Rum Raisin


Ice cream

Sebelum hari itu, Jayden Lagerfelt tidak pernah menempatkan es krim dalam daftar makanan yang akan dicarinya untuk meredakan rasa sakit. Di tengah bulan Desember yang membekukan, tepat setelah jam makan siang berakhir, tiba-tiba Eira muncul dengan seragam medisnya yang berwarna biru langit sambil menyodorkan satu cone es krim. “Rum raisin, untukmu,” kata Eira.Ketika Jayden menerima es krimnya dengan alis terangkat, gadis yang berpendar itu menambahkan sambil mengangkat bahu. Tatapannya terkunci di satu titik yang jauh di luar jendela. Di bibirnya tak tampak senyuman, namun suaranya terdengar sangat lembut. “Dulu, dulu sekali, ibuku pernah memberi tahu tentang empat cara yang sederhana untuk merasa bahagia di tengah dunia yang rumit ini. Satu, menari di bawah hujan. Dua, berbaring di bawah langit malam yang penuh bintang. Tiga, menyanyi keras-keras seolah tak ada yang mendengar. Dan yang keempat adalah makan es krim.”

“Tapi karena ini bukan musim yang tepat untuk turun hujan, terlalu pagi untuk berbaring di bawah langit malam, dan kau mungkin akan membuatku malu kalau kuizinkan menyanyi keras-keras… jadi, kurasa kau terpaksa harus puas hanya dengan es krim,” ujar Eira sambil mulai menjilati es krimnya sendiri –rasa vanila dengan potongan kenari dan permen karamel– sementara Jayden memandanginya dengan senyuman menggantung. Gadis itu tidak pernah banyak bicara, tidak pernah punya banyak kata-kata indah untuk menenangkan, namun selalu muncul di saat yang tepat dengan membawa sesuatu untuk menghangatkan hati. Telinga untuk mendengarkan, lengan untuk memeluk, hingga vitamin di saat Jayden mulai merasa tenaganya surut dan es krim untuk kali ini. “Kau harus mengembalikan uangku kalau sampai es krimmu leleh sebelum sempat dimakan,” gumam Eira lagi seraya mengerling ke arah Jayden yang langsung terbahak, sebelum mulai menyantap es krimnya dengan hati ringan dan penuh rasa terima kasih. Sangat sederhana, seperti yang dikatakan Eira sendiri, tetapi ternyata berhasil membuat Jayden merasa sungguh-sungguh bahagia.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Favim. Agak nggak nyambung dikit maafkan ya, karena nggak nemu gambar bagus yang es krimnya Rum Raisin :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s