Ibu, sama keluarga kita… tapi kenapa kamu malah selingkuh sama perempuan lain? Apa Bapak dan Ibumu ini nggak mendidik kamu dengan baik, sampai-sampai kamu jadi laki-laki yang seperti ini?”

Selama satu setengah jam perjalanan mengantar Ibu pulang, Ibu tak henti-hentinya meneriakkan kemarahannya padaku sampai telingaku berdenging. Ibu sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menjawab, bahwa pernikahanku dengan Nadine sama sekali tidak bahagia, bahwa hanya ada sedikit rasa cintaku untuk Nadine, sementara sisanya? Hanya rasa kasihan yang berlebihan sampai terasa menyakitkan. Ibu terus-menerus membentakku dengan kata-kata pedas, namun sangat berhasil membuatku merasa bersalah. Sampai akhirnya kami tiba di depan rumah, Ibu memaksaku bersumpah untuk meninggalkan Reisa dan memperbaiki hubungan dengan Nadine sebelum membiarkanku pulang ke apartemen.

Beruntung Nadine sudah tidur ketika aku sampai di apartemen, jadi aku tidak perlu menghadapi wajah cemberutnya karena janji makan malam yang terpaksa kubatalkan.  Perlahan, aku beringsut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Nadine setelah entah berapa lama aku tidak pernah lagi tidur bersamanya. Aku berguling ke kanan dan menemukan wajah istriku yang sedang tertidur lelap. Lagi-lagi perasaan bersalah menyergapku.

“Maaf ya, Din…”

Read full chapter on Ayu KarwinandhiI‘s blog.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari PicstoPinThanks!

2 thoughts on “Lovestruck #6

  1. gak tau gimana awalnya bisa terdampar disini, dan saya senang sekaliiiiii xD
    habis selesai baca lovestruck dari pasrt pertama dan langsung jatuh hati sama jalan ceritanya, alurnya gak ngebosenin. Keren! *thumbs up*
    gak sabar buat baca part selanjutnya, jangan lama2 ya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s