The Miraculous Journey of Edward Tulane


Edward Tulane Book Cover

Seperti (mungkin) kebanyakan perempuan lainnya, aku baru tahu dan tertarik baca buku ini setelah selesai nonton drama Korea ‘You Who Came From The Stars’ (별에서온그대). Udah gitu telat pula nontonnya. Jadi aku dobel-dobel deh telatnya. Tapi nggak apa-apa, nggak pernah ada kata terlambat untuk buku bagus dan drama bagus, kan? :))

The Miraculous Journey of Edward Tulane karya Kate DiCamillo ini adalah buku yang sering dibaca Do Min Joon, si cowok alien ganteng dalam ‘You Who Came From The Stars’. Banyak quote yang dinarasikan dalam drama itu, dengan pilihan-pilihan kalimat yang sesuai perasaan Do Min Joon sendiri. Terlepas dari kemiripan ‘gambar besar’ ceritanya (atau mungkin lebih tepatnya drama ini yang terinspirasi dari jalan cerita bukunya?), The Miraculous Journey of Edward Tulane ini sebenarnya sama sekali bukan bercerita tentang alien. Buku ini mengkisahkan tentang sebuah boneka kelinci keramik buatan Cina yang belajar mengenal cinta. Namanya Edward. Tulane adalah nama keluarga pemilik pertamanya, seorang gadis kecil bernama Abilene.

Pada halaman-halaman awal, aku pikir buku ini cuma sekedar buku anak-anak biasa, yang kisahnya mungkin semacam Pinokio. Awalnya aku pikir Edward Tulane akan berubah jadi manusia pada akhirnya. Tapi ternyata nggak. Edward tetap boneka keramik Cina sampai halaman akhir. Dan kabar baiknya, aku sama sekali nggak kecewa dengan ending-nya, karena kisah perjalanan Edward ini memberikan banyak makna untuk diresapi dan dipikirkan.

Intinya, buku ini sangat aku rekomendasikan! Bukan hanya sebagai cerita pengantar tidur yang bisa dibacakan untuk anak-anak, tapi juga untuk diri kita sendiri. Kisah perjalanan Edward akan mengingatkan diri kita sendiri, yang sudah dewasa dan merasa pintar ini, bahwa terkadang kita lupa untuk bersabar dan membuka hati. Bahwa membuka hati dan mencintai mungkin bisa jadi jawaban atas segala yang kita cari selama ini.

Bonus: my favourite line(s) from the book!

“Ah, and so.” Pellegrina nodded. She was quiet for a moment. “But answer me this: how can a story end happily of there is no love?”

“But in truth,” said Bull, “we are going nowhere. That, my friend, is the irony of our constant movement.”

How many times, Edward wondered, would he have to leave without getting the chance to say goodbye?
A lone cricket started up a song.
Edward listened.
Something deep inside him ached.
He wished that he could cry.

I have been loved, Edward told the stars.
So? said the stars. What difference does that make when you are all alone now?

Edward Tulane

Once, oh marvelous once, there was a rabbit who found his way home.

Foto Edward Tulane dalam post ini dipinjam dari The Doll Blog. Thank you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s