Me Before You


Spoiler alert!

me-before-you

Synopsis (via About.com): 

Me Before You tells the story of two very different characters: Lou, a small town girl caught between dead-end jobs and Will, a high-profile, successful man who becomes wheelchair bound following an accident. Will has decided his life is not worth living until Lou is hired for six months to be his new caretaker. Worlds apart and trapped together by circumstance, the two get off to a rocky start. But, Lou becomes determined to prove to Will that life is worth living and as they embark on a series of adventures together, each finds their world changing in ways neither of them could begin to imagine.

 

Novel ini salah satu bukti nyata bahwa kita, wahai para umat manusia, nggak bisa menghakimi buku dari sampulnya. Atau dari sinopsis di sampul belakangnya yang kelewat klise. Atau dari 20 halaman pertamanya. Karena sejujurnya, Me Before You awalnya agak membosankan buatku. Aku nggak yakin bakal suka sama novel yang setengah “diwajibkan” untukku ini. Tapi karena katanya bagus untuk belajar caranya membawa emosi pembaca dalam tulisan kita, maka terpaksalah aku melanjutkan baca.

Tapi ternyata hanya perlu sedikit ketelatenan menyusuri halaman-halaman awal yang alurnya terlalu lambat, karena mulai halaman 55, kecepatan membacaku naik sampai speed tertinggi, nyaris seperti orang kesetanan. Aku bener-bener nggak bisa berhenti baca. Bahkan aku menyelesaikan buku ini dalam 2 hari, yang mungkin total waktu bacanya nggak sampai 5 jam. Gila banget. Dan yang lebih gila lagi, aku bener-bener nangis sesenggukan sampai 15 menit di halaman terakhirnya.

Ceritanya tentang apa sih kok aku sampai segitunya? Ya itu. Persis yang dituliskan di synopsis di atas. Nggak ada elemen kejutan dalam alurnya, semuanya ketebak, kecuali endingnya yang kurang ajar –tapi itu untuk dibahas belakangan. Tapi novel ini ditulis dengan sangat, sangat indah. Aku nggak bisa menemukan kata lain untuk mendefiniskan karya Jojo Moyes yang satu ini selain INDAH. Sedih tapi indah. Ngeselin tapi indah. Bikin geregetan tapi indah. Indah tapi indah. Pokoknya indah.

Tapi jangan salah ya, indah bukan berarti berbunga-bunga lho. Bahkan novel ini justru ditulis dengan bahasa yang straightforward, tanpa pemanis buatan yang bikin sakit gula. Me Before You indah bukan cuma dari pilihan katanya, tapi juga pilihan dialognya, pilihan alur ceritanya dan karakternya. Will Traynor yang terluka dan penuh rasa sakit fisik dan mental, tapi juga penuh cinta yang terpaksa ditahannya. Louisa Clark yang  berusaha sekuat tenaga, rasanya sampai titik darah penghabisan, karena hatinya sudah terlanjur jatuh cinta bahkan tanpa ia sadar. Nathan, Mrs. Traynor, Mr. Traynor, Katrina Clark… semua dideskripsikan dengan sangat indah. Indah, indah, indah.

Dan ketika kita sampai pada endingnya… aku cuma bisa bilang kampret. Kampret tapi indah. Jenis ending yang bakal menghantui pembaca sampai lebih dari 1 x 24 jam saking melekatnya, saking mengena sampai ke hati. Jenis ending yang bisa bikin pembaca nangis karena sedihnya minta ampun, tapi sekaligus tertawa karena kesedihan itu diceritakan dengan sangat indah. Brilian!

Untuk kasusku, bahkan sampai aku nulis ini, rasanya aku masih belum bisa bangkit dari kesedihan. Masih belum terima dengan keputusan Will Traynor. Masih berkabung dan kepengen nangis sambil berpelukan sama Louisa.  Teganya Will memilih untuk ninggalin Louisa dengan cara kaya gitu. Teganya dia memilih untuk mati setelah semua yang terjadi dalam 643 halaman yang penuh darah dan air mata, setelah semua yang terjadi! Teganya! Will… :'(

Rating : 10 out of 10. Highly recommended!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s