Promise


Another story from another member of  Knight. Dengan jujur aku akan mengakui kalau cerita yang ditulis dalam empat jam saja ini memang terinspirasi dari skandal K-POP paling hot minggu ini :D Have a fun reading!

hug

이제 네가 없는 곳엔 두 번 다신 안 갈래
Now I don’t ever want to go somewhere that you’re not there
이제 너 없인 Nothing 거기 출구는 치워줘
Now without you, it’s nothing, take away the exit

(EXO-K – Love Love Love)

Park Tae Joon mengangkat kepala tepat saat lagu itu berkumandang, memenuhi mobilnya dengan nada-nada dan dentuman lembut yang menenangkan. Kedua matanya menatap lurus ke depan, namun bukannya melihat air sungai hitam yang membentang di hadapannya, Tae Joon justru melihat gadis itu.

Wajahnya yang cantik, sangat cantik. Hidungnya yang runcing. Matanya yang kecil namun bersinar-sinar. Sudut-sudut bibirnya yang melengkung indah saat ia tersenyum. Rambutnya yang halus dan harum. Suaranya yang jernih. Tawanya yang merdu. Dan sentuhannya malam itu, yang begitu hangat dan memabukkan.

Oh, betapa Tae Joon ingin kembali.

Seandainya ia bisa kembali, seandainya gadis itu menepati janjinya untuk kembali…

4 tahun yang lalu

“Kau yakin tempat ini tidak terlalu… terbuka?” Kim Eun Ji bertanya sambil mengangkat kedua alisnya ketika Park Tae Joon menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah kafe yang terletak di tepi Sungai Han.

Dari sana mereka bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah –sungai yang gelap dan tenang dengan latar belakang lampu kota yang berkerlap-kerlip. Namun seperti biasa, tempat yang paling indah selalu jadi tempat paling ramai, dan tempat yang paling ramai selalu memiliki resiko yang paling tinggi. Kenyataan itu membuat Eun Ji khawatir setengah mati, tetapi Tae Joon hanya menanggapinya dengan gelengan.

“Tidak,” jawabnya santai. Ia tampak sama sekali tak peduli dan kini malah sibuk menurunkan atap mobilnya, sehingga semua orang yang lalu lalang di sekitar mereka dapat melihat sepasang wajah yang duduk di dalam Mercedes-Benz putih itu tanpa terhalang apapun.

“Tae Joon ah!” Eun Ji langsung memprotes sambil menundukkan kepalanya, berusaha berlindung dari tatapan mata orang-orang. “Kenapa dibuka…”

“Apa bedanya tertutup dan terbuka sekarang ini?” Tae Joon menyambar sisa omelan Eun Ji dengan nada jengkel. “Meskipun kita pergi ke dalam gua sekalipun, mereka akan tetap mengumumkan hal itu besok.”

“Justru karena mereka akan mengumumkannya besok, maka sebaiknya kita tidak ketahuan malam ini.”

“Menurutku, sebaiknya kita memang ketahuan.”

“Lalu, bagaimana kita akan menjelaskan…”

“Tinggal katakan saja kalau kita bertemu untuk mengakhiri semuanya.”

Mendengar kata-kata Tae Joon yang begitu pedas, Eun Ji pun mengurungkan niatnya untuk mendebat. Tidak ada gunanya dan hanya akan memancing pertengkaran yang sangat ingin dihindari Eun Ji. Karena seharusnya ini jadi malam yang indah bagi mereka berdua. Malam terakhir yang diizinkan perusahaan untuk bisa mereka lewati bersama, sebelum para juru bicara Fantasy Entertainment –agensi tempat keduanya bernaung– mengumumkan pada publik bahwa hubungan Park Tae Joon dari Knight dan Kim Eun Ji dari FAIRY sudah resmi berakhir.

Sesungguhnya, Tae Joon dan Eun Ji sama sekali tak bisa melihat bagian mana yang salah dari hubungan mereka. Hubungan yang berlangsung selama delapan bulan itu terasa sangat manis bagi mereka berdua, namun entah bagaimana bisa berdampak buruk bagi karir masing-masing grup. Seolah setiap tawa dan kebahagiaan yang mereka bagi bersama berbanding lurus dengan tangis, kebencian, teror, dan caci maki dari para penggemar yang pada akhirnya berujung pada penurunan jumlah penjualan album dan merchandise resmi, tiket konser yang tidak laku, serta ranking di music chart dan rating variety show yang menukik drastis. Hanya karena dua orang, kini dua Idol Group paling besar di industri musik Korea berada di ambang kehancuran. Hanya karena dua orang saling mencintai, kini sebelas personel Knight dan delapan personel FAIRY yang tak bersalah menjadi korban.

Keadaan yang semakin hari jadi semakin buruk ternyata juga sangat meresahkan perusahaan. Knight dan FAIRY adalah tambang uang bagi Fantasy Entertainment, yang tak akan mungkin dibiarkan meledak dan hancur berkeping-keping. Akhirnya, Direktur Cho pun memutuskan untuk memanggil Tae Joon dan Eun Ji ke kantornya minggu lalu. Keduanya dihadapkan pada jajaran manajemen tertinggi di Fantasy Entertainment, bukan untuk ditanyai dan dimintai pendapat, tetapi untuk menerima perintah tanpa protes. Perintah yang menegaskan bahwa keduanya boleh tetap berhubungan sesukanya, tetapi dilarang keras menunjukkannya di hadapan siapapun.

“Yang dimaksud dengan siapapun bukan hanya publik, teman-teman, dan keluarga kalian saja, tetapi juga termasuk personel Knight dan FAIRY, para manajer, koordinator, penata gaya, penata make up, koreografer, penari latar, dan semua yang berada di gedung Fantasy Entertainment,” ujar Direktur Cho saat itu. Nada bicaranya lembut dan terdengar bijaksana, namun sama sekali tak terbantahkan.

“Dengan kata lain, tidak boleh ada satupun yang tahu tentang hubungan kami selain diri kami sendiri?” Park Tae Joon memberanikan diri untuk bertanya, dan Direktur Cho pun mengembangkan senyumnya.

“Kau benar. Tidak boleh ada orang lain selain diri kalian sendiri. Kalian bahkan harus berusaha mengelabui aku dan semua orang yang berada di ruangan ini, meskipun kami tahu kenyataannya,” jawab Direktur Cho. Ia juga menyampaikan bahwa pengumuman pada publik akan dirilis pada waktu yang sudah ditentukan, dan setelah itu semua mata akan mengawasi mereka secara ketat. Jika ada sedikit saja pelanggaran, keduanya akan dikenai sanksi dan penalti.

Ketika Direktur Cho menyodorkan dua lembar kontrak yang harus mereka tanda tangani, Park Tae Joon dan Kim Eun Ji hanya bisa saling menatap sebelum akhirnya meraih pulpen masing-masing. Mereka sama sekali tidak punya hak dan kesempatan untuk merasa keberatan.

Meskipun Tae Joon sangat marah, merasa semua ini terlalu kejam, terlalu mirip dengan cerita cinta yang tragis dalam film yang tidak seharusnya dialami siapapun di dunia nyata, tetapi ia tahu betul baik dirinya maupun Eun Ji tidak akan sanggup melakukan apapun untuk melawan. Karena satu-satunya jalan keluar adalah melalui pintu Fantasy Entertainment, yang artinya mereka harus meninggalkan Knight dan FAIRY untuk bisa berhubungan dengan bebas. Dan setelah kerja keras dan melewati masa training penuh darah dan air mata selama bertahun-tahun, setelah akhirnya mereka mencapai puncak popularitas bersama grup masing-masing, Tae Joon dan Eun Ji menjadi terlalu egois dan sama-sama tidak mau melangkah keluar begitu saja.

Jadi, di sinilah mereka berdua. Duduk bersebelahan dengan jemari saling bertaut pada hari ‘terakhir’ mereka. Mulai besok, seluruh dunia akan menganggap keduanya sudah putus. Mulai besok, tidak boleh ada lagi sentuhan tangan, tidak ada lagi tatapan mata, obrolan dan tawa yang boleh diperdengarkan di depan siapapun kecuali diri mereka sendiri.

“Tae Joon ah…” Suara Eun Ji terdengar sangat jernih saat ia mengucapkan nama lelaki yang telah mengisi setiap rongga kosong di dalam hatinya.

Namun Park Tae Joon hanya menjawabnya dengan gumam singkat, “Hmm?”

“Apa yang harus kulakukan kalau suatu saat aku merindukan ini?” Eun Ji menunduk, menatap tangannya yang bersarang dalam genggaman Tae Joon yang hangat. Tetapi lagi-lagi ia menyahut dengan tak acuh.

“Aku tidak tahu,” jawabnya. “Mungkin kau hanya bisa memejamkan mata dan membayangkan rasanya saja.”

“Aku pasti akan merindukanmu, Tae Joon ah.” Eun Ji masih belum menyerah. Dan kali ini, ia berhasil menerbitkan seulas senyum di bibir Tae Joon.

“Kita tetap bisa bertemu setiap hari.”

“Di kantor perusahaan,” sambar Eun Ji dengan nada yang mulai meninggi. “Tempat kita akan pura-pura bersikap dingin satu sama lain, pura-pura tidak merasakan apapun, tidak punya urusan apapun di luar pekerjaan.”

Perkataan Eun Ji membuat Tae Joon terdiam. Kedua matanya yang berwarna gelap menatap jauh ke seberang Sungai Han dan rahangnya terkatup, seolah ia sedang berusaha keras menahan diri.

“Kita bahkan mungkin tidak bisa lagi mengobrol,” keluh Eun Ji lagi.

“Kita bisa mengobrol lewat telepon,” sahut Tae Joon singkat, sebelum kembali melempar tatapannya ke suatu titik yang jauh. Sikapnya mulai membuat Eun Ji jengkel. Gadis itu mengerutkan kening dan menoleh untuk memandanginya lekat-lekat.

“Kau kedengaran terlalu santai,” protesnya tajam. “Apa kau benar-benar bisa menerima semua ini? Apa kau senang-senang saja dengan semua batasan ini?”

“Apa aku kelihatan seperti orang yang bisa menerima dan senang-senang saja?” Tae Joon balas bertanya seraya mengunci tatapannya di kedua mata Eun Ji.

“Ya,” sahut Eun Ji gusar. “Karena kau sama sekali tidak tampak terganggu dengan kenyataan bahwa mulai besok semuanya sudah tak sama lagi. Aku mengatakan aku akan merindukanmu, merindukan semua ini, tapi kau tidak…”

“Bukankah aku memberikan solusi?” sambar Tae Joon tak kalah gusar. “Solusi agar kita berdua tidak terlalu menderita, tidak terlalu saling merindukan, tetap bisa mengobrol? Dan aku… kau harus tahu bahwa aku sangat keberatan dengan pengaturan ini dan sama sekali tidak senang-senang saja!”

Eun Ji sedikit terlonjak saat mendengar ujung kalimat Tae Joon yang diakhiri dengan bentakan. Namun kata-kata yang keluar saat marah merupakan yang paling benar, sehingga hatinya pun melunak.

“Ini tidak adil.” Kalimat Tae Joon menyerupai bisikan saat menumpahkan pengakuan yang sejak tadi ditahan oleh lidahnya. “Aku tidak akan pernah bisa terima.”

“Tae Joon ah…” Eun Ji mendesah sembari menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Rasanya ia ingin sekali menangis, namun Eun Ji sudah bersumpah pada dirinya sendiri akan mengisi malam ini dengan kenangan bahagia agar bisa disimpan selamanya.

Akhirnya, gadis itu pun mendongak dan menjulurkan tangannya untuk mengelus pipi Tae Joon. Ia ingin menyentuh laki-laki itu sebanyak mungkin, selama mungkin, agar setiap syaraf di indera perabanya dapat mengingat dan mengenang.

Dan saat Tae Joon bergerak, menangkap tangan Eun Ji dan mencium ujung jemarinya, ia pun berbisik pelan, “Aku menginginkan sesuatu yang bisa dikenang. Sekali ini saja.”

“Hmm?” Tae Joon mendongak dan memandang Eun Ji lekat-lekat. Tatapannya sama sekali tak goyah saat gadis itu mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Tae Joon pelan.

Satu kecupan disusul yang lainnya. Bibir mereka menjauh, lalu mendekat lagi, jauh dan dekat lagi. Monster kelaparan dalam diri keduanya lepas ke permukaan. Degup jantung terpacu dan nafas mereka berkejar-kejaran. Terus begitu, sampai Eun Ji melepaskan diri dan menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung laki-laki yang lebih muda itu.

“Mulai besok, kau harus kembali memanggilku Noona,” bisiknya pelan.

“Dan aku akan kembali jadi Tae Joon-gun[1] bagimu,” sahut Tae Joon. Kedua tangannya memeluk pinggang Eun Ji dan menariknya mendekat saat ia membisikkan sebuah permohonan. “Berjanjilah untuk kembali padaku nanti, saat kau sudah puas pada pencapaianmu atau sudah bosan dengan kehidupan di panggung yang gemerlap.”

“Tentu saja,” jawab Eun Ji dengan senyum tersungging. “Aku akan kembali padamu, Tae Joon ah.”

Dan setelahnya, gadis itu membalas pelukan Tae Joon dan kembali mengecup bibir lelaki itu. Lagi dan lagi, terus dan terus, hingga malam luruh sepenuhnya ke batas cakrawala.

“Tentu saja. Aku akan kembali padamu, Tae Joon ah.”

Tae Joon tersenyum samar saat suara jernih gadis itu kembali terngiang di telinganya, membisikkan janji yang dibuat untuk dilanggar. Karena yang ia percaya akan kembali, ternyata kini sudah lupa jalan pulang.

Setelah malam terakhir itu, Tae Joon menghabiskan empat tahun hidupnya dengan merangkak di jalur karirnya bersama Knight, sementara Eun Ji terus melaju bersama FAIRY. Selama itu, Tae Joon tak pernah berhenti berusaha, melakukan segalanya yang mampu ia lakukan untuk tetap mempertahankan Eun Ji di sisinya. Namun lama-kelamaan, ia bisa merasakan cinta itu mulai pudar di satu sisi. Kim Eun Ji mulai memanggilnya ‘Tae Joon-gun’ tanpa perasaan. Hangat dari tatapannya dan ketulusan dari senyumnya sama sekali hilang. Tidak ada telepon, tidak ada pesan yang dibalas, tidak ada sapaan yang disambut dengan antusias. Dan tiba-tiba saja, Tae Joon mendapat kabar bahwa gadis itu sedang mengencani laki-laki lain. Seorang pengusaha yang berusia dua tahun lebih tua darinya, lebih matang, dengan karir yang lebih mapan dan masa depan yang menjanjikan.

Tae Joon menonton dengan getir saat Eun Ji memberikan pernyataannya dalam sebuah variety show, bahwa laki-laki itu sudah melamarnya dan saat ini mereka tengah membicarakan rencana pernikahan. Ketika MC akhirnya bertanya tentang skandal cinta masa lalunya dengan salah seorang anggota Idol Group yang sensasional, Eun Ji hanya tertawa. Ia tampak sangat geli saat menjawab, “Itu bagian dari kegilaan masa muda yang kini sudah kutinggalkan di belakang sepenuhnya.”

Kegilaan masa muda.

Sudah ditinggalkan di belakang sepenuhnya.

Kedua kalimat itu terus terngiang di telinga Tae Joon selama berminggu-minggu. Bagaimana mungkin Eun Ji menganggapnya hanya sekedar kegilaan masa muda yang bisa ditinggalkan begitu saja, sementara Tae Joon masih menggenggam cintanya erat-erat dan berharap Eun Ji akan menepati janjinya?

Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu, Tae Joon pun membuat sebuah janji lain malam ini. Ia berjanji akan menemui Eun Ji, menjemputnya di belokan dekat apartemennya, tempat dulu Tae Joon biasa menjemput untuk kencan tengah malam. Namun bukannya menepikan mobil dan membukakan pintu untuk Eun Ji, Tae Joon justru membuka jendela, mengulurkan tangan kanannya, dan menarik pelatuk itu.

Rasa sakit dan amarah seolah menyesakkan kerongkongan Tae Joon saat ia menyaksikan tubuh Eun Ji yang ambruk lewat kaca spion. Namun laki-laki itu tetap tidak berhenti. Pedal gas diinjak dalam-dalam, hingga ia tiba di pelataran parkir sebuah kafe yang terletak di tepi Sungai Han.

아무것도이제더는바랄것이없는데 Will you stay with me?
Now I have nothing more to want, will you stay with me?

Park Tae Joon menekan tombol ‘replay’ sekali lagi. Lagu itupun kembali berkumandang, setiap dentuman lembut seperti berputar dan menari-nari di dalam kepalanya. Nada-nada itu bersahutan dengan suara tawa Eun Ji. Disusul ingatan tentang senyumnya yang hangat, ciumannya, sentuhannya malam itu, saat tubuh mereka akhirnya menjadi satu di penghujung malam…

Oh, betapa Tae Joon sungguh-sungguh ingin kembali.

Seandainya ia bisa kembali, seandainya gadis itu menepati janjinya untuk kembali…

 

[1] Partikel yang digunakan setelah nama sebagai bentuk panggilan sopan untuk laki-laki muda

Sesungguhnya aku lupa foto dalam tulisan ini kupinjam dari mana.  Mohon info kalau ada yang tau ya. Thank you!

Full lyrics : Korean44

Advertisements

2 thoughts on “Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s