[PREGNANCY] The Journey


testpack+credit-15x15cm

Aloha!

Senangnya, akhirnya blog ini tersentuh lagi, setelah terakhir kali posting cerpen angst H-1 pernikahan, lalu aku disibukkan dengan aktivitas ini-itu (yang didominasi acara jalan-jalan dan belanja-belanja sama keluarga, karena suaminya langsung kembali ke Bandar Lampung tempatnya kerja persis sehari setelah pulang honeymoon), dan mendadak… datanglah kabar bahagia yang tidak disangka tepat 2 minggu setelah nikah!

Kaget.

Shock berat.

Percaya-nggak-percaya.

Terbelah antara mau ketawa atau mau nangis, yang akhirnya malah nangis karena bingung, setelah suatu pagi aku mencoba pakai testpack untuk pertama kalinya dan yang muncul adalah dua garis: satu merah terang dan satu merah muda samar-samar. Sebenarnya hari itu aku baru telat 1 hari dan merasa belum perlu tes, tapi ibuku yang sepertinya sudah punya feeling, terus ngejar-ngejar karena di hari itu juga aku harus terbang ke Jakarta, untuk lanjut jalan darat ke rumah mertua di Bogor, dan besoknya naik mobil ke Bandar Lampung bareng mertua dan adik ipar demi mengunjungi suami. ‘Orang hamil muda kan bahaya kalau kecapekan dan harus perjalanan jauh berjam-jam lewat jalan darat yang kemungkinan besar keriting dan rusak-rusak,’ kira-kira begitulah kekhawatiran ibuku. Apalagi aku memang sedang dalam kondisi kecapekan banget, karena setelah nikahan (yang menguras tenaga dan emosi) langsung berangkat honeymoon ke Bali, pulang sehari, besoknya ke Surabaya naik kereta, istirahat sehari dan langsung harus berangkat lagi ke Jakarta.

Akhirnya aku memutuskan untuk telepon suami yang juga shock, dan setelah konsultasi dengan mertua, akupun dibelikan tiket pesawat dari Jakarta ke Bandar Lampung supaya nggak usah lewat jalan darat yang keriting. Tapi ternyata solusi itupun belum menyelesaikan masalah, karena aku sempat keluar flek beberapa hari sebelum hari testpack, jadi ibuku berat melepaskan aku pergi ke Jakarta. Maunya di rumah aja, ke dokter kandungan, lalu bedrest total kalau beneran hamil.

Singkat cerita, setelah ribut-ribut dan banjir air mata, akhirnya atas dorongan suami dan bapak yang berpikir logis, akupun tetap berangkat. Capeknya jangan ditanya, dan si flek pun keluar lagi tepat ketika aku mendarat di Bandar Lampung. Untungnya suami sudah daftarin aku ke dokter kandungan, dan kami meluncur segera dengan perasaan harap-harap cemas.

Tapi dasar nasib, mungkin harus ‘diuji’ dulu nih calon orang tua baru ini supaya seru ceritanya, kami ketemu jenis dokter yang sebaiknya dijauhi wanita-wanita yang baru pertama kali hamil: jujur, tapi kurang memikirkan perasaan pasien. Pada kunjungan perdanaku itu, si dokter bilang aku harus bedrest total selama 2 minggu, karena sempat ada flek dan kalau nggak dipakai istirahat aku bisa pendarahan, keguguran, harus dikuret, dan dilanjutkan istilah-istilah mengerikan lainnya yang bikin lututku (dan suami, pasti, cuma dia sok cool aja) langsung lemas total. Yang bikin lebih stres lagi, menurut hitungan dokter, pada tanggal itu seharusnya kandunganku sudah berusia 4 minggu dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), yang mana seharusnya udah kelihatan kantong janinnya. Tapi setelah USG 2x dengan cara biasa dan yang menyakitkan, rahimku ternyata kosong-kosong aja, cuma ada penebalan dinding rahim. Semakinlah aku ketakutan, pikiran buruk merajalela di kepala, takut ini-itu yang berujung pada mewek semalaman di pelukan suami. Tapi bersyukur banget, malam itu kami berhasil sepakat untuk mengubah rencana liburanku ke Bandar Lampung jadi pindah permanen supaya aku bisa bedrest total sesuai saran dokter. Berbekal baju satu koper aja, aku membulatkan tekad untuk pindah demi kesehatan kandunganku. Jalan hidup manusia memang sudah diatur Allah, termasuk kehamilan ini, tapi aku bertekad untuk menjaga. Perkara nanti ‘jadi’ beneran atau nggak, aku dan suami berusaha pasrah dan insya Allah ikhlas.

Beberapa hari kemudian kami pindah ke kos yang lebih besar dan nyaman, tapi satu per satu keluhan hamil pun mulai terasa. Awalnya nyeri di perut bawah, kadang di kanan lalu pindah ke kiri. Kami ke dokter dan katanya nggak apa-apa, mungkin karena aktivitas aja. Akhirnya kulanjutkan bedrest, sampai keluhan hamil lainnya muncul satu per satu. Apa aja yang kurasakan, sebentar lagi kupaparkan ya di postingan berikutnya. Buat dibaca-baca lagi suatu hari nanti, dan siapa tau bisa membantu ibu hamil lainnya yang sedang menghadapi keluhan yang sama.

Sekarang, kandunganku sudah masuk usia 16 minggu. Rasanya seperti keajaiban, setelah jatuh bangun, flek berkali-kali, ganti dokter sampai 3x, perang batin, berantem-berantem sama suami dan orang tua karena ini itu… akhirnya, alhamdulillah, dengan izin Allah bayiku bisa bertahan dan tumbuh sehat dan kuat sampai detik ini. Aku (dan suami) mulai sangat, sangat menikmati kehamilan ini, yang tadinya shock, berubah jadi rasa syukur yang nggak habis-habis. Aku juga mulai bisa melakukan lebih banyak usaha untuk bonding dan menstimulasi bayiku sejak di dalam kandungan. Doakan ya semoga kami berdua, bertiga dengan suamiku, selalu sehat dan kehamilan ini lancar, aman, dan nyaman sampai proses persalinan :)

PS: Untuk teman-teman yang di Bandar Lampung dan sedang bingung cari dokter kandungan, sebagai info, aku ‘menetap’ pada dr. Elysawati Shinta, Sp.OG yang praktik di RSIA Santa Anna dan Apotik Kita. Sangat direkomendasikan untuk bumil yang baru pertama kali hamil, atau bumil dengan tingkat kekhawatiran akut, karena dr. Elysa sangat tenang, menenangkan, dan nggak pelit info kalau kita banyak bertanya.

Foto ilustrasi dalam tulisan ini dipinjam dari Parentables. Thanks!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s