Home


Lockport Cave and Underground Boat Ride

Lelaki muda itu melewati jalanan sempit yang berkelok-kelok dengan langkah tergesa. Di kanan kirinya, deretan etalase berkilau telah digantikan apartemen kumuh dan bangunan lainnya yang sudah lama ditinggalkan. Iapun mulai berlari dengan semangat yang meletup di pembuluh darahnya. Rambutnya yang hitam legam bergerak bersama angin, dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang tipis saat ia menunduk untuk memeriksa kantung plastik tebal yang berayun dalam genggamannya. Lelaki muda itu terus berlari sampai tiba di jalan buntu di antara dua gedung.

Ia memandang ke belakang, memastikan tak ada orang yang melihatnya saat ia berjongkok di samping sesuatu yang tampak seperti penutup got biasa, berbentuk persegi empat dan terbuat dari besi tebal. Ia meraba dan menarik pegangan bulatnya dalam sekali hentak, lalu melompat masuk dan menuruni tangga besi yang sudah berkarat, terus dan terus, hingga mencapai dasar. Masih dengan semangat yang sama, lelaki muda itu menyusuri lorong gelap yang sudah dihafalnya sampai tampak cahaya lentera kuning dan telinganya dapat menangkap suara-suara yang berasal dari ruangan luas yang berbentuk bundar –mereka menyebutnya Aula, biasa digunakan sebagai ruang berkumpul, ruang rapat, sekaligus ruang makan saat para penghuninya menginginkan suasana baru. Lantainya dipenuhi selimut-selimut tua yang bertebaran, beberapa berfungsi sebagai karpet, sementara yang lainnya kadang dijadikan bantal oleh siapapun yang ingin berbaring.

Seperti yang sudah dibayangkan, Aula dipenuhi delapan sosok familiar. Tubuh mereka hanya setinggi pinggang orang dewasa. Telinga-telinga yang runcing mencuat tinggi di antara rambut dan jenggot mereka yang panjang dan kusut. Seolah dikomando, mereka menoleh serentak saat lelaki muda itu muncul, memberondongnya dengan serentetan pertanyaan, beberapa bahkan mengomelinya karena menghilang seminggu tanpa kabar. Namun lelaki muda itu menjawab dengan tawa riang, sebelum mulai bercerita tentang perjalanannya dan berusaha meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja, kemudian mengacungkan oleh-olehnya. Daging kalkun yang masih segar, siap dimasak untuk makan malam. Semua orang bersorak. Dengan cepat, daging kalkun itu sudah berpindah ke tangan para juru masak di dapur, sementara sang pembawanya duduk bersandar di dinding, berusaha membuat dirinya nyaman di antara selimut-selimut tua yang hangat seraya memandangi pergerakan di sekitarnya. Sosok-sosok kurcaci. Ruangan bawah tanah yang lembab dan sesak tanpa jendela. Daging kalkun yang dimasak dengan bumbu seadanya untuk makan malam. Segalanya jelas bukan yang paling nyaman di antara beragam kemewahan yang telah dinikmatinya dalam perjalanannya di atas tanah, tapi ia sungguh senang bisa pulang, kembali dalam pelukan rasa nyaman, di sebuah tempat yang disebutnya rumah.

Luke

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Erie Canal Journeys. Thank you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s