[BABY] Her Fourth Trimester


Amanda40hrPINK+credit-15x15cm.jpg

Nggak terasa bayi kecilku sekarang sudah genap 3 bulan! Sudah tambah besar dan panjang (bye bye baju newborn!), sudah makin banyak akalnya, sudah macam-macam ekspresi wajah dan suaranya, dan sudah lulus dari trimester ke-4 versi dr. Karp! Alhamdulillah…

Bicara soal trimester ke-4, istilah ini aku dapat dari artikel Are Babies Born Too Early?” di web Colic Calm. Menurut dr. Harvey Karp, bayi manusia itu lahir 3 bulan alias 1 trimester lebih cepat! Jadi 3 bulan pertama hidupnya disebut trimester ke-4. Baca lengkapnya di Colic Calm atau di sini ya.

Di trimester ke-4, Amanda mengalami nyaris semua yang disebut sebagai ‘newborn problem’ yang sering kubaca di artikel-artikel bekal untuk ibu baru, mulai dari jaundice (kuning), kesulitan menyusu, infant eczema, cradle cap, kolik, gumoh melulu, sampai jam tidur yang ‘terbalik’ yang sempat bikin vertigo mamanya kumat :D Meski begitu, alhamdulillah perkembangannya pun sesuai dengan artikel-artikel itu, berat badan, panjang badan, dan kemampuan motoriknya juga berkembang sesuai target.

Berikut beberapa catatan kecil yang memorable tentang newborn problem dan keseruan perkembangan Amanda lainnya, untuk dibaca dan dikenang lagi nanti kalau dia sudah besar. Sekaligus siapa tau bisa membantu ibu-ibu newbie yang mengalami problem yang sama di luar sana, demi menggalakkan hashtag #SesamaIbuSalingBantu ;)

Jaundice
Menurut Mayo Clinic, jaundice adalah “A yellow discoloration in a newborn baby’s skin and eyes. Infant jaundice occurs because the baby’s blood contains an excess of bilirubin, a yellow-colored pigment of red blood cells.” Gampangnya sih, orang Indonesia sering menyebutnya dengan bayi kuning. Menurut ngobrol-ngobrol dengan teman dan ibu-ibu di RS, masalah bayi kuning itu sudah jadi hal yang biasa selama beberapa tahun belakangan ini. Bukan cuma dialami oleh bayi prematur, tapi bayi cukup bulan (lahir normal maupun caesar) pun banyak banget yang mengalami. Amanda termasuk salah satunya.

Dimulai dari hari terakhir kami dirawat di rumah sakit, dokter anak yang visit Amanda sempat menyarankan untuk tes darah karena menurutnya Amanda “agak kuning”. Aku sudah was-was dan mau nangis waktu itu, karena nggak tega bayangin bayi kecil umur 4 hari sudah harus diambil darah (dan ternyata benar, dia kembali ke kamar dalam keadaan nangis memelas, bekas diambil darahnya membiru dan nggak hilang sampai 2 minggu). Semakin mau nangis lagi ketika tau kalau nantinya kemungkinan aku harus pompa ASI untuk diminumkan ke Amanda pakai botol semisal dia jadi disinar (fototerapi), padahal aku sudah berkomitmen ingin menyusui langsung kapan pun dan dimana pun supaya Amanda nggak kenal dot, paling nggak sampai usianya 6 bulan.

Singkat cerita, akhirnya hasil cek darahnya datang dan bilirubin Amanda tertulis 12,0 sementara standar maksimumnya adalah 11,9. Cuma naik sedikiiiit sekali, sehingga waktu dokternya menyarankan untuk tinggal semalam lagi untuk disinar, aku dan suami sepakat untuk tetap bawa Amanda pulang dan mengupayakan sendiri di rumah dengan ASI dan dijemur tiap pagi. Apa daya, usaha kami ternyata nggak berhasil maksimal karena bilirubin Amanda justru naik jadi 12,66 saat kontrol dokter minggu berikutnya. Akhirnya aku terpaksa merelakan bayi kecilku balik lagi ke RS untuk disinar selama 1 x 24 jam dengan syarat entah gimana caranya aku harus tetap bisa menyusui langsung. Setelah merengek-rengek sama dokter, akhirnya aku diperbolehkan menginap di rumah sakit dan datang ke kamar bayi tiap 2 jam sekali untuk menyusui Amanda. Menyusunya juga harus banyak dengan durasi minimal 15 menit supaya bilirubinnya bisa cepat keluar dari tubuh Amanda.

Amanda fototerapi+credit-15x15cm

Ujian pertama bagiku sebagai ibu baru, lahir batin deh, nggak tanggung-tanggung. Untungnya kami sudah biasa berjuang bersama sejak Amanda masih sebesar kacang di dalam kandunganku, jadi cuma begini doang mah keciiiil ya, Nak. Yah, walaupun setelah itu dia jadi agak hitam tapi yang terpenting bye bye bilirubin dan bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat.

Problem Menyusui
Salah satu tantangan terbesar jadi ibu, terutama yang masih idealis dan perfeksionis seperti aku ini, adalah menyusui. Sejak hamil, aku memang sudah bercita-cita ingin memberikan ASI eksklusif untuk anakku, bahkan kalau bisa nggak perlu kenal dot sampai minimal usia 6 bulan. Tapi ternyata, yang namanya menyusui itu sama sekali nggak gampang. Masalahnya ada-ada aja, mulai dari puting lecet dan berdarah di minggu pertama, kesulitan menemukan posisi menyusu yang nyaman, Amanda menyusunya irit sampai sempat bikin mamanya demam dan ngerangkaki (bahasa Jawa, artinya kira-kira: payudara penuh, keras, dan sakit karena ASI terlalu lama tidak dikeluarkan), sampai supply ASI yang sempat menurun karena aku stres berat.

Ternyata demam dan ngerakaki itu nggak boleh dibiarkan lho. Waktu aku konsultasi via WhatsApp dengan dokter kandunganku yang baik, dr. Muh. Nurhadi Rahman, Sp.OG, beliau sempat memberikan antibiotik dan 2 obat lainnya untuk meredakan peradangan. Pesan tambahannya, “Jangan lupa pompa ASI ya!” supaya nggak terjadi peradangan lagi seandainya nanti Amanda sulit menyusu lagi. Untuk mengatasi rasa sakit dan payudara yang keras, aku sempat beberapa kali breast care dengan Bu Tatik (fisioterapis dari RS JIH) dan bidan Lia (dari Bidankita Klaten). Bidan Lia juga sempat mengajari teknik pijat payudara supaya aku bisa melakukan sendiri setiap sebelum mandi.

Sedangkan untuk problem supply ASI yang pasang surut, aku mengusahakan dengan makan bergizi, minum air putih yang cukup, minum jamu ramuan ASI dari ibu, jus sayur, makan bengkoang, daun katuk, pijat payudara dengan essential oil Basil dan Fennel dari Young Living yang katanya bisa memperlancar ASI, sampai konsumsi ASI booster semacam Earth Mama Angel Baby Organic Milkmaid Tea dan Mama Soya. Bismillah, aku percaya nggak ada hasil yang mengkhianati usaha, mudah-mudahan ASI-ku cukup untuk menyusui Amanda sampai lulus S2. Dibantu mengamini ya, prok prok prok :))

Problem Kulit
Ini nih yang paling menjengkelkan. Dimulai ketika Amanda usia 10 hari, tiba-tiba wajah dan lehernya ditumbuhi jerawat-jerawat kecil. Awalnya sedikit, lama-lama satu muka tertutup semua, bahkan telinga juga ikutan kena. Aku sempat coba obati sendiri di rumah pakai Buds Super Soothing Rescue Lotion, sempat hilang, tapi lalu tumbuh lagi di tempat lain. Anaknya sih nggak rewel, tapi mamanya nggak tahan lihatnya dan akhirnya kubawa dia ke dokter kulit langgananku, sekalian meluruskan omongan orang-orang yang bilang kena ASI lah (padahal sudah rajin banget kubersihkan setiap habis nyusu, sampai anaknya jengkel dibasah-basahin terus), biang keringat lah, alergi lah, sawan bayi lah. Oleh dr. Kalista Yuniar, Sp.KK, akhirnya Amanda diberi salep untuk dioles tipis-tipis dan segera dihentikan kalau sudah sembuh. Hilang sih, cepet banget malah, tapi sayangnya bekas jerawatnya berubah jadi putih-putih. Warna kulit wajah dan leher Amanda jadi nggak rata, salah-salah bisa dikira panuan.

Yang semakin menjengkelkannya lagi, si jerawat nggak jelas ini muncul lagi saat Amanda usia 1,5 bulan, malah kali ini makin mengerikan. Awalnya jerawat kecil banyak berubah jadi merah, kering, kasar, tebal, dan kayaknya gatal/sakit banget karena Amanda mulai sibuk menggosok-gosokkan sarung tangannya ke muka. Kali ini aku sempat minta pendapat 2 dokter, yang pertama dokter anak ahli alergi imunologi yang langsung menuduh aku sebagai ‘gudang alergi’ sehingga bikin Amanda punya bakat alergi juga. Tuduhannya memang benar karena aku memang menderita asma dan alergi, sejak kecil juga punya bermacam problem kulit. Tapi nggak perlu gitu amat ya ngomongnya, kan nggak ada orang tua yang kepingin menurunkan bakat alergi ke anaknya :( Sialnya lagi, berbarengan dengan bruntusan di wajah Amanda itu, dia juga sempat kolik dan kena diaper rash cukup parah, sehingga si dokter semakin menjadi-jadi. Amanda diminta tes feses di lab, aku sebagai yang memberi ASI diperintah untuk diet produk susu dan turunannya selama 2 minggu (yang ternyata nggak mengubah apa pun, malah si bruntusan makin mengerikan dan koliknya juga tetap kambuh beberapa kali), lalu diresepi salep Myco-Z dan Fenistril Drops. Sayangnya Amanda nggak cocok sama salep Myco-Z, bikin diaper rashnya malah melebar ke area yang tadinya baik-baik aja. Sedangkan Fenistril Drops nggak aku tebus karena merasa kurang sreg harus kasih obat minum untuk bayi yang usianya bahkan belum genap 2 bulan.

Akhirnya, setelah drama dengan dokter ahli alergi itu, aku memutuskan membawa Amanda ke dokter anak langganan yang baik dan ramah banget, dr. Indah Kartika, Sp.A yang akhirnya memberi saran sederhana, “Nggak usah dikasih apa-apa, Bu, nanti hilang sendiri kok.” Dan untuk diet produk susu dan turunannya yang aku jalani, beliau bilang silakan lakukan kalau aku merasa itu perlu dan bisa menyehatkan anakku, tapi kalau nggak membawa perubahan sebaiknya nggak perlu dilakukan daripada aku stres karena nggak bisa makan apa-apa. Yang jangan dimakan hanya makanan yang bikin aku alergi, karena selain merepotkan kalau alergiku kambuh, bisa-bisa juga makin panjang urusannya kalau ternyata Amanda ikutan alergi.

Beberapa hari setelah ketemu dokter sih aku masih kuat nggak ngasih apa-apa untuk kulit wajah Amanda, selain Beauty Water (itu lho temennya Kangen Water yang sedang trend dan katanya aman untuk kulit bayi juga). Alhamdulillah diaper rashnya beneran sembuh sendiri setelah hampir seminggu rutin pakai Beauty Water dan bebas-pospak dari pagi sampai siang. Tapi kulit wajahnya justru makin parah dan anaknya mulai makin rewel, sampai akhirnya aku menemukan pencerahan lewat salah satu testimonial yang diposting Baby Empire Shop di Instagram tentang produk Buds Super Soothing Hydrating Cleanser dan Buds Super Soothing Rescue Lotion yang dua-duanya aku sudah lama punya tapi lupa dipakai :D setelah tanya-tanya sama customer yang testimoninya diposting itu, akhirnya kucoba mengganti sabun Amanda dengan produk Buds, menyabuni wajahnya, lalu rajin memakaikan lotion Buds itu setelah habis mandi dan kapan pun kulit wajahnya kelihatan kering. Alhamdulillah nggak lama kemudian kulit wajah Amanda yang kering, merah, dan kasar mulai mengelupas pelan-pelan, area iritasinya mengecil, dan sembuh total sekitar seminggu setelahnya. Aku juga belajar dari pengalamanku sendiri menghadapi eczema sejak kecil, jadi mulai saat itu aku rajin melembabkan kulit Amanda wajah sampai ujung kaki setiap habis mandi (wajah tetap pakai lotion Buds dan tubuh pakai lotion Physiogel yang hypoallergenic), karena pada dasarnya kulit yang sensitif dan bakat alergi itu nggak boleh sampai kering agar terhindar dari gatal dan bentol yang sering tiba-tiba muncul.

Kolik
Kalau ada ‘penyakit’ bayi yang bisa bikin seorang ibu newbie frustasi berat, mau-marah-tapi-sama-siapa, merasa bersalah, sampai kepingin ikutan nangis… ya kolik jawabannya. Banyak artikel yang kubaca memang menyebutkan kalau kolik ini seringkali menyurutkan rasa percaya diri dan membuat para orang tua baru merasa gagal, karena anaknya nggak mau berhenti nangis walaupun sudah segala cara dicoba. Padahal katanya kolik nggak ada hubungannya dengan parenting skills, murni datang dari si bayi (yang penyebabnya nggak bisa diketahui dengan pasti), dan memang biasanya nggak ada yang bisa kita lakukan selain berusaha tetap tenang, menyamankan bayi sebisa mungkin, dan menghargai haknya untuk menangis karena mungkin memang itu yang dia butuhkan.

Amanda terserang kolik saat usianya sekitar 6 minggu, dia sedang tidur lalu tiba-tiba nangis jerit-jerit tanpa sebab dan kakinya menendang-nendang, lamaaaa banget sampai mukanya merah. Digendong tetap nangis, ditaruh makin nangis, disusui berhenti sebentar lalu nangis lagi. Nggak nangisnya cuma saat dia benar-benar bangun. Tapi begitu ketiduran, langsung gempar lagi. Sampai orang tuaku ikutan panik dan diputuskan untuk membawa Amanda ke UGD, yang kemudian dirujuk ke poli anak dan bertemu dengan dokter anak ahli alergi imunologi. Seperti yang kubilang sebelumnya, dokter itu malah bikin semangatku semakin drop dengan diagnosa dan larangan macam-macam yang ternyata nggak membawa perubahan. Koliknya tetap kambuh dua atau tiga kali beberapa hari kemudian, meski udah nggak separah serangan pertama. Malah yang banyak membantuku justru artikel dari internet tentang cara mencegah dan upaya-upaya mengatasi kolik, dan pesan dr. Indah Kartika, Sp.A, “Minum obat dan nggak minum obat sama aja, Bu. Yang penting kalau bayi kolik segera dinyamankan aja, dan kuncinya ibu jangan terlalu cemas supaya saat gendong detak jantungnya tetap stabil jadi bisa menyamankan dan menenangkan bayinya juga.”

Untuk newborn problem lainnya yang sempat dialami Amanda, kuringkas di bawah ini besera solusinya ya!
Cradle cap/kerak kepala/ketombe bayi: oleskan Virgin Coconut Oil (aku pakai merk Natura Lova) tipis-tipis di kulit kepala yang berkerak, lalu disisir lembur dengan sisir bayi yang ujungnya bulat dan dikeramas sampai bersih dengan sampo khusus bayi (aku pakai Sebamed untuk Amanda). Nggak bisa langsung bersih, tapi lumayan mengurangi. Katanya nanti hilang total sendiri saat bayi sudah lebih besar.
– Pilek: Amanda sempat pilek ringan di usia 1,5 bulan, karena nggak mau kasih obat, aku pakai 1 tetes essential oil Lemon dari Young Living yang diencerkan dengan V-6 (vegetable oil dari Young Living juga), dioles ke telapak kaki setelah mandi.
– Kembung: aku pakaikan essential oil blend Gentle Baby dari Young Living (1 tetes dioles di belakang telinga dan telapak kaki) dan Buds Calming Rub Cream untuk dioles di perut Amanda. Katanya si kembung ini berkaitan dengan kolik, jadi aku rajin-rajin banget supaya nggak kambuh lagi.
– Demam: Amanda sempat demam sampai 37,9 derajat setelah imunisasi DPT di usia 2 bulan dan 37,7 derajat setelah imunisasi PCV di usia 3 bulan. Meski sudah dibekali obat penurun panas, tapi dr. Indah pesan untuk tidak memberikan obat kalau tidak sangat perlu (suhu 38-38,5 derajat). Akhirnya aku coba memberikan pertolongan pertama dengan memberi lebih banyak ASI dan Kangaroo Mother Care (bayi di dada ibu seperti posisi IMD, skin-to-skin) selama hampir 1 jam. Alhamdulillah demamnya turun lebih cepat dan Amanda ceria lagi :)

Nah, sekian dulu ya obrolan (plus curhatan) tentang newborn problem yang dialami Amanda di 3 bulan pertamanya. Nanti aku kembali dengan keseruan mengurus bayi lainnya oleh emak-emak newbie ini, semoga segera sempat ;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s