The Steel Butterfly


Dramatic Butterfly

“Chantal! Hey, Chantal! Berhentilah!” Eira berseru keras sembari memegangi kedua pundak Chantal Fortier kuat-kuat. Kedua gadis itu bergulat selama beberapa detik, sampai akhirnya Eira berhasil merebut pedang yang dipegang Chantal dan menjatuhkan gadis yang lebih muda itu ke lantai. “Apa yang kau pikirkan? Robot yang kau lawan sudah rusak berat, kenapa kau masih saja…”

“Aku hanya tidak ingin kalah lagi! Aku tidak mau jadi gadis lemah lagi!” Chantal menyambar dengan bibir bergetar. Kedua matanya yang penuh tekad menatap robot latihan yang semula diprogram untuk menjadi lawannya dalam latihan pedang, kini sudah tak berbentuk sama sekali. “Kau tentu ingat bagaimana rasanya menjadi diri kita delapan belas tahun yang lalu, saat kita pertama kali tiba di Quarter setelah diselamatkan para prajurit Aesir itu. Merasa bersalah karena bertahan hidup, membenci diri sendiri karena tidak bisa melawan saat orang tua kita dibantai dengan sadis. Aku… tidak mau kembali menjadi bocah lemah yang menyedihkan itu lagi, Eira. Aku ingin menjadi kupu-kupu baja, agar bisa membalaskan kematian orang-orang yang kucintai saat suatu hari nanti kita menghadapi lawan yang sama lagi.”

Tema #SehariMenuliSatu hari ini: Metamorfosis. Makin susah aja ah. Semoga penggalan yang kutulis sore ini cukup mewakili usaha dan proses metamorfosis Chantal Fortier. Hope you guys enjoy the story ;)

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Dreams and Dragons. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s