[PREGNANCY] 30+ Weeks


Aloha! :D

Nggak terasa ternyata sudah berminggu-minggu berlalu sejak pregnancy post-ku yang terakhir. Banyak hal yang terjadi, beberapa cukup stressful (termasuk pindahan dari Bandar Lampung ke Jogja, ninggalin suami sendirian di sana setelah drama dan bermalam-malam menangis manja), tapi dengan bangga dan penuh syukur akhirnya aku berhasil memasuki trimester terakhir kehamilan! Yeay, sebentar lagi kita kopi darat ya, Nak!

1. Semakin cepat capek

Keluhan ini sudah kurasakan sejak sekitar minggu ke-22. Jalan sedikit capek, duduk agak terlalu lama capek, berdiri apalagi. Padahal waktu itu perubahan fisikku masih belum seperti sekarang, perut masih ringan dan paha masih langsing. Semakin ke sini, duduk sudah diganjel-ganjel bantal pun tetap cuma tahan paling lama 15 menit.

Kata dokter: Nggak tanya. Hihi… habis sepertinya wajar ya bumi makin cepat capek. Apalagi untuk bumil seperti kasus aku yang larangan aktivitasnya seabrek dan memang harus menghabiskan sebagian besar waktu dengan istirahat, jadi sekalinya dipakai jalan ke mall, baru setengah putaran rasanya udah kaya habis ikut marathon.

Solusiku: Dengarkan tubuh! Aku sudah lama belajar dari ibuku bahwa tubuh kita punya alarm sendiri yang seharusnya memberi peringatan untuk kita kapan harus berhenti beraktivitas supaya nggak kecapekan. Sejak didiagnosa plasenta previa di bulan ke-5 kehamilan, aku semakin aware dengan alarm tubuh. Alhamdulillah suami mengerti dan mendukung, jadi aku bisa bebas berhenti beraktivitas dan istirahat kapanpun aku mulai merasa capek.

2. Tendang, sikut, sundul

Gerakan janin yang semakin kuat dan aktif mungkin jadi kebahagiaan terbesar ibu-ibu yang sudah masuk trimester ketiga. Banyak juga sih yang mengeluh, karena katanya bikin sakit atau nggak bisa tidur, tapi aku secara pribadi justru sangat, sangat, sangat bersyukur setiap kali si kecil bikin kehebohan atau ‘gempa’ dari dalam perut. Kadang nggak tahan untuk nggak meringis kesakitan, terutama kalau gerakannya terlalu dekat tulang rusuk, tapi nggak masalah. Lebih baik ditendang/sikut/sundul yang sering dan keras daripada si bayi nggak gerak sama sekali, yang berujung mamanya galau selama beberapa jam, ngerayu sambil elus-elus perut biar dia mau gerak-gerak lagi.

3. Pendarahan (!)

Seperti yang sudah kuceritakan dalam pregnancy post sebelumnya, di bulan ke-5 aku didiagnosa plasenta previa oleh dokterku di Bandar Lampung. Dengan bekal wejangan panjang dan obat anti kontraksi, aku sukses terbang pulang ke Jogja meski waktu itu dalam keadaan flek ringan yang belum berhenti sejak seminggu sebelumnya.

Beberapa setelah sampai Jogja, aku kontrol dengan dr. Muh. Nurhadi Rahman, Sp.OG di RS JIH dan sepertinya plasentaku sudah geser, karena waktu di Lampung aku dibilang plasenta previa total, sedangkan hasil USG dr. Adi menyatakan plasentaku bukan nutup jalan lahir, hanya dekat aja. Jadi masih ada harapan dan diizinkan olah raga dan aktivitas biasa (asal nggak kecapekan) nanti kalau fleknya sudah bersih. Aku yang mulai optimis, bersama suami sempat ikutan workshop Gentle Birth dan bahkan pergi ke beberapa baby shop untuk survei keperluan bayi. Tapi memang sudah nasib, dan mungkin peringatan juga supaya aku nggak takabur dan terlalu semangat, sekitar minggu ke-26 aku pendarahan mendadak, tepat 30 menit setelah pulang dari kelas prenatal yoga. Awalnya coklat tua dengan semburat merah, baru sore harinya keluar darah segar seperti mens meskipun cuma beberapa tetes. Ibuku yang sudah pengalaman sebagai instruktur yoga bersertifikat selama lebih dari 10 tahun langsung shock berat, apalagi bukan beliau yang mengajar dan kebetulan sedang nggak stand by di studio waktu aku ikut kelas. Usut punya usut, setelah konsultasi dengan bidan yang mengajar kelas prenatal yoga tsb dan kontrol dokter di RS, penyebab pendarahan bisa karena dua hal: gerakan yoga untuk peregangan area panggul yang kulakukan dengan terlalu ‘maksa’ sehingga menyebabkan kontraksi, dan kontraksi terselubung yang dipengaruhi bakteri penyebab infeksi saluran kencing yang ternyata kuderita. Untuk bumil dengan letak plasenta normal sih mungkin nggak masalah, tapi untuk kasusku, plasenta yang nggak terasa sekalipun bisa mengakibatkan gesekan dan pecahnya pembuluh darah yang berujung pada flek dan pendarahan.

Kata dokter: Dokter langsung menyarankan aku untuk tes darah dan tes urine hari itu juga, yang sebenernya memang wajib dilakukan oleh bumil untuk mengetahui HB, gula, kadar protein dalam urin dll dll. HB-ku dan semuanya bagus, cuma ada bakteri dalam urin yang mengarah pada infeksi saluran kencing. Nah, kata dokter, bakteri itu bisa bikin kontraksi yang tidak terasa, dan kontraksi itulah yang memperburuk pendarahan. Meskipun sore hari itu yang keluar sudah mulai darah segar, tapi menurut dokter aku belum perlu opname, asalkan di rumah bedrest total, termasuk mau pipis pun harus pakai pispot di atas tempat tidur. Tapi mengingat ketiadaan pispot dan ART yang bisa membantu aktivitasku selama bedrest di rumah, ditambah kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi, akhirnya aku memutuskan untuk opname. Selama opname 6 hari, aku diinfus dan dikasih obat anti kontraksi (Hystolan), obat penghenti pendarahan (Kalnex), antibiotik untuk mengobati ISK, nebulizer dan obat dari dokter spesialis paru-paru karena aku mendadak sesak nafas. Entah asmaku kambuh betulan atau karena stres berat aja.

Selama di rumah sakit, bidan yang visit juga rajin mengecek detak jantung bayiku (alatnya namanya doppler kalau nggak salah, ditempel di perut seeprti alat USG dan suaranya bisa didengar lewat speaker). Alhamdulillah normal terus. Gerakan bayiku juga semakin dan semakin heboh. Saat opname itulah untuk pertama kalinya aku melihat perutku kelihatan seperti kena ‘gempa’ waktu si bayi bergerak, tandanya dia sudah mulai semakin besar dan kuat. Bener-bener hiburan di kala duka dan terbukti kata dokterku di Lampung dulu, bahwa flek/pendarahan karena letak plasenta bukan karena bayinya yang luka, jadi nggak perlu panik dan sedih berlebihan.

Solusiku: Kalau diingat-ingat lagi, waktu pendarahan itu bener-bener ujian mental buatku. Aku memergoki pendarahan itu sekitar 5 menit setelah sampai rumah, dalam keadaan rumah sepi nggak ada orang tua. Ibu ngajar dan bapak pergi golf. Suami jangan ditanya, doski lagi sibuk ngurusin tangki bensin di Lampung :D Akhirnya, berbekal wejangan dari dokter Lampung dan pengetahuanku tentang pendarahan akibat plasenta previa, aku langsung beberes berkas asuransi, nyiapin botol minum dan novel (sempet dong!), lalu telepon taksi dan berangkat ke UGD sendirian dengan lagak tenang, padahal hati sudah mau rontok saking takutnya. Sampai di UGD aku ditangani dokter jaga, ditanya-tanya tentang kronologi pendarahannya dan langsung dikonsultasikan via telepon dengan dr. Adi. Pilihan yang ditawarkan ada dua: 1) minum obat yang diresepkan dr. Adi, istirahat di UGD sambil dipantau selama 2 jam, lalu pulang ke rumah dan kembali lagi ke RS sore nanti waktu jam prakteknya dr. Adi (karena dokter jaga nggak bisa meng-USG dan mendiagnosa apapun, semua harus dilakukan langsung oleh dokter kandungan), atau 2) minum obat lalu istirahat sambil menunggu di UGD sampai dr. Adi praktek sore nanti, yang mana waktu tunggunya masih sekitar 6 jam. Tapi aku memutuskan untuk menunggu di UGD aja, sempat makan, tidur, telpon sana sini, baca novel, ngelamun galau… sebelum akhirnya diantar suster pakai kursi roda ke ruang praktek dokter.

Inti dari pengalamanku, aku nggak punya solusi dan saran lain untuk bumil yang mengalami pendarahan selain: 1) tetap tenang, minum air putih banyak-banyak kalau sudah terlanjur diserang panik dan gemetaran. Jangan sampai si bayi ikutan panik dan stres, 2) segera kurangi aktivitas, kalau memang perlu menyiapkan berkas atau apapun yang kira-kira dibutuhkan saat di RS nanti, lakukan dengan efisien dan usahakan nggak terlalu banyak mondar-mandir lagi, 3) segera ke UGD! Nggak usah antre dokter, kalau sudah yang keluar itu darah, apalagi darah segar merah seperti mens, langsung ke UGD aja.

4. Flek lagi, bentuk plasenta unik, dan (masih) diagnosa plasenta previa

Selama lebih dari seminggu pasca opname, alhamdulillah semua aman-aman. Nggak ada flek, nggak ada keluhan nyeri, bayi super aktif. Tapi kemudian tanpa peringatan dan pemicu yang jelas, flek yang membandel pun kembali lagi di minggu ke-28. Warnanya masih kalem, krem kecokelatan gitu, dan sempat berhenti sekitar 3-4 hari waktu suami pulang menjenguk. Tapi sehari setelah ditinggal balik ke Lampung, aku kembali flek dengan warna yang mengkhawatirkan: cokelat tua dengan semburat pink, meski jumlahnya nggak banyak dan frekuensinya hanya sekitar 3x sehari. Sayangnya, keesokan siangnya setelah pipis, ada warna pink yang tertinggal di tisu. Pertanda aku sudah harus mulai waspada dan segera daftar untuk kontrol dokter.

Kata dokter: Waktu aku kontrol di minggu ke-28, dokter bilang bentuk plasentaku ini termasuk unik dan jarang, karena memanjang melingkupi setengah badan bayi. Bagian panjangnya itulah yang terlalu dekat dengan jalan lahir. Mana waktu itu posisi kaki masih di bawah, sehingga lebih rawan flek kalau bagian plasenta yang di situ ketendang-tendang oleh si bayi. Untungnya, di minggu ke-29 sampai saat kontrol tadi malam, posisi kepala bayi sudah pindah ke bawah. Walaupun masih rawan flek juga karena posisi plasenta sebelah kanan masih menutup jalan lahir alias plasenta previa parsial.

Solusiku: Bohong besar kalau aku bilang aku nggak khawatir dan ketakutan, bahkan sampai cukup stres karena flek yang belum berhenti juga. Tapi memang nyatanya nggak ada yang bisa dilakukan selain bedrest, minum obat sesuai resep dokter, dan banyak-banyak berdoa. Aku masih rajin ngajak ngobrol bayiku, sehari berkali-kali aku berusaha membujuk dia dan plasentanya supaya tetap sehat, kuat, fleknya berhenti, luka-luka plasenta menutup, supaya bisa lahir cukup bulan dan cukup berat. Soal metode persalinan sendiri aku sudah jauh-jauh hari pasrah dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan operasi cesar. Walaupun masih dihantui beberapa kekhawatiran, tapi aku bertekad menyerahkan cara persalinan pada Allah dan pada bayiku sendiri, karena toh semua sudah diatur, yang bisa kulakukan cuma berdoa, berharap, dan berusaha. Doakan ya, mudah-mudahan Allah memberi yang terbaik, yang paling nyaman, aman, dan membahagiakan.

5. Refluks asam lambung dan sesak nafas

Untuk masalah yang ini sebenernya aku nggak pengen mengeluh, tapi rasanya alamaaaak, mana tahaaaan. Diawali dengan sesak nafas yang menyerang saat aku duduk sehabis berjalan (dekat jauh sama aja), awalnya kukira asmaku kambuh. Sudah pakai inhaler, coba jalan lagi sedikit, kok masih sama? Eh ternyata penyebabnya adalah perut yang semakin membesar! Refluks asam lambung pun begitu. Dimulai dengan rasa panas dan pahit di tenggorokan setiap kali berbaring, yang tadinya kukira gejala radang tenggorokan, ternyata asam lambung yang terdesak naik dan membakar sampai ke kerongkongan, akibat si perut yang semakin besar.

Kata dokter: Aku nggak tanya dokter untuk keluhan refluks, karena takut malah dikasih obat. Sudah cukup obat anti kontraksi dan penghenti pendarahan, kasihan bayiku kalau ditambah yang lain-lain lagi. Lagipula, kata ibuku, memang refluks biasanya wajar dialami bumi trimester akhir. Kuncinya sabar, sabar, sabar :D Sedangkan untuk sesak nafas, dokter paru-paruku sudah membekali inhaler (merk Seretide) untuk dipakai kalau asmaku kambuh. Karena katanya, “Kalau ibunya aja sesak dan kurang oksigen, bayangkan yang di dalam perut seperti apa.”

Solusiku: Mengatasi refluks ini entah apa yang harus dilakukan, aku juga belum ketemu solusinya. Paling hanya meninggikan posisi bantal waktu tidur, walaupun itu juga nggak membantu banget. Untuk sesak nafas, aku belajar mengukur dan mengenali gejala, kalau sekiranya sesak nafas itu berhenti setelah aku stop aktivitas dan istirahat, berarti bukan asma dan nggak perlu obat. Tapi kalau memang dirasa sesak banget dan belum berkurang juga setelah istirahat, aku langsung pakai inhaler sesegera mungkin.

6.  Semuanya nggak muat (!)

Mulai dari cincin kawin, sandal cantik buat kondangan, pakaian dalam, legging, dress, sampai kaus. Astaga. Aku jadi perlu waktu ekstra untuk memilih pakaian dalam dan apapun baju yang mau kupakai, karena sudah banyak banget yang nggak muat dan aku memang belum sempat belanja pakaian dalam baru. Bahkan legging khusus bumil yang bagian pinggangnya adjustable pun sekarang sudah terasa menyesakkan :D Sedangkan cincin kawin sementara bernasib jadi liontin dulu deh, sampai nanti ukuran jariku kembali seperti semula pasca melahirkan.

7. Nyeri di pangkal paha kanan

Aku lupa, soal nyeri ini sudah pernah kuceritain belum ya di post sebelumnya? Berawal dari kecapekan habis jalan-jalan kalap keliling mall di Jakarta waktu usia kehamilan 4 bulan, bagian pangkal paha (lebih ke bawah sedikit sih, entah apa namanya ya bagian itu) terasa nyeri minta ampun. Aku sampai sempat kesusahan jalan dan meringis-ringis mau nangis setiap kali harus bergerak. Untungnya, waktu itu rasa sakitnya hilang setelah dipakai istirahat dan baru kambuh lagi kalau aku jalan-jalan terlalu jauh. Tapi, semakin ke sini rasanya semakin menjadi. Bahkan dipakai pindah posisi kanan kiri di tempat tidur aja sakitnya ampun.

Kata dokter: Dokterku di Lampung dulu bilang itu wajar, malah katanya makin besar hamilnya semakin sakit. Nggak perlu obat, cuma perlu sabar dan menikmati. Bidan Yessie Aprilia yang mengajar kelas prenatal yoga pun bilang itu wajar karena area di bawah sana memang sedang merenggang dan mempersiapkan diri untuk melahirkan.

Solusiku: Sabar, sabar, sabar. Hahaha… Habis mau gimana lagi. Posisi apapun sudah dicoba tetep aja sakit. Paling aku cuma mijat-mijat ringan di area yang sakit kalau sudah nggak tertahan, walaupun cuma melegakan sedikit banget, sama sekali nggak menyembuhkan :D Untuk bumil dengan letak plasenta normal dan tanpa keluhan lainnya, aku menyarankan ikut kelas yoga atau senam untuk mengatasi nyeri ‘di bawah sana’, karena memang aku mengalami sendiri bahwa rasa nyerinya berkurang setelah olahraga.

8. Kulit menghitam di beberapa bagian

Awalnya ibu yang sadar duluan kalau kulit leherku mulai bertambah gelap, baru setelah itu aku lebih memperhatikan bagian-bagian lainnya yang ternyata juga mulai berubah warna seperti ketiak, lipatan pangkal paha, dan kulit di sekitar payudara. Walaupun nggak mencolok, tapi kalau diamat-amati sih memang jadi makin gelap.

Kata dokter: Nggak sempat tanya dokter sih, tapi setelah aku browsing, sepertinya keluhan ini cukup wajar dialami ibu hamil. Istilahnya pigmentasi kalau nggak salah. Hilang sendiri setelah melahirkan nanti. Amin :)

Solusiku: Aku juga nggak tau solusinya gimana kalau memang menghitamnya itu dari dalam. Tapi aku berusaha tetap mandi yang bersih dan scrubbing sesekali, supaya bagian yang menghitam karena pigmentasi nggak semakin hitam karena ada kotoran yang menumpuk.

9. Belanja keperluan bayi 

Nah, ini bagian paling seru dari memasuki trimester akhir kehamilan! Belanja! Aku dan suami yang sudah gatal pengen beli keperluan bayi sejak berbulan-bulan lalu, akhirnya sampai juga di bulan ke-7 dimana menurut kepercayaan orang Jawa sudah boleh nih mulai beli-beli. Berpegang pada daftar kebutuhan bayi dan merk yang sudah disurvei sebelumnya, aku dan suami berangkat ke Wijaya, salah satu baby shop paling terkenal di Jogja. Belanjanya cuma sedikit, secukupnya dulu untuk dipacking dalam hospital bag yang bakal segera kusiapkan, tapi senangnya minta ampun.

Kata dokter: Kenapa ada kata dokter segala di bagian belanja? Karena waktu aku opname, dokter perempuan yang menggantikan dr. Adi untuk visit saat beliau ke luar kota, bilang bahwa mulai usia 7 bulan aku harus sudah mempersiapkan hospital bag untuk kondisi darurat. Mengingat letak plasentaku dan riwayat pendarahan dan flek yang nggak terduga, alangkah baiknya kalau kita sudah siap untuk segala kemungkinan tanpa harus parno dan panik.

Solusiku: Untuk menenangkan hati tapi juga supaya nggak berlebihan, aku baru belanja sedikit sekali barang. Bahkan ada beberapa kebutuhan inti yang belum terbeli karena merk yang kuminta lagi kosong di tokonya. Berikut daftar barang belanjaanku sementara:

– 2 set piyama lengan pendek (Velvet Junior)

– 1 set piyama lengan panjang (Velvet Junior)

– 3 sleepsuit (namanya sih sleepsuit tapi terlalu lucu untuk dipakai tidur) lengan panjang (Mothercare)

– 6 bodysuit lengan pendek (Carter’s)

– 1 atasan tanpa lengan (Libby)

– 1 selimut rajut ala Princess Charlotte, bayinya Kate Middleton dan Prince William :D (Mothercare)

– 1 topi rajut (Mothercare)

– 3 set sarung tangan dan sarung kaki (Velvet Junior)

– 3 popok kain (tanpa merk, dibeli karena pengen popok yang polos)

– 1 pack gurita bayi isi 6 (Carter’s)

– 1 bedong instan (Hanaroo)

Untuk bumil yang sedang merencanakan belanja, bisa intip daftar belanjaan untuk newborn di beberapa blog seperti post Baby Essentials by Cinta Ruhama Amelz.

Nah, sekian dulu cerita kehamilanku yang makin lama makin seru ini. Mohon doanya ya, mudah-mudahan aku dan bayiku diberi kekuatan, kesehatan, kelancaran, sehingga cita-cita kami untuk kopi darat setelah cukup bulan dan cukup berat badan bisa tercapai. Thank you!

6 thoughts on “[PREGNANCY] 30+ Weeks

  1. Hay ka ayu, sehat terus ya ibu dan bayinya inshaAllah sampai lahiran nanti. Eh ternyata kita cuma sebelahan gang, kontrakan aku di gang sebelah kolondjono dan aku sering nongkrong di kolondjono jg. Salam kenal ka :D

  2. Hai Mom :) sharing yang luar biasa. sayang dulu saya tidak me-record pengalaman kehamilan ini dalam tulisan pribadi. anyway, proud to be a mom. Sehat selalu sampai kelahiran ya mba:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s