Tinggal


leaving

tinggal | ting.gal

1 masih tetap di tempatnya dsb; masih selalu ada (sedang yg lain sudah hilang, pergi, dsb); 2 sisanya ialah …; bersisa …; tersisa …; yg masih ada hanyalah …; 3 ada di belakang; terbelakang; 4 tidak naik kelas (tt murid sekolah); 5 sudah lewat (lalu; lampau); 6 diam (di); 7 selalu; tetap (demikian halnya); 8 melupakan; 9 tidak usah berbuat apa-apa selain dr …; 10 bergantung kpd; terserah kpd; terpulang kpd; 11 (sbg keterangan pd kata majemuk berarti) a yg didiami; b yg ditinggalkan (dikosongkan dsb)

Aku benci hari Minggu.

Aku tidak bisa lagi menyukai hari yang seharusnya menjadi hari libur yang indah itu, sejak Minggu berubah jadi hari perpisahan bagi kami. Hari dimana aku selalu dibuat patah hati. Hari dimana dia harus selalu pergi, meninggalkan kampung halamannya untuk kembali bekerja di kota antah berantah yang berjarak ribuan kilometer jauhnya. Meninggalkan aku, tanpa memberi kepastian kapan aku bisa melihat senyumnya lagi.

“Merauke itu di mana sih?” tanyaku pagi itu, saat kami duduk berhadapan di meja makan mungil dengan secangkir teh untukku dan kopi hitam pekat untuknya. Ini kesempatan pertama kami mengobrol setelah dua bulan ia tidak pulang, tapi satu-satunya pertanyaan yang terpikir olehku justru terdengar begitu bodoh.

“Kamu beneran nggak tau?” Laki-laki itu tersenyum simpul.

“Nggak.” Aku menggeleng.

“Nggak pernah belajar geografi?” Ia bertanya dengan nada menggoda, jelas-jelas mengira aku sedang bercanda.

“Ya pernah, tapi mana inget?” Aku mengangkat bahu. “Kalau nggak ada lagu ‘Dari sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…’ itu juga aku nggak bakal inget ada pulau namanya Merauke.”

“Merauke itu bukan pulau,” jawabnya. Senyum yang sangat kusukai masih tersungging di bibirnya. “Itu kota kecil di Selatan Papua.”

“Oh. Jauh banget ya?”

Rasanya aku ingin menepuk dahiku sendiri. Oh. Jauh banget ya? Pertanyaan macam apa itu?

“Aku udah cerita, kan, kira-kira sembilan jam perjalanan naik pesawat dari sini. Itupun aku harus ganti pesawat sampai dua kali.”

“Emang nggak ada tempat kerja yang lebih deket, gitu?”

Lagi-lagi pertanyaan yang kelewat bodoh dalam usaha memperpanjang percakapan. Dan kelewat ngarep. Memalukan sekali.

“Kinar, Kinar…” Laki-laki itu tertawa, renyah dan hangat. Matanya yang kecil seolah menghilang ditelan gelak tawanya sendiri. “Namanya juga penempatan. Kalau boleh milih sih aku mendingan di Solo aja, biar deket sama Ibu.”

Biar deket sama aku juga? Ingin sekali aku bertanya. Tapi bibirku hanya bisa membentuk huruf o kecil yang tampak sangat dibuat-buat, diikuti sebuah pertanyaan yang lagi-lagi meluncur keluar begitu saja tanpa sempat kucegah.

“Jadi, kamu kapan pulang ke Solo lagi?”

“Belum tau juga. Tiketnya mahal banget, Kin, kalau langsung dari Merauke,” jawabnya. “Semoga ada dinas ke Jawa lagi dalam waktu dekat, jadi aku bisa pulang, nengokin Ibu.”

“Walaupun cuma bisa nginep satu hari di rumah karena besok Senin harus kerja lagi ya,” ujarku, tanpa sadar menggunakan nada yang sedikit terlalu menuntut.

“Ya tapi udah bagus lah, yang penting bisa pulang walaupun cuma sebentar.”

“Iya.”

Iya, dan hanya itu. Dia mengangguk, aku mengangguk, lalu kami berdua duduk diam dalam situasi yang mendadak berubah canggung. Sampai akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk bicara lagi.

“Hari Minggu gini kamu nggak jalan-jalan?” tanyanya sambil menyesap kopi dari cangkirnya.

“Nggak ah. Kemarin lembur di kantor sampai malem, capek.” Aku menjawab sambil ikut-ikutan menyeruput tehku.

“Iya sih, muka kamu emang kelihatan capek banget,” ujarnya sambil mengamati wajahku yang serta-merta memanas.

Aku belum sempat menemukan respon yang tepat untuk diucapkan, tiba-tiba pintu di belakang punggung laki-laki itu terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah melangkah keluar. Rambut tipis sepanjang bahu yang sudah sepenuhnya putih bergoyang-goyang bersama gerakannya yang kini melambat dimakan usia.

Ibu kosku itu mengerling ke arah jam dinding kuno di ruang makan, lalu menatap laki-laki yang duduk di hadapanku.

“Senna, udah jam delapan lho. Kamu nggak siap-siap ke bandara?”

“Iya, Bu,” jawabnya patuh. Ia meninggalkan cangkir kopinya dan mengangguk padaku. “Aku siap-siap dulu ya, Kin.”

“Iya.” Aku balas mengangguk.

Beberapa menit berikutnya kuhabiskan untuk mengawasi gerak-gerik Senna dari sudut mataku sambil terus pura-pura asyik minum teh. Ia sibuk ke sana kemari mengumpulkan barang-barangnya yang tercecer di depan TV, mengambil beberapa baju yang tertinggal di meja setrika, dan akhirnya keluar dari kamarnya bersama sebuah ransel yang tersandang di punggung dan koper hitam kecil yang sudah terkunci rapat.

“Udah beres?” tanyaku.

Senna mengangguk dan tersenyum. “Udah.”

“Yakin nggak ada yang ketinggalan, Sen?” tanya Ibu kosku.

“Kayaknya sih nggak ada, Bu,” jawab Senna. “Barang bawaanku nggak terlalu banyak kok.”

“Iya,” ujar sang Ibu. “Tapi kalau ada yang ketinggalan nanti repot harus ngirim segala kaya waktu itu.”

“Charger laptop udah?” tanyaku, memperjelas pertanyaan Ibu kosku tentang barang yang ‘waktu itu’ tertinggal.

“Udah.” Senna meringis padaku, lalu menoleh pada Ibunya. “Aku berangkat dulu ya, Bu.”

“Iya, Sen. Hati-hati ya, jaga kesehatan.” Ibu kosku memeluk dan menepuk-nepuk punggung anak tunggalnya yang begitu ia banggakan.

“Iya, Ibu juga,” jawab Senna. Ia mencium tangan Ibunya dan memberikan satu pelukan lagi, sebelum akhirnya beralih menatapku dengan senyum tersungging.

“Titip Ibu ya, Kin.”

“Iya,” sahutku. Susah payah menjaga agar suaraku tetap terdengar normal meski tenggorokanku tertutup sumbat besar yang menyakitkan. “Kamu ati-ati.”

“Thanks, Kin.” Senna mengangguk, melambai pada dua wanita yang mengantarnya sampai ke depan pintu, kemudian menghilang di balik pintu taksi hitam yang kaca jendelanya memantulkan senyumnya. Senyum yang entah kapan bisa kulihat lagi.

Aku benci hari Minggu.

Until we meet again, Gatra. Have a safe flight :)

 

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Healthy Living. Thanks!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s