[BABY] Menyapih Amanda


IMG_5577web

Melalui post ini aku mengumumkan dengan penuh haru dan bahagia bahwa Amanda saat ini sudah berhasil disapih! Yeay! Alhamdulillah Amanda anak pintar, sejak di perut dia selalu disiplin dan tepat waktu, bisa mulai menyusu tepat di hari lahirnya dan berhenti juga tepat di usia 2 tahun. Berikut aku bagi cerita dan tips ala Mama Ayu tentang proses menyapih Amanda ya! Semoga bermanfaat :)

SEBELUM MENYAPIH

Komunikasi dengan anak

Berdasarkan pengalamanku, komunikasi adalah salah satu kunci utama keberhasilan menyapih Amanda. Sejak satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-2, setiap hari (terutama sebelum tidur) aku selalu “menceramahi” Amanda yang kurang lebih bunyinya, “Manda kan nanti tanggal 17 Agustus mau ulang tahun, umurnya udah 2 tahun berarti sudah be… (sar, dia jawab). Kalau sudah besar, mimik susu mama no no no (no no no, dia menirukan.). Anak besar itu kalau haus minumnya susu moo (susu sapi UHT, maksudnya), air putih, atau jus aja. Kalau mau bobo nanti disayang mama, dipeluk-peluk, atau digendong ya…” Meskipun kadang dia kesel dan marah dengernya, tapi aku ulang-ulang terus. Ada yang bilang ini bentuk sugesti atau metode hipnosis. Tapi buatku, ini bentuk komunikasi. Aku berusaha membuat Amanda ingat dan mengerti, sehingga nanti saat penyapihan dia berhenti mimik karena benar-benar siap dan paham kalau dirinya sudah besar dan sudah nggak boleh mimik susu mama lagi. Kenapa aku bilang komunikasi ini penting? Karena kadang kita suka lupa bahwa anak kecil juga manusia. Mereka kecil, mungkin belum bisa bicara dengan jelas, tapi yakinlah bahwa mereka mengerti.

Siapkan mental dan hati ibu

Ternyata benar kata orang, menyapih ibu lebih susah daripada menyapih anak. Aku yang sering berkhayal “betapa enaknya kalau anak sudah nggak ASI, bisa lebih mandiri dst dst” ternyata tetap galau berat saat proses penyapihan. Merasa kehilangan, terkenang masa-masa saat Amanda masih menyusu, susahnya, senangnya, teringat hangatnya setiap kali dia tertidur di dadaku setelah selesai menyusu… galau nggak karuan pokoknya. Belum lagi ditambah rasa bersalah yang mungkin muncul saat mendengar anak nangis kejer minta mimik. Kalau ibunya nggak kuat mental dan hati, bisa gagal total proses menyapihnya. Memang nggak mudah ibu-ibu, tapi yakinlah nanti kalau anak sudah berhasil disapih kita akan tetap bisa menciptakan kenangan baru yang nggak kalah indah dari proses menyusui, kehangatan dan kedekatan antara ibu dan anak pun tetap bisa selalu dijaga dengan seribu satu cara lainnya.

SAAT MENYAPIH

Tadinya aku merencanakan mulai menyapih Amanda secara resmi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2, itupun baru mau mulai usaha. Kalau ternyata hari itu gagal ya besoknya dicoba lagi. Ternyata malam hari sebelum ultahnya (16 Agustus 2017) Amanda justru menyapih dirinya sendiri. Ceritanya malam itu dia sedang mimik lalu aku “ceramah” seperti biasa. Eh, mendadak dia lepas mimiknya dan minta minum susu moo, lalu minta disayang dan dipeluk-peluk sampai akhirnya ketiduran di dadaku sekitar jam 12 malam, sama sekali nggak kebangun sampai pagi.

Tanggal 17 Agustus 2017, tepat di hari ulang tahunnya, Amanda sempat merengek minta mimik saat bangun pagi, tapi berhasil dialihkan dan main sama eyang-eyangnya, pakde, bude, dan tantenya yang baru datang dari Jogja. Waktu mau bobo siang dia sempat nangis lumayan kejer mau mimik mama, ceramahku yang biasa pun nggak mempan. Akhirnya aku coba iseng oles lipstick merah di sekitar puting dan berdalih, “Mimik mama sakit. Nih lihat ada merah-merah…” tapi anaknya makin nangis dan malah ngeyel minta merah-merahnya dibersihin aja :)) Untungnya cuma sebentar, karena dia sudah ngantuk berat jadi mau aja bobo sambil digendong. Tidur malam pun begitu, cuma dipangku sambil dinyanyiin (karena kebetulan kami masih di mobil dalam perjalanan pulang) lalu sukses tidur tanpa mimik sampai pagi.

Di hari ke-3 menyapih, Amanda kebangun jam 5 pagi dan merengek lagi, tapi berhasil dibujuk minum air putih dan susu UHT lalu lupa karena asyik main sama eyang-eyangnya. Siangnya sempat heboh banget nangisnya, akibat kagol ditinggal eyang kung pergi ke Denpasar, ditambah nggak boleh mimik pula. Combo kagol itu bikin dia super rewel sesiangan, bolak-balik ngigau dan nangis kejer susah ditenangkan. Akhirnya baru berhasil tidur agak tenang setelah digendong dengan posisi tengkurap di dadaku. Malam harinya juga heboh tapi lucu, karena ternyata Amanda ingat kalau mimik mama kemarin sakit dan dia tiba-tiba tanya, “Mimik mama sekarang udah sembuh, kan?” dengan penuh harap, lalu nangis kejer lagi saat dijawab, “Udah sembuh, tapi adek kan udah ulang tahun, udah besar, nggak boleh mimik lagi.” Segala cara aku dan suami lakukan malam itu, berusaha supaya dia tetap nggak mimik, sampai akhirnya berhasil bobo sambil digendong dan dinyanyiin sama papa, zero drama sampai besok paginya.

Hari-hari berikutnya juga banyak hal menarik, sampai post ini diunggah tepat seminggu sejak mulai disapih, Amanda kadang masih suka minta mimik tapi tanpa nangis dan lebih mudah dialihkan. Semalam dia berhasil tidur sendiri tanpa digendong, syaratnya mama harus nyanyi lagu “Burung Hantu” diulang berkali-kali hihihi… Berikut ini beberapa poin yang menjadi catatan aku saat proses menyapih:

Kerja sama orang tua

Proses menyapih akan lebih mudah dan cepat berhasil jika kita didukung sepenuhnya oleh suami. Nggak cuma gantian gendongin aja, tapi juga diperlukan kesabaran suami saat anak ngamuk cari mimik menjelang tidur atau tengah malam, dan dukungan untuk ibu saat dilanda kegalauan pasca menyapih.

Mama jangan galau dan ekspektasi terlalu tinggi

Ini penting banget tapi susah. Haha…  Harus yakin ya ibu-ibu, nggak boleh galau, dilarang baper supaya mamanya nggak runtuh pertahanan saat anak nangis kejer minta mimik. Selain itu, supaya ibu nggak stres,anak nggak jadi korban, dan proses weaning with love bisa tercapai, mungkin nggak usah pasang target terlalu ketat tentang kapan anak harus 100% disapih. Usaha semampunya dengan segala cara yang diyakini baik, tapi tetap harus siap dan legowo ya. Kalau belum berhasil disapih malam ini, mungkin besok pagi bisa. Kalau siang masih terpaksa dikasih mimik, mungkin nanti malam sudah bisa lepas. Aku mungkin termasuk yang beruntung bisa menyapih sesuai target, tapi sebelum mulai pun aku sudah berusaha legowo aja. Dengan begitu, alhamdulillah ternyata semesta justru mendukung dan memudahkan proses menyapih.

Siapkan “pengganti” ASI

ASI memang nggak akan tergantikan, baik secara gizi maupun emosi dan rasa cinta di setiap tetesnya. Tapi saat proses menyapih, kita harus menyiapkan sesuatu yang berguna untuk mengalihkan keinginan anak untuk mimik, misalkan saat haus ya dikasih air putih, susu UHT atau sufor (bagi yang mengkonsumsi). Siapkan juga cemilan, buku bacaan, atau apapun yang sekiranya bisa menenangkan anak.

IMG_5543web

SETELAH MENYAPIH

Setelah beberapa hari Amanda berhasil disapih, aku sempat bilang sama suami kalau kita rasanya seperti punya newborn lagi. Bingung, nggak tau harus gimana, dan mesti putar otak mencari seribu cara supaya Amanda bisa nyaman tanpa mimik, bobo tanpa mimik, tetap happy dan sehat di tahap penyapihan ini. Kedekatan yang terbangun di antara kami pun terasa baru, karena kalau selama ini Amanda lebih sering mendekat untuk mimik dan pergi lagi setelah selesai, sekarang dia sering tiba-tiba datang ke mama untuk minta dipangku atau sekedar pengen dipeluk. Sejak disapih, Amanda juga jadi lebih mudah tidur. Bahkan sudah bisa tidur sendiri di mobil, nggak pakai rewel lagi seperti dulu waktu masih bisa merengek minta mimik.  Satu-satunya hal yang jadi catatanku dan sangat penting diperhatikan setelah menyapih adalah:

Manajemen sisa ASI

Manajemen sisa ASI harus sangat diperhatikan, bahkan sejak kita baru mulai proses menyapih. Aku sempat galau saat payudaraku sakit dan merengkel setelah hampir 24 jam ASI-nya nggak dikeluarkan. Meskipun habis itu aku berusaha memerah manual (karena udah nggak punya breastpump) setiap beberapa jam sekali, tapi kayaknya sudah terlambat. Puncak sakitnya di malam ke-4, sampai aku ketakutan bakalan bengkak atau mastitis. Akhirnya aku tanya teman-teman yang sudah lebih dulu menyapih dan dapat tips untuk mengosongkan payudara dengan cara menyusui anak saat dia sudah tidur, dengan harapan si anak nggak sadar dan mengira itu semua hanya mimpi belaka :D Walaupun awalnya sempat ragu, takut Amanda ternyata sadar dan proses menyapih yang berjalan beberapa hari ini gagal. Tapi setelah diskusi sama suami, akhirnya diputuskan untuk menyusui Amanda tengah malam itu sampai payudara kosong. Eh alhamdulillah, sampai sekarang sepertinya produksi ASI berkurang drastis dan nggak terasa sakit lagi. Emang mamak nggak boleh kebanyakan galau deh :)) Tapi sampai sekarang aku masih tetap cek terus, kalau payudaraku penuh langsung dipompa ASI-nya sampai terasa nyaman. (Udah punya breastpump lagi sekarang, baru beli dalam rangka menyapih. Merknya Unimom seri Mezzo, harganya Rp 245.000 di @gerailaktasi. Recommended banget, termasuk murah, nyaman dipakai, LDR cepat, membersihkan dan memasang kembali gampang.)

Sekian cerita dariku, mudah-mudahan bisa membantu dan menginspirasi teman-teman yang juga sedang galau menyapih anak. Kalau ada yang masih galau atau kepengen ngobrol, silakan kontak aku via Line atau Instagram ya, aku dengan senang hati berbagi lebih banyak lagi. Semangat ya ibu-ibu, keep strong and fabulous! 

One thought on “[BABY] Menyapih Amanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s