[BABY] CAR SEAT MADNESS


IMG_7562web

Kalau ngobrolin tentang ‘kegilaan’ menghadapi toddler rasanya nggak ada habisnya ya, buibu :D Kali ini aku mau cerita sedikit tentang proses panjaaang sampai akhirnya Amanda mau duduk tenang di car seat. Ada beberapa tips ala aku juga, semoga bisa sedikit membantu ibu-ibu yang juga sedang berusaha mengajari anak-anaknya duduk di car seat ya.

Amanda pertama kali duduk di car seat tanggal 7 November 2015. Car seat yang aku pakai saat itu merk Baby Does CH402, yang sekaligus bisa jadi baby carrier. Bentuk car seatnya sebenarnya sudah cukup rebah, tapi karena saat itu Amanda belum genap 3 bulan dan aku (tepatnya orang-orang di sekitarku) nggak tega kalau posisinya terlalu duduk, jadi terpaksa ditambahin berlapis-lapis selimut supaya posisinya lebih rebah lagi. Reaksi anaknya gimana? Wajahnya sempat tegang, lalu mewek sedikit, tapi nggak lama malah ketiduran sekitar 10 menit perjalanan, sebelum akhirnya bener-bener nangis dan minta digendong.

Sebulan kemudian, sekitar usia 4-5 bulan, aku sempat coba latih lagi duduk di car seat. Amanda sebenarnya sudah bisa mulai menikmati, ekspresinya lebih santai dan mulai lihat-lihat ke luar jendela. Tapi proses latihan duduk di car seat selanjutnya gagal total karena larangan orang-orang di sekitarku, ya orang tua, saudara, tante, budhe, temannya orang tua, tetangga, dan banyak lagi yang hobi ikut kasih masukan. Alasannya beragam, mulai dari “Kasihan” sampai argumen yang paling nggak berdasar seperti “Zaman dulu anak bayi nggak ada yang duduk di car seat, digendong aja ke mana-mana, udah nggak usah pakai kaya gituan” huhuhu…

Berkat ‘masukan’ semacam itu, akhirnya car seat pun dimuseumkan sampai kami pindah ke Bandar Lampung. Usia Amanda saat itu sudah 7 bulan, sebenarnya sih udah agak terlambat untuk membiasakan karena anaknya sudah semakin ngerti dan bisa melawan. Harus tahan kuping dan tahan hati banget dengerin Amanda nangis merengek sepanjang jalan, minta turun dari car seatnya. Aku dan suami awalnya berusaha tahan aja, kan demi kebaikan Amanda juga nantinya. Tapi begitu pihak-pihak yang mengintervensi datang kembali…. bubar jalan deh. Terpaksa car seat masuk kardus lagi, sampai kami pindah ke Bali bulan Maret 2017 lalu.

Saat itu Amanda sudah 18 bulan, semakin ngerti dan sudah bisa diajak komunikasi dengan baik, tapi ngeyelnya juga minta ampun. Punya seribu satu alasan dan akal yang semakin panjang untuk menolak duduk di car seat. Awalnya dia cuma tahan 30-40 menit duduk di car seat, lalu merengek, minta dipangku dan mimik susu. Rasanya benar-benar capek banget waktu itu, karena jarak rumah kami ke kota (Sanur, Kuta) bisa sampai 2 jam perjalanan. Jadi kebayang dong betapa pegal dan gerahnya kalau harus gendong dan mangku anak yang ukurannya udah nggak kecil lagi.

Walaupun memakan waktu dan perjuangan panjang, tapi alhamdulillah akhirnya usahaku dan suami berhasil juga! Tepat beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-2, Amanda akhirnya mau duduk di car seatnya sepanjang perjalanan pulang-pergi. Anaknya kelihatan sangat enjoy karena bisa lihat pemandangan di luar jendela, bahkan sampai ketiduran juga. Saat itu Amanda memang sudah disapih (baca cerita sukses menyapih Amanda di sini), jadi nggak ada alasan lagi dia “minta mimik” dan lebih mudah disogok makanan atau minuman lainnya. Sejak Amanda mau duduk di car seat, rasanya perjalanan kami semakin nyaman dan aman. Selain no gendong no pangku lagi, Amanda juga pastinya lebih aman karena nggak lagi duduk dipangku di depan dan dilindungi seat belt di car seatnya. Malahan sekarang dia jadi seat belt mania, naik mobil apapun (bahkan taksi!) selalu minta pakai seat belt dan suka marah-marah kalau kebetulan mobil yang kami tumpangi seat beltnya rusak hihihi..

Oiya, car seat yang dipakai Amanda sejak usia 18 bulan itu merk Joie Stages. Joie Stages ini recommended banget menurutku, karena bisa dipakai dari newborn sampai usia 7 tahun. Car seatnya kokoh dan kuat, bahannya adem dan kayaknya dipakainya nyaman banget (bahkan ketika anak tidur).

IMG_7563web

Berikut beberapa tips mempersiapkan dan menghadapi anak yang susah duduk di car seat. Semoga membantu ya, buibu!

  • Kuatkan tekad! Ini tips nomor 1 karena perjalanan menuju anak sukses duduk di car seat bisa jadi sangat panjang, melelahkan, dan menguras emosi. Jadi kalau kita sebagai orang tua nggak 100% yakin dan penuh semangat, dijamin nggak bakal berhasil deh. Pelajari dulu plus-minusnya penggunaan car seat untuk anak, diskusi sama suami, baru mulai berjuang bersama.
  • Latih dan biasakan dulu anak duduk di car seatnya sebelum beneran dipakai di mobil. Misalnya duduk sambil nonton TV, sambil makan, dll.
  • Komunikasikan dengan anak sejak jauh hari sebelum mencoba duduk di car seat dan setiap mau pergi. Bahkan jika anaknya masih bayi dan kelihatan belum ngerti sekalipun, komunikasi tetap sangat penting. Sampaikan dengan sederhana aja, misalnya, “Adek sekarang kalau mau pergi-pergi duduknya harus di kursi anak-anak ya. Mama kan punya kursi sendiri, papa punya kursi sendiri, jadi adek juga duduk di kursinya sendiri ya…” Percaya kalau kata-kata kita akan jadi afirmasi positif yang memudahkan proses duduk di car seat.
  • Sebaiknya latihan duduk di car seat dimulai sedini mungkin, kalau bisa sejak newborn lebih baik (tentunya harus didukung jenis car seat yang sesuai usia anak ya). Yang jadi tantangan untuk poin ini adalah karena di Indonesia belum seluruh kalangan yang familier dengan penggunaan car seat untuk baby dan lebih banyak orang yang memilih untuk menggendong dan memangku anak di mobil. Padahal di luar negeri, misalnya Inggris, penggunaan car seat justru jadi hal wajib dan diatur dalam undang-undang, bahkan pelanggarnya bisa kena denda besar (info lebih lengkap bisa dibaca di artikel ini). Tapi karena di negara kita dianggap ‘nggak umum’, jadi mungkin akan banyak ‘saran’ yang menentang penggunaan car seat untuk anak. Mesti kuat-kuat deh tekad kita sebagai orang tua :D
  • Selain niat, tekad, dan semangat, kita juga harus telaten dan TEGA dalam proses melatih anak duduk di car seat. Nggak gampang memang, tapi aku kudu kuwaaaat!
  • Siapkan mainan, makanan, minuman, buku, gadget, dan ingat untuk selalu ngajakin ngobrol atau nyanyi bareng selama perjalanan supaya anak nggak gampang bosan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s