[PREGNANCY] 19+ Weeks


Halo, salam bumil! :D Aku datang lagi membawa curhatan dan cerita serunya kehamilan pertamaku yang hari ini berusia 19 minggu lebih 4 hari, alias hampir 5 bulan. Nggak habis-habis aku bersyukur karena Allah sayang banget sama aku dan suami. Setelah jatuh bangun di awal, kami berhasil melewati setengah perjalanan menuju kelahiran si kecil kesayangan, dan hasil USG bayi kami kemarin juga alhamdulillah sehat. Panjangnya sudah 14,06 cm dan beratnya 300 gr. Denyut jantung juga baik. Meski ada beberapa kendala yang kurang mengenakkan, tapi tetap semangat dan bahagiaaaaa~

1. Kulit perut gatal dan ‘retak-retak’

Keluhan ini diawali dengan kulit perut yang terasa kencang dan kaku sekitar minggu ke-14 kehamilanku, dan bertambah parah 2 minggu terakhir, ditambah gatal-gatal, rasa clekit-clekit, permukaan kulit yang kelihatan super kering macam kanebo yang habis dijemur, dan yang terakhir, yang paling bikin galau sampai nggak bisa tidur adalah pola-pola ‘retakan’ di hampir seluruh permukaan kulit perut. Mirip pola kulit jerapah tapi kecil-kecil gitu. Hiks.

Kata dokter: Dokterku sudah menyarankan pakai minyak zaitun murni sejak masuk trimester 2 untuk mengurangi gatal. Dan haram hukumnya menggaruk area yang gatal karena katanya nanti bekasnya nggak bisa hilang.

Solusiku: Berhubung aku takut salah beli minyak zaitun yang dimaksud dokter, akhirnya si minyak terpaksa dikirim ibuku dari Jogja. Brand yang aku pakai La Rambla (Extra Virgin Olive Oil Special Coupage). Aku nggak terlalu paham urusan perminyakan, tapi kata ibu, brand itu bisa dipakai apa aja mulai dari masak, bumbu salad, sampai oles perut. Awalnya aku pakai sedikit dulu, tapi lama-lama makin banyak dan merata ke perut, pinggul, pantat, dan dada. Aromanya nggak mengganggu dan cepat menyerap, jadi nggak masalah kalau dipakai sebelum pergi.

Bagian paling menyiksa adalah saat kulit mulai terasa clekit-clekit. Perih banget kalau dipakein minyak, tapi kalau nggak dipakai makin cemlekit. Akhirnya, saat keluhan tidak tertahankan dan muncul pola retak jerapah, ibu menyarankan untuk pakai Bach Flower Rescue Cream bergantian dengan minyak zaitun. Memang enak banget, mendinginkan dan meredakan cemlekit dan gatal meski kulit jadi agak kering di berbagai sisi perut. Tapi setelah 3 hari pemakaian BF Rescue Cream, mendadak kulit perutku (semuanya!) semacam mengelupas waktu kena air mandi. Aku yang tadinya mengira itu semacam kotoran, dengan santainya gosok-gosok aja sambil pakai sabun. Alangkah kagetnya ketika balik ke kamar dan ngaca, kulitku bener-bener seperti baru dan pola retak jerapah pun udah hilang!

Produk ketiga yang kupakai untuk mengantisipasi gatal, cemlekit, dan stretch mark adalah Buds Nurturing Organics Stretch Mark Prevention Cream yang kubeli online via Baby Empire Shop. Wanginya manis banget dan lebih lengket dibanding minyak zaitun dan Rescue Cream, jadi cuma perlu dioles sekali untuk kelembaban sekitar 3-4 jam. Reviewnya sih bagus, semoga manjur buatku ya :)

2. Nggak doyan makan nasi

Sekitar minggu ke-16 atau 17, keluhan mual sempat datang lagi. Bahkan disertai muntah sekali. Untungnya bisa teratasi dengan cepat karena udah pengalaman sebelumnya. Tapi hasilnya sampai sekarang aku nggak doyan makan nasi, kalaupun makan biasanya nggak sampai 10 suap.

Kata dokter: Nggak sempat tanya dokter soal ini.

Solusiku: Karena nutrisi harus tetap terpenuhi dan perut tetap harus kenyang supaya nggak kena maag, aku berusaha mengenyangkan diri dengan lauk sebanyak-banyaknya. Di jam tanggung, aku banyak ngemil buah, bikin jus, bahkan bikin sari kacang hijau sendiri. Alhamdulillah berat badan bayi cukup :)

3. Perut terasa kedutan kecil

Rasa kedutan lucu ini kurasakan sejak sekitar minggu ke-15, lebih terasa saat berbaring terlentang. Awalnya kupikir perutku krucuk-krucuk biasa karena lapar, tapi setiap kedutan itu terasa kok jadi agak mual seperti ada benda yang bikin gerakan di perut? Setelah browsing dan tanya teman yang lagi hamil juga, ternyata kedutan itu bisa jadi bayinya lagi bergerak!

Kata dokter: Waktu USG kemarin, dokter sempat tanya sudah kerasa gerak belum. Kujawab kerasanya kok kedutan, dokter bilang, “Ya itu, rasanya bisa macam-macam.” Jadi kusimpulkan bahwa yang terasa itu beneran gerakan bayi.

Solusiku: Seneng banget! Aku jadi rajin elus perut di bagian kedutan setiap kali terasa, sambil menyapa si bayi supaya tenang dan tau kalau ibunya ada di dekatnya.

4. Rajin ngomong sendiri

Berkaitan dengan kedutan lucu di perut itu, aku jadi semakin sering ngajakin ngomong bayiku. Mulai dari baca doa, harapan, sampai curhat. Kadang suami pun sering kuminta cerita sama bayinya tentang kegiatan yang dia lakukan di kantor seharian.

Kata dokter: Yang menyarankan untuk ngobrol dengan calon bayi bukan dokter, tapi salah satu bidan kenalan ibuku di Jogja yang mendalami teknik hypnobirthing. Katanya baik untuk menjalin ikatan emosional antara anak, ibu, dan ayahnya juga sejak dalam kandungan.

Solusiku: Lakukan terus. Pagi, siang, sore, bahkan malam waktu susah tidur. Aku juga rajin bacain buku cerita dan kasih dengar musik klasik. Harapannya supaya si bayi bisa tumbuh pintar dan cerdas, dan tau bahwa orang tuanya ada, dekat, selalu menemani, sayang, dan bersyukur sekali atas kehamilan ini. Alhamdulillah cara ini juga membantuku mengatasi mual, memberi semangat untuk diri sendiri, dan nggak lagi merasa sendirian di saat-saat yang berat.

5. Celana semakin dan semakin sempit

Akhirnya, setelah beberapa bulan di awal berat badanku menetap di angka yang sama sejak sebelum hamil, sekarang sudah berhasil naik 1,5 kg. Perut pun sudah semakin maju dan semakin banyak celana yang kesempitan.

Kata dokter: Dokter nggak ada komentar tentang berat badan dan bentuk tubuhku sejauh ini, jadi semestinya masih normal ya.

Solusiku: Soal celana ini akhirnya kuputuskan untuk menyerah, karena nggak bisa dipaksain lagi dan malah jadi nggak bisa tidur setiap kali coba pakai celana dalam atau boxer yang sudah kesempitan. Tapi karena aku tetap belum mau beli baru, jadi sementara pakai yang muat dulu aja, dan boxer… lupakan deh, mari kita kembali kepada daster :D Berkaitan dengan berat badan, aku berniat hamil sehat, kuat, aman, nyaman, tapi tetap cantik dan langsing. Hihihi bisa nggak ya? Semoga usaha mengganti cemilan berlemak dan roti dengan buah-buahan bisa berhasil mendapatkan berat badan bumil yang ideal.

6. Boy or girl?

Dokterku sudah 2x menebak jenis kelamin si bayi sejak sekitar minggu ke-12, tapi karena masih diumpetin jadi aku dan suami masih belum yakin. Barulah kemarin ketahuan dengan jelas. Insya Allah bayiku perempuan! :D Memang sudah beberapa minggu terakhir ini, entah tersugesti kata dokter atau memang feeling, setiap kali menyapa si bayi aku selalu kelepasan ngomong, “Anak mama yang cantik…” Hihihi ternyata… :)

7. Flek dan diagnosa plasenta previa

Kabar buruk di antara kabar baik yang membuat hati berbunga. Kemarin pagi mendadak aku menemukan flek coklat muda saat bangun tidur. Setelah ngobrol sama suami, diputuskan untuk menunggu sampai siang. Kalau masih ada flek lagi, kita ke dokter. Tapi kalau nggak, mungkin cuma cairan/lendir yang berubah warna. Sayangnya, sekitar jam 10an keluarlah flek segar yang warnanya masih coklat dan semakin banyak. Nggak pakai nawar lagi, langsung kutelpon dokter untuk daftar.

Aku sempet dibuat ketakutan setengah mati gara-gara iseng browsing penyebab flek di bulan ke 4-5 kehamilan. Ngeri-ngeri banget. Dan setelah sampai dokter, ditanya apa aku kecapekan (nggak, malah 2 hari sebelum flek sama sekali nggak keluar rumah), apa ada rasa nyeri (nggak juga), atau keluhan lain (nggak ada, aku malah sedang seger-segernya). Akhirnya USG dan dokter bilang plasentaku letaknya di bawah dan menutupi jalan lahir, bahasa kedokterannya plasenta previa.

Kata dokter: “Nggak perlu panik dan takut, karena usia kandungannya masih kecil, jadi masih ada harapan untuk plasenta berkembang bersama bayi dan kembali ke posisi normalnya.” Tapi memang bumil dengan plasenta previa ini jadi lebih rawan flek dan pendarahan, jadi aku harus:

– Istirahat, tenangkan pikiran dan tubuh, jangan stres

– Mengurangi aktivitas berat, mengurangi jalan-jalan yang nggak perlu, jaga diri jangan sampai kecapekan, menghindari kontraksi, terutama saat flek

– Minum obat Hystolan, setengah tablet 2x sehari

– Dilarang olah raga dulu. Yoga, berenang, jalan pagi baru boleh dilakukan setelah usia kandungan 7 bulan

Solusiku: Hatiku sempat rontok denger diagnosa ini awalnya, tapi tetap berusaha tenang. Karena hati yang kacau bisa memicu stres yang malah makin mengompori si flek ini. Akhirnya aku berusaha berpikir positif bahwa diagnosa ini belum harga mati, masih ada kemungkinan plasenta berkembang ke arah yang normal. Dan kalaupun terpaksa melahirkan secara cesar nantinya, aku udah ikhlas. Allah sudah menggariskan yang terbaik, yang terpenting bayiku sehat, kuat, utuh, lengkap, normal, bahagia lahir batin. Fokusku sekarang tinggal berusaha menghentikan flek dan mencegah muncul lagi, supaya jangan sampai terjadi pendarahan. Bismillah, semoga semuanya dilancarkan dan diberi kemudiahan.

Sekian dulu cerita dan curhatanku. Sharing selalu menyembuhkan buatku, terima kasih ya sudah mampir dan baca :) Kalau ada bumil yang baca tulisan ini, boleh dong share juga tentang pengalaman kehamilannya.

2 thoughts on “[PREGNANCY] 19+ Weeks

  1. Tulisannya oke banget buat preparasi sebelum masa kehamilan.
    Btw Mba.. beli “Bach Flower Rescue Cream” dimana? kalau beli online, mungkin bisa rekomendasi nama OS-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s