Wound


bloodyknife

Karl menahan lengan Eira untuk menghentikan langkah gadis itu. Kedua mata biru gelapnya dipenuhi emosi yang menyala-nyala berpadu dengan kewaspadaan yang kentara. “Ingat semua yang sudah pernah kuajarkan. Serang dengan cepat, di titik yang tepat.”

Eira mengangguk seraya mencengkeram belatinya lebih erat. Ingatannya terbang kembali ke arena latihan, di tengah musim panas yang menyengat, saat Karl memarahinya karena salah mempraktikkan teknik sayatan terbalik yang baru saja diajarkannya. Ia menggerutu, mengulang-ulang terus instruksinya (Perpanjang tangan kanan! Putar telapak ke arah bawah sampai pisau membuat kontak dengan bagian tubuh lawan yang jadi sasaran! Putar pergelangan tangan! Tarik pisau dari kiri ke kanan dalam satu garis yang dalam! Jaga kontak pisau dengan tubuh lawan!), kemudian memberi isyarat pada Jayden yang menonton dari pinggir arena agar mengambilkan pisau sungguhan, yang paling tajam, untuk menggantikan pisau kayu berujung tumpul yang sejak tadi mereka gunakan.

 

“Kita mulai dari awal! Kalau tidak ingin terluka, kau harus menyerangku dengan cara yang benar!” tukas Karl memperingatkan sebelum mereka mulai beradu senjata, kali ini dengan sungguh-sungguh sampai Jayden berseru panik, mengingatkan supaya mereka tidak sampai saling membunuh. Latihan hari itu berakhir dengan luka-luka sayatan di sekujur tubuh keduanya, yang memerlukan satu jam ekstra sampai Eira selesai membersihkan dan mengobati seluruhnya. Meskipun kesal, tapi Eira diam-diam berterima kasih pada prajurit Aesir yang kejam dan tanpa ampun itu. Karena seperti yang dikatakan Karl sendiri bahwa rasa sakit adalah guru yang terbaik, hingga kinipun, setelah bertahun-tahun berlalu, Eira masih bisa mengingat setiap detail teknik yang diajarkan Karl hari itu.

“Eira, kau dengar aku?” Suara Karl terdengar lagi, membuyarkan kenangan dalam kepala Eira. Ketika gadis itu akhirnya mengangguk, iapun memberinya satu tepukan di bahu dan senyuman miring yang langka. “Jaga dirimu baik-baik dan buat aku bangga,” katanya sebelum memberi hormat ala prajurit dan menghilang dalam kegelapan malam.

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Resister in the Rockies. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s