Emerald


emerald

Eira duduk di ujung tempat tidurnya dengan tatapan terpaku pada langit mendung di luar jendela. Jemarinya tanpa sadar memutar gelang perak yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Gelang itu dibelikan Chantal beberapa tahun yang lalu di toko perhiasan antik di pusat kota, berbentuk rantai sederhana dan dihiasi dua bandul yang dipasangnya sendiri: liontin perak peninggalan ibunya dan potongan kecil batu Emerald yang tercecer dari pedang milik ayahnya, yang berhasil dipungut Eira dari lantai setelah ayahnya tewas terpenggal dan pedangnya jatuh berkelontang.

Gadis itu menunduk, senyuman pahit lolos dari bibirnya saat ujung telunjuknya menyusuri sudut tajam batu cemerlang itu. Warna Emerald selalu mengingatkan Eira pada warna mata ayahnya, seolah ia masih bisa menatap kedua mata hijau yang teduh, seolah ia masih bisa kembali menjadi gadis kecil dan berlindung dalam pelukan ayahnya agar tak ada siapapun yang bisa menyakitinya lagi. Mendadak Eira merasakan kedua matanya memanas. Ia menengadah, berusaha mati-matian menahan air mata. Namun ketika dadanya terasa semakin sesak, bibirnya bergetar hebat, dan pandangannya berubah buram, gadis itupun menyerah. Ia membiarkan hatinya tenggelam ke dasar jurang kesedihan. Berjam-jam lamanya Eira memanggil dan menggapai ayahnya dalam tangis, sampai ia kelelahan dan jatuh tertidur dengan kesadaran mutlak yang membuat hatinya hancur. Bahwa sekeras apapun ia menangis, sekuat apapun ia memohon, ayahnya tetap tetap tidak akan pernah kembali.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Reddit. Thank you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s