[BABY] Merahlah Pipinya


Soleram, soleram
Soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium, Sayang
Kalau dicium merahlah pipinya

Aku sudah familier dengan lagu Soleram itu sejak kecil, tapi baru betul-betul menghayati liriknya belakangan ini. Dulu kupikir si Soleram ini pipinya merah karena malu kali ya kalau dicium. Tapi nggak pernah terpikir kalau ternyata pipi anak bisa beneran merah (bukan memerah) karena bakteri/virus yang ditularkan lewat cium-cium gemes dari orang-orang.

Bermula dari postingan Instagram dari blogger favoritku, Andra Alodita, yang mengingatkan tentang pentingnya para ibu untuk tidak membiarkan sembarang orang memegang/menggendong/mencium anak kita, meskipun itu keluarga sendiri, berkaca pada kejadian yang menimpa bayi Claire Henderson yang sampai terkena herpes oral karena sering dicium-cium orang. Awalnya sih aku cuma “Iya ya, ngeri juga ya!” tapi tekadku masih separuh-separuh untuk tegas membatasi orang lain memegang/mencium Amanda. Separuhnya didominasi perasaan galau gimana dong nanti ngomong ngelarangnya, dst dst. Apalagi kalau yang pengen gendong itu saudara sendiri, kan nggak enak (dasar orang Endonesa!).

Sampai akhirnya… Amanda mengalami sendiri :(

Sejak usia 10 hari, Amanda memang sudah ketahuan kalau bakat alerginya (yang AKU turunkan. Hiks maaf ya, Nak…) cukup kental. Berawal dari bruntusan merah di pipi, yang lama-lama jadi parah  dan menyebar sampai seluruh wajah, leher, telinga, dan kulit kepala. Banyak orang bilang kena ASI lah, alergi makanan yang aku makan lah, sawan bayi lah, sampai akhirnya dibawa ke dokter kulit dan dibilang dermatitis seboroik. Dikasih obat dokter sih sembuh, tapi nggak lama kemudian muncul lagi. Ketemu dokter yang lain lagi, dibilang dampak alergi dari intoleransi laktosa. Alhasil mamanya dilarang makan/minum produk susu dan turunannya. Eh, masih muncul juga, malah bertambah parah. Yang tadinya cuma bruntusan jadi menebal, merah, kasar, dan anaknya pun mulai nggak nyaman dan terganggu tidurnya. Tapi semua dugaan penyebab yang dibilang dokter dan orang-orang lain datangnya dari dalam tubuh, jadi aku nggak pernah curiga pada faktor lain dari luar tubuh.

Sampai pada suatu hari (saat itu iritasi di pipi Amanda sudah nyaris sembuh total, thanks to Buds Organic), kami kedatangan rombongan tamu yang mau menjenguk Amanda. Tapi eeeh baru datang aja sudah langsung minta mau gendong. Aku sempat ngeles dengan alasan anaknya baru aja tidur dan badannya lagi panas setelah imunisasi, tapi sang tamu tetap maksa dan nggak ingat pula untuk cuci tangan dulu. Aku yang nggak enak pun akhirnya menyerahkan Amanda, meski sambil dipelototin karena was-was. Tapi memang kalau jagain anak tuh dipelototin aja nggak cukup, karena setelah rombongan tsb pulang, mendadak muncul bentol-bentol merah di sisi kanan wajah Amanda. Anaknya pun mulai heboh gosok-gosok mukanya pakai sarung tangan. Aku sempat agak panik, kirain efek demamnya. Sebelum akhirnya ngeh ketika mencium wangi parfum dari sisi kanan kepala Amanda.

Parfum! Disemprotkan ke bagian depan pakaian yang kontak langsung dengan kulit wajah Amanda yang memang sensitif. Akibatnya? Anakku yang sedang demam pun makin nggak nyaman tidurnya karena gatal-gatal. Dan orang yang gendong tanpa cuci tangan dan tidak sadar diri bahwa bajunya baru aja disiram parfum segalon? Pulang dengan santai, tidur dengan nyenyak, enak banget.

Kejadian semacam itu bukan cuma sekali dialami Amanda lho. Ada yang udah ingat cuci tangan tapi nggak ingat kalau mukanya keringatan, bikin Amanda langsung bruntusan merah setelah dicium-cium. Ada lagi yang udah tau muka Amanda lagi iritasi, malah sengaja dielus-elus sambil bilang “Duh, kasian…” atau “Nggak pa-pa, ini tandanya anak mau tambah pinter.” Duuuuh :((

Yang awalnya aku masih nggak enak, lama-lama siapa pun yang mau pegang Amanda selalu kuingatkan untuk nggak pegang mukanya, disertai penjelasan panjang tentang kulit Amanda yang super sensitif. Sejak itu suara-suara sumbang bermunculan, mulai dari “Jangan terlalu bersih lah, nanti anaknya jadi gampang sakit lho!”, lalu “Overprotective banget sih!” sampai yang paling jengkelin adalah “Wah, anak orang kaya sih ya makanya gampang alergi!” disertai tawa mengejek. Wow, that hurts.

Sebelum bicara yang nyelekit, mohon diingat bahwa nggak ada orang yang ingin dilahirkan dengan alergi bawaan. Bukan kami yang memilih, bukan mentang-mentang anak orang kaya lalu sok alergi ini itu. Sama sekali nggak ada hubungannya. Perlu diketahui juga kalau kami kaum alergian ini nggak akan bisa sembuh, sehingga kami nggak punya pilihan lain selain menjaga dan menjauhkan diri kami (dan anak-anak kami) dari pemicu alergi. Karena kalau alerginya sampai kambuh, siapa yang ngerasain akibatnya? Kami sendiri. Siapa yang mau bantu menanggung rasa sakit/gatal/apa pun akibat alergi? Nggak ada.

Now, you can call me “overprotective” or anything you want. Tapi sebagai ibu, aku hanya berusaha melindungi anakku supaya nggak kesakitan atau merasa nggak nyaman. Bukan dengan cara yang over juga, hanya dengan menjaga (dan meminta orang di sekitar untuk menjaga) kebersihan aja, sesederhana yang diajarkan jaman SD dulu. Mudah-mudahan kedepannya semakin sedikit orang nggak pedulian yang hobi nge-judge dan semakin banyak orang yang sadar tentang kebersihan dan kesehatan serta mau saling menjaga dan menghargai :)

Advertisements

2 thoughts on “[BABY] Merahlah Pipinya

  1. nita says:

    kalo yang komen ngejengkelin kayak gitu, jawab aja, “iya nih, maklum orang kaya…” sambil ketawa juga. ikutan sebel deh bacanya… aku dari kecil juga punya alergi banyak banget, dan banyak juga yg ngomong kayak gitu, bikin geregetan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s