[PREGNANCY] My First Trimester


Dua tulisan dalam satu hari! Nggak pa-pa ya, daripada ditunda nanti lupa lagi :)) Seperti janjiku, aku mau berbagi pengalaman tentang keluhan-keluhan yang kurasakan selama trimester pertama (bulan 1-3) kehamilanku ini. Buat dibaca-baca suatu hari nanti, atau waktu hamil lagi. Lebih senang kalau bisa membantu dan semoga melegakan bumil yang sedang menghadapi keluhan yang sama.

1. Mual dan muntah

Katanya, ini keluhan normal yang dialami sebagian besar ibu hamil akibat perubahan hormon. Tapi kok gini banget rasanya… :((( Mualku dimulai sekitar minggu ke-6, disertai muntah yang menyakitkan, bahkan kadang sehari sampai 2x jackpot. Mualnya pun dimana-mana, sama sekali nggak kenal tempat dan waktu, meski muntahnya masih terkontrol sih, khusus di toilet rumah aja. Nafsu makanku sempat anjlok ke titik terendah dan rasanya nyaris nyerah, sebelum akhirnya berhasil menguatkan diri demi si kecil kesayangan. Sampai sekarang aku masih merasa mual lho. Tapi sejak minggu ke-12, mual ini kujadikan pertanda bahwa aku (dan bayiku) lapar dan harus segera makan. Atau kadang mual disertai gejala mau muntah justru membantuku saat susah sendawa.

Kata dokter: Normal, tentunya. Dokterku nggak ngasih vitamin apapun untuk menambah nutrisi atau nafsu makanku waktu itu, karena katanya percuma. Mual dan muntah memang harus dirasakan, dinikmati, dan dilawan sebisanya, sampai lewat sendiri masanya.

Solusiku: Sebagai calon ibu yang sudah bertekad mau bertanggung jawab, aku berusaha sebisaku. Setelah muntah, langsung makan lagi, pokoknya jangan sampai perut kosong karena biasanya justru bikin tambah mual dan mau muntah lagi. Waktu mual sedang parah-parahnya, aku makan apapun yang aku suka dan bisa tertelan. Pokoknya tekadku: jangan sampai lemas, pingsan, dan dehidrasi.

Aku juga sempat mencoba segala cara yang ada di internet dan buku panduan ibu hamil, mulai dari makan dengan porsi kecil, minum air hangat, ngemil setiap bangun tidur… tapi nggak ada satupun yang mempan. Mungkin berbeda ya untuk setiap orang. Tapi akhirnya yang menguatkanku justru kata-kata seorang teman yang sudah pernah hamil, “Mau diapain aja tetep mual, Yu. Udahlah. Ambil aja positifnya, kalau mual berarti tandanya kehamilan dan kandunganmu berkembang sehat.” Mempan banget! Kujadikan kata-kata itu semacam sugesti, supaya ada sedikit kebahagiaan yang menyisip di antara penderitaan karena mual dan muntah :D Solusi lainnya yang lumayan religius, setiap kali mual kuelus-elus perut dan kubacain Ayat Kursi, lalu kuajak ngobrol bayiku supaya kami bisa saling membantu, nyaman, dan aman dalam proses kehamilan ini. Alhamdulillah manjur!

2. Lambung perih dan panas di ulu hati

Lambung perih ini munculnya bebarengan dengan mual, sehabis muntah biasanya jadi semakin parah. Nggak tau apa ini memang salah satu efek hormon atau karena riwayat maag akutku, yang jelas sakitnyaaaa… nggak kuat. Sedangkan panas di ulu hati kurasakan sekitar minggu terakhir trimester pertama, menyebar sampai dada dan lumayan meresahkan, karena sebelumnya aku sama sekali belum pernah mengalami yang semacam ini.

Kata dokter: Aku nggak sempat tanya dokter tentang kedua keluhan ini, tapi menurut artikel yang kubaca, maag memang bisa terpicu kalau kita mual dan muntah terus. Tips mengurangi sakit maag pada ibu hamil bisa dibaca di sini. Sedangkan panas di ulu hati atau heartburn terjadi karena makanan yang sudah berada di dalam lambung terdesak ke arah kerongkongan akibat rahim yang semakin besar. Lengkapnya bisa dibaca di artikel ini.

Solusiku: Kuatkan diri. Haha… Habis mau gimana lagi, nggak ada yang bisa dilakukan karena keduanya sepertinya gejala yang biasa dirasakan bumil. Aku nggak minum obat dan cuma berusaha supaya nggak kelaparan, jangan sampai telat makan, menghindari makanan asam, dan cara-cara lainnya yang biasa kulakukan mencegah maag kambuh. Untuk heartburn, begitu tau itu wajar, aku langsung lega dan berusaha menikmati rasa sakitnya, biarpun susah.

3. Sensitif dengan bau dan wangi-wangian

Indra penciumanku kayaknya jadi makin sensitif sejak hamil. Suami habis merokok pun baunya bisa tercium dari jauh, padahal dia udah berusaha menyembunyikan dengan segala cara :D Apalagi terhadap bau menyengat lainnya, misal bau bangkai di rumah tetangga, bau got, bau sampah, bau WC umum, semakin dan semakin memicu mual. Aku juga sempat dibuat mual berat dan nggak doyan makan gara-gara aroma masakan yang terlalu berbumbu, dan… wangi deodoran dan parfum suami.

Kata dokter: Soal ini juga aku nggak tanya dokter, karena sudah pasti normal.

Solusiku: Menghindari sumber bau yang nggak kusuka, menolak makan masakan yang aromanya aja udah bikin mual, dan kabur sejauh-jauhnya waktu suami mulai semprat-semprot deodoran dan parfum. Ada satu parfumnya yang aku bener-bener nggak tahan yang akhirnya kuharamkan untuk dipakai :D

4. Moody dan sensitif

Keluhan yang satu ini juga sepertinya dialami oleh sebagian besar ibu hamil. Gampang marah, gampang sedih, gampang tersinggung, dan untuk kasusku, gampang banget nangis. Nonton Upin Ipin aja nangis kejer sampai 30 menit. Nggak jarang juga aku nangis sehabis ditinggal suami ngantor seolah aku ini wanita paling menderita di dunia.

Kata dokter: Tanpa ditanya, dokter sendiri yang langsung bilang sama suami tentang gangguan mood ibu hamil yang satu ini. Katanya normal dan udahlah diturutin aja, daripada makin jadi kalau diladenin.

Solusiku: Mengkomunikasikan soal ini sama suami, supaya nggak jadi ribut besar. Awalnya suami agak susah terima, terutama kalau dia baru pulang kantor dalam kondisi capek dan istrinya ngerengek-rengek. Tapi lama-lama suamiku maklum dan malah cenderung memanjakan :))

5. Sembelit

Sejak hamil, aku dihantui sembelit yang menjengkelkan. BAB bisa tertunda 4-5 hari sekali, itupun penuh usaha dan perjuangan. Dari banyak artikel yang kubaca, sembelit memang normal dialami bumil, tapi ya rasanya memang nggak enak. Perut jadi penuh, begah, bahkan aku sempat merasa mau gerak aja susah.

Kata dokter: Normal, disebabkan gerak usus yang melambat selama hamil atau semacamnya lah, aku nggak terlalu yakin penyebabnya. Tapi dokterku menyarankan aku makan buah atau minum jus buah, ditambah yakult supaya BAB nggak keras dan menyakitkan.

Solusiku: Buah, jus buah, dan yakult. Manjur lho. Perlahan-lahan keluhan sembelit mulai berkurang, sejak minggu ke-14 sudah mulai jauh lebih lancar, tapi… maaf, feses yang keluar kenapa warnanya kehitaman?! Oho, coba periksa vitamin yang dikasih dokter, kandungan Zat Besi ternyata yang mengakibatkan warna tsb. Normal, bumil, normal. Jangan panik :)

6. Gampang capek dan lemas

Aku yang dulunya anak mall, mendadak cuma tahan 30 menit sampai 1 jam jalan-jalan di mall. Setelah itu pinggang pegal, lemas, bahkan sempat kunang-kunangan disertai mual parah. Pernah suatu hari, lagi di rumah aja nih, tiba-tiba pandanganku gelap selama 5 detik cuma karena aku berusaha jalan ke kamar mandi.

Kata dokter: Ya jangan capek-capek. Ibu hamil harus tahu diri, harus bisa mengukur kemampuan tubuhnya supaya nggak kecapekan dan berdampak negatif pada janin. Untuk keluhan kunang-kunangan, dokter bilang itu karena gula darahku drop. Disarankan untuk minum teh hangat manis kalau sudah begitu, usahakan jangan sampai pingsan.

Solusiku: Lagi-lagi aku selalu berusaha mengkomunikasikan sama suami setiap kali merasa capek, supaya cepat pulang atau paling nggak cari tempat duduk. Teh hangat juga sangat membantu untuk masalah kunang-kunang.

7. Celana mulai sempit

Sampai minggu ke-16 ini, perut hamilku belum terlalu kelihatan kalau nggak diperhatikan, tapi nyatanya sudah banyak celana, rok, dan dress yang nggak muat. Bye-bye celana jins sobek-sobek kesayangan dan rok mini kesukaan suami yang pinggangnya ketat! Selain itu, beberapa bra juga sudah mulai menyesakkan kalau dipakai setelah makan.

Kata dokter: Nggak tanya, tapi mestinya normal ya, namanya juga hamil kan :D Tapi, sempitnya celana ini berkaitan dengan perut yang melar. Jadi, kata dokter, kalau perut mulai gatal JANGAN DIGARUK dan oleskan minyak zaitun murni secara teratur di perut, paha, dan pantat.

Solusiku: Untuk celana dalam, sementara kusisihkan dulu yang pinggangnya terlalu kencang. Aku juga belanja beberapa celana baru, bukan celana dalam bumil, tapi celana dalam borderless dari Wacoal yang super nyaman dan tetap bisa digunakan setelah hamil nanti. Sedangkan untuk jins, rok, dan dress yang sudah kesempitan terpaksa kusingkirkan dulu daripada nggak nyaman. Untuk bra, aku belum belanja yang baru. Cuma beli bra extension dari Wacoal yang sementara ini masih bisa menolong. Minyak zaitun baru mau kucoba hari ini, karena sejak beberapa minggu lalu aku masih berusaha pakai baby oil dan bedak Caladine supaya nggak gatal.

8. Ngantuk terus tapi mimpi buruk saat tidur

Keluhan ngantuk terus ini sudah kualami sejak sebelum hamil, semakin parah sejak hamil. Setiap habis siapin bekal sarapan dan dadah-dadah sama suami waktu berangkat kantor, bawaannya selalu pengen tidur lagi. Walaupun katanya nggak boleh tidur lagi sebelum matahari naik, tapi aku sering banget nggak tahan. Nyebelinnya, kalau udah tidur, bukannya nyenyak malah mimpi buruk. Lebih parah waktu tidur malam, dan biasanya mimpinya seputar hal buruk yang terjadi pada bayi dan suami.

Kata dokter: Nggak tanya ah, malu :D Tapi dari buku panduan ibu hamil yang kubaca, mimpi buruk adalah salah satu sindrom yang wajar. Malah ada bumil yang menjelang persalinan makin mimpi buruk karena banyak kekhawatiran yang tersimpan di alam bawah sadar.

Solusiku: Berusaha keras nggak tidur lagi sebelum jam 9. Yah, walaupun sampai sekarang masih sekedar usaha :D Untuk mimpi buruk, aku selalu baca segala macam doa sebelum tidur dan ambil posisi rapat ke arah suami supaya lebih tenang.

9. Nyeri hebat di perut bagian bawah

Rasa nyeri ini sebenarnya baru kualami menjelang minggu ke-14, tapi nggak apa ya ditambahkan, nanti keburu lupa :)) Sakitnya minta ampun, seperti nyeri infeksi saluran kencing atau gejala usus buntu, tapi datangnya sebentar, pindah-pindah dari kiri ke kanan, dan sulit ditebak kapan dan dalam posisi apa nyerinya menyerang. Kadang aku kesakitan waktu posisi tidur, tapi pernah juga lagi di supermarket mendadak muncul nyeri seperti ditusuk yang hilang dalam 10 detik. Beberapa kali malah rasa nyeri ini tembus sampai ke belakang, alamak…

Kata dokter: Itu normal. Karena rahimku sedang membesar, jadi tubuhku pun menyesuaikan diri dengan bentuk baru si rahim. Katanya nanti bisa jadi lebih sakit lagi kalau kandungannya sudah lebih besar, tapi semoga enggak ya.

Solusiku: Begitu terasa sakit, istirahat. Sebaiknya berbaring, tapi kalau sedang nggak di rumah, bilang pada partner jalan-jalanmu untuk cari tempat duduk. Untuk kasusku, 15-20 menit duduk sudah cukup untuk mengusir rasa sakitnya.

Nah, sekian dulu curhatan panjangku tentang keluhan selama trimester pertama kehamilan ini. Nanti kuceritakan kalau ada hal-hal seru lainnya. Yang jelas, apapun keluhan yang kita rasakan, tetap nggak boleh lupa untuk bahagia. Karena kunci tubuh yang sehat adalah hati yang bahagia. Ibu yang sehat dan bahagia, tentunya akan melahirkan anak-anak yang sehat dan bahagia juga :)

PS: Tulisan ini terinspirasi oleh postingan Andra Alodita, salah satu blogger favoritku yang juga lagi hamil. Baca tulisannya di sini: PREGNANCY POST: THE FIRST TRIMESTER (1-3 MONTHS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s