[PREGNANCY] 37+ Weeks


“Kapal oleng, Mama!” :D

Woaaaah! Nggak terasa tiba-tiba kehamilanku sudah masuk 37 minggu dan dokter sudah menerbitkan surat rujukan untuk operasi! Sebenernya kalau dilihat lagi ke belakang sih ya nggak ‘tiba-tiba’ amat ya :D tapi semangat, rasa senang, dan deg-degannya mengalahkan keluh kesah dan semua problem yang terasa berat dari awal kehamilan.

Sejak pregnancy post-ku yang terakhir, banyak hal yang terjadi. Beberapa di antaranya cukup bikin panik, tapi alhamdulillah ketemu solusi dan berhasil diatasi.

1. Refluks asam lambung semakin parah

Seperti yang pernah kuceritakan pada pregnancy post sebelumnya, bahwa keluhan refluks asam lambung ini sudah kurasakan sejak 30 minggu. Semakin ke sini semakin parah, bahkan sampai bikin susah tidur (belakangan ini aku baru berhasil tidur sekitar jam 2, nyaris setiap malam!). Tapi sepertinya memang nggak ada jalan lain selain bersabar dan berusaha menikmati setiap kali rasa pahit dan panas muncul di tenggorokan. Meskipun kadang rasa ini bikin malas makan dan minum karena takut jadi tambah parah, tapi aku tetap berusaha memaksa diri makan dan minum sedikit-sedikit supaya si baby nggak kelaparan di dalam perut.

2. Muncul ruam gatal di perut

Keluhan ini bermula saat usia kandunganku 34 minggu, persis beberapa hari sebelum Idul Fitri. Diawali gatal-gatal yang kupikir karena perenggangan kulit perut biasa, tapi lalu diikuti munculnya bintik-bintik merah kecil seukuran pori-pori kulit, nggak berair, tapi gatal luar biasa. Aku sudah setengah mati menahan diri untuk nggak menggaruk bagian itu, tapi tiba-tiba dalam hitungan hari, bintiknya menyebar di perut kiri dan kanan menjadi ruam merah yang diameternya nyaris seukuran uang koin dengan permukaan yang menonjol. Gatal, panas, dan perih minta ampun, terutama kalau tergesek permukaan baju atau saat aku keringatan. Dikompres air dingin nggak mempan, air panas tambah gatal, dipakai mandi perihnya setengah mati dan setelah itu makin gatal, dikasih segala macam krim pun sepertinya nggak pengaruh. Ugh!

Kata dokter: Waktu aku kontrol ke dokter kandungan beberapa hari setelah Idul Fitri, luka di perutku sudah nggak terlalu merah, tapi masih sangat gatal dan perih. Reaksi dr. Adi begitu lihat lukanya adalah “Waduh!” :( Beliau langsung menghubungi temannya yang dokter kulit dan sudah mulai praktek, karena khawatir luka dan ruam tersebut diakibatkan oleh virus yang bisa aja menular ke bayiku.

Alhamdulillah ketika aku periksa dengan dr. Kalista, Sp.KK di RS Hermina Jogja keesokan harinya, dokter bilang luka dan ruam itu hanya disebabkan perenggangan kulit perut dan dipengaruhi juga jenis kulit perutku yang super sensitif, bukan karena virus dan tidak menular pada bayi di dalam kandungan. Akhirnya aku dikasih salep yang diracik dengan formula sangat ringan supaya nggak membahayakan bayi, obat minum untuk jaga-jaga kalau gatal banget, dan bonus krim anti stretch marks (Mustela Stretch Marks Double Action) untuk dipakai di bagian perut yang nggak gatal. Alhamdulillah, baru dua kali pakai salep, gatalnya langsung hilang dan luka mulai mengering dan permukaannya rata kembali. Gatalnya juga sudah nggak menyebar, meskipun sampai sekarang aku masih harus terus pakai salep karena ternyata si bintik-bintik merah itu pernah kambuh lagi ketika pemakaian salep dihentikan. Mudah-mudahan nanti gatalnya hilang perlahan kalau kulitku sudah berhenti merenggang dan kembali ke bentuk semula. Amin.

Solusiku: Aku mencoba bermacam cara dan krim, tapi satu-satunya yang berhasil membantu mengurangi gatal dan perihnya sebelum ketemu salep dokter adalah Buds Super Soothing Rescue Lotion. Meskipun lotion Buds ini nggak bisa mengobati, tapi lumayan bagus untuk pertolongan pertama. Saranku untuk bumil yang mengalami keluhan yang sama: segera ke dokter! Jangan ditunda apalagi diremehkan, karena ternyata ada beberapa jenis penyakit kulit yang bisa juga menulari bayi kita. Segera ganti juga sabun mandi dengan sabun bayi (aku pakai Sebamed Baby Cleansing Bar pH 5,5) dan usahakan selalu mandi dengan air dingin karena ternyata air hangat/panas justru bisa membuat kulit kering dan semakin gatal.

3. Kesemutan dan jari tangan tidak bisa digerakkan

Aku mulai merasa sering kesemutan di tangan sejak trimester 2. Tapi beberapa waktu lalu mendadak aku bangun pagi dengan tangan kanan yang terasa kebas dan jari tengah yang nggak bisa digerakkan. Sakitnya minta ampun saat coba ditekuk, dan setelah berhasil ditekuk… eh, nggak bisa diluruskan lagi, harus dibantu tangan kiri untuk meluruskannya, itu pun sampai sekarang belum bisa benar-benar lurus sempurna seperti jari lainnya.

Kata dokter: Aku lupa terus mau tanya dokter tentang keluhan ini. Tapi aku coba browsing sendiri dan katanya ibu hamil memang rentan kesemutan dan terkena sindrom Carpal Tunnel. Entah yang kurasakan ini bener Carpal Tunnel atau bukan, tapi menurut ibuku yang banyak belajar tentang masalah tulang, memang gejala yang kualami ini sepertinya bersumber dari pergelangan tangan. Akhirnya ibu memberi pe-er stretching jari-jari dan pergelangan tangan setiap pagi, alhamdulillah manjur dan lumayan meredakan rasa sakitnya sehingga bisa cepat dipakai aktivitas lagi.

Solusiku: Stretching seperti yang diajarkan ibu dan tetap maksain aktivitas dengan tangan kanan dan melibatkan jari tengah supaya nggak semakin kaku.

4. Berat badan bayi cepat naik

Yang satu ini jelas berita baik! Aku yang tadinya pasang target rendah (yang penting mencapai berat minimal 2,5 kg) karena takut ngoyo dan terlalu berharap, langsung senang luar biasa waktu tau berat badan bayiku sudah lebih dari 2,3 kg di minggu ke-34. Ternyata bener kata orang kalau di atas 32 minggu bayi dalam kandungan akan semakin cepat pertambahan berat badannya, walaupun berat badanku sudah mentok di 67 kg, bahkan sempat turun lagi ke 65,5 kg. Alhamdulillah pertambahan BB bayiku cukup konsisten, sekitar 400–500 gram per dua minggu, dan sekarang beratnya sudah lebih dari 2,8 kg. Mudah-mudahan sehat selalu dan bisa tambah berat lagi dalam seminggu terakhir ini ya, Nak…

5. Bayi terlilit tali pusat

Lilitan tali pusat ini sudah ketahuan di usia kandungan 30 minggu saat USG 4D dengan dr. Adi. Tapi kata beliau, lilitannya hanya satu kali aja dan nggak membahayakan. Dokter juga menyarankan aku untuk rajin komunikasi dengan bayi, supaya dia bisa melepaskan lilitan tali pusatnya pelan-pelan. Tapi sampai sekarang si tali pusat masih di situ-situ aja, jadi ya sudahlah, yang penting tetap aman.

6. Retina mata kanan rapuh

Sejak masih di Lampung, dr. Elysawati Shinta sudah pernah menyampaikan kalau minus mataku yang tinggi (nyaris -5 untuk masing-masing mata) bisa jadi penghalang untuk melahirkan normal. Menurut beliau, resikonya tinggi saat mengejan dan bisa berakibat kebutaan permanen. Tapi ketika bertemu dr. Adi di Jogja, beliau bilang resiko tersebut bukan diakibatkan tingginya minus, tapi karena kondisi retina masing-masing orang. Akhirnya aku disarankan untuk periksa ke dokter spesialis retina supaya lebih mantap.

Kata dokter: Saat periksa ke RS dr. YAP, dokter spesialis retina yang kutemui menyampaikan bahwa bola mataku memanjang karena minus, sehingga ada seperempat bagian di pinggir retina kanan yang rapuh. Ditambah keluhanku yang selalu melihat semacam debu/kotoran hitam ‘beterbangan’ di mataku (bahasa medisnya floaters, kalau nggak salah), dokter pun menyarankan aku untuk laser retina sebelum melahirkan dengan pertimbangan siapa tahu kondisi plasentaku sudah naik dan akhirnya bisa melahirkan normal, supaya masalah retina ini nggak jadi penghalang.

Tapi pada akhirnya aku belum jadi laser retina karena 2 alasan, takut (!) dan masalah waktu yang terlalu mepet dengan jadwal operasi cesarku. Ketakutan ini muncul sekitar satu jam sebelum laser. Waktu itu aku sudah di depan perawat, sudah ditetes mata yang fungsinya untuk memperlebar pupil, lalu mendadak disodori kertas-kertas untuk dibaca dan ditandatangani oleh pengantar (bapak). Setelah membaca dengan teliti, bapak mendadak menyarankan untuk menunda tindakannya karena menurut yang tertulis di kertas-kertas itu, laser retina ternyata bisa beresiko atau minimal menimbulkan ketidaknyamanan yang harus dipantau selama sekitar 2 minggu pasca tindakan. Meskipun setelah kami konsultasi ke dokter, beliau bilang sebenarnya tindakan ini adalah prosedur kecil dan resikonya sangat minim (hanya pernah terjadi pada satu pasien, tapi sepertinya pihak rumah sakit merasa perlu mencantumkan resiko tsb sebagai informasi bagi pasien lain yang akan laser retina), tapi akhirnya kami tetap memutuskan untuk menunda tindakan ini setelah melahirkan supaya aku nggak terbebani dengan ketakutan/ketidaknyamanan tambahan saat persiapan jelang melahirkan.

Solusiku: Untuk retina yang rapuh ini sih aku nggak merasakan keluhan apa-apa, hanya bintik-bintik hitam alias floaters itu aja yang sering mengganggu pandangan. Seperti ada kotoran yang nggak bisa dihilangkan dan bikin risih. Selain dengan tindakan laser retina yang masih menunggu waktu dan kesiapan mental, aku berusaha rajin-rajin minum jus wortel supaya, siapa tahu, bisa memperlambat pertambahan minusku. Sedangkan untuk mencegah robekan pada retina yang bisa berakibat fatal, dokter mata menyarankan agar mulai sekarang aku semakin hati-hati supaya kepalaku nggak terbentur dan terhentak-hentak.

7. Kontraksi palsu

Yang palsu aja sakit banget, nggak berani bayangin seperti apa aslinya. Hehehe. Selama sekitar 2 minggu terakhir, kontraksi palsu ini sudah tiga kali kurasakan. Pertama waktu sedang cuci piring, mendadak perutku kencang nggak wajar dan baru hilang setelah dipakai rebahan sekitar 20 menit kemudian. Yang kedua kurasakan setelah aku duduk di depan laptop terlalu lama dan baru hilang setelah dipakai rebahan juga. Tapi yang terakhir, tepat dua hari yang lalu, rasanya… alamak. Aku sempat panik karena sakitnya menjalar sampai ke seluruh bagian perut dan punggung bawah, hilang timbul selama hampir 3 jam. Dan coba tebak yang kutemukan keesokan paginya? Flek kuning kecokelatan. Duh.

Kata dokter: “Itu kontraksi palsu. Kalau muncul lagi dipakai relaksasi aja,” kata dr. Adi sambil tertawa. Oke deh, Dok!

Solusiku: Seandainya sampai muncul kontraksi palsu lagi, sepertinya nggak ada jalan lain selain menuruti saran dokter yaitu relaksasi. Karena semakin tegang, rasanya semakin sakit. Dan untuk fleknya, seperti biasa aku mencoba mengurangi aktivitas dan bedrest kalau nanti dirasa perlu. Semoga aman selalu deh.

8. Diagnosa akhir: plasenta previa parsial

Setelah USG kemarin (usia kandungan 37 minggu 2 hari), dokterku bilang kalau plasenta bayiku sepertinya sudah mentok dan nggak bisa kemana-mana lagi, sehingga beliau akhirnya mengeluarkan surat pengantar rawat inap untuk digunakan H-1 sebelum operasi cesar. Ditulis di surat itu bahwa diagnosa akhirku adalah plasenta previa parsial alias letak plasenta yang sebagian menutup/dekat dengan jalan lahir.

Lalu kapan waktu cesarnya? Insya Allah awal minggu depan. Tinggal menghitung dan menikmati sisa hari-hari yang penuh tendangan dan gerakan lucu dari dalam perut nih. Mohon doanya ya, teman-teman! Mudah-mudahan prosesnya dilancarkan, aman, nyaman, sehat, kuat, selamat, dan bahagia lahir batin. Amin :)

One thought on “[PREGNANCY] 37+ Weeks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s