Lovestruck [TEASER 7-END]


Divorce

“Kenapa?”

“Aku nggak bisa lagi kaya gini, Rei.”

“Iya, tapi kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba bilang nggak bisa lagi kaya gini?” Reisa bertanya lagi dalam nada yang semakin tinggi. Sementara laki-laki yang duduk di hadapannya menampakkan wajah berkabut. Terbaca jelas bahwa Reza tidak ingin berdebat, tapi ia tidak punya pilihan lain.

“Aku udah punya Nadine,” jawab Reza singkat.

“Dari dulu juga kamu punya Nadine,” sambar Reisa. “Tapi kita tetep aja bisa jalan bareng, semuanya bareng… kenapa…”

“Aku nggak mau nyakitin Nadine terus-terusan. Aku nggak mau nyakitin kamu juga kalau kita…”

“Kamu nggak mau nyakitin Nadine dan aku atau karena kita berdua kepergok Ibu kamu waktu itu?” tanya Reisa. Pelipisnya berdenyut keras karena marah.“Baru kepergok gitu aja kamu udah kapok, Rez?”

“Ini bukan soal kapok, Rei. Omongan Ibu bener, aku nggak bisa terus-terusan kaya gini.” Reza mengulangi kata-katanya sekali lagi. “Aku nggak bisa terus-terusan nyakitin Nadine kaya gini, nggak bisa terus-terusan nyakitin kamu juga…”

“Kalau gitu kamu ceraiin dong Nadine!” tuntut Reisa. “Kamu cinta sama aku, kan, Rez?”

“Aku…” Reza menelan ludah dan mengarahkan tatapannya ke lantai marmer apartemen Reisa sambil menggumam, “Aku nggak bisa ceraiin Nadine.”

“Kenapa? Kamu nggak cinta sama dia, kan? Kamu cintanya sama aku, kan, Reza?” Reisa mengguncang lengan Reza kuat-kuat.

“Reisa.” Reza mendesis dengan nada memperingatkan, lalu menggeleng tegas. “Aku nggak bisa kaya gini lagi, Rei. “

“Tapi…”

“Kamu harus bisa dapet laki-laki yang lebih baik daripada aku. Oke?”

“Aku nggak…”

“Maaf ya, Rei.”

“Reza!” Suara Reisa mulai pecah ketika Reza Adinata menegakkan tubuh dan mengelus pipinya lembut, sebelum akhirnya beranjak menuju pintu apartemen, meninggalkan Reisa sendirian dalam isak tangisnya yang menyedihkan.

Reisa

Aku langsung mengerutkan kening, dua detik setelah membuka mata. Kepalaku sakit sekali. Seluruh persendianku terasa sangat lemah, tubuhku sama sekali tidak bertenaga. Bahkan untuk mengangkat kepala pun aku seperti tidak punya kekuatan.

Ruangan di sekitarku didominasi warna putih dan biru lembut. Meski tidak ada suara alat monitor denyut jantung yang terdengar, tapi jarum infus yang tertancap di punggung tangan kiriku dan bau obat-obatan yang menyengat hidung sudah menjelaskan semua. Ditambah lagi suara seseorang yang sangat familiar, sedang mengobrol pelan dengan suara lain yang juga familiar, keduanya terdengar sangat cemas.

Aku susah payah menahan senyum. Aku tahu Reza pasti kembali. Reza tidak mungkin meninggalkan aku begitu saja, apalagi untuk istrinya yang tidak ia cintai itu. Reza pasti…

“Rei? Kamu udah bangun?” Reza bergegas mendekati tempat tidurku begitu melihat aku membuka mata.

“Reza?” Aku pura-pura terkejut. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku dengan suara lemah.

“Apa yang dirasain sekarang, Rei?” balas Reza, sama sekali mengabaikan pertanyaanku.

“Kepalaku sakit.”

“Aku panggilin dokter ya,” ujar Reza sembari mengelus kepalaku. Namun sebelum laki-laki itu berbalik, Ryan sudah mendahuluinya.

“Biar gue aja, man. Lo temenin Reisa aja dulu,” sambarnya, kemudian menghilang di balik pintu ruang rawat.

“Kamu ngapain di sini?” tanyaku lagi, segera setelah kami hanya berdua di dalam sana.

Sementara Reza mengerutkan keningnya. “Kamu bikin aku khawatir.”

“Aku bikin kamu khawatir?” Aku mengulang dengan sedikit nada mencemooh. “Katanya kamu nggak bisa kaya gini lagi? Katanya kamu nggak bisa sama-sama aku lagi, nggak mau nyakitin Nadine…”

Sisa kalimatku menggantung di ujung lidah ketika tiba-tiba Reza mengulurkan kedua tangan dan memelukku erat-erat. Ia membenamkan wajah di sela-sela rambutku sambil bergumam pelan, “Aku nggak bisa lihat kamu kaya gini.”

“Tapi…” Aku masih berusaha menyanggah, namun laki-laki itu sama sekali tidak mau dibantah.

“Jangan pernah bikin aku khawatir lagi. Janji sama aku ya, Rei?”

Reza mengencangkan pelukannya sambil terus memaksaku berjanji padanya, sementara ia sendiri sedang mengingkari janji yang dibuatnya pada Ibunya. Dan pada istrinya yang menyedihkan itu.

Sorry, Din. Gue menang lagi.

Reza

“Man, lo ngapain masih di sini? Nggak pulang?” tanya Ryan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang kerjaku. Ia sudah mengenakan jaketnya, dan tas laptopnya sudah tersandang di bahu.

“Bentar lagi,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer yang menampilkan rancangan interior yang baru separuh jadi.

“Masih ada kerjaan apaan sih?” tanya Ryan ingin tahu.

“Cinta banget lo ya sama gue? Kenapa mendadak jadi perhatian gitu sih?” balasku sambil mencibir, sementara Ryan pura-pura meludah.

“Dih, najis! Gue justru nanya karena gelagat lo mencurigakan. Ini Jumat malem dan Pak Arman cuti pula, ngapain coba masih di kantor?”

“Berisik lo!” Aku mendesis padanya seraya melemparkan lirikan penuh arti pada seorang gadis yang masih duduk di balik meja kerjanya, di ruangan seberang yang hanya dibatasi partisi kaca. ”Gue lagi pura-pura lembur.”

“Hah?” Ryan mengerutkan keningnya, bingung, dan aku menghela nafas tak sabar.

“Lo nggak ngeliat apa, Cilla dari tadi ngawasin gue kaya elang ngawasin calon mangsanya. Pasti dia mau lapor ke Nadine,” ujarku pelan. “Dan kalo gue keliatan nggak sibuk tapi nggak pulang-pulang juga, pasti ketauan kalo…”

“Oh, lo masih dalam misi ngehindarin bini?” potong Ryan cepat.

Aku mengangguk. “Hmm.”

“Hmm,” balas Ryan.

“Apa ‘hmm’?”

“Kagak. Kalo soal ini no comment deh gue.”

“Bagus deh, gue nggak butuh comment juga,” tukasku cepat sebelum menoleh pada sahabatku itu dengan ekspresi penuh persekongkolan. “Gue cuma butuh lo jawab gue lagi ngerjain rancangan renovasi lounge yang di Kemang kalo si Cilla nanya. Jangan lupa bilang juga gue berencana nginep di kantor malem ini, mungkin sampe tiga hari ke depan saking sibuknya.”

Mendengar kalimatku itu, Ryan hanya mendecakkan lidah dan menggeleng-geleng seperti orang yang benar-benar sudah tak habis pikir, kemudian melangkah keluar dari ruanganku tanpa berminat bicara lagi.

Reza

“Kamu mau ke mana, Sayang?”

Aku baru saja selesai memakai kembali kemejaku saat tiba-tiba suara Reisa terdengar. Ia masih berbaring di atas tempat tidur queen size-nya dengan tubuh terbungkus selimut putih tebal. Rambutnya yang panjang terurai sedikit kusut, membingkai wajah cantiknya yang masih tampak mengantuk.

“Pulang,” jawabku sambil membungkuk dan mengambil dompetku yang entah bagaimana bisa tercecer ke bawah meja nakas.

“Kok pulang sih?” Tepat seperti dugaanku, Reisa mulai merajuk. “Kamu nggak nginep di sini aja, temenin aku…”

“Aku udah hampir seminggu nggak tidur di rumah, Rei.”

“Terus kenapa? Emangnya ada masalah kalau kamu nggak tidur di rumah? Istri kamu juga udah nggak pernah nyariin lagi kan…”

Aku tidak punya jawaban. Reisa benar. Seminggu belakangan ini aku nyaris tidak pulang ke apartemen, selain untuk mandi dan ganti pakaian,dan Nadine juga tidak pernah berusaha mencariku. Seolah ia juga tidak lagi peduli bahwa aku melanggar perjanjian dilarang-tidur-di-luar-rumah-kalau-tidak-ada-situasi-darurat yang pernah ditetapkannya sendiri di masa-masa awal pernikahan kami.

“Nginep di sini aja ya, Sayang…” Reisa bicara lagi dalam nada manja.

“Besok ya, Rei. Aku bener-bener perlu pulang malem ini,” sahutku masih berusaha teguh pendirian. Tapi apalah yang bisa dilakukan laki-laki seperti aku ini ketika Reisa mulai mengerucutkan bibirnya, diikuti gerakan memijat pelipis dengan wajah yang tampak kesakitan.

“Kenapa sih kamu nggak mau nemenin aku…” keluhnya. “Padahal aku lagi agak nggak enak badan gini.”

Rasa khawatirku langsung naik ke permukaan. Tiba-tiba saja aku mendapati diriku sendiri sudah melompat kembali ke atas tempat tidur, kembali mendekat pada Reisa. Kepala Reisa terbentur kloset saat ia pingsansetelah menegak obat tidur dalam dosis besar –kelewat besar, dalam usaha mengakhiri hidupnya sendiri, yang semuanya tentu merupakan salahKU. Dan akan jadi salahKU juga kalau ternyata Reisa sedang benar-benar kesakitan, tapi aku justru bersikeras meninggalkannya untuk pulang ke rumah.

“Kenapa? Kepala kamu sakit lagi?” tanyaku, was-was.

“Iya,” jawab Reisa sembari mengangguk lemah.

“Kita ke dokter yuk?”

“Nggak mau.Aku mau tidur aja, tapi kamu di sini ya, temenin aku…”

“Iya, Rei, ya udah… aku temenin sampai kamu tidur ya,” sahutku akhirnya, mengalah dan kembali bergulung di sebelah Reisa,sementara ia menjatuhkan tubuhnya di pelukanku dan mulai memejamkan mata.

Reza

“Kayaknya ketemu presiden lebih gampang deh daripada aku ketemu sama kamu, suamiku sendiri.”

Kata-kata Nadine pecah di gendang telingaku, melepaskan rasa yang bercampur aduk hingga membuatku mual. Rasa bersalah, marah, kesal, sedih, dan entah apa lagi. Aku sama sekali tidak ingin menghadapinya sekarang. Aku belum siap, belum punya jawaban atas apa yang pasti ia tanyakan. Soal Reisa. Soal rumah tangga kami yang kacau balau. Soal perasaanku padanya, yang bahkan aku sendiri tidak bisa menarik kesimpulan.

“Jangan diem aja,” ujar Nadine lagi, ketus. “Kalau memang menurut kamu aku perlu bikin janji lewat sekretaris kantor atau…”

“Kamu itu ngomong apa sih, Din?” potongku cepat, berusaha mengelak, sama sekali tidak mau kelihatan salah. “Suami kamu baru pulang kerja tengah malem, udah capek banget, dan kamu bukannya bikinin teh atau kopi malah ngomel-ngomel kaya orang kesetanan gitu.”

“Buat apa aku repot-repot bikinin teh atau kopi buat SUAMI yang udah nggak menghargai aku dan nggak nganggep aku sebagai istrinya lagi?”

“Siapa sih yang nggak nganggep…”

“Kamu!” sambar Nadine dengan nada tinggi, dan semakin meninggi lagi saat ia melanjutkan kata-katanya yang penuh kemarahan. “Setelah semua yang kita lewatin bareng-bareng ya, Rez, setelah kita berantem, baikan, berantem lagi, baikan lagi… ujung-ujungnya kamu tetep milih perempuan sialan itu, kan? Selalu Reisa, Reisa, dan Reisa! Dasar…”

“NADINE!” Aku kehilangan kendali.

Nadine terhenyak, mundur satu langkah ke belakang dan menatapku dengan wajah ngeri, seolah aku baru saja berubah jadi monster yang tidak dikenalinya. Betapa tidak ingin aku membentak Nadine, namun emosiku sudah tidak tertahankan lagi.

“Udah, Din. Aku capek!” ujarku sambil menyambar kunci mobilku dengan kasar, berbalik dan langsung membanting pintu di belakang punggungku.

Nadine

“Kenapa kamu terus ngehindarin aku sih, Rez?”

“Nadine?” Reza tampak kaget ketika menemukan aku sedang duduk di ruang meeting kantornya dengan wajah sedingin es.

“Nggak usah kaget gitu deh,” sambarku ketus.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Reza pelan. Dari suaranya, sangat kentara bahwa dia sedang berusaha mengulur kesabarannya sendiri.

“Aku udah nggak tahan nunggu kamu lagi, Rez. Udah lewat dua minggu sejak kita ribut waktu itu, dan kamu pernah nggak pulang lagi… mau sampai kapan kaya gini terus?” tuntutku.

“Tapi ini jam kantor, Din,” jawab Reza.

“Apa perlu aku ngadep ke bos kamu untuk minta ijin untuk ngobrol sebentar sama suami aku sendiri di tengah jam kantornya, karena dia sama sekali nggak mau liat mukaku kalau nggak pakai cara begini?”

“Aku bukannya nggak mau lihat muka kamu, Din. Tapi kerjaan aku…”

“Kerjaan kamu banyak. Ya, aku tau. Dan itu kamu jadiin alesan buat ngehindarin aku.”

“Aku nggak…”

“Aku paling nggak suka sama situasi yang nggak jelas kayak gini, dan aku udah capek main kucing-kucingan sama kamu lagi,” tukasku tegas.“Aku perlu bicara sama kamu, Rez. Kita perlu bicara.”

“Tapi nggak di sini.” Reza menggeleng. Kejengkelannya mulai naik ke permukaan.

“Terus, dimana?” tanyaku dengan nada yang mulai tinggi.

“Nanti, Din, kalau aku udah pulang kantor,” jawab Reza kaku.

“Kapan kamu pulang kantor? Atau lebih tepatnya, KAPAN kamu pulang ke apartemen?” Aku bangkit dari tempat dudukku. “Nggak, aku nggak mau nunggu lagi. Kita harus nyelesaiin semua ini, sekarang.”

“Apa sih yang mau kamu selesaiin, Din?” Reza terdengar semakin jengkel.

“Hubungan kita?”

“Hubungan kita?” Reza mengulangi pertanyaanku dengan nada yang berbeda. Ia terdengar kaget ketika perlahan sadar kemana arah pembicaraanku ini.

“Iya. Apa mau kamu sekarang, Rez? Kamu mau kita gimana?” tanyaku. Sementara Reza membeku di tempat duduknya.

“Jangan diem aja, Reza.”

Dan Reza tetap diam. Aku bergerak jengkel di atas high heels-ku, kemudian melipat tangan di depan dada.

“Atau kamu mau aku aja yang ngasih pilihan?” Aku menelan ludahku yang terasa sangat pahit sebelum akhirnya menjatuhkan bom atom yang akan meluluhlantakkan segalanya. “Di situasi kaya gini, semua perempuan waras pasti akan ngasih kamu dua pilihan: tinggalin Reisa atau kita cerai.”

“Din…”

“Tapi aku rasa opsi pertama nggak mungkin kamu lakuin, karena kamu masih cinta sama Reisa dan semua yang pernah kamu bilang sama aku itu cuma bullshit. Jadi….” Aku menelan sisa kalimatku sendiri. Tenggorokanku tercekat seperti tidak sanggup melanjutkan.

Akhirnya, aku hanya bisa memandangi wajah Reza yang tampak agak shock, sambil menekan perasaan-perasaanku sendiri yang muncul ke permukaan. Sekaligus mencegah air mata agar tidak meleleh jatuh.

Reza

“Bini lo minta cerai?” Ryan melebarkan matanya padaku, seolah aku baru saja mengatakan bahwa bumi akan kiamat besok pagi.

Ya, memang ini kiamat bagi pernikahanku. Keputusan Nadine sepertinya sudah bulat, tampak jelas dari raut wajah yang ditampakkannya saat meninggalkan ruang meeting tadi. Dan kalau dia sudah begitu, aku tidak tahu lagi cara membujuknya. Lagipula, memangnya aku masih punya alasan apa untuk membujuknya?Alasan apa untuk mempertahankan pernikahan kami?

“Terus lo iyain gitu aja?” tanya Ryan lagi setelah aku menjawabnya dengan anggukan.

“Emangnya gue bisa apa lagi?” Aku menyuarakan pikiran yang sejak tadi menggema di telingaku.

“Coba pikirin mateng-mateng dulu, man.Gue tau sih, hubungan lo sama Nadine udah… yah… “ Ryan mengangkat bahu, enggan mendeskripsikan sehancur apa hubungan rumah tanggaku di matanya. “Tapi ini pernikahan yang lo jalanin, bukan pacar-pacaran yang bisa putus-nyambung seenaknya. Cerai itu bukan sekedar lo sama Nadine yang pisah, tapi juga keluarga Nadine, keluarga lo, orang tua Nadine…”

“Dan orang tua gue,” sambarku menyelesaikan kalimat Ryan. “Nyokap gue pasti ngamuk dan nggak bakal nganggep gue anak lagi.”

“Nah, itu.” Ryan mengangguk “Pikir bener-bener, jangan ambil keputusan karena emosi aja.”

“Tapi mestinya lo nasehatin soal ini ke Nadine aja,” ujarku. “Yang ambil keputusan cerai kan dia, bukan gue.”

“Dia ambil keputusan itu kan karena lo juga,” sahut Ryan. “Kalau lo memang nggak mau cerai, ya lo mestinya ngomong baik-baik lah sama Nadine. Ngerayu kek, apa kek yang baik-baik biar dia berubah pikiran.”

“Susah, Yan. Gue…”

“Apa susahnya sih, man? Nadine kan bini lo sendiri, masa ngerayu aja lo kesusahan…”

“Susahnya adalah…” Aku mengambil jeda di antara kalimat untuk menarik nafas yang terlalu berat. Ruangan ini mendadak seperti kekurangan oksigen.“Karena gue nggak punya alesan untuk mempertahankan pernikahan gue sama Nadine…”

“Man…” Ryan menatapku sekali lagi, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan dunia. “Lo udah bener-bener nggak cinta sama Nadine apa gimana?”

“Salah.” Aku menggeleng suram. “Mestinya lo tanya, apa gue pernah bener-bener cinta sama Nadine atau nggak?”

Dan ketika akhirnya pertanyaan itu terlontar, Ryan hanya menanggapinya dengan mulut yang membuka dan menutup tanpa suara. Wajah tercengangnya masih juga belum hilang saat kami berdua duduk diam di depan jendela kaca ruang rekreasi kantor sambil memandangi semburat merah api yang melalap langit sore Jakarta.

 

Bingung ya  bacanya? Ceritanya loncat-loncat ya? Teruuuus… mana ending yang dijanjikan? Hihi tenang, jangan panik. Tulisan di atas memang cuma bagian Reza, Reisa, dan sedikit Nadine yang aku tulis. Sisanya silakan dicek di blog Ayu Karwinandhi ya ;)

Terima kasih seluruh pembaca dan para silent readers yang sudah mengikuti perjalanan Lovestruck yang tersendat-sendat ini. Hope you guys enjoy the last chapter! Sampai ketemu di cerbung berikutnya!

 

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Genesis Mediators.

Advertisements

2 thoughts on “Lovestruck [TEASER 7-END]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s