Light


braid hair

Karl merasakan jantungnya berdegup kencang saat kilasan pertempuran kembali terbayang di balik kelopak matanya yang tertutup. Musuh-musuh berkulit biru dengan daging membusuk, senjata mereka yang terangkat tinggi, satu tusukan dalam menembus bahu kanannya, diikuti hantaman gada berduri yang mengakhiri segalanya. Karl masih bisa merasakan jejak rasa sakit yang tertinggal, mencabik kepalanya, membelah tengkoraknya menjadi dua bagian. Ia ingin berteriak, mengamuk, melakukan apapun agar rasa sakitnya menghilang, tapi ia tak bisa bergerak. Karl berusaha lebih keras, namun tubuhnya seolah tak terjangkau, seolah bukan miliknya, seolah ia hanya bagian jiwa yang kecil, tak berdaya, dan terjebak di tubuh yang nyaris mati.

Detik demi detik, denyut jantungnya terus melemah, sementara rasa sakitnya makin menjadi. Karl sudah hampir membiarkan dirinya terseret semakin jauh ke jurang yang gelap, tepat ketika ia mendengar suara jernih milik seseorang yang familier, memanggil-manggil namanya tanpa henti. Ada sesuatu dalam suara itu yang membakar tekad Karl untuk kembali berusaha. Ia ingin bertahan. Ia harus bertahan. Ia tidak mau membiarkan pemilik suara itu putus asa, tidak ingin mendengarnya menangis.

Ketika suara itu memanggil lagi, Karl berputar cepat dalam kegelapan, mencari-cari dengan frustasi. Ia berlari ke kanan, menabrak dinding hitam di sebelah kiri, terus dan terus mencari sumber suara itu, sampai ia melihat ujung yang terang, menyerupai garis, semakin lama semakin lebar… dan akhirnya matanya terbuka. Karl membelalak, berusaha mengenali pemandangan di sekelilingnya dengan cepat. Matahari jingga di luar jendela, dinding dan langit-langit putih, monitor yang berkedip, kemudian ia melihat sosok itu. Berdiri tepat di sampingnya dalam balutan seragam medis sederhana berwarna biru langit. Rambutnya yang cokelat dan panjang dikepang rapi dan dibiarkan jatuh di belakang punggung. Pendar-pendar perak di sekeliling tubuhnya tampak seperti kabut indah saat gadis itu mendekat dengan kedua mata berlapis kaca, mendesah lega dan menggumamkan rasa syukurnya, terima kasih sudah kembali, yang dijawab Karl dengan gelengan. Karena ialah yang seharusnya berterima kasih pada Eira Franic, pada cahaya terangnya yang telah menghangatkan hati dan menunjukkan jalan pulang dari lorong kematian yang pekat. Terima kasih.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Visualize Us. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s