[BABY] 6 – 8 Months


Hai, hai, hai!

Akhirnya aku kembali punya waktu (dan koneksi internet) untuk update blog lagi, setelah serangkaian acara pindahan, adaptasi dan ‘mengadaptasikan’ si bayi di lingkungan baru, drama MPASI yang tak berkesudahan, dan lain sebagainya. Tulisan ini sebenarnya sudah aku susun sejak berbulan-bulan lalu, telat banget di-post sekarang mengingat Amanda sekarang sudah hampir 12 bulan. Tapi nggak apa-apa ya, lebih baik terlambat daripada tidak, kan? :D

Di bulan ke-6, 7, dan 8 perkembangan Amanda bisa dibilang sangat pesat. Banyak milestones yang dicapai nyaris bersamaan sampai kadang bikin aku dan suami terheran-heran sekaligus takjub.

Naik pesawat
Bulan Maret lalu, Amanda dan aku akhirnya dijemput si papa untuk tinggal bersama di Bandar Lampung. Saat itu usia Amanda sudah 7 bulan, sudah termasuk usia sangat aman dibawa bepergian naik pesawat, tapi tetap aja mama papanya deg-degan karena baru pertama kalinya. Alhamdulillah dia sama sekali nggak rewel selama perjalanan Jogja-Jakarta. Hampir separuh jalan dia tidur dan mimik, sisanya anteng nontonin layar monitor di pesawat dan mainan kartu petunjuk keselamatan.

Tapi waktu baru naik ke pesawat Jakarta-Bandar Lampung, Amanda sempat nangis jerit-jerit beberapa menit. Aku dan suami (plus para pramugari) mulai agak panik karena segala cara udah dicoba tapi anaknya tetap aja nangis. Ternyata oh ternyata… dia kepanasan karena kondisi di dalam pesawat waktu memang panas banget. Akhirnya setelah dikipasin dan dikasih kartu petunjuk keselamatan lagi untuk mainan, Amanda pun mulai tenang. Sepanjang jalan ke Bandar Lampung dia cukup anteng, asik gigitin kartu petunjuk keselamatan kesayangannya itu (jorok, jangan ditiru ya) sambil nonton film kaya anak besar.

Sampai hari ini (usia 11 bulan 2 minggu), Amanda sudah 12 kali bolak-balik naik pesawat ke Jakarta, Palembang, dan Jogja. Alhamdulillah aman dan hampir nggak pernah rewel. Tipsnya?
– Selalu siapkan kapas dan usahakan untuk menutup telinga bayi dengan kapas sebelum take off. Tapi kalau bayinya nggak mau dan kapasnya ditarik-tarik terus ya udah nggak perlu dipaksa, daripada malah jadi cranky karena kesel sama kapas.
– Usahakan untuk menyusui bayi (atau ngempeng juga nggak apa), terutama saat take off dan landing.
– Siapkan teether, mainan favorit, cemilan, atau apapun yang bisa digigit selama perjalanan, siapa tau si bayi lagi nggak kepingin nyusu. Karena katanya kalau mulutnya sibuk ngenyot/ngunyah, maka telinganya jadi nggak sakit.
– Perkirakan suhu di dalam pesawat supaya bayi kita nggak saltum dan berakhir cranky karena kepanasan/kedinginan. Pengalamanku sih simple aja: kalau terbang siang Amanda cuma pakai kaus lengan pendek (tanpa kaus dalam), celana panjang, kaus kaki, plus bekal cardigan dan topi (ini penting untuk jalan dari bus ke pesawat di bawah sinar matahari). Kalau terbang di atas jam 4 sore pakai kaus lengan panjang (tanpa kaus dalam), celana panjang, kaus kaki, plus bekal cardigan dan kain untuk selimut.
– Mama juga harus pakai baju yang nyaman dan nursing-friendly bagi yang menyusui langsung. Nursing cover jangan lupa dibawa ya.
– Pilih seat di gang supaya nggak repot keluar masuknya.
– Tarik napas panjang, tenang… Berusaha tenang dan nggak panik apapun yang terjadi di atas pesawat adalah bagian yang paling susah bagi para orang tua. Tapi pasti bisa dong, asal semangat dan saling support dengan suami.

Adaptasi rumah dan lingkungan baru
Sudah lega turun pesawat, sesampainya di Bandar Lampung aku masih harus ‘mengadaptasikan’ Amanda dengan rumah dan lingkungan baru. Sama sekali nggak mudah buatku, sempat agak stres dan bingung juga karena di sini aku dan suami bener-bener sendirian mengurus Amanda. Just three of us against the world. Dan kalau suami ke kantor, nggak ada lagi yang bisa dititipi kalau aku mau ke toilet, mandi, atau makan, dan nggak ada juga yang bisa gantiin gendong Amanda kalau lagi capek atau sakit. Seminggu pertama rasanya Amanda (dan aku) susah banget tertawa saking stresnya. Tapi pelan-pelan dia mulai mengenal rumahnya, makin akrab sama papanya, jadi bisa semakin happy.

Duduk, merangkak, belajar berdiri
Tiga milestones penting ini dicapai Amanda selama 3 minggu berturut-turut sejak tiba di Bandar Lampung (usia 7 bulan). Yang tadinya di Jogja belum bisa duduk sendiri, mendadak dia menopang tubuh dari posisi tengkurap dan duduk tegak begitu aja dengan muka polos. Ajaibnya lagi, minggu berikutnya mendadak Amanda mulai pegangan bahuku dan… berdiri! Aku melongo-longo, sampai nggak sempat fotoin momen istimewa itu saking kagetnya :D Di usia 7,5 bulan berdirinya semakin tegak dan usia 8 bulan sudah bisa berdiri sendiri tanpa bantuan meski cuma bertahan 2-3 detik sebelum jatuh lagi. Proses belajar ini bersamaan dengan kemampuannya merangkak. Lepas pandangan sedikit aja dia udah merangkak sampai ujung dunia kali hehe…

Getting more and more attached to mama
Sejak pertama kali kami tiba di Bandar Lampung sampai tulisan ini di-post, Amanda masih selalu nangis kalau ditinggal sendirian di ruangan manapun di dalam rumah. Bahkan kalau lagi super rewel, mamanya cuma jalan dua langkah untuk ambil sesuatu aja dia udah jerit-jerit. Sama papanya pun begitu. Jangan sampai deh dia kebangun waktu papa mau berangkat kantor kalau nggak mau berakhir dengan drama penuh tangisan karena nggak mau ditinggal papa :D  Karena sifatnya yang lagi super clingy ini, kalau aku lagi sendirian di rumah nggak ada jalan lain selain dibawa ke mana pun aku pergi, mulai dari dapur sampai toilet. Kadang dia duduk di stroller nungguin aku masak, kadang juga dia duduk di bouncer nungguin aku mandi. Kalau Amanda sedang nggak mau didudukkan di stroller, terpaksa digendong pakai baby carrier (punyaku merk Mothercare 4 in 1 dan i-Angel Hipseat Carrier –ini recommended banget, review singkat bisa dilihat di sini) sambil nyiapin makan atau cuci piring.

Meskipun repot dan banyak omongan pedas dari sana-sini (“Itu gara-gara di rumah cuma berdua sama mamanya sih!” fiuh!), aku berusaha nggak ambil pusing dengan sifat clingy ini. Karena seperti kata artikel yang kubaca di aplikasi What to Expect Baby, fase ini memang wajar bagi bayi seusia Amanda, bukan salah siapa-siapa, bukan karena sehari-hari cuma berdua mama (lagian memangnya harus bareng siapa sih? Ngundang satu RT dateng ke rumah tiap hari?), tapi justru sebagai pertanda kematangannya.

The mirror stage
Istilah “mirror stage” ini pertama kali aku baca di blog Tara Amelz yang bercerita tentang perkembangan anaknya, Snow, yang waktu itu sedang cinta-cintanya sama kaca. Akhirnya tiba juga giliran Amanda nih. Lagi nangis jejeritan pun langsung diam dan senyum (meski agak gengsi) setiap kali lihat kaca. Amanda juga cinta banget sama kaca di wadah bedak dan kaca kecil yang sering kupakai untuk touch up lipstik. Kalau dia lagi nontonin aku dandan lalu kuhadapkan kaca itu ke mukanya, pasti langsung ketawa sumringah. Makin girang lagi kalau aku pura-pura pakaikan bedak atau lipstik juga hihi.. Dasar anak cewek!

Tumbuh gigi
Menjelang akhir bulan ke-8, gigi yang ditunggu-tunggu akhirnya mulai muncul disertai dengan serangkaian sindrom-tumbuh-gigi yang menjengkelkan :D Mulai dari badannya sumeng, mogok makan, tangannya masuk mulut melulu untuk pegang-pegang gusinya, air liur super banyak, dll. Sampai hari ini (usia 11 bulan 2 minggu), gigi Amanda sudah 4 yang tumbuhnya sekitar 2-3 minggu sekali. Senang sih, sekarang dia sudah bisa makan biskuit yang agak keras dan lebih pintar mengunyah, tapi kalau lagi tumbuh gigi itu lho… GTM-nya ampun!

PROBLEM
Memang yang namanya mengurus bayi itu setiap hari ada pembelajaran baru, hampir setiap hari juga ketemu problem baru yang nggak jarang bikin galau. Berikut beberapa problem yang dialami Amanda di usia 6 sampai 8 bulan.

Sembelit
Menjelang usia 8 bulan, Amanda mendadak mengalami sembelit. Fesesnya cukup padat dan hanya keluar sedikit setiap kali pup, sehari bisa pup sampai 3x. Akibatnya setiap kali dibersihkan dan diganti diaper selalu drama nangis-nangis, mungkin perih atau ada yang lecet. Akhirnya kubawa ke dr. W. Gunawan di Apotek Sinar Antasari Lampung dan diberi Solac (lactulose) untuk melunakkan feses. Waktu minum Solac sih memang jadi lancar pupnya, tapi begitu berhenti langsung sembelit lagi. Aku sampai kebingungan karena nggak ada makanan yang baru dikenalkan, makan buah sudah rutin setiap sarapan, makan sayur setiap siang, serat nggak kurang-kurang, air putih dan ASI juga sepertinya cukup. Buah naga merah, pir, plum, melon golden, dan semua buah lainnya yang katanya bisa mengatasi sembelit pun sudah aku coba, tapi tetep aja :(

Untuk cari second opinion, akhirnya kubawa ke dr. Sri Murni di RS Graha Husada Lampung. Beliau menyarankan terapi lactulose (diganti merk Opilax) ditambah Interlac (probiotik). Amanda pun dikasih catatan untuk diet: nggak makan nasi, ikan, gandum, produk susu dan turunannya, perbanyak air putih, buah, dan sayur. Tapi selama aku menerapkan diet itu dan rutin memberikan Opilax dan Interlac pada Amanda, sembelitnya tetap kambuh-kambuhan sampai nyaris 3 bulan lamanya. Akhirnya, aku yang sudah capek lihat Amanda nangis-nangis setiap kali minum Opilax pun menghentikan secara sepihak tanpa konsultasi dokter. Ajaibnya, pup Amanda malah jadi lancar lho. Sejak itu aku bismillah aja, maju terus tanpa bantuan lactulose dan mulai memperkenalkan lebih banyak makanan lagi pada Amanda. Cuma probiotik (Interlac diganti dengan Liprolac) yang rutin aku kasih setiap hari, plus pemberian buah, sayur, nutrisi seimbang, alhamdulillah acara pup menjadi lancar kembali.

Susah makan
Sejak hari pertama MPASI di usia tepat 6 bulan, Amanda sudah melancarkan jurus GTM. Aku pikir awalnya karena dia masih “belajar” dan “beradaptasi” dengan makanan. Tapi ternyata sampai berbulan-bulan kemudian pun masih setengah mati setiap kali makan. Segala jenis makanan sudah dicoba, segala metode sudah dicoba, tapi ya begitu aja, 5 suap udah syukur deh. Tunggu post berikutnya ya untuk cerita lengkap drama MPASI Amanda.

Ruam merah di wajah
Ruam merah (atau lebih menyerupai bintik-bintik) ini muncul di pipi sebelah kanan dan dagu Amanda sejak mulai MPASI. Dokter bilang kemungkinan alergi makanan, tapi sampai sekarang aku belum berhasil menemukan makanan apa yang bikin dia alergi. Padahal Amanda sudah ambil darah untuk tes alergi segala. Nilai alerginya memang tinggi, tapi ketika dites dengan alergen yang lebih spesifik tetap aja belum ketahuan alerginya apa. Sejauh ini sih solusi yang kulakukan adalah rajin-rajin melembabkan kulit wajahnya dengan lotion Little Pam dan segera membersihkan sisa makanan yang menempel di wajahnya setelah makan. Kalau udah parah banget baru aku oles salep racikan yang pernah diresepkan dr. Kalista Yuniar, Sp. KK.

Nah, sekian dulu ya sharing/curhat tentang perkembangan dan kelucuan Amanda. Nantikan post berikutnya tentang MPASI plus review segambreng peralatan perangnya ya. Stay strong and fabulous, ibu-ibu! <3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s