Brothers


Brothers

Dua bocah laki-laki duduk di sofa ruang tunggu kantor Sang Alfodr dalam keheningan total. Bocah yang lebih tua berambut pirang platina dan memiliki garis-garis rahang yang keras bernama Karl Eisenberg, sama sekali tak melepaskan pandangan dari adiknya yang pucat pasi, seolah akan ada monster yang muncul dan menyakiti adiknya jika ia lengah satu detik saja. Ia bisa melihat ketakutan yang terbayang di mata si kecil Fritz, memantulkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya sendiri setelah menyaksikan serentetan teror yang terjadi kurang dari delapan jam yang lalu.

Kakak beradik itu menunggu selama lima belas menit sampai akhirnya pintu ganda yang penuh ukiran kuno pun terbuka. Sang Alfodr melangkah keluar dengan senyuman yang tampak ramah, namun Karl bisa merasakan tubuh adiknya berubah kaku, kedua tangannya yang kecil membentuk kepalan kuat dan mulai bergetar. Dengan gerakan tak kentara, Karl menepuk punggung Fritz perlahan. Lelaki yang lebih muda itu sedikit terlonjak karena sentuhan yang tiba-tiba, dan ketika ia menoleh pada Karl, kedua mata biru elektriknya meneriakkan kata-kata yang tidak bisa keluar. Namun Karl hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyum tipis yang menenangkan. Ia tahu betul dirinya tidak bisa menjanjikan segalanya akan baik-baik saja untuk Fritz, namun ia bisa meyakinkannya bahwa apapun yang akan terjadi di penghujung hari nanti, apapun yang akan diputuskan Sang Alfodr untuk mereka, keduanya akan tetap saling memiliki dan melindungi sampai akhir.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Gettyimages. Thanks!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s