The Chamber


Admontdoor

Eira baru berusia tiga belas tahun saat pertama kali menemukan Ruang 2.5 –sebutannya untuk kamar rahasia yang kini menjadi rumah keduanya itu. Diawali dengan kegiatan Minggu siangnya yang biasa, menyusuri rak bagian sejarah di perpustakaan tua yang terletak di lantai dua Gedung Pertemuan Nordlys. Perpustakaan itu sepi seperti setiap harinya karena orang-orang lebih senang mengunjungi perpustakaan di Akademi masing-masing yang memiliki buku-buku terbaru dan fasilitas lebih canggih. Eira mungkin satu-satunya yang rutin datang ke sana, satu-satunya yang merasa perlu berada di sana demi mengumpulkan setiap potong paragraf, artikel, berita, foto, apapun yang mencatat tentang awal mula pemberontakan dan pemisahan diri klan Ljós puluhan tahun yang lalu. Ia memerlukan informasi sebanyak mungkin untuk melengkapi jalinan logikanya agar bisa memahami kenyataan bahwa orang tuanya pernah memilih untuk meninggalkan kenyamanan hidup di Quarter, yang hanya berakhir pada pelarian tanpa ujung dan kematian keduanya.

Pada hari penuh keberuntungan itu, Eira tengah berjongkok untuk membaca judul-judul buku di bagian bawah rak ketika matanya menangkap sebuah buku saku bersampul kulit hitam kusam yang tampak tidak sesuai dengan deretan lain di kanan kirinya. Buku itu jelas salah tempat. Seseorang salah mengembalikannya atau justru sengaja meletakkannya di sana. Namun saat Eira berusaha menarik buku itu, mendadak rak besar yang menempel di dinding tepat di belakang punggungnya bergerak, terangkat naik dengan suara berdesir pelan dan menampakkan tangga putar dari kayu lapuk. Eira pun bergegas mendaki tanpa pikir panjang, sampai ia tiba di puncak tangga yang mengarah ke sebuah ruangan bundar yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Ruangan itu kosong, sama sekali tanpa perabot dan dekorasi. Lantai kayunya tertutup debu tebal menandakan tak pernah ada orang yang datang selama bertahun-tahun. Ketika Eira mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ia bisa melihat bangunan-bangunan yang familiar –Gedung Pemerintah Pusat, rumah sakit, tembok tinggi yang membentengi Kompleks Militer, gedung-gedung asrama– dan segera menyadari bahwa ia sedang memandang dari puncak menara. Dinding itu pasti terbuat dari kaca satu arah yang penuh ilusi, sehingga ia bisa memandang ke luar dengan bebas, namun orang-orang di luar hanya akan melihat lapisan titanium berkilau seperti yang menutupi seluruh dinding bagian luar Nordlys. Tak akan ada yang sadar bahwa mereka sedang diamati dari atas.

Eira mengangkat alis dan mengedarkan pandangan sekali lagi, berusaha mencari petunjuk tentang ruangan ini sambil berjalan mondar-mandir dari ujung ke ujung. Tapi langkahnya segera terhenti saat ia menginjak semacam tombol tak tampak yang membuat lantai di bawahnya terbuka otomatis, memperlihatkan kompartemen kecil di baliknya yang hanya berisi satu benda: buku saku bersampul kulit hitam yang identik dengan kunci pembuka kamar rahasia ini. Dengan jantung berdentum, Eira pun mulai membalik halaman demi halaman buku itu. Kosong, kosong, kosong, hingga ia menemukan sebaris kalimat di halaman keenam yang berbunyi ‘Selamat datang di Ruang 2.5’ yang diikuti sebuah inisial, DF, ditulis dengan huruf-huruf miring yang sangat dikenalnya.

Daniel Franic.

Ayahnya.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Black and White. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s