#GramediaWritingProject


Basi nggak sih kalau acaranya udah hampir dua minggu lalu tapi baru ditulis reportasenya hari ini? :D Nggak apa-apa lah ya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Selamat menyimak!

Day 1

Di hari pertama Gramedia Writing Project yang diselenggarakan di Hotel Amaris Grogol, Jakarta, 17 semifinalis (seharusnya 20, tapi 3 orang berhalangan hadir) belajar banyak sekali ilmu dari Mba Clara Ng, tentang “The Art of Storytelling” di sesi 1, dilanjutkan presentasi menarik berjudul “So You Want to Write” di sesi 2. Mba Clara ngajarin banyak sekali hal yang belum pernah aku denger sebelumnya. Ternyata banyak banget teori yang sebaiknya dipatuhi oleh penulis pemula, gimana caranya bercerita, gimana caranya menyusun alur, bahkan ada istilah klimaks berlapis-lapis yang baru sekali ini aku denger.

Beberapa pengetahuan baru ini juga ‘menampar’ dengan cukup keras, bahwa kalau kamu berani melabeli dirimu sebagai penulis sungguhan maka kamu nggak bisa lagi sekedar nulis apa yang kamu mau, sesukamu, tanpa memperhatikan logika dan cerita. Kalau mau terus-terusan begitu, silakan jadi penulis diary aja. Idealisme perlu, tapi harus mau menerima kritik dan masukan, dan harus bisa memenuhi juga kalau diminta revisi sesuai arahan editor.

Bahkan untuk penulis senior seperti Mba Clara Ng juga tetep harus melewati proses revisi. Novel terbarunya, Blackjack, butuh waktu 14 bulan baru bener-bener beres. Mba Asty (Anastasia Aemilia) juga cerita kalau Katarsis yang spektakuler itu harus melewati 7x revisi termasuk harus tulis ulang! Bayangin nulis ulang novelku sendiri aja aku langsung migrain… Tapi jelas banget kalau yang dibutuhkan di industri ini adalah orang-orang yang tahan banting, pantang menyerah dan bisa bersikap profesional. Berat tapi harus, kalau kamu pengen survive sebagai penulis.

Selesai materi dari Mba Clara, kami mampir sebentar untuk naruh barang di kamar dan balik lagi ke meeting room untuk wawancara. Wawancara. Satu per satu. Dipanel oleh 3 editor macem sidang skipsi gitu. Mampuslah, kupikir. Tapi ternyata wawancaranya cenderung santai, lebih ditanya soal komitmen dan kesiapan untuk gabung di ‘project’ sesungguhnya dari Gramedia Writing Project ini.

Eh, jangan seneng dulu. Karena selesai masih ada ujian sesungguhnya: tes menulis! Kami dibagi sesuai genre, masing-masing genre dibagi 2 kelompok berisi 3 orang, yang juga harus duduk sesuai urutan yang ditentukan editor Metropop, Mba Hetih Rusli. Aku kebagian urutan nomor 1, dilanjut partnerku Emilya Kusnaidi, ditutup Kak Orinthia Lee. Ternyata kami bertiga disodori secarik kertas –bener-bener secarik yang isinya cuma satu paragraf singkat yang seolah tanpa inti– dan disuruh diskusi selama 5 menit tentang sudut pandang, kira-kira gaya penulisan akan seperti apa, panggilan antartokoh, dll yang nggak cukup deh kalau harus diobrolin dalam 5 menit.

5 menit berikutnya, aku yang kebagian urutan pertama, harus nulis paragraf pembuka sesuai plot di secarik kertas tadi. Catatannya, aku harus irit fakta supaya temen-temen yang lain nggak kehabisan bahan tulisan. Catatan kedua, tulisanku nggak boleh ancur, karena pasti akan menyusahkan temen-temen yang melanjutkan. 5 menit yang terasa seperti 2 menit itu akhirnya selesai, dan… tulisanku gantung di tengah kalimat! Terpaksalah Meme ngelanjutin sisa kalimat itu di 5 menit berikutnya, lalu 5 menit lagi untuk Kak Orin.

Keluar dari ruangan tes ini, kepalaku semakin dan semakin migrain. Cenut cenut, cekot cekot luar biasa. Stres, tapi excited karena mendapati fakta bahwa “Eh, ternyata kita bisa juga lho nulis di bawah tekanan!” Untungnya malem itu, kami dibawa jalan-jalan dan makan enak di Ancol. Jadi, si migrain bisa langsung kabur kebawa angin dan kepala segar kembali! ;P

 

Day 2

Hari kedua Gramedia Writing Project kembali diawali dengan senam jantung karena tiba-tiba kami bertiga –aku, Meme dan Kak Orin– dipanggil masuk ruangan lagi. Desas-desusnya sih mau evaluasi naskah sama editor, nggak taunya dibuka lagi dengan pertanyaan tentang kesiapan dan komitmen untuk nulis. Karena rupanya pemenang program ini akan ada 3 orang dari tiap genre, yang nantinya harus berkolaborasi menulis 1 novel yang plotnya sudah dirancang oleh Mba Clara Ng, plus dibimbing dan dievaluasi juga oleh Mba Hetih Rusli selama prosesnya. 1 orang akan kebagian jatah nulis 2x seminggu sesuai jadwal, 1 hari 5-6 halaman per orang. Sanggup nggak? Ya jelas semuanya ngangguk :D

Setelah Mba Hetih (sepertinya) cukup yakin dengan komitmen kami, mulailah evaluasi naskah per orangan yang mengerikan itu. Lagi-lagi aku yang pertama. Naskah yang aku kirim untuk seleksi tahap 1 Gramedia Writing Project ini, Hello, cuma dapet 1 catatan di sudut kanan atas kertas, sementara sisanya bersih tanpa coretan. Di situ Mba Hetih akhirnya menunjukkan poin kekuranganku, yang selama ini juga aku rasakan. Aku tau ada yang kurang dalam tulisanku, tapi tanpa ditunjuk oleh orang lain, aku nggak akan pernah tau dimana letaknya. Dan akhirnya hari itu Mba Hetih, dan Mba Clara juga, menjawab semuanya. Mereka bilang, cara meningkatkannya hanya dengan latihan, latihan, latihan, dan baca, baca, baca. Dan aku cuma bisa jawab: terima kasih Mba, terima kasih Mba, terima kasih Mba atas masukannya yang berharga!

Selesai evaluasi per kelompok, kami masuk ruangan lagi untuk pembekalan sesi 3 dengan para editor yang juga penulis handal ini. Mba Hetih, Mba Asty, dan Mba Nina Andiana berbagi banyak ilmu yang sifatnya lebih praktis. Langsung ke contoh dan praktek. Seru, berguna banget, dan lebih cepat nyangkut di otak. Dan setelah itu…. waktunya pengumuman. Lagi-lagi genre Metropop disebut pertama, dan alhamdulillah kelompok kami berhasil menang! Aku, Kak Orin, dan Meme akan jadi perwakilan tim Metropop untuk meneruskan Gramedia Writing Project ini: menulis disiplin dalam 45 hari, berkolaborasi menelurkan karya terbaik yang nantinya akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Alhamdulillah :)

Setelah pengumuman dan beres-beres barang, kami berangkat ke Central Park Mall untuk belanja buku (!) sekaligus penutupan rangkaian kegiatan Gramedia Writing Project ini. Di sana, aku bener-bener ngintilin Mba Hetih dan menyambar semua buku yang beliau bilang “Ini bagus!” atau “Kamu harus baca ini!”, yang pada akhirnya menambahi beban luar biasa berat di traveling bag :D Tapi puas. Dan senang, bukan karena dapet diskon aja lho, tapi kapan lagi sih bisa belanja buku yang direkomendasikan langsung sama editor-editor handal?

Eh, ternyata aku udah nulis panjang banget ya :D Mari kita sudahi yuk!

Intinya, terima kasih Gramedia Pustaka Utama yang udah ngasih aku pengalaman dan kesempatan yang berharga banget. Terima kasih Mba Clara Ng untuk ilmu menulis dan tipsnya, Mba Hetih Rusli, Mba Nina, dan Mba Asty yang udah banyak (dan akan terus) membimbing. Jangan kapok, jangan bosen. Jangan lupa juga doa restu semuanya supaya project 45 hari menulis ini berjalan lancar dan kami bisa mempersembahkan karya-karya terbaik :) Semangat!

Advertisements

2 thoughts on “#GramediaWritingProject

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s