[PREGNANCY] Upacara Mitoni


Siraman Mitoni

Halo!

Kalau biasanya pregnancy post-ku ngobrolin seputar keluhan dan tips bumil, kali ini waktunya #throwback upacara Mitoni (dikenal juga dengan Tingkeban atau Tujuh Bulanan) tanggal 20 Juni 2015 lalu. Acara ini memang sejak awal kami niatkan untuk menggunakan adat istiadat Jawa lengkap lengkap-lengkapnya. Selain karena upacara Mitoni ini hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup saat kehamilan anak pertama, kami ingin berbagi kebahagiaan dan rasa syukur dengan keluarga di Jogja dan tetangga sekitar rumah, sekaligus juga melestarikan dan mengenalkan kebudayaan Jawa. Menurut obrolan dengan ibu-ibu tetangga, ternyata mereka sudah lama banget nggak datang ke acara Mitoni yang tradisional seperti itu dan mengaku kangen dengan keseruannya.

Upacara Mitoni dimulai dengan pembukaan oleh MC (Ibu Sutadi, salah satu MC senior yang biasa memandu upacara adat Jawa) dan doa bersama, lalu langsung dilanjutkan dengan sungkeman calon ibu –aku– kepada suami, bapak, ibu, mertua, dan nenek.

IMG_0695-sm  IMG_0715-sm2

Sungkeman selesai, aku berganti kostum siraman sementara ibu dan mama mertua meracik air suci perwitaadi dari 7 sumber mata air dan mencampur sekar setaman.

IMG_0749-sm  IMG_0745-sm

Prosesi siraman dimulai oleh bapak, ibu yang juga bertugas mengoleskan semacam sabun warna-warni di tengah perut hamilku, kedua mertua, nenek, nenek bibi, dan salah satu ibu tetangga. Jumlahnya 7 orang, selain orang tua dan mertua, pinisepuh yang menyirami harus ibu-ibu yang sudah punya cucu. Dilanjutkan prosesi muloni alias bapak dan bapak mertua menuangkan air dari kendi untuk wudhu, lalu ibu dan mama mertua bersama-sama memecahkan kendi sebagai pembuka jalan agar proses kelahiran bayinya lancar.

IMG_0764-sm  IMG_0774-sm

IMG_0818-sm  IMG_0827-sm

Selanjutnya, aku dipakaikan kain 7 warna dan suami bertugas nyelorot teropong alias melepaskan atau meloloskan teropong dari kayu lewat bagian dalam kain warna-warni itu. Kemudian dilanjut ibu yang nyelorot telur dan harus dijatuhkan ke tanah sampai pecah, perlambang kelahiran bayi yang lancar dan normal.

IMG_0847-sm  IMG_0857-sm

Setelah aku berganti pakaian yang kering, bagian paling seru dari upacara Mitoni pun dimulai: prosesi pantes-pantes, dimana calon ibu harus berganti kain dan kebaya sebanyak 7 kali. MC akan bertanya, “Sudah pantes belum?” dan penonton harus bilang, “Belum pantes!” sampai pakaian yang ketujuh.

IMG_8664

Langsung dilanjutkan dengan prosesi yang nggak kalah lucu yaitu tigas kendhit oleh calon bapak. Suamiku yang agak kebingungan dan takut salah diharuskan memotong janur yang dililitkan ke perutku dengan keris, mundur 3 langkah, balik kanan, lalu lari ke luar rumah. Larinya harus kencang dan bener-bener sampai ke luar, simbol kesigapan calon bapak dalam menjaga dan menyambut kelahiran bayinya kelak. Mungkin semacam perlambang suami siaga gitu ya :D

IMG_8665

Prosesi brojolan cengkir gading selanjutnya juga semakin lucu. Dua butir kelapa yang sudah diukir gambar wayang Kamajaya dan Kamaratih harus ‘dilahirkan’ dari balik kain yang kupakai, lalu diterima oleh ibu dan mama mertua bergantian untuk ditimang-timang, dinyanyikan, dan ditidurkan selayaknya cucu sendiri.

IMG_8666

Selagi ibu dan mama mertua ngeloni cucu, aku dan suami melanjutkan prosesi angreman alias duduk di atas tumpukan 6 pasang pakaian yang sisa pantes-pantes tadi, lalu dhahar ajang cowek. Suami mengambilkan makanan untuk dimakan berdua sampai habis. Tapi berhubung doi puasa, aku ketiban harus makan semuanya sendiri. Setelah selesai makan, kami lanjut prosesi mapanaken susuh alias membawa baju-baju yang kurang pantes tadi ke tempat tidur, seolah-olah mempersiapkan alas tidur yang nyaman untuk calon anak kami. Selagi kami berangkat ke kamar, ibu-ibu yang datang ternyata sibuk berebut berbagai makanan yang jadi uborampe upacara. Katanya sih membawa berkah, terutama bagi yang ingin segera menyusul hamil.

IMG_0966-sm  IMG_1012-sm

Rangkaian upacara Mitoni akhirnya ditutup dengan prosesi dodol dawet dan rujak. Aku yang jualan, sedangkan suami berdiri di samping memayungi dari panas dan hujan :D Belinya nggak pakai uang beneran, cuma pakai pecahan kendi yang sudah dibagikan sebelumnya.

IMG_1034-sm  IMG_1038-sm

Mengikuti seluruh prosesi upacara adat ternyata sama sekali nggak ribet dan malesin, justru seru banget! Makna dan harapan dari setiap bagiannya mengandung doa positif, mudah-mudahan kehamilanku diberkahi Allah dan dilancarkan hingga proses kelahiran yang aman, nyaman, bahagia, dan selamat. Amin :) Sekali lagi terima kasih untuk semua keluarga, tetangga, dan teman-teman yang sudah datang, doa restunya sangat berarti untuk kami. Acara ini juga nggak akan berlangsung lancar tanpa bantuan dari vendor-vendor jagoan kami, terima kasih banyak!

Make up, hair do & pemandu adat by Larasati Salon Jogja | Decoration by Larasati Dekorasi Jogja | Kebaya floral by Modiste Aty Noor | Photos by Minzani Photography Jogja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s