Polaroid


polaroid

“Benda apa itu?” Kening kurcaci tua bernama Alfrigg itu berkerut dalam seraya melemparkan tatapan menuduh pada benda asing –asing baginya yang menghabiskan sepanjang hidup di ruang bawah tanah– yang sedang dibersihkan Luke dengan hati-hati.

“Ini kamera polaroid,” sahut Luke dengan sabar. Ia lalu menjelaskan kegunaan kamera yang baru saja dibelinya dengan harga sangat bagus di toko barang bekas langganannya dan menawarkan untuk memotret Alfrigg, yang langsung menggerutu panjang lebar tentang kesukaan Luke pada rongsokan buatan manusia.

 

Lelaki muda itu hanya membalasnya dengan senyum simpul, namun saat Alfrigg bertanya apa pentingnya foto-foto itu, Luke menjawab dengan sorot mata yang sukar diartikan. “Kau tahu, aku tumbuh besar tanpa kenangan manis, tanpa benda apapun yang bisa mengingatkanku pada orang tuaku. Seperti apa wajah mereka, seperti apa saat kami sedang tertawa bersama, kini hanya berupa bayangan samar di kepalaku,” ujarnya. “Jadi, aku tidak mau mengalami hal yang sama. Aku tidak mau menjadi tua tanpa bukti apapun bahwa aku pernah hidup bahagia bersama kalian semua sebagai satu keluarga.” Senyumnya terbit kembali di akhir kalimat. Ia kemudian bangkit dan menepuk tangan, berusaha menarik perhatian seluruh kurcaci yang sedang berkumpul di Aula sambil berseru riang, “Nah, ayo semuanya berdiri dan berjajar yang rapi! Waktunya berfoto!”

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari HD Wallpapers. Thanks!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s