Music


campfire music

Luke merasakan senyuman merayap di bibirnya. Kedua matanya tak lepas dari kelompok yang sedang menari dalam gerakan serempak. Tarian itu sederhana; sepuluh kurcaci mengelilingi api unggun buatan sambil menghentakkan kaki dan bergandengan, sesekali bertepuk, menunduk, keluar masuk dari dua lengan yang saling terkait. Gelak tawa menggema di dinding Aula bawah tanah, bersahutan dengan nada-nada yang berasal dari sekelompok pemusik yang memainkan gitar berdawai tiga, gendang, biola, dan harmonika.

Tanpa sadar, Luke mengetuk-ketukkan ujung jari pada gelas bir yang dipegangnya, larut dalam alunan lagu yang familiar. Bagi lelaki muda itu, musik para kurcaci telah menjadi bagian dari hidupnya. Bukan sekedar pengantar tidur yang sering dinyanyikan ibu asuhnya, tetapi juga sebagai pengingat yang menghangatkan hati, bahwa ia masih dan akan selalu menjadi bagian dari keluarga.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Flickr. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s