Just One Day


Now playing: Just One Day – BTS

Mickey Minnie Mouse

Mereka bilang dunia berputar, segalanya selalu dan akan terus berubah. Bunga-bunga bermekaran di musim semi, daun-daun berganti warna dan meranggas di musim gugur, orang-orang berpikir dan bersikap dengan cara yang berbeda saat mereka tumbuh dewasa. Semua hal berubah, semua orang berubah. Kecuali satu yang dikenal Amanda sebaik ia mengenal pola dan garis di telapak tangannya sendiri.

Namanya Tyler Kim. Lelaki paling aneh dan menjengkelkan di dunia, sahabat sekaligus musuh nomor satu Amanda, yang tak pernah berhenti dirindukan dan dibencinya pada saat yang bersamaan.

Keduanya berkenalan pada hari pertama masuk sekolah menengah. Ketika itu, Tyler yang baru datang dari kampung halaman ayahnya di Daegu, Korea Selatan, menyapa Amanda yang duduk tepat di depannya dengan bahasa Inggris yang berantakan dan agak memalukan. Namun Tyler sangat percaya diri, senyum lebar tersungging di wajahnya selagi ia memperkenalkan namanya, tawanya terdengar renyah saat ia kehilangan kata-kata dan mulai menjelaskan maksudnya dengan gerak tubuh yang konyol. Amanda tahu lelaki itu akan menjadi teman yang tepat, pembawa tawa dan pelengkap baginya yang selama ini lebih banyak melewatkan waktu dengan menyendiri dan memasang tampang murung. Teman yang tepat, seandainya Amanda sanggup berada dekat dengannya, menerima semua keanehan dan tingkah konyolnya dengan hati lapang untuk waktu yang lama.

Awalnya Amanda tidak yakin. Berkali-kali ia dibuat kesal, bahkan menangis, karena sikap Tyler yang tidak pernah serius dan jahil luar biasa. Namun ternyata hingga lima belas tahun kemudian Amanda berhasil bertahan di sisinya, dan Tyler pun setia berada bersamanya. Meski ia sudah pindah kembali ke Korea untuk mengejar mimpinya menjadi penyanyi, debut dalam grup idola yang popularitasnya meroket cepat, dan amat jarang pulang ke Los Angeles untuk bertemu Amanda, tapi ketika ia kembali, Tyler tetaplah orang yang sama. Sedikitpun tidak berubah.

Tyler tetap orang yang lebih senang menghabiskan malam bersama seorang gadis cantik dengan bermain monopoli sambil minum bir dingin hingga ketiduran, bukannya melakukan hal-hal lain yang biasa dilakukan lelaki dewasa seusianya. Tyler yang jahil tetap membangunkan gadis yang tidur di sebelahnya dengan cara paling mengganggu, yang tidak pernah berubah selama selama bertahun-tahun: meniup rambut di sekeliling wajah gadis itu, memainkan bulu matanya dengan ujung jari, lalu menggelitikinya sampai ia membuka mata sambil marah-marah. Tyler tetap lebih suka memesan Happy Meal di McDonald’s hanya karena tertarik pada bonus mainan berbentuk karakter film Penguins of Madagascar yang sangat disukainya. Tyler tetap tipe yang senang merengek minta ditemani ke Disneyland di hari liburnya, karena ia ingin melepas lelah dengan berteriak dari atas roller coaster, bukannya tidur seharian atau pergi piknik atau berjemur di pantai seperti orang normal lainnya. Tyler tetap lelaki dewasa yang akan mampir ke mini market dalam perjalanan, bukan untuk membeli rokok tetapi permen lolipop stroberi yang rasanya asam luar biasa sebagai penawar rasa kantuk.

Dan yang membuat segalanya semakin sulit bagi Amanda, di luar sikap kekanakan yang seringkali menjengkelkan, Tyler adalah teman yang sangat penuh pengertian, tidak pernah meminta apalagi menuntut. Sehingga saat ia menelepon Amanda kemarin siang –tepat setelah ia mendarat di Los Angeles, pertama kalinya ia mendapat izin pulang dalam dua tahun terakhir– dan meminta Amanda, bahkan memohon, untuk meluangkan waktu untuknya satu hari saja, Amanda yang sibuk setengah mati dengan pekerjaannya di agensi iklan nomor satu pun tak sanggup menolak.

Setelah menginap dan tertidur di ruang tamu apartemen Amanda semalaman, gadis itupun menuruti rengekan Tyler dan pergi ke Disneyland. Mereka berjalan bersisian seperti dulu. Dengan tawa bersahutan dan tangan saling menggenggam, keduanya mencoba nyaris semua wahana sampai benar-benar kelelahan, sebelum akhirnya memutuskan untuk istirahat sebentar di gerai es krim favorit Tyler. Amanda mengira mereka akan segera pulang, tapi ternyata Tyler justru mengajaknya naik California Screamin’ sekali lagi.

“Tidak.” Amanda mengatupkan bibirnya dalam satu garis lurus dan menggeleng. “Lebih baik kau membunuhku saja daripada kita harus naik wahana sialan itu sekali lagi.”

“Tapi aku belum puas!”

“Kau naik saja sendiri. Aku tidak ikut.”

“Kalau begitu kau yang pilih,” ujar Tyler, masih berusaha membujuk dengan nada yang tak tertahankan. “Tidak harus roller coaster kalau kau takut.”

“Tetap tidak mau.”

“Amandaaa, ayolaaah…”

“Tyler, berhentilah merengek.”

“Bagaimana kalau Silly Symphony Swings?”

“Tidak.”

“Mickey’s Fun Wheel?”

“Baiklah, baiklah.” Amanda mendengus keras. “Tapi satu putaran saja.”

“Dua,” sambar Tyler dengan senyum ceria yang membuat wajahnya tampak seperti anak umur lima tahun.

“Tidak.”

“Ayolah…” Lelaki itu mulai merajuk lagi, sementara Amanda membelalakkan mata pada Tyler yang memandangnya dengan tatapan tak berdosa.

Tapi akhirnya iapun menyerah. Dalam lima menit, mereka sudah duduk berhadapan di dalam gondola sambil menyantap sisa es krim masing-masing. Gondola yang mereka tumpangi sudah setengah jalan menuju puncak ketika tiba-tiba Tyler tersenyum dan bertanya pada Amanda tentang sesuatu yang tak terduga.

“Hey, Amanda,” ujar Tyler dalam suaranya yang berat dan serak. “Apa kau bahagia?”

Amanda mengangkat alis. “Sekarang?”

“Hm-mm.”

“Tidak terlalu. Kau tahu aku tidak suka ketinggian…”

“Bukan itu maksudku.” Tyler melepaskan tawa kecil yang tak sampai ke mata. “Aku bertanya tentang hidupmu. Apa kau bahagia?”

“Kurasa… ya,” sahut Amanda. Kedua alisnya masih terangkat, heran pada pertanyaan Tyler yang aneh, namun lelaki itu hanya tersenyum. “Jadi, apa maksudnya pertanyaan tadi itu?”

Namun Tyler tetap tak memberinya jawaban. Ia menatap ke dalam mata abu-abu Amanda selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, kemudian menunjuk ke arah salah satu gedung, sepertinya masih di dalam kompleks Disneyland tapi Amanda tidak bisa mengenali gedung apa itu. Ada layar besar di bagian atasnya, semacam papan iklan yang menayangkan tulisan aneh yang tidak dimengerti Amanda.

“Dibaca kkok haengbok haeya haeyo.” Tyler menjelaskan seolah bisa membaca pikiran Amanda.

“Artinya?”

“Kau harus bahagia.”

“Apa?”

“Tulisan itu berarti ‘kau harus bahagia’,” sahut Tyler. Kedua matanya yang segelap malam masih terpancang pada huruf-huruf raksasa berwarna hijau itu. “Aku ingin kau bahagia, Amanda.”

“Kau yang menuliskannya di sana?” Amanda menatap lelaki di hadapannya dengan mata melebar tak percaya.

“Hm-mm. Aku yang memesan agar tulisan itu ditampilkan di sana,” ujar Tyler. Senyuman sudah kembali menghiasi wajahnya saat ia memandang Amanda. “Tidak usah terharu begitu. Anggap saja itu hadiah pernikahanmu.”

Kata-kata itu diucapkan dengan begitu santai, namun Amanda tidak bisa mengendalikan hatinya. Mendadak ia merasa gemetaran.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.

“Ibumu meneleponku saat kalian sudah menentukan tanggal,” jawab Tyler.

Selama sedetik, Amanda yakin bisa mendengar nada ganjil yang menggema bersama kata-kata Tyler. Ada kesedihan di sana. Penyesalan. Duka. Kemarahan. Dan hati yang patah.

Namun ketika Amanda mengerjap kembali, lelaki itu sudah menampilkan senyuman riang yang biasa, menatap Amanda seolah ia sedang gembira, dan nada aneh dalam suaranya sama sekali tak meninggalkan jejak. Tapi berlawanan dengan Tyler di hadapannya, Amanda lah yang kini justru merasa separuh hatinya jatuh ke tanah yang jauh di bawah dan remuk untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan.

Mereka bilang hati manusia akan selalu berubah. Pertemuan, perpisahan, jarak, dan waktu akan mengubah segala perasaan. Tapi entah kenapa, hukum yang sama tak pernah berlaku untuk hatinya. Bertahun-tahun sudah terlewati, banyak hal telah terjadi, namun perasaan Tyler tetap saja sama. Mulanya ia mengira perasaannya, cintanya, adalah pusat dari dunianya. Ia mengira segalanya akan berjalan sesuai yang ia inginkan, bahwa ia akan bisa menggapai apapun selagi masih bisa merasakan cinta.

Namun seluruh teori dan hatinya runtuh seketika saat ia mendapat telepon dari Jeane Lowrey, ibu Amanda, yang mengabarkan dengan riang bahwa putri sematawayangnya akan segera menikah dengan lelaki yang bahkan selama ini keberadaannya tidak pernah diketahui Tyler. Jeane mengira Tyler akan ikut gembira mendengar kabar itu dan iapun mengundang Tyler untuk datang, karena menurutnya Amanda pasti akan sangat senang jika sahabatnya bisa mendampingi di hari pernikahannya. Saat itu Tyler hanya berkata ia akan mengusahakan, tapi jauh di dasar hatinya, lelaki itu tahu dirinya tak akan sanggup melihat Amanda melangkah ke altar bersama laki-laki lain. Tidak akan pernah sanggup.

Setelah menghabiskan dua minggu dalam penyesalan yang tak kunjung habis, Tyler akhirnya memutuskan untuk pulang tepat satu minggu sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Ia pulang untuk menghabiskan satu hari terakhir bersama Amanda, untuk merayakan cintanya yang tidak akan pernah berbalas.

“Tyler.” Suara Amanda tercekat. Lirih dan sarat akan kesedihan. “Maafkan aku. Seharusnya aku yang memberitahumu. Kupikir…”

“Tidak apa-apa, siapapun yang memberi tahu tidak masalah,” sahut Tyler seraya melambaikan tangannya. “Lagipula kau pasti sedang sangat sibuk mengurus persiapan.”

“Aku sungguh-sungguh minta maaf.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa.”

“Maaf.”

Tyler mengangkat alis. “Untuk apa maafmu ini sebenarnya?”

“Aku…” Amanda tampak ragu sejenak. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahannya di ujung lidah. “Entahlah. Kau kelihatan tidak bahagia.”

“Aku bahagia.” Tyler memberinya senyuman lebar yang diusahakan setengah mati agar tampak meyakinkan. “Asalkan kau berjanji padaku; bahagialah, Amanda.”

Selama beberapa detik, Tyler bisa melihat kata-kata tak terucapkan melintas di kedua mata yang begitu dikenalnya itu. Ia menunggu, berharap Amanda akan mengatakan sesuatu, apapun, yang mungkin bisa menyelamatkan sisa-sisa hati Tyler yang sudah remuk menjadi serpihan kecil.

Namun lagi-lagi Amanda tampak menahan diri, dan pada akhirnya ia hanya mengangguk dan tersenyum masam. “Tentu saja.”

Itu saja jawabannya, dan mereka pun melewatkan putaran kedua Mickey’s Fun Wheel dalam keheningan total. Udara seolah membeku di sekeliling keduanya, hingga akhirnya Tyler mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Amanda dan tak melepaskannya lagi sampai mereka kembali menginjak tanah, bahkan di perjalanan pulang hingga tiba di apartemen Amanda.

Mereka saling mengucapkan kata perpisahan sebelum Tyler menarik tubuh Amanda ke dalam pelukannya, mengecup ubun-ubunnya, meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam pernikahannya, mengucapkan selamat dengan getir, diikuti rasa terima kasihnya dalam satu bisikan, untuk satu hari yang begitu berharga, penuh tawa dan hati yang retak, penuh syukur dan sesal. Satu hari yang tanpa sadar diberikan Amanda untuk dikenang Tyler selamanya.

H-1 pernikahan dan aku masih sempat nulis beginian. Angst pula. Entah harus bangga atau kesal sama diri sendiri :))

Foto dalam tulisan ini dipinjam dari Radio Disney Club. Thanks!

Advertisements

3 thoughts on “Just One Day

  1. MeiszAdilla says:

    Hay mba, first stop at ur blog. Pertama kali kepo liat dekor acara wedding di gang sebelah kece banget dan akhirnya kepo mau nyari calon mantennya hahhahha. Sakinnah, mawaddah, dan warahmah ya mba :) Happy wedding! *eh aku pelanggan setia kolondjono juga ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s